
Hari ini hari minggu. Hari yang biasanya digunakan kebanyakan orang untuk family time.
Sebagian besar dari mereka memilih untuk jalan-jalan bersama, ke tempat bermain, ke arena yang menantang adrenalin bahkan ke tempat-tempat dimana mereka menyalurkan hobi mereka.
Ada juga sebagian besar dari mereka yang memilih memasak apapun kesukaan setiap anggota keluarga, lalu berkumpul di ruang makan untuk sekadar makan bersama, kumpul keluarga di ruang tengah dan bercengkrama tentang hal apa saja yang telah mereka lalui selama beberapa hari saat kerja.
Bercanda dan tertawa riang dengan asiknya, menghilangkan sebentar rasa penat, jenuh, dan hal-hal yang memberatkan yang sedang dipikirkan saat bekerja.
Begitupun keluarga besar Chandra Abimana.
Chandra yang mempunyai agenda untuk bertemu dengan teman kampusnya dulu saat kuliyah di Amerika, mendekati istrinya yang sedang memakai skincare di depan meja riasnya.
Laki-laki itu menatap istrinya lewat pantulan kaca, lalu tersenyum dan mengecup pelipis istrinya. "Ada apa, Mas?" tanya Luna saat merasa suaminya sedang ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Ganti baju gih." pintanya.
"Ganti baju? Untuk apa, Mas?" Luna mengernyitkan dahinya, heran kenapa suaminya tiba-tiba memintanya berganti pakaian padahal pakaian yang dikenakannya kini adalah pakaian standart yang diharuskannya dipakai saat di rumah.
"Aku ingin mengajakmu ke gedung olahraga."
"Gedung olahraga? Untuk apa, Mas?"
Chandra diam tak menanggapi, laki-laki itu hanya tersenyum lalu berjalan menuju ruang ganti untuk berganti baju olahraga karena ia akan melakukan aktifitas sesuai hobinya.
Luna yang sudah selesai memakai skincare pun masuk mengikuti suaminya menuju ruang ganti, dan saat melihat suaminya memakai pakaian olahraga, ia pun mengikutinya.
"Rambutnya diikat aja, sayang." usul Chandra saat melihat penampilan istrinya yang justru malah menggodanya.
Bagaimana tidak, Luna memakai setelan celana dan kaos olahraga yang begitu ketat dan yang dipilihkan sendiri olehnya agar istrinya itu selalu terlihat cantik.
Luna mengerucutkan bibirnya saat mendengar pinta dari suaminya, "Kalau diikat ntar kelihatan dong, Mas." keluhnya.
"Kelihatan apanya?" Chandra tersenyum saat mengetahui maksud dari istrinya.
"Ini." Luna memperlihatkan tanda merah, cap kepemilikan dari Chandra saat semalam mereka tidak ada puasnya dalam bercinta yang terdapat di hampir seluruh lehernya. "Mas bikin ini banyak banget sih semalam." jelasnya lagi yang membuat Chandra tertawa pelan.
"Enggak apa-apa kalau kelihatan, kan suaminya juga kan yang bikin." Chandra terlihat bangga dengan maha karyanya.
"Kan malu, Mas." Luna tetap tidak mau mengikat rambutnya.
"Kamu malu Mas bikin itu di lehermu?" Chandra berpura-pura kesal agar Luna mau menurutinya.
Menjadi suami dari Luna sudah dua bulan lamanya, membuatnya bisa mengerti tentang istrinya, sifat dan sikapnya.
__ADS_1
"Kalau di rumah aja ya tidak malu, Mas. Tapi ini kita kan mau pergi." ungkap Luna dengan raut wajah serba salah.
"Mau di rumah atau pergi, orang lain yang akan melihatnya sama-sama tau kan kalau kamu sudah menikah. Dan yang membuat tanda merah itu pasti suamimu." Chandra pun mengeluarkan ultimatumnya yang membuat Luna menghela napas pelan lalu menguncir kuda rambutnya.
Chandra tersenyum, lalu maju mengecup bibir mungil milik Luna saat istrinya itu menurutinya.
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
"Maass.. Udah. Katanya mau pergi kok cium-cium terus sih." Luna tersenyum geli sembari menutup bibirnya dengan tangan saat Chandra terus mengulang kecupan di bibirnya.
Laki-laki itu memberengut dengan gaya kakunya yang membuat Luna tertawa terpingkal.
Cup
"Kalau marah tampannya berkurang." Luna mencoba mendinginkan hati suaminya.
Cup
Cup
Cup
Cup.. Dan kecupan kelima pun ditahan oleh Chandra. Laki-laki itu menekan tengkuk Luna, meminta Luna membuka mulutnya agar ia bisa memperdalam ciumannya dan memagut bibir mungil yang telah berani menciumnya.
Saat bibir Luna terbuka, Chandra pun tak tunggu lama langsung mengeksplor mulut istrinya.
Lidah mereka saling membelit, menyecap, merasakan indahnya cinta diantara mereka.
"Kita jadi pergi gak sih, Mas?" Luna bertanya saat suaminya melepas pagutannya dan membuat bibirnya sedikit membengkak.
"Gimana ya?" Chandra pun menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal karena hasratnya sekarang sedang dalam posisi memuncak dan harus segera disalurkan.
"Maaaaaa--" ucapan Luna terpotong saat suaminya kini memagutnya kembali lalu menggendongnya ala bridal style menuju tempat tidurnya.
__ADS_1
Wanita cantik itu tidak perlu bertanya lagi saat mengamati wajah suaminya yang terlihat begitu mendambanya, memintanya lebih dari sekadar ciuman yang ia berikan.
Sesampainya di pinggir ranjang, Chandra pun menurunkan istrinya dengan pelan dan perlahan.
Sebelum kembali menindih tubuh sintal istrinya, laki-laki itu teringat untuk mengirim pesan kepada temannya dahulu untuk mengundur pertemuannya dua jam lagi.
Usai mengirim pesan pada temannya, Chandra pun langsung membuka semua pakaian yang dipakainya dengan Luna yang kini sudah polos tanpa sehelai benangpun.
"Beneran enggak jadi ngajak pergi olahraga ya, Mas?" tanya Luna bodoh saat suaminya hendak memulai penyatuan dengan dirinya.
Berkali-kali melakukan hubungan intim dengan suaminya, membuatnya sedikit rileks dan berani bertanya saat keduanya hampir mencapai puncaknya.
"Olahraganya sama kamu dulu." Chandra berucap dengan mata yang terpejam dan terbuka secara bersamaan, merasakan nikmat bertubi-tubi yang diberikan istrinya.
Satu jam lamanya mereka saling menikmati kenikmatan indahnya surga dunia itu, peluh dan keringat yang mengucur di dahi masing-masing menjadi saksi betapa hebatnya saat mereka saling melebur menyatukan cinta mereka yang semakin menguat.
****
"Kamu mau kemana, Jen?" tanya Chandra saat melihat adiknya sudah siap dengan stelan hendak pergi.
"Kakak juga mau kemana?" alih-alih menjawab, Jenifer malah berbalik tanya melihat Chandra memakai pakaian olahraga dan akan duduk untuk memakan kue yang disediakan oleh Bi Asih guna menemani mereka di kala minggu.
Jenifer pun menoleh pada Luna saat melihat Kakak iparnya baru saja menuruni tangga.
"Kak.." Jenifer mendekati Luna demi memperjelas apa yang tadi dilihatnya.
"Ini banyak banget kayak gini, Kak. Kak Chandra buas banget ya?" tanya Jenifer polos yang membuat Chandra tersedak.
"Uhuk!"
Luna meringis mendapati pertanyaan dari Jenifer, wanita cantik itu terlihat malu.
Apalagi sisa percintaaannya yang baru saja terjadi, membuat tanda merah yang semalam sedikit pudar justru semakin memerah setelah diserang kembali oleh Chandra.
"Enggak usah pura-pura batuk deh, Kak. Kakak apain coba kak Luna sampai lehernya kayak gini?" Jenifer bertanya dengan menaruh tangannya di pinggang, sok dewasa.
"Ada apa, Jen?" Emily yang baru saja masuk ke dalam rumahnya menanyakan hal apa yang terjadi yang membuat Jenifer berkacak pinggang mengobrol dengan Kakaknya.
"Kak Chandra, Mom." Jenifer menunjuk Chandra dengan jari telunjuknya.
"Enggak usah tunjuk-tunjuk. Anak kecil belum berhak tau." putus Chandra lalu berdiri dan melangkah mendekati Luna, menggenggam tangannya lalu keluar dari rumah mewahnya karena ia ada janji dengan temannya.
Bersambung...
__ADS_1