Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Gara-gara Rendang


__ADS_3

Malam di kota itu sedang cerah. Bulan dan bintang pun menunjukkan sinarnya begitu terang untuk menghiasi indahnya malam.


Tanpa terasa besok adalah hari dimana Luna dan Chandra akan melangsungkan pesta pernikahan.


Pesta pernikahan yang entah bagaimana, Luna belum bisa menjawabnya.


Pesta itu Chandra yang menyiapkan tanpa melibatkan Luna sama sekali.


Laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu mengurus segala sesuatunya seorang diri dengan dibantu Jaelani di sela-sela mengurus proyeknya dengan Diamond Grup.


Luna yang saat itu sedang melihat indahnya bulan dan bintang di balkon kamarnya sedang merapalkan banyak doa untuk kelangsungan acaranya.


Wanita cantik itu kembali meneteskan air mata dalam diamnya.


Ayah? Dimana kamu berada, Yah? Besok Luna akan melangsungkan pesta pernikahan.. Acara yang penting di hidup Luna.. Apa Ayah tidak merindukan Luna? Luna sangat merindukan Ayah. Walaupun Ayah telah pergi meninggalkan Ibu dan Luna.. Tapi Luna selalu menyayangi Ayah. Karena Ayah.. Luna bisa ada di dunia ini. Karena Ayah dan Ibu, Luna bisa seperti sekarang ini. Batin Luna menangis.


Suara Bi Asih yang sedang mengetuk pintu kamarnya membuyarkan lamunan Luna yang sedang merindukan Ayahnya.


"Iya.. tunggu, Bi." Sahut Luna dengan berjalan menuju pintu.


"Ada apa, Bi?" tanya Luna dengan senyum ramahnya usai membuka pintu dan menatap Bi Asih.


Bi Asih tersenyum lalu memberikan gaun berwarna gold pada Luna. "Bibi disuruh ngantar ini sama Nyonya Besar, Nyonya."


"Ini untuk apa, Bi?" Luna pun bertanya dengan menerima gaun yang berharga hampir satu milyar itu.


Gaun off shoulder yang didesain khusus untuknya dengan memamerkan pundaknya yang seputih susu dan diberikan aksen mutiara dan berlian hampir tersebar di seluruh bagian gaun.


Memberikan kesan glamour sekaligus ningrat saat dipakai.


"Untuk Nyonya pakai saat pesta pernikahan Tuan dan Nyonya besok. Saya ucapkan selamat ya, Nya." Bi Asih begitu bahagia mendapat Nyonya muda berhati baik seperti Luna.


Luna mengangguk paham, tapi dalam hati ia bertanya. Sampai saat itu masih terngiang di pikirannya saat kemarin melakukan foto pre wedding.


Bagaimana suaminya bisa menyiapkan gaun dan baju adat yang begitu pas di badannya tanpa melakukan fitting baju sebelumnya.


Sebenarnya Desainer mana yang dipercaya suaminya itu sehingga bisa membuat gaun tanpa melakukan pengukuran badan dahulu?


Sepertinya Luna harus bertanya pada suaminya. "Terimakasih ya, Bi." Ucapnya kemudian yang dijawab anggukan oleh Bi Asih.


***


"Kamu ngapain sayang?" Chandra bertanya pada Luna saat laki-laki itu baru pulang kerja dan melihat Luna berkaca dengan menempelkan gaun seharga milyaran itu di badannya.

__ADS_1


Luna membalikkan badan, wanita cantik itu melakukan tugasnya dahulu saat suaminya pulang kerja sebelum menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku lagi cobain gaun buat pesta pernikahan kita besok, Mas. Tadi diantar Bi Asih ke kamar, katanya disuruh Mom. Bagus tidak?" Luna bertanya dengan kembali menempelkan gaun itu di badannya.


"Cantik.. Tapi lebih cantikan orangnya." Chandra menggombal yang membuat pipi Luna seketika memerah.


"Aku serius, Mas." Luna berusaha menetralkan ekspresinya.


"Aku juga serius, sayang." Chandra berucap dengan menarik tangan istrinya menuju kamar mandi.


"Aku udah mandi, Mas." Sergah Luna.


"Menolak suami itu dosa, sayang." Dan Luna pun tidak bisa membantah.


Mereka berdua pun mandi bersama dengan melakukan kegiatan panas yang mulai membuat kecanduan satu sama lainnya.


***


"Sudah kamu coba gaunnya, Lun?" Emily bertanya dengan begitu perhatian.


Melihat Chandra yang kian hari makin bahagia membuat hatinya harus lebih menyayangi menantunya.


"Sudah, Mom." Luna mengangguk seraya tersenyum canggung mendapati perhatian yang baru didapatkannya dari Ibu mertuanya.


Ah.. Sepertinya Luna memang belum tahu. Karena Jenifer pun tidak tahu. Wanita yang masih cantik di usianya itu hanya berbicara berdua dengan anak laki-lakinya saat memberikan gaun beserta aksesoris untuk menantunya.


Dan kalian tahu Chandra seperti apa.. Kalau tidak terdesak atau ditanya, laki-laki itu jarang bercerita.


"Pas tidak? Apa kekecilan?" Emily bertanya lagi yang membuat hati Luna kian menghangat.


Emang aku gendut banget ya? Aku harus diet kayaknya. Batin Luna menatap mertuanya mendapati pertanyaan tersebut.


Belum Luna menjawab, terdengar suara derap langkah sepatu kulit menghampiri ruang makan itu.


"Malam semuanya." Abimana datang dengan gagahnya memasuki ruang makan di rumahnya.


Jenifer yang sedari tadi menunduk karena tidak berani menatap Kakaknya pun mendongak dengan wajah tak terbacanya.


Sudah hampir seminggu ia tidak berselera makan, setiap makanan yang dimakan pun langsung keluar.


Ditambah moodnya yang buruk karena dilarang oleh Chandra keluar rumah, membuatnya semakin menderita.


"Dad.." Emily yang menyambutnya dengan wajah binar bahagia.

__ADS_1


Abimana dan Emily pun saling berpelukan, menuntaskan rasa rindu yang mengungkung mereka karena terpisahkan oleh jarak dari London ke Indonesia.


"Anak Dad tidak ada yang mau menyambut Dad?" tanya Abimana dengan menatap Chandra dan Jenifer bergantian.


Jenifer berdiri lalu merentangkan tangannya agar Dadnya menghampirinya dan memeluknya. "Aku kangen, Dad." Ucapnya dengan isak tangisnya.


Isak tangis yang mewakili betapa menyesalnya dia telah memberikan sesuatu yang berharganya untuk laki-laki yang dibenci oleh Kakaknya.


Laki-laki yang juga tidak pernah mencoba menghubunginya setelah pertengkaranya dengan Kakaknya tempo hari di rumah sakit.


Apa laki-laki itu sama sekali tidak menaruh rasa padanya? Apa ia salah mengharap laki-laki yang memberi pandangan penuh cinta padanya? Jenifer mengesah dalam hati memikirkannya.


Melihat Dadnya yang mau duduk di kursi untuk bergabung makan malam bersamanya, Chandra pun berdiri lalu dengan perasaan yang tidak karuan, laki-laki itu memeluk Dadnya. "Selamat datang di Indonesia, Dad." ucapnya.


"Terimakasih putraku." Abimana membalas memeluk Chandra. Anak laki-laki yang ia tinggalkan begitu saja di Indonesia untuk menuruti Emily agar Chandra meninggalkan dunia mengajarnya.


Luna yang melihat Chandra dan Dadnya berpelukan pun tak terasa meneteskan air mata.


Sekelebat memori saat masa kecilnya dengan Ayahnya pun bermunculan.


Ia begitu merindukan Ayahnya.


"Ayo kita makan.. Keburu makanannya dingin." Emily memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi.


Bi Asih melayani Nyonya dan Tuannya begitu telaten. Luna yang biasanya mengambilkan makanan untuk Chandra pun ditahan oleh Chandra agar tetap duduk.


Hingga Bi Asih menghidangkan rendang daging di piring Luna dan Jenifer secara bersamaan yang membuat keduanya seketika mual.


Hoeek..!!


Hoeek..!!


"Kamu kenapa, Lun?" tanya Chandra pada istrinya.


"Kamu kenapa, Jen?" tanya Emily pada Jenifer.


Kedua wanita cantik itu menggelengkan kepala seraya menutup hidungnya.


Mereka pun kompak berdiri lalu berlari ke kamar mandi terdekat untuk menuntaskan sesuatu yang kini ingin mereka muntahkan.


Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2