
"Dooorrr!!" teriak Reyna sembari menepuk punggung Luna, mengagetkannya.
Luna mengusap dadanya, menetralkannya dari keterkejutannya.
"Kamu ngapain sih, Reyn. Ngagetin orang aja."
"Lah emang itu tujuan aku, Lun." Reyna berkata sembari menunjukkan cengirannya.
"Tujuan? Emang ya kamu ini." Luna mencebikkan bibirnya sembari memukul lengan Reyna pelan.
"Hahaha.." Reyna tertawa karna berhasil membuat Luna kesal. "Kamu kenapa sih Lun? Ngelamun aja dari tadi kerjaannya."
"Aku.. Aku.." Luna menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal setiap kali ingin menceritakan kepribadiannya.
Hal yang terjadi padanya, kepada siapapun. Termasuk Reyna. Luna memang ceria, tapi terkesan tertutup. Sepeerti di awal cerita, setiap ada masalah, Luna lebih memilih memendamnya sendiri, lalu melupakannya seolah-olah masalah itu tidak pernah muncul di hidupnya.
"Kamu masih segitunya gak mau cerita sama aku?" Reyna terlihat menghela napasnya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Lun.. Come on, kita temenan bukan baru satu atau dua hari. Tapi udah bertahun-tahun. Aku aja selalu bikin kamu seperti 'tong sampah' setiap aku ada masalah. Aku selalu ceritain semua masalah aku ke kamu, lalu kamu kasih solusi ke aku. Kamu tau gak apa yang aku rasain setiap kamu ngasih solusi ke aku?" tanya Reyna sembari menatap mata Luna.
Luna hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Huft.." Reyna menunduk sembari mengembuskan napas kasar, seakan lelah menasehati temannya yang selalu tertutup akan dirinya. "Aku itu merasa lega Lun setiap kamu kasih solusi ke aku dari setiap masalah yang aku ceritain ke kamu."
"Dan.. Aku ingin kamu juga begitu, aku ingin kita bisa saling berbagi dalam suka maupun duka. Ya.. Walaupun aku jarang main ke rumahmu, bukan berarti kita sahabat palsu kan Lun?" sambungnya kemudian yang malah sedetik kemudian mendengar isakan kecil dari Luna.
"Maafkan aku Reyn.. Bukannya aku gak mau berbagi suka dan duka sama kamu. Tapi aku memang terbiasa seperrti ini dari dulu." ujar Luna sembari menatap kedua tangannya yang saling bertautan di atas pahanya.
"Dari dulu? Sejak kapan kamu seperrti ini, Lun? Dan apa hal yang mendasarinya jika aku boleh tau?"
Luna lagi-lagi menunduk, kristal bening itu mengalir begitu deras seakan tertampar dengan ucapan Reyna yang seakan tulus berteman dengannya.
maafkan aku ya, Reyn. Karna aku sempat meragukanmu. batin Luna sembari terisak.
"Aku.. Aku begini semenjak Ayah pergi meninggalkan Ibu, Reyn. Ayah pergi begitu saja meninggalkan kita hanya karna.. hikhik." Luna semakin kencang menangis, tak kuasa meneruskan perkataan yang begitu menyakitkannya dan bahunya pun bergetar hebat hingga Reyna menariknya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tapi aku bukan Ayahmu, Lun.. Aku temanmu. Aku seorang wanita." ujar Reyna sembari mengusap lengan Luna, menenangkannya.
Luna melepas pelukannya, ia menatap Reyna dengan intens, lalu berkata tanpa mengusap air mata yang terus membasahi wajah cantiknya. "Aku tau Reyn. Aku tau kau bukan Ayah. Tapi setelah kepergian Ayah, semua keluarga dan teman dekat bahkan sahabat Ibuku, tidak ada yang peduli pada kami dan terutama sahabat Ibu sewaktu kecil.. Aku begitu ingat Reyn, dia begitu senang melihat Ibu menderita tanpa berniat sedikitpun membantunya bahkan menghiburnya."
"Segitu burukkah aku di mata kamu, Lun?" tanya Reyna sembari menunjukkan raut wajah sendu yang tidak dibuat-buat.
"Maksud kamu, Reyn?" Luna berbalik tanya sembari mengernyitkan dahinya..
"Kamu berucap seperti itu, seperti kamu menyamakan aku dengan sahabat kecil Ibumu, Lun." Reyna berkata dengan meneteskan air mata.
"Aku.. Aku ti--dak bermaksud seperti itu, Reyn "
"Lalu maksud kamu apa? Kamu juga tidak mau terbuka denganku kan, Lun?" tuntut Reyna dengan menyelami manik mata Luna.
"Aku... Aku sudah menikah, Reyn." akunya kemudian. Belajar terbuka dengan sahabatnya walaupun dengan hati yang masih gamang.
Hah?
"Kamu menikah lagi?" tanya Reyna saat ia sudah sadar dari keterkejutannya.
Luna menggelengkan kepala, lalu menunduk dalam ingin mengakui status palsu yang disembunyikannya. "Aku baru menikah, Reyn. Aku masih gadis sepeerti kamu dan Radit hanya anak asuh yang aku temukan sewaktu aku jualan bersama Ibu, dulu."
"Tidak.. Aku tidak menipu kalian, hanya saja aku hanya mengaku janda agar laki-laki yang mau mengajakku menikah harus juga menerima Radit. Sebenarnya Ibu juga melarang, tapi Ibu sudah terlalu tua jika harus mengurusnya, Reyn."
Reyna menganggukkan kepala mendengar penjelasan Luna.
Namun, baru saja hampir bertanya lagi, Luna sudah berdiri dan meemakai tasnya saat wanita cantik itu ingat jika ia ada janji dengan Raka di Cafe Pelangi.
"Kamu mau kemana, Lun? Aku baru mau bertanya."
"Aku ada urusan bentar, besok aja lagi."
****
CAFE PELANGI
__ADS_1
Raka yang sudah menunggu Luna di Cafe Pelangi sejak sepuluh menit yang lalu, hanya bisa menghela napasnya lalu meminum jus jeruknya dan kembali diulangi sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hari itu dia gugup, sangat gugup karna untuk pertama kalinya ia ingin menyatakan perasaannya pada wanita cantik yang tak lain muridnya sendiri.
Bukan karna tak percaya diri, tapi karna takut jika Luna menolaknya adalah alasan utama Raka terlihat sangat gugup saat ini.
Dosen tampan yang sudah menyimpan rasa begitu lama pada Luna it sudah mempersiapkan penampilannya sekaligus bunga mawar untuk Luna.
Penantiannya pun berujung manis saat melihat Luna memasuki Cafe dengan menoleh kekanan kekiri mencarinya.
"Lun.." panggil Raka dengan melambaikan tangannya agar Luna mengetahui dimana ia duduk.
Luna tersenyum seraya mengangguk lalu berjalan ke tempat Raka telah menunggunya.
"Sudah lama menunggu, Pak?" tanya Luna sembari duduk di kursi.
"Baru saja kok." jawab Raka sembari tersenyum manis pada Luna, wanita cantik itu walaupun sudah luntur make upnya namun tetap terlihat begitu cantik.
"Ada hal penting apa ya Pak yang membuat Bapak mengajak saya bertemu disini?" tanya Luna sembari menaruh tangannya di atas meja.
Namun saat Raka baru mau membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaannya, perhatiannya teralihkan kala ada seorang wanita cantik berteriak di kursi yang terletak di sudut Cafe tak jauh dari kursi yang ia duduki.
Wanita cantik itu berusia tak jauh dari usianya, mungkin seumuran.
"Kak Chandra.." teriaknya yang membuat Luna mengernyitkan dahinya dan reflek langsung menoleh ke arah pintu daan ternyata Chandra yang diteriakinya adalah Chandra-suaminya.
ngapain mas Chandra kesini? dan siapa wanita cantik itu? lalu.. kenapa wanita itu berani mencium pipi mas Chandra? batin Luna kesal sembari terus menatap interaksi Chandra dan Jenifer yang sedang cium pipi kanan dan kiri dan memeluk dengan erat.
Raka yang melihat Chandra sedang bersama seorang wanita pun berinisiatif memanggilnya, ia rasa ia akan double date dengan sahabat dosen yang masih sama-sama lajang itu.
Raka menyunggingkan senyumannya, dan sedetik kemudian ia pun memanggil Chandra. "Chandra?" teriaknya.
gawat.. ngapain pak Raka manggil mas Chandra sih. batin Luna sembari menunduk, mengalihkan tatapannya agar Chandra tak mengetahui jika itu dirinya.
Chandra menoleh mendengar ada orang yang memanggilnya, namun fokusnya bukan pada siapa yang masih melambaikan tangannya padanya, tapi pada wanita cantik yang wajahnya menunduk dalam.
__ADS_1
Luna? Ngapain dia sama Raka? Kemana pak Mun? kenapa dia tidak mengabariku kalau Luna mau bertemu dengan laki-laki. geram Chandra tapi walaupun begitu ia membalas panggilan Raka dengan menggoyangkan tangannya. "Hai."
Bersambung...