
Karena tidak ada persiapan lebih, Anjani hanya membawa tas yang berisi make up seadanya. Untung saja dia selalu membawa tissue basah dan toner untuk membersihkan wajahnya.
Saat ini mereka berada di kapal penyebrangan dan Anjani lapar, tapi karena tidak percaya diri dia meminta untuk berdandan dulu di dalam mobil sebelum mencari makanan.
"Padahal kamu tidak memakai apapun sudah cantik," ucap Arkan yang kini terlihat menghela napasnya karena melihat istrinya sibuk berdandan.
"Bedak sama liptint itu wajib, emang kamu mau ya nanti orang bilang. Ih sayang ya cowok ganteng bawa gadis kumel," ucap Anjani seraya fokus dengan kaca kecil miliknya.
"Kamu sudah cantik, mau validasi seperti apalagi, Sayang?" Tanya Arkan gemas.
"Mas kamu tau, cantik itu bukan validasi dari orang aja, tapi dari diri kita sendiri. Setiap orang punya kepuasannya sendiri tau, termasuk aku dan aku selalu ngerasa ada yang kurang kalau gak pake basic make up. Gak perlu tebel tapi sekiranya kita bisa terlihat cantik sama diri kita sendiri," jelasnya panjang lebar.
Arkan tersenyum, memang pintar sekali istrinya ini menjawab. Pada akhirnya dia juga yang harus mengalah karena menurut Arkan ya tetap, Anjani cantik dalam kondisi apapun.
Setelah beberapa lama menunggu Anjani berdandan, mereka berdua turun dari mobil. Lucu saja mereka masih mengenakan pakaian tidur di sini, tapi yasudah, cuek saja.
Mereka duduk di salah satu cafe yang ada di kapal ini, menikmati kopi dan juga kue basah yang memang dijual di sana sembari menatap ke arah lautan.
"Bagus ya, Mass ... " Gumam Anjani.
Arkan menyesap sedikit kopinya lalu menatap ke arah Anjani. "Iya bagus, suka tidak?"
"Aku lebih suka sama Mas Arkanku," ucap Anjani setengah menggoda.
Ya suka saja melihat suaminya salah tingkah. Salah sendiri dia sering memperlakukan Anjani seperti itu, namun sebisa mungkin Arkan tetap memampang wajah tenangnya dan tidak terpengaruh dengan Anjani.
"Kalau salting tuh bilang aja kali, jangan ditahan gitu," ucap Anjani meledek.
"Untuk apa saya salah tingkah karena anak kecil seperti kamu?" Balas Arkan.
Anjani menghela napasnya, kurang ajar sekali suaminya mengatai anak kecil. Meskipun kecil begini tapi jangan salah loh kemarin dia yang membuat Arkan kewalahan saat malam pertama. Benar-benar menyebalkan. "Yaudahlah kalau sama anak kecil, kita berarti liburan, bukan bukan madu!"
Nah loh kalau begini malah Arkan yang ketar-ketir, tentu bukan madu dan liburan itu adalah dua hal yang berbeda, sementara tujuan mereka adalah bulan madu.
Arkan menghela napasnya, bisa berabe kalau Anjani marah. Perlahan dia menggenggam tangan Anjani. "Bercanda, iya saya salah tingkah."
__ADS_1
"Telat, gak ada jatah sebulan kedepan," putus Anjani.
Mendengar itu Arkan duduk di samping Anjani dan merengkuh pinggangnya. "Coba katakan lagi."
"Kita gak akan ngelakuin itu lagi di sana," ucap Anjani setengah berbisik karena ya banyak orang juga, kalau didengar orang dia juga yang malu.
Arkan nampak berpikir. "Kalau kita tidak akan melakukannya di sana, bagaimana kalau di sini saja? Menarik."
Mendengar itu Anjani membulatkan matanya, apa katanya? Di sini saja? Benar-benar di luar nalar sekali suaminya. "Apasihh, jangan ngaco!"
"Bisa di mobil, bisa di kamar mandi, bisa sewa private room, atau di kolam renang?" Bisik Arkan pada sang istri.
Kalau begini caranya Anjani yang ketar-ketir, dia berusaha melepaskan tangan Arkan dari pinggangnya, namun Arkan malah semakin mengeratkannya. "Jangan aneh-aneh, Mass."
"Jadi mau di sini atau di sana?" Tanya Arkan memastikan.
"Yaudah sih di sana aja! Puas?!" Kesal Anjani.
Arkan terkekeh lalu mengecup bibir Anjani sekilas. "Sangat puas."
Anjani menghela napasnya, kenapa manusia yang satu ini semakin mesum saja sih, padahal hampir satu tahun ini mereka menikah perasaan Arkan lurus, lurus saja tuh. Apa semua orang yang sudah melakukan hubungan suami istri begitu ya? Masih tidak bisa dicerna oleh anak baru gede seperti Anjani.
.
.
.
📍 Royal Avila Boutique Resort
Anjani melirik bangunan resort yang ada di hadapannya. Ini mewah sekali, apalagi saat menuju ke kamar mereka harus menggunakan Buggy Card. Ini baru namanya liburan!
Sejak masuk ke resort ini mata Anjani tak henti-hentinya menjelajah, bangunan dengan warna broken white dominan itu nampak seperti bangunan bergaya Santorini dan dia masih tidak percaya kalau ini ada di Indonesia.
Arkan tau kalau Anjani akan menyukainya, meskipun untuk bulan madu ini dia harus menghabiskan uang yang cukup banyak dan mengorbankan pekerjaannya tapi itu bukan masalah selama Anjani bahagia.
"Uang kamu gak akan habis kita pake ke sini, Mas?" Tanya Anjani saking takjubnya.
__ADS_1
"Masih ada, jangan khawatir. Cukup untuk menampung kehidupan kamu dan anak kita nanti," ucap Arkan.
Mau heran tapi ini Arkan Altair, jadi dia hanya bisa menghela napasnya, ya sudah. Bukankah dia harus menikmati semua ini? Ini terlalu sia-sia kalau dipakai hanya untuk memikirkan masa depan.
Tak selang beberapa mereka sudah sampai di kamar, Arkan mengeluarkan acces card lalu mereka berdua masuk ke kamar yang sangat mewah ini.
Iya, tidak tanggung-tanggung memang. Arkan menyewa kamar suite double ocean view, yaitu kamar termewah di resort ini yang balkonnya terhubung langsung dengan air laut.
Membuat Anjani melongo, bisa-bisanya Arkan memesan ini semua hanya untuk membahagiakan dirinya. Saat Arkan mendudukkan dirinya di tepi ranjang Anjani langsung berdiri di hadapannya lalu memeluk leher Arkan dengan brutal. Dia senang sekali.
"Kamu kenapa manis banget, kenapa kamu siapin hal yang waw kaya gini? Aku sayang banget sama kamu!!" Ucapnya dengan antusias dan menciumi pipi suaminya itu.
Arkan mengalungkan tangan di pinggang Anjani dan menerima perlakuan istrinya dengan senang hati. Tentu kalau Anjani suka dia adalah orang yang paling bahagia untuk itu.
"Tidak gratis," ucap Arkan.
Anjani mengerutkan dahinya. "Aku harus ikut patungan kah?"
Arkan menggeleng, tentu bukan itu. "Beri saya ciuman."
Kalau itu dengan senang hati akan Anjani berikan. Perlahan Anjani mendekatkan wajahnya pada Arkan dan mencium bibirnya dengan lembut, bibirnya bermain di sana dengan Arkan yang membiarkan Anjani kali ini memulainya duluan.
Bibirnya menyesap bibir bawah atas dengan lembut, setelah itu dia menyesap bibir atas suaminya dan kemudian mengecupnya sebagai penutup.
"I love you, Mas."
Arkan yang semula ingin menarik Anjani melanjutkan ciuman mereka kini terpaku. Ini pertama kalinya selama mereka menikah Anjani mengucapkan kalimat itu padanya. Bahkan saat Arkan mengucapkannya Anjani tidak pernah mau membalasnya.
"Kamu bilang apa, Sayang?" Tanya Arkan memastikan.
"Engga mau lagi ah," ucap Anjani yang langsung berbalik. Namun kali ini Arkan tidak akan membiarkannya lolos. Arkan langsung berdiri dan mendekap Anjani dari belakang, membuat Anjani terkekeh.
"Ucapkan lagi," pintanya, kali ini nada bicaranya terdengar sangat lembut di telinga Anjani.
"Emang aku bilang apa?"
"Sayang ... "
__ADS_1
Ah Anjani tidak kuat dipanggil seperti itu oleh Arkan. Anjani berbalik dan menangkup kedua pipi suaminya dengan gemas. "I love you."
Arkan tersenyum puas dan mengecup bibir Anjani. "I love you more, pretty girl."