
"Selamat pagi menjelang siang semuanya." suara merdu milik Kinara menyapa, membuka pelajaran yang baru pertama kali akan diajarkannya di kelas Luna.
"Siang, Miss.." jawab semuanya serempak kecuali Luna.
Wanita cantik itu terus menatap Kinara tanpa berkedip, masih bertanya-tanya dalam hatinya tentang hubungan dosen baru itu dengan suaminya.
Kinara pun langsung mengajarkan apa yang akan diajarkan olehnya dengan berkenalan dulu, mengenalkan namanya pada mahasiswa yang belum mengetahui namanya.
Luna menyimak perkenalan Kinara mengenalkan dirinya, dan saat wanita cantik itu mengucapkan dimana tempat kuliyahnya saat menempuh pendidikan Sarjana.. Luna baru menyadari jika wanita itu pernah satu kampus dengan suaminya.
Lalu, hubungan apa yang pernah terjalin diantara mereka yang membuat Chandra sampai menyimpan fotonya? Apa mereka adalah sahabat? Teman dekat? Atau pacar?
"Aaarrrghhh!"
Luna pun menggeram tertahan memikirkannya.
***
Pukul dua belas siang.. Chandra baru bangun dari tidurnya.
Laki-laki itupun langsung turun ke ruang makan untuk makan siang setelah membersihkan diri.
"Selamat makan, Tuan." ujar Bi Asih setelah menghidangkan makan siang untuk Chandra.
"Jenifer sudah makan, Bi?" Chandra bertanya yang membuat Bi Asih menoleh menatapnya.
"Sudah, Tuan.. Tadi saya mengantarkannya di depan pintu Nona." jelas Bi Asih yang membuat Chandra menganggukkan kepalanya.
"Dia tidak mau makan di ruang makan?"
"Tidak Tuan.. Sudah dua hari Nona Jenifer sama sekali tidak keluar kamar." terang Bi Asih.
"Apa dia sakit?" Chandra pun bertanya lagi.
"Nona Jenifer terlihat baik-baik saja, Tuan." jelas Bi Asih yang membuat Chandra langsung memakan makan siangnya.
Setelah makan siang, Chandra yang memang belum berniat menanyakan lagi keadaan adiknya, langsung menaiki tangga rumahnya kembali.
Laki-laki itu harus melakukan workout di tempat gym yang berada di sebelah kamarnya agar badan atletisnya terjaga.
Jangan lupakan perut eightpack milik Chandra yang selalu bisa membuat Luna hampir mengeluarkan air liurnya setiap menatapnya.
Usai workout dengan keringat yang bercucuran di setiap lekuk tubuhnya, Chandra pun duduk bersandar sembari meminum jus jeruk yang telah disediakan Bi Asih untuknya.
"Jen.. Kamu kenapa? Kakak sebenarnya tidak tega melihatmu seperti itu.. Tapi, Raka bukanlah orang baik." gumam Chandra bermonolog sembari menatap kolam renang rumahnya yang terlihat dari kaca jendela ruangan gymnya.
Pikiran Chandra terus melayang memikirkan adik semata wayangnya yang selalu terlihat murung.
__ADS_1
Bukan dalam hitungan hari Jenifer seperti itu, tapi sudah hitungan minggu dan Chandra belum bisa melakukan apa-apa karena hanya tau adiknya begitu karena ia larang bertemu dengan Raka.
Chandra menghela napas pelan, lalu meminum jus jeruknya hingga tandas dan kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Chandra mendengar jika nada dering ponselnya berbunyi.
Ponsel itu ia letakkan di atas meja nakas, dan saat akan ia raih panggilan itu sudah mati.
Chandra pun membuka layar ponselnya, dan mengernyitkan dahinya heran saat menemukan jika Moreno--asisten dosennya lah yang menelpon.
"Ada apa Moreno telpon sampai sebanyak ini? Hal penting apa yang akan dibicarakannya?" Chandra pun bergumam dengan menatap puluhan kali panggilan tak terjawab dari Moreno di layar ponselnya.
Tak tunggu lama, Chandra pun langsung menekan kembali nomor Moreno guna memanggilnya.
Baru dering pertama, Moreno sudah menjawab panggilan dari Chandra.
Panggilan tersambung..
Chandra: Ada apa, Ren?
Moreno: Saya mengganggu waktu Bapak ya? Maaf ya, Pak.
Chandra: Tidak.. Saya tidak sibuk.
Moreno: Baiklah kalau begitu, Pak. Saya cuman mau bilang, kalau saya mau mengundurkan diri menjadi asisten Bapak di kampus.
Moreno: Saya mau melanjutkan pendidikan saya di luar negeri, Pak. Kemarin saya ikut program beasiswa, dan barusan diumumkan jika saya diterima.
Chandra: Semoga kamu sukses, Ren. Saya terima pengunduran diri kamu. Belajarlah dengan baik.
Moreno: Terimakasih, Pak. Maaf jika saya membuat Bapak mulai besok harus aktif kembali mengajar.
Usai Chandra mengatakan "Tidak apa-apa" Chandra pun lalu memutus sambungan teleponnya.
Ia pun harus memutar jadwalnya lagi sebelum menemukan asisten dosen yang bisa ia percaya seperti Moreno.
Sepertinya Jaelani harus kembali diandalkannya dalam menghandle perusahaan, karena ia harus aktif mengajar.
***
"Kamu ada apa, Lun? Kayak enggak suka gitu sama Miss Kinara." tanya Reyna, saat keduanya hendak pergi ke perpustakaan.
Bahkan Reyna melihat jelas jika Luna tidak menjawab sapaan Kinara saat mengajar di kelasnya.
Luna hanya diam.
Luna menoleh menatap Reyna, ia memang mengajak Reyna ke perpustakaan demi menunggu jemputan dari suaminya.
__ADS_1
Wanita cantik berbulu mata lentik itu memang sedari tadi mengembungkan pipinya kesal.
"Aku enggak apa-apa, Reyn." elaknya
"Aku itu sahabat kamu, Lun. Aku tau kalau lagi ada apa-apa sama kamu. Kamu aja yang belum mau jujur sama aku." balas Reyna telak yang membuat Luna seketika terasa susah menelan salivanya.
"Beneran aku enggak apa-apa, Reyn." timpal Luna lagi, masih berusaha mengelak dengan kini menampilkan cengirannya.
"Aku nanti mau nonton konser band sama Miko." gumam Reyna sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam perpustakaan.
"Band apa, Reyn? Kapan?" Luna pun tidak tahan untuk tidak bertanya, karena jika Reyna sudah menyebut kata "band", mereka berdua sama-sama ngefans pada satu band ternama di Indonesia.
"Idola kita,Lun... Nanti malam konsernya di GOR." terang Reyna yang membuat Luna kini berpikir.
apa Mas Chandra mau aku ajak nonton konser ya? batin Luna bertanya sembari masuk ke dalam perpustakaan demi menunggu suaminya.
***
Setengah jam kemudian, Chandra sampai di parkiran kampusnya untuk menjemput istri cantiknya.
Ia pun turun dari mobil untuk menelpon Luna dan melihat dimana istrinya menunggunya.
Di parkiran itu juga dia kembali bertemu dengan Kinara.
Wanita yang selalu memakai dress selutut di kondisi apapun itu baru sampai di parkiran untuk menaiki mobilnya setelah mengajar.
"Ndra.." panggil Kinara, membuat Chandra yang sedang menelpon Luna teralihkan.
"Iya.. Ada apa, Ra?" Chandra pun mematikan panggilan tersebut, lalu memilih mengirim pesan pada istrinya.
Kinara menatap Chandra malu-malu, dan Chandra menatapnya dengan menaikkan alisnya.
Tidak dipungkiri jika Kinara masih secantik dan semodis dulu, bahkan lebih cantik. puji Chandra dalam hati menatap mantan kekasihnya yang putus baik-baik dengannya karena akan menempuh pendidikan pasca sarjana di kampus berbeda.
Kinara melangkah maju mendekati Chandra.. Jarak berdirinya yang tadi hampir satu meter kini hanya berjarak beberapa centi.
Cup
Cup
Tiba-tiba Kinara mengecup kedua pipi Chandra bergantian tanpa rasa bersalah yang membuat Chandra terperangah dan membulatkan matanya tanpa bisa mencegahnya.
Adegan ciuman yang didominasi oleh Kinara itupun tertangkap mata oleh Reyna dan Luna saat mereka akan menghampiri Chandra yang tengah menunggu istrinya.
Reyna membulatkan mata, sedangkan Luna.. Wanita cantik berbulu mata lentik itu langsung menoleh mengalihkan tatapannya dengan air mata yang tanpa permisi membasahi wajah cantiknya.
Bersambung..
__ADS_1
Moreno dapat dialog juga ya.. hehehe