Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Kue Bakpia


__ADS_3

*Mobil Jaelani


"Bagaimana hubungan Anda dengan Tuan, Nyonya?" Jaelani membuka percakapan dengan baik untuk pertama kalinya dengan Luna.


"Baik. Semuanya baik pak sekretaris." sahut Luna cepat.


Jaelani menganggukkan kepalanya. "Semoga semuanya baik-baik saja, Nyonya." ucapnya tersirat dengan maksud lain di dalamnya.


"Kita mau kemana?" tanya Luna saat ia tahu jika jalanan yang ia lewati bukan menuju mansion ataupun ruko miliknya.


"Saya belum tau, Nyonya. Tapi jika melihat jalan yang dilalui oleh Tuan, sepertinya Anda akan diungsikan sementara di apartemen miliknya."


diungsikan sementara? memangnya aku barang? batin Luna bertanya sembari terus menoleh ke samping, dimana jendela kaca mobilnya berada untuk melihat jalan.


Luna terdiam, dan keheningan pun melanda hingga kedua mobil tersebut berhenti di pelataran apartemen elite milik Chandra.


"Kamu antar Jeni pulang, Lan." titah Chandra saat Jenifer sudah keluar dari mobilnya.


"CK! Kakak ini kebiasaan." keluh Jenifer menunjukkan muka kesalnya.


"Kamu ingin punya keponakan baru tidak?" Chandra mengungkapkan alasan agar adiknya itu tidak bisa mengelak.


"CK! Ya udah.. Aku diantar kak Jae.." Dengan muka cemberut yang tidak dibuat-buat Jenifer mengiyakan pinta Kakaknya akhirnya, lalu berjalan mendekati kakak iparnya. "Kak.. Baik-baik sama Kak Chandra ya... Aku tau Mom bukan bermaksud seperti itu sama Kakak." tuturnya dengan bijak senbari memeluk Kakak iparnya.


"Iya... Aku tau Mom orang baik, Jen." balas Luna apa adanya seraya menepuk punggung Jenifer.


"Ah.. Makin sayang deh sama Kakak." ujar Jenifer sembari mencium kecupan sekilas di pipi Luna.


"Jen.. Itu milik Kakak." Chandra tidak terima Luna dicium adiknya, bahkan laki-laki tampan itu menunjukkan muka kesalnya terang-terangan yang membuat Jaelani tersenyum.


sepertinya memang Nyonya Luna yang bisa mengembalikan hati Tuan yang pernah patah itu. gumam Jaelani dalam hatinya.


"Hahha.. Ya ya Kak.. Kak Luna milik Kakak. Yuk Kak Jae.. Kita pergi, aku jadi pengen ketemu pacar aku kalau melihat laki-laki pencemburu kayak gini." Jenifer menjulurkan lidahnya di depan Chandra dan langsung memasuki mobil Jaelani yang berada di sampingnya untuk menghindari amukan Kakaknya.


"Anak itu.." gumam Chandra sembari memijit pelipisnya melihat kelakuan adiknya.


"Mas.."


"Iya sayang.." sepertinya rasa cintanya sudah mengalahkan gengsi Chandra.


"Mas.."


"Apa sayang?"


"Mas.."


"Ada apa, Lun?" Chandra pun akhirnya memanggil nama istrinya setelah panggilan sayangnya ditolak dua kali sembari mengernyitkan dahinya heran.


"Mas ngapain ngajak aku kesini? Kalau Mas belum mau bertemu dengan Mom kita bisa ke tempat Ibu, Mas.." Luna pun akhirnya mengungkapkan apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Kalau di tempat Ibu kita tidak bisa mengeluarkan suara seksi kita saat bercinta, sayang." Chandra mulai menghilangkan akal sehatnya. Bersikap manis dengan istrinya sepertinya hal sangat wajar ia lakukan karena mereka pasangan suami istri yang syah.

__ADS_1


Laki-laki itu mulai berani berkata sedikit intim dengan istrinya.


"Mas!" pekik Luna sembari menepuk pelan lengan suaminya. "Kalau ada yang dengar gimana?"


"Kamu berani mukul Mas?" Chandra pura-pura menunjukkan ekspresi marahnya. "Berani mukul berarti harus berani menerima hukuman ya." Chandra pun tersenyum menyeringai.


"Paling hukumannya mau dienakin sama, Mas." jawab Luna asal sembari berjalan memasuki apartemen tersebut yang membuat Chandra tersenyum senang. "Nanti lima ronde ya sayang." tawar Chandra yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Luna.


Seperti sedang menang dari perlombaan, laki-laki itu langsung mengepalkan tangannya ke udara, mengekspresikan rasa senangnya.


***


"Dimana Kakakmu, Jen?" tanya Mom Emily saat Jenifer baru saja memasuki rumah mewahnya yang ditinggali oleh Chandra.


"Kakak sedang membuat keponakan buat aku katanya, Mom." jawab Jenifer apa adanya sembari duduk di sofa.


"Keponakan? Dimana?" tanya Mom Emily lagi.


"Entah." Jenifer pun tidak mau mengaku karena tidak mau mendapat amukan dari Kakaknya yang paling ia sayangi itu.


**


Sesampainya di dalam apartemen, Chandra yang sedari tadi terus melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya pun langsung mengajak Luna ke sebuah dapur yang begitu besar setara dengan dua kali rumah kontrakan yang dulu dihuni oleh Luna.


Di dapur itu sudah tersedia beberapa bahan untuk membuat makanan yang tersedia di meja dapurnya sekaligus seorang perempuan cantik yang sudah memakai baju seperti baju chef.


Luna pun langsung menoleh menatap suaminya untuk menuntut penjelasan. "Kok kita kesini, Mas?" tanyanya.


"Mas! Bukan itu maksudku!" pekik Luna sembari mencubit perut Chandra.


"Berani nyubit? Ada hukumannya sayang."


"Terserah Mas." Luna pun sepertinya harus menghadapi sisi lain kemanjaan suaminya yang baru saja diperlihatkan padanya.


Dalam hati Luna bertanya, kemanjaan suaminya ini mungkin memang karena sudah mencintainya. Atau karena tidak mau ia terlalu memikirkan perkataan Ibunya yang telah menyakitinya.


em.. mungkin yang pilihan kedua. ya. mungkin karena mas Chandra tidak mau aku terlalu sakit hati, makanya dia bersikap manis seperti ini sama aku. batin Luna membesarkan hatinya sendiri, tidak mau terlalu berharap padahal tanpa sepengetahuannya memang Chandra sudah sebucin itu dengannya.


Selama ini Chandra memang selalu bersikap datar, tapi jauh dalam hatinya ia senang bisa memperistri wanita seperti Luna.


Kekagumannya pun bertambah saat melihat Luna begitu menyayangi Radit seperti anak kandungnya, padahal ia masihlah seorang gadis.


"Mas.." panggil Luna setelah lama suaminya itu hanya menatapnya.


"Iya.."


"Ada apa dengan wajahku, Mas? Make upku belepotan ya?" tanya Luna bodoh yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.


Laki-laki itu langsung maju mengecup pipi kanan istrinya.


Cup

__ADS_1


"Kamu cantik." ujarnya kemudian.


"Mas! Malu ih!" lirih Luna sembari menunduk saat melihat wanita yang memakai baju chef itu tersenyum memperhatikannya.


Hingga beberapa menit Luna dan Chandra pun terlibat candaan, melupakan wanita cantik yang sedang menonton mereka.


"Ehem!" Wanita cantik itu berdehem untuk menyadarkan Luna dan Chandra jika ada dia di tengah-tengah mereka. "Bagaimana Chan? Jadi belajarnya?" Karina--Chef handal sahabat Chandra itupun jengah juga akhirnya menonton kemesraan dua sejoli itu.


"Jadi." sahut Chandra cepat.


"Belajar apa, Mas?" Luna masih penasaran.


"Belajar bikin kue bakpia, sayang." jawab Chandra sembari memberikan tatapan lembutnya.


"Aku cuma punya waktu dua jam untuk membelajari istrimu, Chan. Kalau kalian mau basa-basi silahkan hubungi aku lagi besok-besok." Karina pun berucap dengan tegas, karena dia memang sesibuk itu.


Jika bukan Chandra yang menyuruhnya datang dan memundurkan semua jadwalnya dengan perjanjian mengganti rugi dua kali lipat semua bayaran yang akan ia terima, Karina tidak akan mau menunggu selama itu melihat kemesraan Chandra dengan istrinya.


"Kamu berani sama aku?" tantang Chandra. "Kamu tau kan siapa aku?"


"Ya.. Aku tau siapa kamu. Tapi kamu tau kan kalau aku sesibuk apa?" Karina pun tidak mau kalah.


"Sesibuk apapun kamu, kamu disini aku bayar Rin." Chandra berucap dengan tegas.


"Kamu egois, Chan."


"Kamu yang egois, Rin."


"Mas.." panggil Luna mencoba menengahi adu mulut yang terjadi antara suaminya dengan wanita yang dipanggil suaminya dengan sebutan "Rin."


Namun bukannya mereka berhenti saat Luna memanggilnya, yang terjadi membuat dada Luna seketika terasa sesak. "Diam!" sentak Chandra dan Karina bersamaan.


Luna menghela napas pelan, lalu mundur hendak membalikkan badan namun lengannya pun dicekal oleh Chandra. "Maaf... Maaf aku tidak sengaja membentakmu." ujarnya yang membuat Karina melongo.


sejak kapan Chandra bisa ngomong maaf? batin Karina bertanya.


"Mas nyuruh aku belajar bikin kue bakpia untuk apa?" Luna pun bertanya tanpa menjawab ujaran maaf yang dilontarkan Chandra, padanya.


"Untuk mendapatkan hati Mom, sayang. Mom itu suka sekali dengan kue bakpia, karena kue itu khas dari Yogyakarta, provinsi dimana Mom dulu dilahirkan, Lun." jelas Chandra akhirnya yang membuat Luna paham dan membuat Karina mengerti dengan apa yang diperbuat Chandra padanya.


"Oh.. Dalam rangka menarik simpati Mom mertua ini ceritanya." sahut Karina meledek yang dibalas tatapan membunuh oleh Chandra.


"Sorry.." ucap Karina tanpa suara pada Chandra saat Luna kini mulai memakai celemek untuk mulai belajar bikin kue bakpia.


Bersambung...


Maaf sampai malam update-nya ya kak.. semoga dapat feel-nya ya...


Happy reading..


Kalau aku gak sibuk, insyaAlloh mulai besok aku update dua bab perharinya... Tapi kalau gak sibuk ya kak.. Hehe.. Mohon dimaklumi.

__ADS_1


__ADS_2