
"Aku ingin, kamu menyembunyikan status pernikahan kita saat di kampus." ujar Chandra akhirnya usai menyakinkan diri.
Deg
kenapa harus disembunyikan? batin Luna berpikir, namun ia tak langsung bertanya karna melihat Chandra yang kembali membuka mulutnya.
"Kita menikah karna terpaksa. Kamu menikah denganku untuk ganti rugi atas kerusakan mobilku, dan aku menikahimu karna aku hanya ingin mendapatkan status. Anggap saja pernikahan kita ini seperti simbiosis mutualisme." ujar Chandra sembari menatap bola mata jernih milik Luna.
Entah kenapa, ada rasa tidak rela melihat Luna sepeerti takut padanya, dan mungkin ini jalan terbaik untuknya. batin Chandra.
"Lalu.. Apa hubungannya dengan menyembunyikan status pernikahan kita saat di kampus? Bapak malu punya istri mantan seorang janda seperti saya? Aku kira Bapak orang baik yang bisa menerima status saya sebelumnya dan anak saya. Tapi, ternyata aku salah." Perkataan Luna membuat Chandra terpaku tak berkutik, ia bingung harus menjawab apa.
Apalagi, wanita yang belum genap sehari menjadi istrinya itu sepertinya terluka, luka yang tidak berdarah yang seperti koyakan di hatinya.
Lagi, ia merasa iba melihat Luna seperti itu.
Chandra hanya diam sembari menunduk, ia tak kuasa menatap bola mata jernih milik Luna yang seakan menghipnotisnya ingin memeluknya dan meminta maaf atas perkataannya yang telah menyinggungnya.
apa aku salah jika aku ingin menyembunyikan status pernikahan kita ini. Seenggaknya hingga tiga bulan ke depan, saat Dad dan Mom bisa ke Indonesia dan kita mengadakan resepsi pernikahan kita. aku hanya ingin memberikanmu kenyamanan saat bersamaku. aku juga ingin memberikan kesempatan hatiku untuk percaya lagi dengan seorang wanita. hatiku pernah patah, Luna.Dan aku tidak mau itu terulang kembali. maafkan aku yang belum bisa menerima semua ini. tapi percayalah, Pernikahan bagiku bukan suatu mainan. Bukan maksudku untuk tidak mengakuimu. batin Chandra yang kini menghela napas lalu menegakkan kepalanya kembali sembari kembali menatap Luna.
"Pak? Jawab saya." cecar Luna dengan memegang lengan Chandra.
Chandra melepas tangan Luna yang memegang lengannya, lalu bertanya, "Kamu mau tau jawabannya? Kenapa aku ingin kamu menyembunyikan status kita di kampus?"
Luna sangat antusias mengangguk sebagai jawaban.
Chandra menghela napas seakan berat ingin mengatakan satu kalimat yang pasti akan membuat Luna membencinya. "Aku menikahimu karna aku butuh status suami di perusahaan, dengan para pemegang saham yang aku undang tadi. Dan saat di kampus, aku belum memerlukan itu."
Terperangah, Luna meneteskan air mata tanpa suara mendengar untaian kalimat yang begitu menyakitkan dari suaminya.
aku dianggap apa sama suamiku ini. astaga. batin Luna miris memikirkannya.
Chandra yang saat tadi mengatakan kalimat itu menatap lurus ke depan, tak melihat jika Luna begitu terluka dan menitikan air mata. Karna itu memang tujuannya menatap ke depan.
Bagaimanapun, Luna adalah istrinya. Pertanggungjawabannya besar di hadapan Tuhan. Tapi, ia tak mau memberatkan Luna dengan status yang mereka jalani sekarang.
__ADS_1
"Jadi.. Di perusahaan dan di rumah, kamu istri saya. Tapi kalau di kampus, saya dosennya dan kamu murid saya." lanjut Chandra lagi seakan tak cukup membuat hati Luna kini kembali terluka.
Luna mengusap air matanya kasar, ia berusaha tersenyum.
Bagaimanapun, mereka menikah memang bukan atas dasar cinta. Dan ia harus berlapang dada menerima keputusan laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.
Kemarin, Chandra memaksanya untuk bisa menikah dengannya. Dan saat sudah menikah, Chandra kembali memaksanya untuk tidak mengakuinya jika mereka sudah menikah di kampus.
Apa sebenarnya mau suaminya ini?
Rasa malu? Mungkin dosen tampan nan kayanya ini malu telah memperistrinya. Suaminya ini mungkin tersiksa menikah dengannya hanya untuk mendapatkan statusnya. batin Luna sembari menatap laki-laki tampan di sebelahnya.
Luna menghela napas lalu mengembuskannya, memberanikan diri memegang punggung tangan Chandra untuk mengalihkan agar laki-laki itu kembali menatapnya.
"Baiklah.. Aku akan menuruti permintaan Bapak. Aku tau kita kan menikah karna terpaksa. Aku sadar diri, Pak." lirih Luna yang begitu membuat hati Chandra seakan koyak dan kini menatap nanar pada Luna.
Usai Chandra menatapnya, Luna pun melepaskan pegangan tangannya di punggung tangan Chandra, lalu berkata. "Apa aku boleh.. meminta satu permintaan juga."
"Apa?" tanya Chandra sembari menatap gurat kecewa yang terpancar jelas di mata istrinya.
"Untuk apa aku menikahimu kalau aku tetap membiarkanmu berjualan?" tanya Chandra yang tidak menjawab permintaan Luna.
"Tapi, rumah yang aku tinggali bersama Ibu dan Radit harus aku bayar. Kami ngontrak disitu, Pak.. Kalau kami tak membayarnya kami akan diusir dari situ. Dan kalau aku tak membantu Ibu berjualan, kasihan Ibu. Beliau sudah tua.." ujar Luna lagi dengan raut wajah penuh permohonan.
"Kamu sudah sadar kalau Ibumu sudah tua?" tanya Chandra lagi yang semakin membuat Luna tak mengerti.
Luna tetap terlihat mengangguk sebagai jawaban karna memang Ibunya sudah tua.
"Lalu kamu mau memaksa Ibumu tetap berjualan?"
"Maksud Bapak apa?" Luna mengernyitkan dahinya, bertanya.
"Luna.. Aku menikahimu bukan hanya bertanggungjawab atas kamu, tapi juga Ibu dan anakmu." Chandra menjawab dengan bijaksana berharap Luna mengerti apa yang dikatakannya.
Dan apa reaksi Luna? Apa wanita itu tersentuh akan jawaban Chandra yang mengisyaratkan jika Chandra begitu bertanggung jawab atas dirinya dan juga keluarganya?
__ADS_1
Ya, kalian benar. Luna tersentuh, jelas wanita cantik berbulu mata lentik itu tersentuh dengan jawaban Chandra dan tanpa sengaja ia tersenyum manis pada suaminya, melupakan pernyataan Chandra yang tidak mau mengakuinya yang membuatnya tadi sakit hati.
Tapi, jika teringat akan Chandra yang memintanya menyembunyikan statusnya, apa pernikahan mereka akan berlangsung lama?
Luna pun akhirnya membuka suara lagi. "Tapi, aku harus tetap jualan, Pak." kekehnya.
*kamu bertanggungjawab atas aku dan Ibu serta Radit karna aku masih menjadi istrimu. Tapi kamu tidak mengakuiku di depan umum. Apa rasa khawatir akan masa depanku bersama Ibu membuatku bersalah jika harus membantah omonganmu.
Maafkan aku ya Bu, bukannya aku ingin membantahnya. Tapi ini demi kita*. batin Luna meringis kembali mengingat pesan Ibu yang mana tidak membolehkannya membantah omongan suami jika tidak melanggar norma agama.
Chandra terlihat berpikir, sebenarnya ia ingin mengajak Luna besok ke tempat dimana yang telah disiapkannya untuk Luna sebagai hadiah pernikahannya. Mengingat ia menikahi Luna hanya dengan mahar seperangkat alat sholat karna ia hanya butuh status dari Luna.
Namun, disaat istrinya sepertinya mendesaknya meminta ijin untuk berjualan seperti biasanya, sepertinya ia harus menjalin kesepakatan dengannya.
"Tapi, aku gak mengijinkanmu berjualan keliling seperti biasanya." ujar Chandra yang membuat Luna sedikit tersenyum seakan dirinya melihat secercah harapan.
Harapan saat nanti jika Chandra menceraikannya ia masih punya usaha untuk kembali menyambung hidup bersama Ibu dan anaknya.
"Kalau tidak keliling aku harus jualan dimana? Aku belum punya cukup uang untuk mengontrak di ruko seperti penjual sukses kebanyakan, Pak."
"Aku akan memberi modal padamu, anggap saja ini hutang. Karna aku tidak mau para pemegang saham dan klienku tahu jika aku masih membiarkan kamu berjualan keliling. Apa kata mereka nanti."
"Tapi... aku tidak mau merepotkanmu, Pak." ujar Luna dengan tegas menggeleng.
"Kalau kau tidak mau, kamu tidak usah berjualan. Kau tau kan? Jika membantah perintah suami itu dosa. D-O-S-A, Luna." Chandra mengucapkan dengan penuh ketegasan.
"Baiklah.. Baiklah.. Aku setuju. Tapi kali ini aku mohon, modal untuk aku jualan di ruko jangan pakai bunga ya, Pak." ujar Luna yang membuat Chandra menahan tawa.
"Oke.. Deal?" tanya Chandra sembari mengulurkan tangan tanda terjalinnya kesepakatan.
"Deal." Luna membalas uluran tangan Chandra dengan rasa senang menyelimutinya.
Ia senang karna sebentar lagi, ia akan memberikan Ibunya tempat tinggal yang layak.
Karna waktu sudah malam mereka pun tidur di ranjang yang sama berbatas guling, melewatkan malam pertama mereka seperti pengantin baru pada umumnya.
__ADS_1
Bersambung....