Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Antara Sahabat Dan Cinta


__ADS_3

"Tuan.. Tuan Darius ingin menemui Anda." ujar Jaelani pada Chandra yang tengah mematuti layar laptopnya.


"Suruh masuk saja, Lan."


"Baik, Tuan." Jaelani pun keluar menemui Darius yang masih berada di lobi untuk diajaknya menaiki lift menuju ke ruangan Chandra.


Tok~ Tok~


"Masuk." titah Chandra yang membuat Jaelani langsung membuka pintu dan mempersilahkan Darius untuk masuk lebih dahulu.


"Kamu tunggu diluar, Lan." titah Chandra lagi dan kini Jaelani pun mengangguk lalu keluar dari ruangan Chandra meninggalkan Tuannya itu bersama sahabatnya.


"Ada apa, Ri?" tanya Chandra datar.


"Enggak ada apa-apa, Gue cuman mau nanya.. Lo beneran ambil proyek dari Diamond Grup? Lo enggak takut bangkrut, Ndra?" Darius bertanya dengan mengambil duduk di sofa, bukan duduk di kursi di depan Chandra.


"Ya.. Gue jadi ambil proyek itu. Gue yakin gue bisa menyelesaikannya tepat waktu." Chandra berkata dengan yakin.


"Lo seyakin itu sama Diamond Grup?"


"Iya.. Gue yakin. Yang penting kan kita berusaha, Bro. Lo enggak lupa kan kalau diatas sana ada Tuhan yang selalu mendengar doa kita.. Kita usaha aja yang kencang.. Terus berdoa semoga hasilnya tidak mengecewakan kita." Chandra berkata dengan mengingat perkataan istrinya tadi malam padanya.


Ya, semalam saat selesai makan malam. Chandra memang membicarakan masalah proyeknya bersama Diamond Grup dengan istrinya.


Maksudnya bercerita tak lain untuk sekadar mencari solusi dari istrinya, dan istrinya menguatkannya. Jika ia harus mengambil proyek tersebut, lalu berusaha yang terbaik dan berdoa.


"Lo belajar kata-kata itu dari Luna ya?" tembak Darius yang membuat Chandra kini melangkah lalu berjalan dan duduk di sampingnya. "Lo tau darimana?" Chandra pun bertanya dengan bodohnya.


"Gue tau karena Luna dulu juga gitu pas jadi pacar gue. Pikirannya itu seperti lebih dewasa daripada kita." terang Darius yang membuat Chandra kini tersenyum bangga karena wanita itu kini jadi istrinya.


"Lo sampai kesini pasti enggak cuman karena gue yang jadi kerja sama dengan Diamond Grup, kan?" Chandra mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya.. Gue mau minta izin sama lo."


"Izin apa memangnya?"


"Ntar sore gue mau ajak Luna ke Mall.. Boleh ya?" Darius tidak tau malu mau mengajak istri sahabatnya pergi.

__ADS_1


"Enggak bisa, Bro." Chandra pun jelas menolak.


Antara sahabat dan cinta ia memang tidak bisa memilih salah satunya, tapi jika dia didesak untuk lebih memilih siapa, pastilah istrinya.


"Gue cuman mau nebus kesalahan gue sama Luna, Ndra. Enggak lebih." pintanya.


"Kesalahan apa yang mau lo tebus? Luna enggak mau pergi sama lo." Chandra tidak berbohong, karena semalam istrinya itu memintanya untuk tidak mengizinkannya mengobrol dengan Darius lagi, untuk menghindari salah paham diantara mereka.


"Kesalahan masa silam, Ndra. Banyak hal yang belum gue bicarakan dengannya." pintanya lagi.


"Apa yang semalam kurang?" tanya Chandra bernada meledek.


"Semalam itu belum secuil pun gue membicarakan hal tentang masa silam gue dengannya, Ndra."


"Lalu apa yang kalian bicarakan? Kalian menunda setengah jam dari waktu normal kita biasa makan malam." putus Chandra lalu berdiri melangkah kembali ke kursi kebesarannya.


Kesabarannya mulai terkikis sedikit demi sedikit karena mendengar Darius yang selalu mengatakan masa silamnya dengan Luna.


Itu kan hanya masa lalu? Sekarang Luna sudah menjadi istrinya? Apa tidak ada wanita lain yang bisa membuatnya jatuh cinta sehingga sebegitunya mengejar wanita yang telah menjadi istrinya?


"Gue baru minta maaf sama dia, Ndra."


"Iya.. Dia maafin gue. Makanya gue mau minta izin sama lo buat ngajak dia jalan-jalan ke Mall sore ini, Ndra." Darius mengulangi lagi permintaannya.


gue mau ngulang kisah lama gue dengan Luna, Ndra. Biar dia mau ninggalin lo dan balikan lagi sama gue dan jadi istri gue. batin Darius tanpa tau malu.


"Kalau gue gak izinin gimana?" Chandra menantang dengan mengetukkan penanya di meja.


"Lo tega sama gue kalau lo gak izinin gue pergi sama Luna." jawab Darius yang kini membuat Chandra menaikkan alisnya.


"Bukannya kebalik? Bukannya lo yang tega sama gue?" Chandra membalikkan perkataan Darius yang membuat si empunya kini menatap gusar ke sembarang arah.


"Maksud lo apa, Ndra? Gue enggak ngerti." jawabnya pura-pura bodoh.


"Lo bukan orang bodoh, Ri. Lo itu orang pandai. Bahkan lebih pandai dari gue. Jadi lo pasti tau dengan apa yang gue maksud." jelas Chandra yang membuat Darius terdiam.


"Ri.. Lo itu sahabat gue. Gue enggak mau persahabatan kita hancur hanya karena seorang wanita. Tapi lo juga harus sadar, kalau wanita itu sekarang sudah jadi istri gue. Lo harus relain dia buat gue. Bukan berlaku seperti ini." sambung Chandra yang membuat Darius mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dari ruangan Chandra.

__ADS_1


semoga Tuhan membuka mata hati dan pikiranmu jika yang hendak kamu lakukan itu salah, Ri. Lo sahabat gue. Lo orang baik. gumam Chandra bermonolog dalam hatinya.


****


"Kamu kenapa, Lun? Kayaknya lemes banget sedari tadi." tanya Reyna sembari berjalan bergandengan tangan dengan Luna menuju kantin.


"Aku enggak apa-apa, Reyn. Mungkin lagi enggak enak badan saja." jelas Luna yang membuat Reyna menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Reyna saat keduanya sudah sampai di kantin kampusnya.


"Aku mau jus alpukat aja, Reyn."


"Kamu gak makan, Lun? Badanmu lemas gitu? Apa jangan-jangan kamu lagi program diet ya?"


"Enggak, Reyn. Aku lagi enggak napsu aja." jelas Luna yang kini membuat Reyna paham tapi juga sedikit curiga.


"Aku pesanin siomay aja ya, biasanya kamu paling doyan makan siomay kalau lagi enggak enak badan." Reyna pun masih mencoba merayu Luna agar mau menemaninya makan dengan mengingat makanan kesukaan Luna sewaktu kurang enak badan.


"Aku lagi enggak suka bau kacang, Reyn." jawab Luna dengan menutup hidungnya dengan jarinya.


"Loh.. Kenapa, Lun? Itu makanan favoritmu loh." Reyna mencoba menggali sesuatu yang kini mulai dipikirkannya.


Luna pun mengendikkan bahunya sebagai jawaban.


"Luna.." panggil satu suara yang sangat dikenali oleh Luna.


"ngapain kak Darius kesini? Tuhan.. Semoga kak Darius enggak nekat dan bicara yang aneh-aneh sama Reyna." batin Luna meringis saat mendengar jelas jika Darius yang tadi memanggilnya.


"Hei... Kenapa enggak jawab sih aku panggil?" tanya Darius dengan mengambil duduk di samping Luna yang membuat Reyna kini menatapnya.


ih.. gantengnya!! batin Reyna menatap tak berkedip pada Darius yang memusatkan perhatiannya pada Luna.


"Luna.." panggilnya lagi sembari menepuk pundak Luna, tapi tidak membuat Luna mau menoleh menatapnya.


"Aku tadi udah izin sama Chandra buat ngajak kamu ke Mall. Kamu mau kan pergi sama aku ke Mall, Lun?" tanyanya dengan berbohong.


Jelas-jelas tadi Chandra tidak mengizinkannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2