Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Janda Itu Istriku


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" seru Permana dengan mata yang melotot tajam pada anak dan calon menantunya.


Kezia tergagap dan tanpa permisi naik lagi ke atas pangkuan Kenzie agar terbebas dari amukan sang calon mertua.


Namun, sayangnya usahanya gagal. Karna Permana menarik telinganya dan telinga Kenzie secara bersamaan.


"Ampun.. Pa.."


"Ampun.. Om.."


Teriak Kezia dan Kenzie bersamaan yang membuat Luna yang tadinya menitikan air mata kini menghela napasnya lega seraya tersenyum simpul.


"Kalian kenapa berlaku seperti itu dengan Luna? Dia itu saudara kalian." pekik Permana tepat di telinga Kezia dan Kenzie yang membuat mereka seketika melepas tangan Permana pada telinganya dengan kasar.


"Saudara Papa bilang? Darimana Papa bisa berasumsi seperti itu?" tanya Kenzie.


"Dia istri Chandra, Ken.. Dia istri saudara sepupu kamu, berarti dia saudara kamu. Kamu harus tau itu!"


"Istri? Istri Chandra yang katanya bekas orang lain kan Pa?" tanya Kenzie yang kini membuat kesabaran Permana semakin mengikis.


Dan..


Plak!!


Permana menampar keras pipi Kenzie membuat Kezia mendadak membelalakkan matanya.


"Om.. Benar kata Kenzie.. Luna itu hanya seorang Janda beranak satu, dia bekas orang lain." Kezia akhirnya menimpali.


"Diam kamu! Kamu pikir kamu lebih baik dari Luna?" bentak Permana pada Kezia dengan menunjukkan jarinya tepat di depan wajah Kezia.


Permana marah, bukan karna tak mengakui jika Luna memang sebelumnya seorang Janda, tapi ini bersangkutan dengan keutuhan keluarga mereka.


Sudah cukup, Kenzie menghancurkan Chandra dengan berselingkuh dengan Kezia, dan Permana tidak akan tega menghancurkan kebahagiaan keponakannya yang baru saja hendak terjadi hanya karna Kezia dan Kenzie yang berusaha menjatuhkan harga dirinya.


"Ya.. Aku merasa lebih baik dari dia. Aku masih gadis, Om. Bukan seorang Janda." tantang Kezia yang sekarang membuat Permana semakin menatapnya berang.


"Gadis bekas banyak laki-laki maksud kamu?" Permana meludah di depan Kezia. "Kalau bukan karna kamu yang katanya sedang mengandung anak dari Kenzie, aku tidak akan sudi menganggap kamu sebagai menantu aku."


"Pa.." bentak Kenzie melarang Papanya mengungkapkan fakta sebenarnya.

__ADS_1


Dan Kezia yang tadi percaya dirinya diatas rata-rata kini menciut mendengar Permana yang mengetahui dia sebenarnya.


"Apa Ken? Benar kan kata Papa.. Wanita ini juga bekas orang lain." tantang Permana pada Kenzie yang kini diliputi emosi.


"Kezia lebih baik dari Luna!" Kenzie kembali membentak Papanya tidak terima. "Kezia lebih dari wanita ini, wanita bekas orang lain yang mungkin tidak akan bisa memuaskan Chandra karna kepunyaannya sudah longgar!"


"Sudahlah Paman.. Aku tidak apa-apa." lirih Luna yang menitikan air mata sembari menahan sakit hati yang dibuat oleh Kenzie dan Kezia yang menghinanya secara terang-terangan di depannya.


Plak


Permana kembali menampar keras Pipi Kenzie dan menulikan pendengarannya dari permohonan Luna untuk menghentingkan pertengkaran.


"Papa menamparku dua kali. Papa ngebela Janda ini?" tantang Kenzie seraya menunjuk Luna yang ada di depannya dan kini ia berdiri berhadapan dengan Permana.


"Dia bukan Janda, dia Istriku, Kenzie. Wanita yang kau bilang JANDA ITU ISTRIKU." tegas Chandra penuh penekanan sembari menarik Luna agar wanita itu berada di dekatnya.


Seruan yang diciptakan oleh Permana saat memasuki ruang makannya memang terdengar oleh Chandra yang sedang berada di taman samping rumahnya.


Walaupun Bibi Maria mencoba mencegahnya, mengatakan semuanya baik-baik saja. Mungkin mereka sedang bercanda, tapi insting Chandra yang tau betul kelakuan mantan kekasihnya itu langsung berdiri dan menyusul istrinya yang ternyata tadi ia tinggal.


Dan seakan semesta memang begitu menyayangi Luna, wanita cantik berbulu mata lentik itu merasa nyaman dan aman saat tangan suaminya melingkari pinggang rampingnya.


"Chandra.. Paman bisa jelaskan semua ini. Kamu jangan salah paham." Permana berbicara terlebih dahulu saat Chandra akan membuka mulutnya.


"Apanya yang jangan salah paham Paman? Paman mau mengatakan kalau anak Paman ini menyukai kehadiran Istriku di tengah-tengah keluarga kita?" tanya Chandra bernada sarkasme.


"Bukan itu.. Bukan maksud mereka untuk membully istrimu." Permana malah mengungkapkan fakta yang tadi belum didengar oleh Chandra, dan laki-laki itu kini menatap tajam pada Kenzie dan Kezia.


"Jadi Kalian tadi membully istriku?" Chandra melepas tangannya yang melingkari pinggang Luna dan maju melangkah mendekati Kenzie lalu menarik kerah kemejanya.


"Lepas Chan!" teriak Kenzie saat ia merasa sedikit susah bernapas.


"Aku gak akan melepaskanmu, sebelum kamu meminta maaf dengan istriku."


"Buat apa aku minta maaf pada wanita bekas orang lain?" Kenzie kembali melancarkan aksinya yang membuat Chandra semakin mengeratkan menarik kerah kemejanya.


"Chandra... Lepaskan anak Bibi.. Biar Bibi nanti yang mengajarinya agar lebih sopan dengammu, ya." Bibi Maria mengusap lengan Chandra dan berhasil membuat Chandra mengendurkan tangannya.


"Mas... Sudahlah, aku gak apa-apa." Luna juga ikut menenangkan Chandra dan kini Chandra bisa melihat jika wajah istrinya pucat pasi.

__ADS_1


Menghela napas pelan, Chandra pun melangkah mendekati istrinya lalu tanpa pamit dia pergi dari ruang makan itu untuk kembali menaiki mobilnya.


"Chandra... Tunggu!!" seru Permana saat Chandra sudah sampai di teras rumahnya.


"Apalagi Paman?" tanya Chandra malas, ia muak dengan kelakuan Kenzie.


"Paman mengundang kalian makan malam, karna Paman ingin kamu hadir di pertunangan Kenzie minggu depan."


"Aku sudah tau sebelum Paman mengatakannya, dan maaf.. Aku tidak bisa hadir, Paman." tolak Chandra halus.


"Kenapa? Kamu belum bisa merelakan Kezia untuk Kenzie, Chan?" tanya Permana ingin menggali informasi.


"Buat apa Aku tidak merelakannya dengan Kenzie, Paman? Dia sudah hamil anak Kenzie." jawab Chandra sembari membuka pintu mobilnya untuk Luna.


"Kalau kamu memang sudah merelakannya untuk Kenzie, Paman ingin kamu hadir di saat pertunangan itu terjadi."


"Aku gak bisa." tolak Chandra lagi sembari menutup pintu mobil untuk Luna lalu memutari setengah mobilnya untuk masuk di kursi mengemudinya.


"Paman mohon, Chan. Demi Paman, kamu hadir demi Paman." Permana mengatupkan tangannya memohon pada Chandra yang membuat Chandra mengesah.


"Baiklah.. Aku akan datang." jawabnya akhirnya lalu memasuki mobilnya dan mengemudikannya dengan laju yang sangat cepat agar segera sampai di rumah.


Chandra terdiam sembari mengamati wajah istrinya sesekali saat jalanan lenggang.


"Kamu gak apa-apa? Mau beli minum dulu?" tanya Chandra akhirnya setelah beberapa menit keheningan melanda, dan saat ia sudah bisa menguasa emosinya.


"Gak usah, Mas. Aku gak haus." tolak Luna dengan menatap lurus ke depan.


Tak mempedulikan tolakan dari istrinya, Chandra pun membelokkan mobilnya di salah satu supermarket.


Secepat kilat Chandra keluar dari mobil lalu masuk ke dalam supermarket itu untuk membeli dua botol air mineral untuknya dan istrinya.


"Ini.. Minum.. Abis dibully pasti haus." kelakarnya dan benar saja, baru saja botol air mineral itu ia kasih ke Luna, Luna sudah menghabiskannya sampai tandas.


"Kurang?" tanyanya sebelum melajukan kembali mobilnya.


"Gak, Mas. Sudah cukup. Ternyata benar ya go kata, Mas. Abis dibully itu haus." Ujar Luna yang kini membuat Chandra tertawa pelan lalu kembali melajukan mobilnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2