
Seharian Anjani berusaha menghindari percakapan dengan Seana, pokoknya kalau Seana keluar kamar, dia akan diam di dalam kamar dan begitu juga sebaliknya. Dia mencoba untuk mendengar kata-kata Arkan untuk tidak berulah dengan kakaknya.
Jadi ya bukan karena Seana, tapi karena suaminya. Sore ini Anjani sudah wangi dan berpakaian yang cantik. Mungkin ini kali ya rasanya menyambut suami saat pulang kerja seperti yang ada di film-film. Iya dia baru merasakannya sekarang.
Karena kan kemarin Anjani masih sekolah. Mereka berdua punya kesibukan masing-masing dan pulang bersama-sama. Kalau Arkan pulang dari kantor pun kadang Anjani sibuk dengan buku pelajarannya. Jadi dia baru merasakan yang benar-benar menjadi seorang istri ya sekarang..
Kebanyakan orang itu awalnya manis, kesannya hubungan semakin memudar dan banyak bertengkar. Berbeda dengan Anjani, semuanya diawali dengan banyaknya pertengkaran dan sekarang rasanya mereka sama-sama tidak ingin ribet untuk mempermasalahkan sesuatu.
Arkan pernah mengatakan : Daripada banyak ngambeknya lebih baik mereka saling istirahat, memikirkan kembali emosi yang dirasakan, baru setelahnya kembali memulai. Dan setelah diterapkan ternyata berguna juga. Apalagi untuk Anjani yang gampang meledak.
Sesampainya di bawah, ternyata tepat sekali Arkan sudah pulang dengan membawa beberapa kotak pizza di tangannya. Anjani langsung berlari ke arah Arkan. Membuat Arkan tersenyum.
Namun seketika Arkan menghela napasnya, karena ternyata yang Anjani tuju bukan dirinya melainkan kotak pizza nya. Anjani menatap Arkan tanpa rasa berdosa. "Kenapa, kok mukanya gitu Mas?"
"Suami pulang itu salam dulu, peluk gitu, ini malah pizza-nya yang diambil," protes Arkan.
Anjani cengengesan, ya bagaimana ya. Kotak pizza itu rasanya memanggil-manggil dirinya untuk segera di buka. Jadi dia ambil saja. Tapi melihat Arkan sudah protes dia menaruh kotak pizza itu di meja dan menyalami suaminya.
Tidak lupa juga dia cium pipi kanan dan kirinya. "Udah."
"Ada yang kelewat."
Anjani mengernyitkan dahinya, apalagi coba? Padahal semuanya sudah Anjani lakukan. "Apa lagi, kan salam udah, cium udah, emang harus apa lagi?"
Arkan sedikit melihat ke sekitar dan ternyata aman. Perlahan Arkan menarik Anjani dan mencium bibirnya lembut. Membuat Anjani sedikit menahan napasnya akibat gerakan yang tiba-tiba itu. "Cium itu di bibir."
"Ishhh gimana kalau diliat orang!"
__ADS_1
"Tidak ada orang, aman."
Benar-benar ajaib memang kelakuan suaminya. Anjani memutuskan untuk menarik Arkan ke kamarnya saja dan menyiapkan bajunya untuk bersih-bersih, lebih tepatnya dia sudah tidak sabar untuk makan pizza sekarang.
Beres membantu suaminya bersih-bersih, mereka berdua langsung ke bawah. Kebetulan di sana semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Dia tidak peduli dengan Seana sih. Dia menganggap seolah Seana tidak ada di sana.
Arkan membawa kotak pizza dan 2 botol besar cola, sementara Anjani membawa 5 gelas. Ya sudah lah, masa iya dia tega sekali tidak mengajak Seana.
"Pizza timeee!!!!" Teriak Anjani. Membuat Arkan menyunggingkan senyumnya karena gadis ini memang mood booster sekali sepertinya dalam keluarga ini meskipun paling keras kepala.
"Yaampun, ini pasti kamu morotin suami kamu ya," ucap Viona.
Anjani memajukan bibirnya dan menaruh gelas itu di karpet. Sementara Arkan terkekeh dan duduk di sebelah Anjani. "Tidak apa-apa, Ma. Anjani harus banyak makan biar tidak seperti angin."
"Alah angin-angin, padahal kalau di rumah Mas Arkan suka bilang Anjani gendut karena gak mau olahraga," Adu Anjani.
"Memang kamu malas bergerak, harus papa akui sih," balas Mario.
Mario hanya tertawa. Anjani membagi gelas satu persatu. Termasuk pada Seana, seolah menginstruksi Seana untuk bergabung meskipun dia tidak menatap atau menyapa kakaknya itu.
Viona tersenyum ke arah Seana. Mereka tentu tau Anjani itu memang terlihat tidak peduli dan cuek. Tapi sebenarnya dia begitu pun diam-diam perhatian. Membuat Seana akhirnya duduk di bawah dan ikut bergabung.
Saat Beryl akan mengambil cola milik Anjani, Anjani mengacungkan jari telunjuknya. "Gaboleh Beryl, kamu masih kecil. Ini minum ini aja." Anjani menaruh susu kotak rasa strawberry yang tadi dia bawa di sakunya.
Viona tersenyum melihat itu , termasuk Seana. Apalagi Arkan yang kini gemas dan mengusap puncak kepala Anjani. Gadisnya ini memang sok-sok cuek saja, padahal hatinya selembut kapas dan mudah menangis.
Pada akhirnya malam itu mereka makan pizza bersama, berusaha menghilangkan kecanggungan meskipun ditengah-tengah permusuhan kakak beradik itu.
.
__ADS_1
.
.
Arkan sedang sibuk dengan pekerjaannya, jadi Anjani memutuskan keluar kamar dan duduk di balkon sembari menatap langit malam. Setelah itu dia fokus pada ponselnya untuk mengupdate beberapa photo di sosial medianya. Ya apalagi kalau bukan photo bersama Arkan saat bulan madu kemarin.
Karena masalah ini dia jadi lupa untuk membuka ponselnya sendiri untuk meng-upload photo-photo menggemaskan itu. Namun tiba-tiba secangkir teh susu ditaruh seseorang di meja. Ternyata itu Seana.
Karena tak ada reaksi dari Anjani, Seana duduk di kursi yang bersebelahan dengan meja di samping Anjani. "Kamu masih marah banget sama aku ya, Jan?"
"Menurut kamu aja sih gimana?" Balas Anjani dengan nada datarnya.
"Kamu tau, dulu aku bukan orang yang bisa berinteraksi di rumah. Kita beda beberapa tahun aja, Jan."
Seana menghela napasnya dan berusaha meneruskan ucapannya. "Dulu rasanya aku belum puas jadi anak semata wayang, sampai kamu lahir dan aku ngerasa kamu ambil atensi semua orang."
"Aku tau kamu pasti mikir aku kekanak-kanakan banget tapi kalau boleh jujur inner child aku waktu itu gak siap buat punya adik. Tapi aku sayang kamu sih setelah ngerasa aku punya temen main. Tapi trust me, aku jadi anak yang tumbuh dengan ketertutupan. Aku gak bisa ekspresi diri aku sendiri."
Meskipun Anjani masih fokus pada ponselnya, tapi dia mendengarkan Seana sebenarnya. Hanya saja tidak mau memperlihatkan.
"Beranjak dewasa aku bukan orang yang mampu wujudin cita-cita papa, aku gak pinter kaya kamu, aku gak bisa baur sama kalian juga di rumah itu kenapa aku lebih sering habisin waktu di kamar. Karena aku ngerasa kamu center rumah ini. Bukan aku."
"Sampai akhirnya aku nyaman di luar rumah dan lampiasin semuanya di luar, aku bebal, aku berontak dan aku selalu jadiin kamu sasaran kemarahan aku saat dunia gak berjalan seperti yang aku mau."
"Aku gak pernah mengecualikan kamu dalam apapun loh, bahkan aku selalu coba deket sama kamu loh, Se tapi kamu yang selalu abaikan aku!" Bela Anjani pada dirinya sendiri.
"Iya kamu gak salah, aku udah bilang itu perasaan aku. Sama kaya kamu yang selalu anggap aku dapat kebebasan, begitu juga aku Mandang kamu yang begitu dijaga sama mama dan papa sampai gak peduli sama aku," jelas Seana.
"Kita ini sama-sama anak dan pada saat itu kita memandang kasih sayang mama dan papa hanya dari ego kita sendiri. Kamu paham point yang aku sampai gak?"
__ADS_1
Anjani menelan air liurnya dengan susah payah. Dia tidak tau harus menjawab apa sebenarnya. Sementara Seana masih kembali mengumpulkan niatnya untuk bicara lebih jauh dengan Anjani. Sekarang ada kesempatan untuk dia bicara semuanya dan berdamai dengan Anjani.