
Setelah melakukan penerbangan hampir delapan belas jam lamanya, sampailah mereka di Bandar Udara Hearthrow, London.
Chandra turun dari privat jetnya dengan wajah sumringahnya, karena setelah sekian tahun lamanya ia kembali lagi ke negara tempat dimana Mom dan Dadnya tinggal.
Negara yang dulu pernah ia kasih daftar merah, karena hubungannya yang tidak baik dengan Momnya.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa driver yang sudah disiapkan oleh Abimana untuk menjemput Chandra bersama istri dan keluarga istrinya.
"Pagi." Chandra pun membalas sapaan itu yang membuat Luna sempat menoleh menatapnya sebelum memasuki mobil.
"Kita ke apartemen dulu, Je."
"Baik, Tuan."
"Kenapa harus ke apartemen, Mas? Rumah Dad dan Mom ada di apartemen?" Luna bertanya dengan bodohnya.
"Bukan, Sayang.. Kita ke apartemen dulu karena kamu pasti butuh istirahat sebentar." Chandra menjadi suami pengertian setelah melihat raut lelah istrinya.
"Memangnya enggak apa-apa?" Lagi-lagi Luna bertanya.
"Mom dan Dad pasti mengerti alasan yang Mas berikan." tutur Chandra lembut sembari menoleh ke belakang, dimana istrinya kini sedang duduk bertiga dengan Ibunya beserta Radit karena mobil sudah mulai berjalan.
Luna balas tersenyum, dia hanya bisa mengikuti kemauan suaminya tanpa bisa membantahnya karena baru pertama kali menginjakkan kakinya disana.
Sang Ibu yang merupakan wanita paling bahagia saat ini karena melihat perhatian yang tulus dari menantunya kepada anaknya hanya bisa menepuk pelan paha Luna, agar anaknya itu tidak membantah lagi pada suaminya.
***
"Ibu dan Radit di kamar ini ya.. Saya dan Luna mau istirahat dulu." Chandra bertutur lembut seraya menunjukkan kamar pada Ibu mertuanya saat Luna sudah memasuki kamarnya yang dijawab gelengan kepala oleh Radit.
"Aku mau es krim, Nek." Radit merengek.
"Mau saya belikan, Bu? Daddy belikan es krim ya, Dit?" Chandra menawarkan diri yang dijawab gelengan kepala kembali oleh Radit.
"Aku maunya beli sama Nenek, Daddy.. Bukan Daddy yang belikan." rajuk Radit dengan gaya khasnya yang membuat Ibu Halimah langsung tersenyum dan mengangguk.
"Biar Ibu yang membelikannya, Nak. Kamu istirahat sana dengan Luna." putus Ibu Halimah yang membuat Chandra menganggukkan kepalanya seraya menimpali, "Es krim ada di lobi apartemen ini ya, Bu.. Disitu ada banyak jenis es krim dengan berbagai merk ternama di dunia. Jadi, Ibu tidak usah keluar jauh-jauh untuk membelikan es krim Radit."
Apartemen milik keluarga Abimana memang apartemen elite yang lengkap dengan segala fasilitas mewahnya.
Mereka yang menginap disitu tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk sekadar makan ataupun minum karena di lobi apartemen itu juga terdapat restoran dengan berbagai jenis masakan dari berbagai negara ternama.
"Terimakasih, Nak."
"Sama-sama, Bu." Chandra pun langsung masuk ke dalam kamarnya setelah Ibu Halimah berjalan menuju lift untuk menuju lobi bersama Radit.
***
__ADS_1
"Anda masih mempunyai jadwal sore ini, Tuan muda." Sergah Asisten pribadi Raka saat melihat Tuan-nya itu hendak pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
"Jadwal apa?" Raka mengesah memikirkan Kinara, bagaimanapun ia harus secepatnya sampai di apartemen agar bisa mengawasi istrinya.
"Menggantikan Tuan Besar untuk menghadiri acara Baby Shower yang diadakan oleh Keluarga Tuan Abimana. Tuan Besar tidak ada waktu untuk terbang ke London dan Anda diminta menggantikannya." jelas sang Asisten itu lagi yang akhirnya membuat Raka kembali duduk di kursi kebesarannya.
Raka belum mengetahui jika Abimana adalah Ayah dari Chandra dan Jenifer.
Raka pun tiba-tiba memijit pelipisnya saat ia belum bisa pulang ke apartemennya.
Sebenarnya.. Hatinya sedang merasakan kekacauan yang teramat. Tapi ia tidak tau entah apa yang sedang terjadi.
Sedari tadi pikirannya hanya terpusat pada Kinara.. Merasai ada sesuatu yang akan terjadi yang entah dirinya sendiri belum mengetahui hal apa.
Akhirnya ia pun mengambil telepon genggamnya, lalu dengan secepat kilat mencari nomor kontak bodyguard-nya untuk menanyakan keadaan Kinara.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Raka to the point saat sang bodyguard sudah menjawab panggilan tersambungnya.
"Nyonya tidak mau makan dari pagi, Tuan. Badannya begitu lemas, dan setiap dipasangi infus asupan nutrisi langsung dilepasnya." jelas Sang bodyguard yang membuat Raka nenyandarkan kepalanya lalu mendongak menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Dia masih menangis?" Raka pun bertanya setelah keheningan beberapa detik.
"Iya Tuan.. Nyonya terus menangis." jelas sang Bodyguard yang membuat Raka langsung memutus panggilan tersambungnya.
Aku harus melakukan apa agar kamu bisa bangkit lagi, Ra? batin Raka sembari menatap langit-langit ruang kerjanya.
Tak hentinya rasa bersalah itu bergelayut dalam hatinya saat mengingat bagaimana kini keadaan Kinara.
***
Tidak sampai satu jam dari apartemen yang tadi disinggahinya, kini mereka pun sampai di kediaman Abimana.
Ibu Halimah dan Luna dibuat takjub saat mereka turun di pekarangan kediaman Abimana, sungguh... Mereka berdua seperti melihat istana yang begitu megah nan mewah.
Daripada rumah mewah Chandra yang ada di Indonesia.. Memang kediaman Abimana lebih dua kali lipat besar dan mewahnya.
"Ayo masuk, Jeng." Emily menyambut besannya dengan ramah dan suara begitu lembut yang membuat Luna merasakan kehangatan dalam dirinya.
"Iya.. Terimakasih, Mbak." Ibu Halimah tersenyum lalu mengajak Radit masuk ke dalam kediaman Abimana.
Emily balas mengangguk dengan senyuman yang seakan tidak luntur saat menatap Ibu Halimah yang membuat Luna terus menatapnya.
Dulu.. Saat akan menghadiri pesta pernikahannya dengan Chandra.. Ia hanya melihat keakraban Ibunya dan Mom mertuanya tanpa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.
Dan sekarang.. Ia bisa mendengar dan merasakannya jika memang Mom mertuanya begitu menerima Ibunya di dalam keluarganya.
Bolehkan Luna merasa bahagia saat ini?
__ADS_1
"Masuk, Sayang." Emily pun merangkul pundak Luna saat melihat menantunya itu hanya terus menatapnya tanpa mau melangkah memasuki kediamannya.
Luna mengangguk dengan lebih dahulu menyalami tangan Ibu mertuanya lalu menggenggam tangan Chandra yang hanya diam menatapinya dengan tersenyum dan masuk ke dalam kediaman mertuanya dengan hati berdebar.
Pertama kali.. Baru pertama kalinya ia berkunjung ke tempat mertuanya dan wajar rasanya jika Luna merasakan hal tak biasa dalam hatinya.
Apalagi saat melihat Emily sekarang seperti sangat menyayanginya dengan berjalan di sampingnya.
"Ndra.." panggil Emily saat Chandra hendak mengajak Luna ke kamarnya yang sudah lama tak dikunjunginya.
"Iya, Mom." Chandra pun menoleh pada Momnya yang berada di sebelah Luna.
"Ke kamar Jenifer.. Bukan ke kamarmu, sebentar lagi acaranya mau dimulai. Luna sendiri yang belum dirias." ujar Emily mengingatkan yang dijawab anggukan oleh Chandra.
"Memangnya ada acara apa, Mom?" Luna pun bertanya, karena disini ia belum tau apa-apa.
"Acara Baby shower untukmu dan Jenifer, Sayang. Kamu belum dikasih tahu Chandra?" Emily bertanya pada Luna, namun matanya memicing pada Chandra.
Chandra menampilkan cengirannya saat kini kedua wanita paling berharga di hidupnya sedang menatapnya.
"Kata Mom, Chandra harus menyembunyikannya dahulu dari Luna." ujar Chandra akhirnya.
"Tapi kan kalau udah di London.. Bisa dikasih tahu, Ndra." Emily pun menimpali yang membuat Luna menggelengkan kepalanya.
"Mas main rahasiaan sama aku sekarang, ya?" Luna pun memicingkan matanya pada Chandra saat Emily sudah pergi meninggalkan mereka untuk berbicara dengan Ibu Halimah, besannya.
"Namanya bukan main rahasia, Sayang. Tapi namanya bikin kejutan." Chandra mengecup pipi istrinya saat melihat istrinya itu memanyunkan bibirnya.
"Pasangan baru romantis banget." Celetuk Kezia saat merasa gerah melihat Chandra mengecup pipi Luna.
Selama menjadi kekasih Chandra.. Belum pernah sekalipun Chandra mencium pipinya.
Chandra malas menanggapi celetukan Kezia dan memilih mengajak Luna segera menuju kamar Jenifer.
"Chandra.." Maria menampilkan muka cemberutnya saat melihat keponakan yang begitu menyayanginya itu masuk ke dalam kamar Jenifer.. Dimana dia baru selesai dirias.
"Pipi Bibi kenapa merah?" Chandra bertanya setelah Maria sudah berada begitu dekat dengannya.
Rupanya make-up yang menempel di wajahnya tidak bisa menutupi bekas merah yang ada di pipi sebelah kanan Maria.
Maria mencebikkan bibirnya, seakan malu ingin mengatakan hal sebenarnya kenapa pipinya bisa meninggalkan bekas merah.
"Bi.. Kenapa pipi Bibi merah?" Chandra mengulangi peertanyaannya yang kebetulan Emily sedang berjalan kembali mendekatinya untuk melihat apakah menantunya sudah mulai dirias atau belum.
"Pipi Bibimu itu merah karena abis ditampar oleh Mom, Ndra." Emily dengan cepat menjawab, lalu dengan senyuman sinisnya Emily kembali pergi menuju kolam renang yang nantinya akan digunakan untuk tempat baby shower, mengecek segala persiapannya.
Maria hanya bisa menunduk, malu dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa? Kenapa Bibi bisa ditampar oleh Mom?" Chandra pun kembali bertanya yang membuat Maria tidak bisa menjawabnya.
Bersambung..