
Luna keluar dari dalam Cafe sembari mengamati sekitar seraya berjalan menuju parkiran dimana pak Mun tengah menunggunya.
Sampai di tengah-tengah parkiran, ia melihat mobil Chandra yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
Luna pun berjalan mendekati mobil Chandra, berniat ingin sekali menyentuh mobil suaminya, layaknya ia ingin menyentuh suaminya.
Menciumnya dan memeluknya tanpa paksaan sepeerti yang wanita cantik itu lakukan, dan dibalas dengan sepenuh hati oleh suaminya.
Seperti itulah kira-kira yang tadi dilihatnya.
Tapi semuanya itu sepertinya hanya sebatas angannya saja karna Chandra tak pernah berharap jika dia benar-benar istrinya.
aku hanya butuh status, pernikahan ini terjadi karna aku butuh status.
Perkataan Chandra itu terus terngiang di pikiran Luna hingga membuat wanita cantik itu terlihat lagi meneteskan air mata.
Walaupun begitu tipis, tapi tetap saja dia menangis.
Jarak yang sudah semakin dekat saat ia mendekati mobil suaminya, ia terkejut saat melihat kaca jendela mobil itu terbuka, dan ia pun melihat jika lagi-lagi wanita cantik itu yang kini berada di dalam mobil suaminya sedang makan es krim dengan begitu santainya.
Lagi, Luna meneteskan air mata lagi melihatnya.
Siapa wanita itu? Kenapa sepertinya ia begitu spesial dimata suaminya? Luna tersenyum pelik sembari menggelengkan kepala, menepis segala prasangka buruk yang bersarang di pikirannya.
Apa ini? Rasa apa ini? Kenapa begitu menyakitkan seperti ini melihat mas Chandra dengan wanita itu? Luna menepuk pelan dadanya, agar dadanya itu tidak semakin sakit merasakannya. Sadarlah Luna, kamu itu siapa? kamu hanya istri yang tak diharapkan oleh Chandra, kamu itu istri yang dianggap seperti pajangan, dan kamu tidak pantas mencintainya. Kamu tidak pantas untuk Chandra. ingat itu. dan jangan berharap lebih. batinnya menguatkan dirinya.
Luna berbalik badan dan mendekat ke mobilnya, mencoba berpaling tak menghiraukan wanita cantik yang sedang berada di dalam mobil suaminya sembari menyeka air mata yang membasahi wajahnya.
Entahlah, sebenarnya Luna juga belum mau mengakui perasaan apa yang kini hinggap di hatinya untuk Chandra.
Tapi, apakah Luna salah jika Luna begitu berharap suaminya membalas perasaan yang kini tengah dirasakannya?
Rasa yang baru muncul saat menyadari jika suaminya begitu menyayangi Ibunya dan Radit, Rasa yang muncul saat ia memeluk suaminya walaupun pelukan itu tidak disengajanya.
Reflek, pelukan yang ia berikan pada Chandra karna sebatas reflek itu ternyata mempengaruhi hatinya.
Di saat Luna hendak membuka pintu mobilnya, Luna menoleh lagi pada mobil Chandra dan teringat satu hal yang kini memenuhi pikirannya.
wanita itu sebenarnya siapa? apakah dia kekasih suamiku? tapi, kalau iya dia kekasih mas Chandra, kemana saja dia selama ini? kenapa baru muncul? lalu kenapa mas Chandra malah memilihku untuk menjadi istrinya? padahal aku sudah mengaku sebagai Janda agar dia berhenti memaksaku. Tapi, mas Chandra dan paksaannya membuatku terjebak dalam pernikahan dengan perasaan yang seperti ini. batin Luna sembari duduk di mobilnya.
__ADS_1
"Pak.. Kita ke ruko Ibu ya, aku mau kesana." titah Luna pada pak Mun.
"Baik, Nyonya." pak Mun menjawab seraya menganggukkan kepala lalu mengemudikan mobilnya pelan menuju ruko dimana Ibu Halimah berada.
***
"Rumah kita gak berubah ya Kak.. Masih sama seperti dulu saat aku masih tinggal disini." ujar Jenifer sembari mengamati rumahnya seraya duduk di sofa.
"Emang apa yang perlu dirubah?" tanya Chandra malas.
"Ya elah Kak.. Barang-barang kita ini kan udah dari jaman kapan. Lagian walaupun memang semuanya serba barang limited, harus ada yang baru juga kan Kak."
"Emang siapa yang mau merubahnya?"
"Ya.. Kan Kakak sekarang sudah menikah, mungkin Kakak ipar merubahnya sedikit gitu biar gak terlalu kaku." Jenifer berujar hati-hati sembari menatap Kakaknya.
Chandra yang mendengar jika Jenifer menyebut 'kakak ipar', seketika teringat dengan istrinya.
Kemana istrinya itu? Dan kenapa pak Mun juga belum mendekatinya dan laporan padanya? pertanyaan itu kini menumpuk di pikiran Chandra yang membuatnya bangkit dari duduknya lalu berlari ke garasi.
"Kak.. Mau kema--" tanya Jenifer yang terputus saat Chandra sudah keluar dari rumahnya.
Chandra pun terus keluar dari garasi, beralih menuju dapur untuk bertanya para maid tentang istrinya dan pak Mun.
Satu jam yang lalu istrinya itu sudah pulang dari Cafe tempat mereka bertemu tadi, dan seharusnya istrinya itu sudah sampai di rumah.
"Bi.. Nyonya dimana?" tanya Chandra pada Bi Asih.
"Semenjak tadi siang Nyonya pergi kuliyah, Nyonya belum terlihat pulang ke rumah Tuan Muda." jawab Bi Asih.
Chandra menganggukkan kepala, lalu keluar dari dapur sembari menelpon istrinya.
Sudah tiga kali panggilan Chandra mencoba menghubungi istrinya, namun belum dijawab juga oleh Luna.
Terlihat gusar sembari berpikir, Chandra pun bergegas menelpon pak Mun-sopir yang ia percaya untuk mengantar kemana istrinya.
Dering kedua panggilan yang dilakukan Chandra, dijawab oleh pak Mun. Dan laki-laki itu dengan sigap menempelkan handphonennya tepat di telinganya.
Panggilan Tersambung...
__ADS_1
Chandra: Dimana istri saya Pak Mun? (tanyanya to the point)
Pak Mun: Nyonya berada di ruko, Tuan. Katanya Nyonya ingin bertemu Ibunya.
Chandra: (menghela napas lega) Terimakasih pak.
Usai pak Mun menjawab "sama-sama", Chandra pun mematikan sambungan teleponnya dan bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap menjemput istrinya.
Tak lupa, ia pun mengirimkan pesan pada pak Mun agar laki-laki itu segera pulang ke rumah, karna ia sendiri yang akan menjemput Luna.
Secepat mungkin Chandra bersiap dan kini ia sudah siap memakai baju hariannya dengan jaket yang menambah kesan tampannya.
"Kak.. Kau tidak makan mal---" Jenifer menghentikan ajakannya saat melihat Chandra terlihat akan pergi.
"Kamu mau kemana Kak?" tanyanya kemudian.
"Aku mau menjemput Luna, Jen."
"Luna? Jadi Kakak ipar aku namanya Luna, Kak?"
Chandra menganggukkan kepalanya sembari berjalan menuruni tangga.
"Cantik gak Kak?"
"Cantik lah. Kalau enggak, mana Kakak mau." kelakar Chandra sembari mengusap kepala Jenifer yang memang bawel.
Jenifer mengangguk-anggukkan kepalanya, paham akan arti pembicaraan sang Kakak.
"Katanya dia Janda ya, Kak?" tanya Jenifer yang membuat Chandra yang awalnya tersenyum kini menatapnya penuh peringatan.
"Kata siapa kamu?" tanyanya dingin.
"Kata Kak Jae, Kak.." jawab Jenifer dengan menggigit bibirnya, takut jika Kakaknya sudah sedingin ini berbicara padanya.
"Dengar ya Jen, Luna memang dulu seorang Janda, bahkan dia sudah punya anak, tapi sekarang dia sudah jadi istriku, jadi dia kakak iparmu, dan jangan sampai kau melukai hatinya karna pertanyaan konyolmu." tegas Chandra yang membuat Jenifer terpaksa menganggukkan kepala.
Usai mengancam adiknya, kini Chandra pun bergegas menaiki mobilnya lalu mengemudikannya menuju Ruko dimana istrinya tengah berada.
Bersambung..
__ADS_1