
Selesai membersihkan diri Anjani memakai dress berwarna dusti yang senada dengan kemejanya Arkan. Iya malam ini akan ada acara di kediaman Altair, lebih tepatnya di rumah Oma dan Opanya Arkan. Semacam pesta kecil-kecilan karena merayakan anniversary pernikahan Oma dan Opanya.
Anjani menurut saja untuk ikut, karena memang dia harus mendampingi Arkan. Dia sudah memastikan kok kalau tidak akan ada anak satu sekolahnya yang hadir. Pokoknya sudah dipersiapkan yang terbaik.
Sudah cantik, sudah rapi dan sudah wangi, Anjani memilah dan memilih Tas yang akan dia pakai sembari berkaca OOTD. Ya namanya juga anak muda, sebelum pergi sangat wajib seperti ini.
Arkan yang baru masuk ke kamar jadi terkekeh sendiri saat melihat istrinya yang sedang sibuk berpakaian. "Kamu sudah cantik, mau ditambah apalagi?"
Anjani memajukan bibirnya, yakan dia harus tampil sempurna. "Ishh, aku tuh istrinya Arkan Giovano Altair, pria dewasa. Jadi aku juga harus menyesuaikan diri sebagai Anjani yang istri kamu."
Arkan tertawa mendengarnya lalu mendekat ke arah Anjani untuk memeluknya dari belakang. Membuat Anjani sedikit tersenyum namun masih menyesuaikan tas mana yang akan dia pakai. "Mau bagaimana pun kamu kan istri saya, apa bedanya?"
"Bedaa, kalau Anjani yang biasanya itu kaya bocah. Kaya pacarnya Arkan, bukan istrinya Arkan."
"Oh jadi kalau begini sedang mode istrinya saya?" Tanya Arkan? Seraya memperhatikan Anjani dari kaca.
Anjani tentu mengangguk, sebenarnya tidak ada yang beda sih hanya saja Anjani tidak seperti bocah sekali lah. Gemas sekali kan melihatnya. Membuat Arkan mengeratkan pelukannya. "Iya istri saya."
"Bagus yang mana? Yang putih atau yang warnanya dusti ini?" Tanya Anjani memperlihatkan kedua tasnya.
"Keduanya bagus," jawab Arkan simpel. Ya karena memang mau memakai apapun Anjani akan selalu pantas memakainya.
"Ihh gak ada solusi, yaudah gak usah jadi aja perginya aku bingung," putus Anjani.
Aneh bukan? Hanya karena tas bisa membuatnya tidak ingin pergi, akhirnya Arkan menyimpan tas berwarna dusti itu dan menarik tangan Anjani. "Ayok kita pergi."
Anjani yang merasa di tarik langsung mengambil dompet, parfum dan juga ponselnya. Benar-benar Arkan Altair ini. Dia kan belum siap betul. "Massss pelan-pelan!"
Arkan hanya terkekeh saja mendengar teriakan istrinya, pasalnya kalau dibiarkan lama Anjani bisa memutuskan beberapa jam kemudian.
Kali ini mereka duduk di belakang, karena mereka satu keluarga pergi dengan menggunakan mobil Abdi, mereka satu keluarga dan jarang sekali moment seperti ini.
"Yaampun, Sayang. Cantik sekali putri Mama. Nah ini baru istrinya Gio, bukan pacarnya Gio. Kamu jadi terlihat sedikit dewasa dan elegan, Mama suka," puji Hera.
Anjani mendengar itu hanya bisa tersenyum malu dan bersembunyi di lengan Arkan. Sungguh kalau bukan di hadapan orang tuanya, sudah Arkan cium setiap inchi wajahnya karena gemas.
"Dih malu-malu," ledek Arkan.
"Dieemm!!" Anjani memukul lengan Arkan pelan.
Sementara Abdi dan Hera tertawa di depan melihat interaksi keduanya. Sangat lucu sekali pasangan muda ini dan setelah semuanya lengkap Abdi mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
Anjani bukan orang yang suka selfie sebenarnya, tapi entah kenapa dia ingin mengajak Arkan berphoto karena mereka senada malam ini, Arkan juga tidak keberatan, malah Arkan meminta photonya dan dia share di grup keluarga besar.
"Ihhh, Mass kenapa di share?" Kesal Anjani saat melihat grup keluarga.
"Mau memperkenalkan istri saya, kalau kemarin kan pacar saya."
Tolong, Anjani tidak tahan kalau suaminya manis begini. Jadi dia mengalihkan pandangannya ke kaca dan menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah. Dasar gadis kecil.
.
.
.
Anjani mengedarkan pandangannya, pesta ini nampak meriah. Dia suka pesta, dengan senang dia mengikuti Arkan dan mengalungkan tangan di lengan pria itu. Mereka sangat serasi saat memasuki rumah besar yang kini sudah di sulap menjadi gedung pesta.
"Aku suka pesta," ucap Anjani.
"Saya suka kamu," balas Arkan.
Anjani mengedikan bahunya, memang Arkan ini tidak benar kalau diajak bicara. Tapi jujur dia suka di sini, rasanya sudah lama dia tidak ke pesta karena sibuk sebagai murid kelas akhir.
"Happy anniversary, Oma dan Opa," ucap Arkan dan Anjani sembari menyalami mereka berdua.
"Terima kasih sayangnya Oma, jadi mana hadiah untuk kami selain mobil yang tadi kalian kirim?" Tanya Sena.
Haduh kenapa ya Anjani merasa tertekan sekali kalau ditanya soal anak oleh orang tua. Seperti ada tuntutan yang harus dia lakukan. Tapi memang wajar sepertinya, sama seperti anak gadis, jika mereka belum menikah pasti akan ditanya kapan nikah atau ditanyakan soal pacar.
Terlepas dari itu semua, Anjani dan Arkan menikmati acaranya. Mereka berkeliling, menyapa para rekan bisnis Arkan, ya menyenangkan ternyata diperkenalkan kepada semua orang seperti ini. Pantas saja ibunya sangat senang jika ada pertemuan kolega ayahnya.
Niatnya ingin terlihat lebih dewasa dengan memakai heels tinggi, tapi ternyata dia belum sanggup. Sama seperti saat acara pernikahan, kakinya lecet.
Arkan yang melihat Anjani tidak nyaman melirik ke arah kakinya. "Kenapa? Lecet ya?"
Anjani mengangguk pelan. Memang Arkan selalu menjadi yang paling peka kalau begini. "Iya sedikit."
"Ikut." Arkan menggenggam tangan Anjani dan membawanya keluar dari keramaian, dia mendudukkan gadis itu di kursi taman dan setengah berlutut untuk melihat kaki Anjani. Benar saja kakinya lecet.
"Akhh sakit, Mass!" Protes Anjani.
"Yasudah kamu tunggu di sini, biar saya ambilkan petroleum gell." Setelah mengatakan itu Arkan mengusap puncak kepala Anjani dan masuk ke rumah.
Namun ternyata itu menyelipkan kesempatan untuk Bagas menghampiri Anjani dan tanpa beban dia duduk di samping wanita itu. "Kamu cantik."
__ADS_1
Mendengar suara itu Anjani menatap ke arah Bagas yang ada di sampingnya, tentu dia sedikit menjauh. "Ngapain?"
"Udah lama kita gak bicara, aku kangen kamu, Jan. Kamu baik-baik aja sama Bang Arkan?" Tanya Bagas.
"Baik, sangat baik."
Anjani mengalihkan pandangan ke arah lain, duh Arkan kemana sih kok lama sekali. Jujur dia tidak nyaman lagi berlama-lama dengan laki-laki lain kecuali suaminya sekarang.
"Kaki kamu kenapa?" Tanya Bagas mencari topik pembicaraan.
"Gak kenapa-kenapa."
Bagas meneguk air liurnya dengan susah payah, kenapa ya Anjani semakin lama seperti tidak dapat tersentuh olehnya. Padahal dia yakin kalau Anjani masih mencintainya sampai sekarang. Dia tidak boleh menyerah.
Bagas langsung berlutut di hadapan Anjani dan melihat kakinya, Anjani kaget dan berusaha melepaskan kakinya dari Bagas. "Apaan sih, Gas aku gak mau dipegang-pegang!"
"Kaki kamu lecet!"
"Bukan urusan kamu dan Mas Arkan yang bakalan obatin, kamu gak usah sok peduli sama aku deh aku gak suka!" Kesal Anjani yang dengan luar melepaskan kakinya dari Bagas.
Dengan terpaksa dia harus memakai heelsnya lagi untuk menghindari Bagas, namun pria itu menahan lengannya. "Jan kita perlu bicara."
"Bicara apa lagi sih?"
"Ayok balik sama aku, ayok kita perjuangin perasaan kita lagi kaya dulu. Aku tau kamu masih mencintai aku, kan?" Tanya Bagas dengan percaya dirinya.
Anjani tertawa, kenapa dia begitu percaya diri sih? Apa karena kejadian kemarin dia salah paham? "Hah, apasih? Kalau mantan ya mantan aja! Kenapa harus kaya gitu?"
"Dia mencintai saya." Arkan yang datang langsung menarik lengan istrinya dengan berbangga diri.
"Ini urusanku sama Anjani!"
"Anjani istri saya, urusan dia ya urusan saya juga. Jadi apa yang ingin kamu katakan?"
"Ingin memastikan perasaan Anjani."
"Apa yang harus di pastikan dia milik saya–"
Cup ...
Anjani berjinjit di hadapan Arkan dan mencium bibirnya, tidak hanya itu, gadis itu mulai menyesap bibir bawah suaminya tanpa rasa malu. Kalau yang Bagas perlukan adalah pembuktian, mari akan Anjani berikan dengan senang hati.
Arkan tertegun dengan perlakuan Anjani, tapi karena sudah terlanjur jadi dia hanya mengikuti alur saja, direngkuhnya pinggang gadis itu dan membalas ciuman Anjani lebih dominan.
__ADS_1
Melihat itu Bagas panas, sangat panas. Tidak menyangka kalau Anjani akan melakukan ini dihadapan matanya dengan sengaja. Rasanya seperti dipukul mundur dengan cepat.
Tanpa ada kata apa-apa lagi Bagas berbalik, dia tidak bisa melihat ini semua. Sungguh dia ingin melampiaskan kemarahannya saat ini.