
"Apa Tuan? Tuan masih cuti hari ini?" tanya Jaelani kembali menegaskan pendengerannya jika apa yang di dengarnya tadi tidak salah, dia yang kini sudah ada di perusahaan pada Chandra melalui sambungan telepon.
"Iya.. Dan kau urus semuanya." jawab Chandra sembari memasukkan tangan yang satunya ke dalam saku celana pendeknya.
Chandra memang menelepon Jaelani di balkon depan kamarnya untuk memberitahu sekretarisnya jika ia masih cuti, sembari melihat pemandangan yang begitu asri karna hari ini ia akan menunjukkan sesuatu yang ia jadikan sebagai hadiah pernikahan untuk Luna.
"Tapi kenapa, Tuan? Buat apa Anda mengajukan cuti lagi? Bukankah Anda menikahi Janda itu hanya untuk mempertahankan jabatan di perusahaan. Lalu apa yang ingin Anda perbuat dengannya hari ini?" Jaelani bertanya tanpa menjawab perintah Chandra dengan rentetan pertanyaan kekepoannya karna masih tidak menyangka jika Tuannya mengajukan cuti hanya untuk bersama istrinya yang mantan seorang Janda.
"Diam Lani. Kau itu aku bayar untuk mengurusi perusahaan jika aku sedang tidak sempat hadir disitu, bukan untuk mengurusi urusanku. Dan kamu ingat satu hal, bahwa dia sudah tidak janda, Lani. Wanita yang kamu sebut Janda itu sekarang sudah jadi istriku. Camkan itu!" bentak Chandra yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Tapi Tuan--"
"Ck! baru kali ini Tuan marah sama aku dan langsung mematikan sambungan teleponnya hanya karna aku menyebut wanita murahan itu Janda. Tapi benarkan apa yang aku katakan? Dia memang seorang Janda yang tidak tau malu mau menjadi istri Tuanku." Jaelani bermonolog geram sembari menggenggam telepon genggamnya.
Pagi itu ia sudah stay di CA Corps. karna ada meeting bulanan dengan para petinggi direksi untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya setiap bulan.
Dan bukan pertama kalinya juga ia mewakili Chandra dalam memimpin meeting, ia bekerja dengan Chandra sudah hampir lima tahun dan Chandra tidak pernah memarahinya hanya karna kekepoannya. Mungkin Chandra sudah kebal ya?
Bahkan saat Kezia menghianati Chandra, Chandra selalu berkeluh kesah padanya. Tapi sejak kemarin saat Tuannya mengenal Janda itu, Chandra seakan menutupi semua hal yang berkaitan dengannya.
***
Saat Chandra sibuk berkutat dengan telepon genggamnya bersama Jaelani di sebrang sana, Luna memutuskan untuk turun ke bawah untuk membuatkan sesuatu.
Mereka sudah selesai sarapan bersama, dan Ibunya terlihat sedang bermain dengan Radit di ruang keluarga dan dia pun langsung menuju ke dapur tanpa menyapa Ibu dan anaknya dahulu.
Semalam ia sudah bersepakat dengan Chandra jika dirumah dan di perusahaan dia adalah istrinya, dan Luna ingin memulai perannya itu dari hal terkecil.
Ya, Luna menganggukkan kepala menyakinkan diri untuk berbakti dengan suaminya walaupun laki-laki itu belum mau mempublikasikan hubungan mereka.
Wanita berambut lurus berwarna hitam sebahu itupun mulai membuka kulkas meneliti bahan yang ada untuk membuat puding.
Luna juga meneliti beberapa persediaan yang ada di dapurnya yang ternyata semuanya cukup lengkap. Bukan.. Bukannya cukup, tapi sangatlah lengkap.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Bi Asih, maid tertua di rumah Chandra saat melihat Luna di dapur.
"Tidak ada Bi, Bibi silahkan lakukan pekerjaan Bibi yang tadi aja, aku hanya mau membuat puding, Bi." Luna berkata seraya tersenyum ramah.
"Nyonya mau membuat puding?" tanya Bi Asih yang dijawab anggukan disertai senyuman tulus oleh Luna.
__ADS_1
"Tuan biasanya suka puding jeruk, Nyah. Gak mau terlalu kemanisan juga." ujar Bi Asih memberitahu dan Luna antusias mendengarnya.
"Oh ya? Aku juga mau buat puding jeruk sih memang Bi, tadi. Hehe.. Terimakasih informasinya ya, Bi." Luna berkata dengan tulus dan senyuman seakan tak pernah luntur dari bibirnya.
beruntung sekali Tuan mendapatkan istri yang sangat ramah ini. batin Bi Asih sembari tersenyum menatap Luna.
"Bi.." panggil Luna saat melihat Bi Asih terlihat melamun.
"Eh iya Nyonya, sama-sama Nyah. Saya ke belakang lagi ya Nyah." ujar Bi Asih yang dijawab anggukan oleh Luna.
Seperginya Bi Asih, Luna pun kini mengambil panci yang bersih, lalu memasukkan semua bahan untuk membuat puding ke dalam panci tersebut.
Beberapa menit kemudian, puding yang dibuat Luna pun matang dan siap ditaruh di tempat membuat puding yang berbentuk seperti bunga mawar itu.
Luna pun menaruh puding itu di depan kipas angin agar puding itu cepat dingin dan beberapa menit setelahnya ia pun memasukkannya ke dalam kulkas terdahulu agar enak dan segar saat dimakan.
"Kamu ngapain?" tanya Chandra saat ia melihat Luna sedang di dapur.
"Akhhhh.." Luna menutup matanya dengan tangan saat melihat Chandra yang ternyata sedang bertelanjang dada.
Chandra menaikkan alisnya, bingung atas sikap Luna yang sepertinya belum pernah melihat dada bidang seorang pria.
"Bapak gak pakai baju?" Luna bertanya dengan tetap menutup matanya.
"Gak.. Saya mau berenang. Kamu kenapa? Belum pernah melihat dada seorang pria? Lalu bagaimana caramu membuat anak jika melihatku seperti ini saja kamu seperti itu?" Chandra bertanya dengan nada sarkasme, namun tanpa menunggu jawaban Luna ia pun langsung berjalan menuju kolam renang yang berada di sebelah kanan rumahnya.
Luna mengusap dadanya lega saat melihat Chandra yang sudah menjauh darinya.
Sejenak, ia pun melihat pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya itu dari dekat pintu dapur. Melihat laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya sedang berenang dengan berbagai gaya.
Dan terlihat, begitu lincahnya keahlian suaminya itu dalam berenang.
Sesaat terbesit di benak Luna ingin ikut berenang bersama suaminya, merasakan bagaimana sih rasanya berenang bersama suami.
Eh, tapi kok sepertinya Luna seperti sangat menikmati perannya sebagai seorang istri ya?
Merasa jika pudingnya sudah bisa dinikmati, Luna pun mengambilnya dari kulkas lalu memotongnya kecil-kecil lalu ia taruh di beberapa piring.
Piring pertama ia berikan untuk Ibu dan Radit.
__ADS_1
"Kamu buat puding, Lun?" tanya Ibu Halimah seraya menerima piring berisi puding yang diberikan oleh Luna.
"Iya Bu.. Dimakan ya Bu.. Tapi kurang manis, soalnya Mas Chandra gak suka manis katanya." jawab Luna lalu beralih mencubit pipi Radit yang terlihat menggemaskan. "Dit, Mommy bikin puding. Dimakan ya sayang." ujarnya kemudian lalu mencium pipi anaknya.
"Chandra sudah kamu kasih?" tanya Ibu Halimah saat melihat Luna yang kembali berdiri.
"Belum Bu.. Ini baru saja mau Luna kasih. Soalnya dia masih berenang." Luna berkata sembari menunjuk kolam renang yang tidak terlalu terlihat jelas dari ruang keluarga.
Ibu Halimah tersenyum, "Ya sudah, buruan dikasih." ujarnya yang dijawab anggukan oleh Luna.
Luna sepertinya bahagia menikah dengan Chandra. Semoga kamu bahagia ya, Nak. Chandra itu orang yang baik, Dan Ibu bisa lega hatinya saat nanti Ibu harus tinggal terpisah denganmu. batin Ibu Halimah sembari menatap punggung anaknya menuju ke dapur untuk mengambil sepiring puding untuk Chandra.
"Bi.. Ini buat Bibi, dibagi sama yang lainnya ya." ujar Luna yang mau mengantarkan puding untuk Chandra tapi berbalik lagi ke dapur saat melihat Bi Asih melewatinya.
Sepeertinya Bi Asih usai memberikan handuk untuk Chandra selepas berenang.
"Nyonya.. Tidak usah repot-repot Nyah. Seharusnya Bibi yang bikin puding ini, bukan Nyonya."
"Gak repot kok, Bi. Anggap saja sepiring puding ini sebagai jamuan perkenalan kita." ujar Luna yang membuat hati Bi Asih menghangat.
Usai memberikan puding untuk Bi Asih dan para maid lainnya, Luna pun membawa nampan berisi jus jeruk dan sepiring puding ke pinggir kolam renang untuk suaminya.
"Dimakan, Pak." ujar Luna sembari meletakkan nampan itu di meja dekat kursi yang diduduki Chandra.
"Terimakasih." ujar Chandra yang langsung meminum jus jeruk dan beralih mencoba puding yang dibuat oleh Luna.
"Itu puding buatan saya, Pak. Gimana? Cocok gak sama selera Bapak?" tanya Luna seraya menatap Chandra.
kenapa sih aku harus terpesona hanya karna melihat bola mata jernihnya. batin Chandra sembari menatap Luna memikirkan jawaban yang tepat.
"Enak." jawab Chandra yang membuat Luna tersenyum, lalu wanita itu pun kembali ke dalam rumah tepatnya ke kamar untuk mencari laptopnya karna sudah waktunya ia menulis novel.
Banyak pembacanya yang sudah menagihnya update di ruang chat yang memang ia bikin untuk lebih dekat dengan para pembacanya.
"Selesai juga bikin satu episode buat hari ini," gumamnya sembari menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri agar tegangnya berkurang.
"Satu episode? Maksudnya?" tanya Chandra yang tidak mendengar utuh kalimat yang baru saja dikatakan oleh Luna.
Terkesiap, Luna pun buru-buru keluar dari aplikasi menulisnya lalu mematikan laptopnya dan kini beralih menatap Chandra.
__ADS_1
Bersambung....