
"Mas..." panggil Luna begitu pelan pada suaminya yang tengah duduk di sofa.
"Hm?"
"Mas sendiri aja yang lihat hasilnya ya." ujarnya sembari menunduk.
"Memangnya kenapa?"
"Aku belum siap untuk kecewa, Mas. Aku takut ngecewain Mas yang terlihat sebahagia itu."
"Memang sudah keluar hasilnya?" Chandra bertanya dengan menatap nanar istrinya.
Berharap jika sesuatunya memang iya. Memang iya dia akan menjadi seorang Daddy.
"Belum tahu." Luna menggelengkan kepalanya.
Chandra berdiri, lalu melangkah menghampiri istrinya. "Apapun hasilnya, kita sudah berusaha. Kalaupun belum rezekinya, kita bisa usaha lagi." ujarnya menguatkan Luna, tapi sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.
Luna mengangguk, dan Chandra pun langsung masuk ke kamar mandi untuk melihat hasilnya.
Dan..
Dan..
Dan..
Garis satu lah yang terlihat. Chandra memegang alat test kehamilan itu sembari mengembuskan napas kasar.
Tidak.. Ia tidak boleh kecewa. Bukankah usia pernikahannya dengan Luna baru seumur jagung? Lantas apa yang membuatnya harus kecewa jika memang istrinya belum mengandung?
Dirinya saja baru akan mengadakan pesta pernikahan untuk istrinya besok.. Ya, besok. Dan dia sudah lancang berharap lebih dari istrinya.
Mungkinkah ini karma untuknya karena menyuruh Luna menyembunyikan statusnya dulu? Hingga harapannya saat mendengar istrinya mual tidak sesuai dengan realitanya?
Chandra membawa alat test kehamilan yang menunjukkan garis satu itu keluar dari kamar mandi.
"Negatif ya, Mas?" tebak Luna saat melihat ekspresi Chandra.
Laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu sudah berusaha menetralkan ekspresinya agar tidak terlihat kecewa.
Tapi matanya tidak bisa berbohong, Chandra menatap istrinya dengan tatapan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Disitu terselip rasa kecewa, sedih, tapi juga berusaha memberikan kenyamanan pada istrinya jika dia tidak kecewa sebagaimana yang ia janjikan dalam hatinya saat dulu ia akan menikahi wanita yang kini berdiri di hadapannya.
Chandra maju melangkah mengikis jarak, mendekap istrinya seerat mungkin. "Kita bisa berusaha lagi. Nanti kita bikin lagi." ujarnya lalu mengecup pelipis Luna.
__ADS_1
Luna terdiam, wanita itu jelas bisa merasakan bagaimana perasaan Chandra walaupun seberusaha apa Chandra menutupinya.
Suaminya kuat. Ia juga harus kuat. Luna pun menghela napas pelan, lalu mendongak menghalau air matanya. "Iya, Mas.. Mungkin belum rezeki kita."
"Bagaimana dengan Dad dan Mom, Mas?" tanya Luna setelah keheningan terjadi, suaminya hanya terus memeluknya tanpa ia tahu jika Chandra meneteskan air mata.
Ya.. Laki-laki tampan itu terlihat lemah karena ia kecewa dengan hasil testnya.
"Mom dan Dad pasti mengerti." ujarnya lalu melepas dekapannya.
"Sebaiknya kita tidur, besok adalah hari penting untuk kita." ajaknya kemudian sembari menatap istrinya.
Luna mengangguk, wanita cantik itu menuruti apa yang menjadi kemauan suaminya.
"Ndra.." teriak Emily sembari mengetuk pintu kamar Chandra.
Chandra dan Luna yang baru saja hendak memejamkan matanya pun menyibak selimutnya kembali lalu berjalan membuka pintu.
"Bagaimana hasilnya, Ndra?" Emily terlihat begitu antusias.
Luna menoleh pada Chandra, dan ternyata Chandra pun menoleh padanya.
Keduanya bertatapan lalu Luna pun mengangguk. "Hasilnya negatif, Mom." ujar Chandra akhirnya.
"Negatif? Kamu yakin, Ndra?" Emily langsung terlihat kecewa.
"Luna.. Kamu tadi mual karena mencium bau rendang kan?" Emily bertanya saat ia sudah bertanya dengan Bi Asih lauk apa yang tadi membuat putri dan menantunya langsung mual.
"I--ya, Mom." Luna mengangguk.
"Apa kamu pernah begitu sebelumnya?" selidik Emily.
Luna terlihat mengingat dan sedetik kemudian wanita itu menggelengkan kepala, "Belum pernah, Mom. Baru tadi."
"Apa kamu pernah merasa pengen sesuatu gitu? Makanan misalnya?" Emily masih berharap jika menantunya tengah mengandung.
Wanita itu membesarkan hatinya untuk tetap berharap jika memang menantunya itu hamil, bisa saja salah cek test kehamilan atau apa.
"Maksud Mom ngidam?" Chandra menyela yang dijawab anggukan oleh Emily.
"Belum pernah, Mom." jawab Luna lagi yang membuat Emily kini menganggukkan kepalanya kecewa. "Mungkin seperti Jenifer, kamu masuk angin tadi jadinya nyium bau rendang mual." jelas Emily lalu pergi dari kamar Chandra menuju kamarnya.
"Mom kecewa banget, Mas. Sepertinya Mom sangat berharap segera mempunyai cucu." ujar Luna dengan tatapan sendunya.
Chandra mengusap pundak istrinya. "Enggak apa-apa. Yang penting kita terus usaha." ujarnya yang membuat Luna menganggukkan kepalanya sembari menggigit bibirnya.
__ADS_1
****
KEESOKAN PAGINYA
Jam baru merujuk pukul enam pagi, pintu kamar Chandra sudah diketuk entah keberapa kali.
Wanita cantik dan laki-laki tampan itupun menguap lebar lalu merentangkan tangannya saat merasa malas untuk bangun, saat mendengar suara anak kecil yang kini memanggilnya Mommy dan Daddy.
"Ibu kesini, Mas?" Tanya Luna dengan binar bahagianya saat dengan jelas mendengar suara Radit.
"Iya.. Kita berangkat ke hotel bersama-sama." jelas Chandra yang membuat Luna mengangguk paham.
"Mas juga ngajak pegawai yang Mas kerjakan untuk membantu Ibu di ruko?" tanyanya yang merujuk pada Sintia.
"Memangnya kenapa?" Chandra tidak tahan untuk tidak tersenyum.
"Jawab aja, Mas." tuntut Luna dengan menggoyangkan lengan Chandra.
"Tuh... Radit manggil terus dari tadi." Chandra bangun dari tempat tidurnya, mengalihkan pembicaraan yang membuat Luna mencebikkan bibirnya kesal.
Ibu bilang aku berisi.. Sintia bilang kegendutan.. terus Ibu mertuaku ngasih gaun nanya kekecilan atau enggak? batin Luna kesal menatap suaminya yang kini memeluk Radit.
"Mommy.." teriak Radit lalu naik ke tempat tidur untuk memeluk Luna.
"Radit kangen Mommy, enggak?" Luna bertanya sembari menangkup wajah Radit dengan tangannya lalu mencium seluruh inci wajah tampan anak laki-lakinya.
"Kangen dong.. Ladit kangen banget sama Mommy." ujar Radit yang belum bisa mengatakan huruf "R".
"Uluh.. pinternya anak Mommy." Luna tertawa bahagia bersama Radit, membuat Chandra tersenyum melihatnya.
"Mbak Luna sudah siap?" tanya seorang MUA handal yang sudah menunggu Luna bangun sedari tadi, ia juga yang menyuruh Radit untuk mengetuk pintu kamar Chandra.
"Istri saya belum mandi." Chandra yang menjawab, lalu berjalan melangkah ke kamar mandi.
MUA tersebut mengangguk paham, lalu keluar lagi dari kamar Chandra.
"Mommy mandi dulu ya, Dit." ujar Luna pada Radit yang membuat Radit langsung turun dari pangkuannya.
Setelah Radit keluar dari kamarnya, Luna pun segera masuk ke kamar mandi menyusul suaminya karena tidak mau MUA itu menunggu terlalu lama.
Sesampainya di dalam kamar mandi ternyata Chandra tengah menunggunya. "Mas belum mulai mandi?" tanyanya dengan menatap dada bidang beserta perut eightpack milik Chandra yang selalu bisa membuatnya tidak bisa berpaling.
"Belum.. Mas nungguin kamu. Biar cepet mandinya."
"Nungguin aku? Bukannya malah lama, Mas?"
__ADS_1
"Enggaklah.. Mandi bareng itu bisa mempercepat segala sesuatu." ujarnya dengan maksud lain di dalamnya.
Bersambung..