
Di sisi lain, Arkan dan Gerald sedang dalam pertemuan bisnis dengan klien lain, karena pada saat menuju bandara seketika dibatalkan karena semua mengatakan kalau proyeknya berjalan dengan baik dan bisa dihandle.
Arkan sebenarnya bisa saja ke sana karena memang mau berjalan baik atau tidak itu tetap tugasnya untuk memantau. Tapi, entah kenapa dia merasa tidak mau meninggalkan Anjani, perasaannya juga tidak enak.
Jadi selama bisa ditangani yang lain Arkan memilih untuk menetap saja di Surabaya dan mempercayakan semuanya pada orang kepercayaannya di sana. Mungkin ada beberapa jam mereka berbincang dan rapat mendadak di sana. Sampai akhirnya Arkan salah fokus melihat ke arah berita di salah satu tv yang di pajang di cafe.
Breaking News : Pesawat Anam Air 578 dengan rute Surabaya – Jakarta. Dikabarkan jatuh pukul 1 dini hari. Pesawat jatuh di perairan laut Jawa dengan membawa 102 penumpang.
Semua orang yang berada di sana seketika mengucapkan rasa syukur, karena mereka tau kalau Arkan dan Gerald tadinya akan menaiki pesawat itu. Memang feeling Arkan begitu kuat kalau perasaannya sudah tidak enak.
Tapi bukan itu masalahnya. "Saya harus pulang sekarang, istri saya pasti khawatir. Terima kasih atas kerja samanya. Ge, beri kabar pada keluarga!"
Arkan tau keluarga Gerald juga pasti Khawatir, untuk itu dia meminta Gerald memberitahukan keluarganya terlebih dahulu. Arkan mencoba menghubungi Anjani yang sejak tadi menghubunginya tapi ponselnya dia matikan.
Mungkin ada sampai 50 kali dan Arkan jadi semakin khawatir dengan itu. Buru-buru saja dia mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Beberapa kali juga Arkan menghubungi orang tuanya tidak di angkat.
"Mereka pasti sudah khawatir," gumam Arkan.
Arkan menggeram, membayangkan bagaimana keadaan Anjani sekarang. Apa dia baik-baik saja? Dia sedang mengandung dan lagi Anjani yang mudah overthinking membuat Arkan kacau.
Tak selang beberapa lama, dia sampai di rumah, dia mencari semua orang tapi tidak ada, namun terlihat kalau para pelayan menghampirinya dan menanyakan tentang keadaannya. "Mas Gio baik-baik saja? Ibu, bapak dan Non Anjani sedang menyusul Mas Gio ke bandara."
"Bandara?" Arkan kembali menggeram, mendengar itu dia tidak berpikir panjang untuk menuju bandara dengan masih berusaha menghubungi orang tuanya dan Anjani.
Bahkan dia membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, di sana pasti sudah ramai, Anjani sedang hamil, bagaimana nasibnya berhimpitan dengan banyak orang. Dia menyesal mematikan ponselnya tadi.
__ADS_1
"Anjani, tolong jangan buat saya khawatir astaga." Arka mengepalkan tangannya dan mengigit ujung kukunya.
"Macet! Shitt!" Arkan menyalakan klakson berkali-kali, kenapa di saat genting seperti ini ada buah yang mogok segala sih.
"Anjani, semoga kamu baik-baik saja. Tunggu saya."
Saat mendapat kesempatan melaju, Arkan pun mulai kembali melajukan mobilnya. 20 menit akhirnya dia sampai di keramaian. Mencari keluarganya di tengah keramaian.
Matanya tertuju pada segerombolan orang yang nampak akan meninggalkan bandara, Arkan melihat itu langsung menyusul mereka dengan gerakan cepat. "MA, PA!"
Mendengar panggilan itu Hera yang paling pertama peka, dia berbalik dan mendapati putranya sedang berlari ke arahnya. "GIO!"
Arkan yang melihat ibunya sudah menangis berlari memeluk Hera. Itu sukses membuat Abdi yang melihat itu langsung memeluk putranya. Tidak tau ada apa, tidak tau kenapa bisa ada Arkan di sini. Tapi mereka berdua bersyukur sekali kalau Arkan masih ada di sini.
"Kenapa bisa, kamu ada yang terluka? Ceritakan kenapa? Apa yang kamu alami, Sayang?" Tanya Hera yang sudah bercucuran air mata.
Ah ini kelemahan Arkan, melihat ibunya menangis. Dengan lembut Arkan menyeka air mata ibunya dengan telapak tangan. "Jangan menangis, Ma. Saya baik-baik saja, ceritanya panjang. Anjani kemana?"
"Ada apa?" Tanya Arkan yang kelihatan sekali kalau dia panik sekarang.
"Perutnya keram dan harus di bawa ke UGD, ada Mama Viona di sana," jelas Mario. Dia bahagia sekali mengetahui kalau menantunya baik-baik saja. Padahal rencananya mereka akan berangkat ke lokasi sekarang.
"Saya harus ke sana dan memastikan. Saya duluan." Setelah mengatakan itu Arkan berlari untuk kembali ke mobilnya. Pantas saja perasaannya tidak enak. Semoga Anjani dan anaknya baik-baik saja. "Maafkan ayah, Nak."
.
.
__ADS_1
.
"Anjani ... " Pria itu nampak terlihat terburu-buru saat memasuki ruangan. Mendengar itu Anjani dan Viona langsung menoleh dan mendapati Arkan yang masuk ke sana.
Melihat itu Anjani langsung ingin turun, namun sebelum dia turun dari ranjang Arkan mendekat dan memeluknya erat. Begitu pun Anjani, dengan tubuh yang bergetar dan tangisnya yang pecah membuat Arkan mengecupi puncak kepalanya berkali-kali. "Maafkan saya, maafkan saya ya, maafkan saya, Sayang."
Anjani menatap ke arah Arkan dan menangkup pipinya, diperhatikan wajah Arkan dan beberapa kali dia pastikan kalau itu adalah Arkan. "Mas ini kamu, kan? Ini kamu, kan? Mass jangan pergi. Aku takut, aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku panik."
Arkan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tau, dia paham apa yang Anjani rasakan. Dia tau kalau Anjani sekarang sangat cemas dia tau ketakutan Anjani. "Maafkan saya." Arkan kembali mengeratkan pelukannya pada Anjani.
Melihat itu Viona juga menangis terharu, dia tidak menyangka kalau Arkan baik-baik saja. Dia bersyukur, entah apa yang di alami oleh menantunya tapi Tuhan membuatnya selamat dari kecelakaan itu.
"Mas Arkan kenapa gak bisa dihubungi? Mas kamu gak kenapa kenapa kan? Mas jangan tinggalin aku, aku gak mau ditinggalin kamu." Anjani mengeratkan pelukannya pada Arkan. entah harus bagaimana dia mengucapkan rasa syukur atas apa yang terjadi sekarang. "Mas jangan tinggalin aku."
Anjani meremas kuat jas Arkan. Membuat Arkan tau kalau Anjani sangat ketakutan. "Saya tidak akan meninggalkan kamu, maafkan saya karena mematikan ponsel. Saya di sini, jangan menangis."
"Gimana aku gak nangis kalau kamu mau ninggalin aku sama anak kita, bayi gak mau ditinggalin ayahnya, aku juga gak mau ditinggalin kamu. Aku takut banget tadi, aku takut."
Mendengar suara parau istrinya Arkan menjadi sangat bersalah. Diciuminya Anjani agar dia merasa tenang, dia terus meminta maaf berkali-kali karena sampai membuat Anjani seperti ini. Dengan lembut Arkan menyeka air matanya, bahkan Anjani juga bisa melihat ada air mata di sudut mata suaminya.
Mereka sama-sama khawatir sekarang, sama-sama takut, sama-sama cemas. Jadi begini, Anjani berusaha menenangkan dirinya sendiri. Seolah semuanya meluap barusan. Rasa takut, cemas dan segalanya dia ungkapkan pada Arkan.
"Kamu kenapa–"
"Sudah, saya di sini. Jangan tanya apapun dulu, kamu tenangkan diri kamu sekarang. Sakit ya?" Tanya Arkan seraya menciumi punggung tangan Anjani yang di infuss.
Anjani mengangguk namun air matanya terus turun, dia bersyukur sekali. Bersyukur karena masih bisa melihat Arkan hari ini. Bahkan mereka sepertinya lupa kalau sekarang Viona dan keluarganya sudah berada di sini sejak tadi. Mereka berdua sibuk saling menenangkan. Ditemani dengan rasa haru dari keluarga mereka yang sangat bersyukur karena Arkan dan Anjani baik-baik saja.
__ADS_1
Anjani kembali memeluk Arkan dan menciumi pipinya, dia masih mau menangis sambil memeluk suaminya. "Jangan tinggalin aku lagi ya."
Arkan mengangguk dan mengusap rambut istrinya itu dengan lembut, sekhawatir ini ternyata Anjani padanya. Dia jadi semakin merasa bersalah.