
Hari ini rencananya Anjani dan Arkan akan kembali pulang, karena memang bulan madu mereka hanya setitik. Arkan memiliki pekerjaan yang tidak bisa lama-lama ditinggalkan dan Anjani juga harus mempersiapkan kuliahnya.
Setelah check out dari resort, mereka langsung menuju pusat perbelanjaan di Lombok untuk membeli beberapa oleh-oleh. Anjani tentu senang kalau soal belanja seperti ini.
"Mas aku mau habisin uang kamu," ucap Anjani sembari bergelayut manja di lengan suaminya.
"Habiskanlah, beli apa yang kamu mau."
"Kamu gak akan marah kalau aku beli banyak hal?" Tanya Anjani lagi.
Arkan menggeleng dan mengecup puncak kepala Anjani. "Tidak, kalau kamu senang, saya juga akan senang."
Anjani mengembangkan senyumnya, kalau Arkan sudah mengizinkan, mari kita belanja! Ini memang bukan untuk mengetes Arkan. Sejak awal Anjani sudah menjelaskan kalau Anjani memang hobi belanja dan Anjani akan benar-benar melakukannya.
Mungkin ada satu jam mereka berkeliling sampai akhirnya Anjani tertarik dengan telur gulung yang ada di pinggir jalan. "Mas aku mau itu."
Arkan menganggukkan kepalanya, dia nampaknya memang selalu sabar meskipun sekarang sudah banyak sekali paper bag yang dia bawa, tentulah milik Anjani. Meskipun Anjani juga beli untuknya.
"Kamu mau?" Tanya Anjani saat mereka menunggu.
Arkan kembali mengangguk dan mengusap puncak kepala Anjani. Bagaimana dia tidak awet muda kalau begini. Anjani memang masih remaja dan Arkan malah mengikuti Anjani. Memang aneh.
Mata Anjani terus menjelajah sampai akhirnya dia melihat seorang anak kecil berlari ke jalanan tanpa pengawasan. Belum lagi ada mobil yang melaju dari arah sana.
Langsung saja Anjani berlari dan menangkap anak kecil itu dan memeluknya erat sambil berjongkok. Membuat mobil itu mengerem mendadak dan Arkan panik melihat kejadian itu.
Anjani terus mendekap anak yang mungkin berusia satu tahun itu dengan erat, anak perempuan itu menangis sembari memanggil-manggil ibunya. Sang pengemudi sudah marah-marah dan Arkan yang mengurusnya sementara Anjani masih terpaku di sana.
Arkan yang melihat itu membawa Anjani ke tepi, Anjani nampak masih syok. Untung saja anak itu selamat, bagaimana kalau tidak. "Kamu baik-baik aja, Sayang? Mama kamu kemana?"
__ADS_1
"Mama mamaaaaa," rengek gadis kecil itu, Anjani dan Arkan berusaha menenangkannya sampai ...
"Beryl! Beryl kamu di mana? Beryl!!" Teriak perempuan dari belakang mereka.
"Mamaaaaaa Mamaaa."
Mendengar suara itu Anjani nampak tidak asing dan segera berbalik mencari sumber suara. Seketika tubuhnya menegang melihat seorang yang telah lama pergi kini ada di hadapannya.
Bukan kerinduan, tapi yang ada hanya amarah di dada Anjani. Begitu juga dengan Seana, tapi tatapannya tidak bisa berbohong kalau dia merindukan sang adik. Tapi bagaimana Anjani bisa di sini? "Beryl ... "
Seana menghampiri Anjani dan mengambil alih Beryl dari gendongan adiknya. "Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Anak ibu hampir tertabrak," ucap Arkan yang memang tidak mengenal pasti orang yang ada di hadapannya.
"Yaampun sayang ... " Seana masih mencoba biasa saja meskipun tatapan Anjani tidak lepas darinya.
Anjani sebenarnya ingin menangis, apalagi melihat kakaknya yang sepertinya hidup dalam kesulitan. Bajunya yang tidak memadai dan ... Ya dia tau pasti kalau kakaknya tidak hidup dengan baik di sini.
Seana buru-buru berbalik namun ...
"Jahat banget ya, Se!" Ucap Anjani yang seketika membuat Seana menghentikan langkahnya.
Arkan menatap ke arah istrinya, jadi dia siapa? Arkan mencoba mengulik ingatannya saat Anjani menyebut nama 'Se' apakah itu Seana kakaknya Anjani?
"Setelah kamu ketemu aku dan aku nyelamatin anak kamu tapi kamu anggap aku bukan siapa-siapa?!" Kesal Anjani. Bahkan dia rasanya tidak peduli lagi orang-orang melihatnya.
"Kamu bilang kamu menikah sama orang kaya dan hidup dengan baik tapi ini apa?! Kamu jahat!"
Mendengar itu Seana masih belum mampu berbalik, air matanya sudah meluruh dan turun di pipinya dengan deras. Sampai-sampai anaknya kini juga menangis.
Seana mencoba tidak berbalik dan melanjutkan langkahnya. "Kalau Papa atau Mama meninggal kamu masih mau kaya gini hah?! Sampai kapan?! Kamu bilang kamu anak gak berguna, kamu gak bisa lebih dari aku, kamu itu gak layak. Aku katakan sekarang kalau aku emang lebih baik daripada kamu. Itu kan yang kamu mau, sebuah pengakuan dari mulutku sendiri kalau kamu itu pecundang. Itu kenapa kamu selalu jadiin aku alasan dalam setiap hal yang kamu lakuin!"
__ADS_1
Anjani tidak dapat membendung air matanya lagi, dia benar-benar emosi sekarang, sampai-sampai Arkan harus menahan tubuhnya yang tadinya ini menyerang kakaknya. "Anjani ... Anjani sudah."
"Udah apa sih? Kamu liat dia aja gak mau natap aku! Dia aja gak mengakui kalau aku ini adeknya! Kamu liat kan kalau kakak aku itu emang sejahat itu! Dia harus tau perbuatannya merugikan orang banyak! Dia–"
"Anjani ... Stop! Tenang!" Arkan kini mencengkeram pelan kedua tangan agar dia bisa diam. Anjani menangis sejadinya setelah itu Arkan bawa dia ke mobil.
Tidak hanya itu setelah berhasil membuat Anjani masuk ke dalam mobil, Arkan menemui Seana yang kini masih mematung di tempatnya. "Tidak baik masalah keluarga diselesaikan seperti ini, ikut kami setelahnya kamu berhak memilih apa yang kamu inginkan."
Seana menatap ke arah Arkan, dia tidak tau sebenarnya itu siapa. Tapi mendengar itu Seana menurut dan akhirnya ikut masuk. Di lihatnya Anjaninya begitu frustrasi karena emosinya. Dia tau kalau Anjani itu emosi sekarang.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Anjani masih belum mau membuka suaranya. Mereka tentu akan ke rumah Seana dan bicara di sana. Sementara di belakang sana Beryl sedang mengoceh tanpa tau kalau ibunya sedang bersedih sekarang.
Hanya ada keheningan kecuali saat Seana mengarahkan jalan menuju ke rumahnya. Dari Seana dan Anjani, tentulah Arkan yang paling tua jadi sebisa mungkin dia harus menjadi yang paling netral di antara peperangan keluarga ini.
Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah pemukiman kumuh. Bukan kumuh tapi ini memang lapangan besar yang berisikan tenda-tenda yang dijadikan rumah. "Kamu tinggal di sini?"
Seana mengangguk, iya selama setahun setengah ini dia tinggal di sini. Arkan sampai menghela napasnya. Bagaimana bisa? "Suami kamu?"
"Pernikahan itu tidak pernah ada, semuanya editan. Pria itu tidak mau bertanggung jawab dan aku harus berpura-pura agar Mama dan Papa tidak semakin marah."
"Kalau kaya gini mereka murka!" Kesal Anjani yang langsung ditenangkan oleh Arkan. Gadis ini memang selalu meledak-ledak saat menyelesaikan sesuatu. Pusing sebenarnya.
"Ini pernyataan, lebih baik kamu ikut kamu pulang dan kembali ke rumah orang tuamu sekarang."
"Tapi, Tuan–"
"Saya tidak menerima interupsi, kamu memang harus pulang. Apapun yang terjadi orang tua akan selalu menerima anaknya. Asalkan kamu jujur."
Anjani menghela napasnya, untuk apa sih Arkan menceramahi Seana yang bebalnya minta ampun. Apa dia tidak lihat ya kalau Anjani sudah kepalang emosi tapi tidak bisa dia luapkan.
"Saya akan bantu kamu menjelaskan semuanya, anak kamu butuh kehidupan yang lebih baik."
__ADS_1
Cukup lama mereka bernegosiasi, sampai akhirnya Seana memberanikan diri untuk mengikuti saran dari Arkan. Meskipun jujur dia takut sekali karena Anjani nampak tidak bersahabat. Apalagi dia teringat apa yang Anjani katakan tadi. Dia bersalah, dia benar-benar bersalah pada Anjani.