
"Kenapa Raka bisa ada disini, Dad?" tanya Chandra pada Dadnya, karena laki-laki itu yang bertanggungjawab atas siapa saja yang di undang ke kediamannya.
"Satria yang mengundangnya, Ndra." balas Abimana acuh.
"Buat apa?" Chandra tidak habis pikir dengan Kakaknya.
"Buat melihat reaksi dia saat melihat perut membuncit adikmu." jelas Abimana yang membuat Chandra menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa Dad dan Kak Satria mau melihat reaksi dia? Mau memintanya bertanggung jawab? Atau mau mempermalukan keluarga kita di hadapan para kolega dan rekan bisnis Dad? Apa Dad tidak memikirkan perasaan Darius saat melihat Raka di acara baby shower ini?" Chandra bertanya lagi dengan menahan teriakannya.
Abimana terdiam, laki-laki itu tidak memikirkan perasaan Darius saat mengundang Raka.
"Lihatlah, Dad." Chandra menunjuk Darius yang duduk di seberangnya, tepatnya di sebelah Jenifer. "Dia terus menunduk sesaat setelah Jenifer memusatkan perhatiannya pada Raka dan mereka saling tatap dengan Raka yang begitu sendunya menatap Jenifer. Apa Dad tidak memikirkan semuanya? Dan Raka pun sudah mempunyai Kinara, Dad." jelas Chandra dengan amarah yang berkobar saat melihat Raka.
Laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita padahal ia dilahirkan dari seorang wanita.
Darius adalah sahabatnya, dia laki-laki yang mau saja bertanggungjawab menikahi adiknya bukan atas kesalahannya.
Dan pantas rasanya jika Chandra kecewa melihat sikap Satria dan Dadnya yang mengundang Raka tanpa meminta persetujuannya.
"Dad minta maaf. Dad tidak memikirkan perasaan menantu Dad. Maafkan Dad, Ndra." Abimana akhirnya berujar untaian maaf itu dengan sengaja belum memberitahu Chandra, jika kini Kinara yang dikenalnya bukanlah Kinara yang seperti dulu.
***
"Kenapa Anda menahan saya? Anda dengar sendiri kan kalau istri saya masuk rumah sakit." Raka menantang Satria, sepertinya bersikap baik tidak bisa ia lakukan pada orang yang mungkin merasa menjebaknya.
"Bisa saja itu menjadi bualan Anda." ujar Satria dengan tatapan tidak kalah tajamnya.
Beruntung mereka bertiga bersama asisten pribadi Raka, masih berada di pintu yang memungkinkan orang lain tidak akan mendengar perdebatan itu.
Asisten Raka menelan salivanya melihat Satria dan Raka saling menatap tajam tanpa berani menyelanya, karena ia tidak tahu permasalahannya.
"Bualan?" Raka tertawa dengan mengusap wajahnya kasar, "Saya tidak sedang membual. Saya serius. Dan Anda sendiri tadi mendengar telponnya." kekeh Raka ingin secepatnya keluar dari kediaman Abimana.
"Saya tidak mendengarnya. Saya hanya mendengar Anda bertanya dengan satu kata." Satria tak bergeming, tak bisa begitu saja melepaskan Raka.
__ADS_1
Raka menyugar rambutnya ke belakang, bingung mau beralasan apa.
"Saya akan menelpon bogyguard saya agar Anda percaya jika saya tidak sedang membual." ujar Raka akhirnya dengan mencari kontak bodyguardnya namun lagi-lagi dihalangi oleh Satria.
"Anda tidak perlu melakukan itu." tegas Satria yang membuat Raka tersenyum, namun ujaran Satria selanjutnya membuatnya bungkam seketika.
"Anda datang kesini karena diundang kan? Setidaknya sampai pertengahan acara, anda baru boleh pergi." tegas Satria yang kemudian menyuruh keamanan yang telah disewanya untuk menutup seluruh akses keluar dari kediaman Dadnya karena acara baru saja dibuka oleh seorang pemuka agama yang mengawali acara tersebut.
Dengan terpaksa, kini Raka ditemani Asisten pribadinya pun melangkah di area kolam renang yang menjadi tempat berlangsungnya acara.
Dia tidak bisa mendebat lagi, karena Satria sudah berpindah posisi disebelah Abimana dan jika dia memaksa dengan berteriak, ia yang nantinya akan membuat malu Papanya karena telah mencoreng nama baiknya.
"Nyonya Kinara pasti baik-baik saja, Tuan." ujar Asisten Raka menenangkan Tuannya namun tak didengar oleh Raka.
Laki-laki itu kini memusatkan pandangannya pada wanita cantik yang kini didandani begitu cantik dua kali lipat dengan perut membuncit yang saat tadi dilihatnya sangat ingin dielusnya.
Andai Kinara sekarang masih hamil, mungkin saat ini Raka tidak akan merasakan penyesalan terdalamnya.
Ia tidak akan merasakan hukuman seperti ini, hukuman sebuah rasa yang menyiksa.. Yang membuat dadanya sesak dan satu air matanya luruh begitu saja.
Raka.. Dia seorang laki-laki yang penuh obsesi. Obsesi untuk memiliki Luna dalam hidupnya.
Baginya.. Ia tidak bisa memiliki Luna. Maka orang lain pun tidak bisa memilikinya.
Beruntungnya kala itu ada Jaelani yang tepat waktu menyelamatkan Luna.
Tak suka melihat Chandra dan Luna bahagia.. Laki-laki itu memanfaatkan kebodohan Jenifer hanya untuk 'memiliki kekasih' dengan mengambil mahkotanya, dan berujung membuat perutnya membuncit hanya untuk membuat Chandra sengsara karena dianggapnya telah merebut Luna darinya.
Tapi.. Lagi-lagi keberuntungan seakan berpihak pada Chandra, karena ada Darius yang siap bertanggung jawab atas perbuatan Raka.
Dan saat Luna tengah hamil muda.. Raka dengan segala kelicikannya menyuruh Kinara yang tak lain istrinya untuk mendekati dan merebut kembali Chandra agar ia bisa menikah dengan Luna. Sesuai obsesinya.
Namun takdir sepertinya tidak pernah berpihak padanya.. Karena Kinara gagal merebut Chandra hanya karena kehamilan Kinara yang memang diinginkan oleh Papanya.
Dan sekarang.. Kinara yang menjadi istrinya. Wanita yang mau menuruti segala permintaan konyolnya untuk memiliki Luna harus terbaring lemah tak berdaya dengan isak tangis yang tak kunjung mereda.
__ADS_1
Semua yang terjadi pada Kinara.. Karena kecerobohan, kebodohan dan kesalahan yang sekarang sangat disesalinya.
Apa ini memang hukuman untuknya karena obsesinya?
Kalau iya... Memang Raka pantas mendapatkannya.
Dia pantas mendapat hukuman lebih dari sekedar sebuah rasa yang menyiksa saat melihat Darius bisa mengusap perut membuncit Jenifer yang ia ketahui adalah darah dagingnya.
Apalagi saat kini pasangan yang terlihat begitu harmonis itu sedang tertawa bersama lalu melakukan photoshoot yang membuat hatinya seakan tersayat.
"Mungkin jika aku tidak menjadi laki-laki yang egois dengan obsesiku.. Aku yang akan berdiri dengan gagah di sampingmu, mengusap perut membuncitmu, merasakan bagaimana pergerakannya di dalam rahimmu. Maafkan aku." gumam Raka dengan menunduk yang mampu didengar oleh Asisten pribadinya.
"Tuan.." panggilnya perhatian yang tak mengerti dengan maksud Tuannya.
"Aku salah, Jo. Kita harus pergi dari sini." ujarnya pada Asistennya dengan menoleh ke seberang dimana asistennya tidak bisa melihat jika kini ia meneteskan air mata.
"Kak Sat?" Chandra memanggil Satria yang hendak bangkit saat melihat Raka berjalan menuju pintu keluar.
"Kenapa, Ndra?" Satria bertanya dengan menghela napasnya.
"Biarkan dia pergi. Kita tidak membutuhkan dia disini. Kita juga harus menjaga hati Darius." Jelas Chandra yang akhirnya membuat Satria terdiam lalu duduk kembali.
"Mas tadi melihat Pak Raka menatap sendu Jenifer dan sempat menitikan air mata?" bisik Luna saat suaminya mengusap perutnya saat melakukan photoshoot.
"Kamu memperhatikannya?" Chandra bertanya dengan nada cemburunya seraya memicingkan matanya kesal pada istrinya.
"Aku enggak sengaja melihatnya, Mas." timpal Luna seraya mencuri kecupan di pipi suaminya.
"Oh ya? Kenapa aku tidak melihatnya?" Chandra tidak mempan hanya mendapat kecupan di pipi dari istrinya, sehingga ia memancingnya untuk mendapat kecupan lebih.
Tapi, sayangnya yang didapatkannya malah muka cemberut istrinya, bukan ciuman di bibir seperti yang diinginkannya.
"Gitu doang ngejelasinnya?" pancing Chandra lagi yang membuat Luna mencubit pinggangnya dan sejurus kemudian berbisik, "Nanti aja yang lebihnya, di kamar. Disini banyak orang." katanya yang membuat Chandra tersenyum dan mengangguk.
Dan adegan itu membuat Jenifer yang tadi sempat mencuri dengar karena duduknya tidak jauh dari Luna tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Ternyata Kakaknya sekarang begitu mencintai istrinya.
Bersambung....