
Melihat tatapan berbeda dari teman-temannya membuat Luna merasa ingin segera pergi dari kampusnya jika tidak mengingat jika hari ini ada pelajaran penting di mata kuliyahnya.
Pagi itu Luna diantar oleh pak Mun sampai di depan gerbang masuk kampusnya, dan menambah gosip yang beredar jika Luna tengah dekat dengan laki-laki kaya.
Tak cukup gosip itu memekikkan telinganya, tapi juga menyakiti hatinya, saat mendengar beberapa mahasiswi yang memang tidak menyukainya menghujatnya, seperti...
"Janda itu gatal ya.."
"Luna itu udah janda punya anak pula.. Tapi beraninya deketin pak Chandra."
"Luna pintar merayu pak Chandra.. Bisa-bisanya dia diajak pergi kemarin, sambil digandeng pula tangannya."
"Luna kayaknya lagi hobi tebar pesona deh.."
"Ya iyalah, dia kan Janda beranak satu. Mungkin lagi nyari laki buat ayah anaknya."
Dan beberapa hujatan panas lainnya yang sangat membuat ia ingin menangis saat itu juga.
Luna memutuskan berjalan dengan memeluk bukunya yang ada di depannya dengan menatap teman-temannya yang menghinanya.
Ya, hanya itu yang dia lakukan, dia tak ingin membantahnya ataupun membuat keributan yang pasti akan menambah panjang deretan gosip untuk dirinya.
Akhirnya, Luna pun menatap tangannya, lalu menaruh buku-bukunya ke dalam tasnya dan menggunakan kedua tangannya itu untuk menutup telinganya agar tidak mendengar segala ocehan baik yang bagus atau jelek untuknya.
Menyusuri lorong menuju ruang kelasnya, Luna pun melihat Reyna yang berdiri di depan ruang kelasnya sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Luna pun mengernyit, namun tak urung melajukan langkahnya menuju kelasnya.
"Kamu kemarin pergi sama pak Chandra kemana, Lun?" tanya Reyna saat Luna sudah mendaratkan pantatnya di kursinya.
"Kamu tau darimana kalau aku pergi dengan pak Chandra?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya.
"Itu sudah jadi gosip terpanas disini, Lun. Judulnya Dosen tampan membawa pergi mahasiswi cantik yang merupakan janda beranak satu." Reyna terlihat tidak sabar ingin mendengar kemana perginya Luna dengan Chandra.
ya, aku tau. bahkan mereka menggunjingku terang-terangan hanya karna status palsuku, Reyn.
__ADS_1
"Kamu bisa jawab aku.. Kemana kamu pergi kemarin dengan pak Chandra? Kamu gak takut nyakitin hati suami kamu kalau kamu pergi dengan laki-laki lain? Apalagi aku dengar pak Chandra menggenggam tanganmu dan kamu membiarkannya.. Jangan jadi istri durhaka, Lun." Reyna menasehati Luna agar sahabatnya itu sadar diri jika dia sudah menikah.
istri durhaka? kalau aku melepas genggaman mas Chandra mungkin aku durhaka, Reyn
Tapi ini kan suamiku sendiri yang menggenggam tanganku, aku gak berhak melarangnya. teriak Luna dalam hati.
"Luna.. Kenapa kamu diem? Jawab aku Lun." Reyna mencecar Luna mencari jawaban tak menghiraukan jika ada Raka yang akan memasuki ruang kelasnya yang juga mau mencari Luna karna Chandra belum sampai di kampusnya.
"Aku diajak pak Chandra makan malam bersama keluarganya, Reyn." jawab Luna akhirnya tidak berbohong yang membuat Reyna dan Raka membulatkan matanya.
Untung saja, teman-teman Luna yang lain sedang tidak berada di dalam kelas dan tidak ada yang mendengar jawabannya selain Reyna dan Raka.
"Heuh? Kok bisa?" Reyna bertanya setelah sadar dari keterkejutannya. Dan Luna hanya mengendikkan bahu sebagai jawabannya karna bingung menjawab alasannya.
"Kamu ada hubungan apa sama pak Chandra? Kalian saudaraan? Kok kamu bisa diajak makan malam sama beliau?" cecar Reyna lagi.
"Aku gak ada hubungan saudara sama pak Chandra, Reyn."
"Hah? Gak ada? Lalu? Bagaimana sama suami kamu? Dia cemburu gak kamu diajak pak Chandra makan malam sama keluarganya?" Reyna terus bertanya seakan kekepoannya sedang berada di level tertinggi.
Apalagi, Chandra merupakan dosen impiannya yang ingin ia jadikan suami, imam di hidupnya.
"Luna... Kenapa diem aja.. Gimana sama suami kamu? Cemburu gak?" Reyna bertanya mengulangi pertanyaannya dan sebelum Luna menjawabnya, Raka yang sudah sadar dari keterkejutannya pun mendekat pada Luna. "Kamu bisa ikut aku sebentar, Lun."
"Bisa Pak." jawab Luna begitu semangat karna ia bisa bebas dari kekepoan sahabatnya, tidak tau jika Raka juga akan mencecarnya.
Reyna yang melihat Luna berdiri lalu mengikuti Raka keluar dari kelasnya pun menghela napasnya karna belum bisa mendapat jawaban dari kekepoannya.
Apalagi Ibu Halimah sempat bercerita padanya, jika Luna tinggal bersama suaminya. Lalu bagaimana perasaan suami Luna melihat Luna seperti itu dengan pak Chandra?
Raka berjalan cepat menaiki tangga menuju rooftop dengan Luna yang mencoba mengimbangi langkahnya dan tidak menyadari jika Chandra sudah sampai di kampusnya dan melihatnya berjalan dengan Raka.
mau apa si Raka itu? batin Chandra lalu mengikuti pelan-pelan istrinya yang berjalan dengan Raka yang sepertinya menuju rooftop.
Sesampainya di rooftop, Raka lebih memilih menatap pemandangan yang terlihat di depannya tanpa menatap Luna, sejujurnya ia masih berharap jika Luna belum menikah. "Aku dengar, kamu sudah menikah. Apa betul, Lun?"
__ADS_1
Pertanyaan Raka membuat Luna menatap punggung dosen tampan yang selalu memberi perhatian padanya. "Benar Pak.. Saya sudah menikah."
"Kapan? Kapan kamu menikah, Luna?" Raka berbalik badan, menatap mata Luna mencari kebohongan.
"Beberapa bulan yang lalu, Pak." jawab Luna dengan menunduk.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku? siapa suami kamu? Apa dia baik sama kamu dan Radit?" Raka bertanya sembari menatap sendu pada mata Luna, seakan meminta Luna mengerti jika ia kini terluka.
"Kamu cinta sama suami kamu, Luna?" Raka bertanya lagi masih seakan belum merelakan Luna yang ternyata sudah menikah, ia kecewa pasti, dan rasa menyesal lebih dominan karna ia gagal menggapai Luna untuk menjadi istrinya.
Rencananya, ia ingin melamar Luna nanti saat Luna sidang skripsi, tapi rencana hanya tinggal rencana, karna Luna-wanita yang ia idamkan sudah menikah dengan orang lain.
Luna bingung mau menjawab apa mendapat banyak pertanyaan dari Raka sekaligus tatatapan Raka yang begitu menyedihkan padanya.
"Kenapa pak Raka seperti ini? Ada apa Pak? Suami saya jelas baik dengan saya dan Radit... Bapak tenang saja." jawab Luna dengan mengalihkan tatapannya.
"Aku kalah, Lun. Aku kalah." Raka menghela napasnya, menitikan air mata sembari memutar kembali badannya menatap pemandangan di depannya.
"Kalah? Maksud Bapak?" Luna kembali menatap punggung Raka.
Raka menyugar rambutnya ke belakang, merasa sedikit frustasi. Tanpa sadar ia mengesah pelan sebelum berkata yang membuat Luna membulatkan mulutnya tak percaya.
"Aku kalah cepat untuk mendapatkanmu, Lun. Apa kamu tidak merasa jika selama ini aku menaruh hati untukmu?" Raka berterus terang.
Luna menggelengkan kepala, tapi sedetik kemudian saat ia ingat jika Raka tidak melihat gelengan kepalanya ia pun berkata, "Saya tidak merasa, Pak."
"Bodoh banget aku ya, Lun."
"Bodoh kenapa Pak? Bapak orang pandai, bukan bodoh."
"Aku bodoh karna tidak mengatakannya padamu sejak dulu kalau aku... kalau aku Mencintaimu." ujar Raka yang langsung berbalik badan lalu pergi meninggalkan Luna yang masih berdiri termangu di tempatnya.
Chandra mendengar seluruh obrolan Raka dan Luna, dan saat melihat Raka yang berjalan cepat ke arahnya sembari menyeka air matanya, Chandra pun sembunyi agar Raka tidak malu kepadanya atas apa yang dikatakannya pada Luna.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya malam banget update-nya.. Semoga dapat feelnya, ya..
Happy reading gaessss.