
Menempuh perjalanan yang terasa sunyi karna mereka berdua saling terdiam mendengarkan musik pada radio di mobilnya, beberapa jam kemudian sampailah Chandra dan Luna di rumahnya.
Rumah yang disadari atau tidak oleh Luna, memberikannya rasa aman dan nyaman semenjak ia pertama kali menginjakkan kaki disana.
Chandra langsung memarkirkan mobilnya di garasi karna waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kamu mau mandi dulu?" tanya Chandra saat mereka sudah memasuki rumah mewah milik Chandra.
Luna menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku lapar, Mas." ujar Luna yang bukannya menuju kamar tapi berbelok ke dapur.
"Kamu mau makan apa?" tanya Chandra begitu perhatian, mungkin untuk menebus rasa bersalahnya karna telah meninggalkan Luna sendirian saat tadi mereka selesai makan malam.
"Aku mau masak mie instan aja, Mas. Gak enak mau bangunin para maid jam segini. Mas mau?" tawar Luna pada suaminya saat kini ia sudah mengambil panci untuk merebus mie yang sudah tersedia di kitchennya.
"Iya.. Tapi yang rasa soto aja."
"Okay... Mas tunggu di ruang makan aja, ya. Biar aku rebus dulu mie-nya."
"Gak.. Aku tunggu disini sampai mie-nya masak lalu Kita makan dikamar saja." tolak Chandra karna ingin menunjukkan sesuatu untuk Luna.
Mendengar jika suaminya mau makan di Kamar, Luna pun berbalik badan menatap suaminya sembari menaikkan sedikit alisnya. "Gak baik loh Mas, kalau makan di kamar."
"Apanya yang gak baik?" tanya Chandra sedikit mengalihkan perhatiannya dari macbook yang ada di tangannya pada istrinya untuk mengetahui jawaban dari istrinya.
Luna mengendikkan bahu, "Gak tau.. Tapi, kata Ibu gak baik kalau makan di kamar itu Mas."
"Tapi, kalau sekali-kali gak apa-apa kan?" tanya Chandra yang membuat Luna akhirnya mengangguk lalu berbalik badan mematikan kompornya karna mie-nya sudah matang.
Harum mie yang baru masak dari asap yang mengepul di atasnya semakin membuat perut Luna meronta.
Dan..
Krubuk.. Krubuk..
Perut Luna pun berbunyi dan Chandra tertawa pelan mendengarnya.
"Maaf ya, Mas.. Aku lapar banget soalnya, tadi cuman makan sedikit." Luna berucap sembari mengernyitkan dahinya, malu karna perutnya tidak bisa diajaknya kompromi.
Chandra menghentikan tawanya, lalu mengambil alih nampan berisi mie yang ada di tangan Luna dan mempercepat langkahnya memasuki kamarnya.
__ADS_1
Memang tadi Luna hanya memakan makanan di tempat Permana cuma sedikit, bukan karna sedang jaga image, tapi memang Luna belum terbiasa dengan makanan ala westernfood.
"Surprise!!" ucap Chandra dalam hati saat membuka handle pintu kamarnya dan tersenyum sembari melirik sedikit pada istrinya yang kini terperangah.
"Mas, ini ada apa? kenapa dihias seperti ini kamarnya?" tanya Luna saat melihat kamarnya didekorasi serba warna biru seperti kesukaannya, tak lupa serial kartun favoritnya juga terpampang sebagai wallpaper pemanisnya.
"Biar kamu senang." jawab Chandra apa adanya, karna ia memang ingin menyenangkan hati istrinya.
Berpikir dalam hati, mungkin Luna tidak berani mengutarakan keinginannya karna ia memberi batas padanya.
"Kapan Mas merubahnya? perasaan tadi pagi belum?" tanya Luna sembari duduk di sofa yang sekarang juga diganti warna biru.
Chandra mengendikkan bahu tidak mau menjawab, "Ayo, makan aja. Kasihan perutmu dari tadi bunyi." ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Luna yang memang lapar pun menganggukkan kepala, lalu memakan mie yang sudah hampir dingin itu karna ia sibuk mengamati kamarnya.
**
"Mas.. Gulingnya kemana? Kok gak ada?" tanya Luna saat ia sudah kembali ke kamar setelah meletakkan piring kotornya di dapur.
"Gulingnya lagi dicuci mungkin sama Bi Asih.. Sana cepetan bersih-bersih, terus ganti baju." pinta Chandra dengan mematuti layar telepon genggamnya, sedang bertukar pesan dengan rekan bisnisnya.
Luna menganggukkan kepala lagi, menurut apa yang dipinta oleh suaminya. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di ruang ganti, Luna menemukan banyak sekali gaun tidur kurang bahan dan tidak menemukan piyamanya yang biasanya ia pakai.
"Mas.. Piyamaku kemana?"
"Udah dibuang."
"Loh.. Kenapa dibuang?" Luna mengernyitkan dahinya heran, karna setaunya piyama yang dibelikan oleh Chandra itu harganya berjuta-juta dan sekarang suaminya bilang jika barang itu dibuang.
apa dia gak sayang sama uangnya ya? batin Luna.
"Kamu bisa pakai gaun tidur yang ada disitu aja, Lun." ujarnya tak menjawab pertanyaan Luna.
"Pakai gaun tidur kurang bahan itu? terus gimana kalau terjadi apa-apa sama aku? eh, tapi bukankah Ibu bilang jika dia berhak atas diriku ya. Aduh.. gimana ini? tapi, aku belum siap." gumam Luna bermonolog sembari menggigit kuku jarinya.
Menimbang dan berpikir beberapa menit, Luna pun akhirnya memilih memakai gaun tidur kurang bahan itu daripada dia tidak bisa tidur dengan memakai dress atau celana jeans yang ketat.
__ADS_1
Keluar dari ruang ganti, ia pun berjalan dengan kaku dan perlahan menuju tempat tidurnya dimana suaminya sedang tidur terlentang hanya memakai boxer rumahannya, karna dilanda rasa malu dan gugup berada di situasi yang berbeda.
Suaminya, sudah mengetahui status aslinya.
Dan ia yang membahas lebih dulu tentang berhubungan badan, dan secara terang-terangan seperti membuka pintu untuk Chandra meminta haknya sebagai suami.
Lantas, jika dia menolaknya. Pastilah dia akan berdosa bukan?
Luna mengesah, menggigit bibirnya, memilin ujung gaun tidurnya saat tinggal selangkah lagi ia sampai di tempat tidurnya.
Chandra yang melihat Luna sudah berada di dekatnya pun bangkit lalu menarik istrinya dan karna keadaan Luna yang tidak seimbang, wanita itu terjatuh di pangkuan suaminya.
"Mas.." panggil Luna dengan menunduk.
"Hemm."
"Turunin aku, Mas."
"Kan kamu sendiri yang minta dipangku." Luna semakin menunduk lalu turun dari pangkuan Chandra.
"Gulingnya kemana, Mas?" tanya Luna saat kini ia sudah memakai selimutnya menutupi pahanya yang terekspos dengan jelas.
"Dari tadi nanya guling, mau buat apa?" tanya Chandra berpura-pura bodoh.
"Buat pembatas. Biasanya kita tidur kan pakai guling buat batasnya, Mas. Nanti kalau aku tidurnya agak dekat Mas, gimana?" tanya Luna yang sedetik kemudian merutuki pertanyaan bodohnya.
Chandra tertawa, "Bukankah kamu nyaman kalau tidur nempel aku? nanti kalau ada ujan dan petir, terus lampu padam kan kamu gak usah buang guling itu untuk meluk aku." ujarnya yang merupakan ujaran terpanjang sepanjang obrolannya bersama Luna yang terjadi malam itu.
"Waktu itu aku kan takut, Mas." kilah Luna dengan memalingkan wajahnya.
"Semoga aja nanti turun hujan dan lampu padam ya," ujar Chandra yang kini mulai memakai selimut dan tidur terlentang sembari menoleh pada Luna yang tidak mau menatapnya.
"Loh, kok gitu sih Mas doanya.."
"Lha gimana? Biar kamu mau peluk aku." ujar Chandra sembari memiringkan badannya mengusap tangan Luna.
"Maksud Mas gimana?" tanya Luna yang heran dengan perubahan sikap oleh suaminya.
"Maksud aku, gini.." Chandra menelusupkan tangannya di belakang leher Luna, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Saat Luna sudah dalam dekapannya, Chandra pun mengecup kening, kedua pipi, hidung dan bibir Luna yang membuat Luna hanya bisa mengerjapkan matanya karna shock. "Ini rutinitas baru untuk kita saat malam hari, saat kita mau tidur. Kamu tidak bisa menolaknya, karna kamu istriku."
__ADS_1
"Heuh?" Luna bergumam yang tidak didengar oleh Chandra, Karna laki-laki itu sudah memasuki alam mimipinya.
Bersambung...