Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Salah Sangka Part II


__ADS_3

Tok tok~~~


"Gagal?" batin Darius meringis sembari menatap pintu kamarnya yang diketuk dan istrinya bergantian.


Baru saja ia hendak melayangkan bibirnya pada bibir seksi kekasih halalnya yang belum pernah sekalipun dikecupnya dan ternyata semesta belum mendukungnya.


Sabar.. Sabar.. teriak Jenifer dalam hati yang juga menginginkan hal itu terjadi.


"Siapa, Jen?" Darius pun bertanya saat pintu itu diketuk berulang Kali yang dijawab Jenifer dengan mengendikkan bahunya.


"Jen! Ada temanmu datang." teriak Emily dari balik pintu setelah beberapa kali mengetuk yang akhirnya membuat Jenifer dan Darius pun bangkit.


Tak lupa, Jenifer merapikan rambutnya dan mengecek wajahnya lalu merapikannya agar tidak terlihat jika dia baru saja selesai menangis.


"Iya, Mom." sahut Jenifer dari dalam, dan Emily pun langsung pergi ke ruang tamu di mana teman Jenifer tengah menunggunya.


***


"Mas Chandra di mana ya, Bu? Kok enggak kelihatan dari tadi." Luna terlihat gelisah saat ia keluar dari kamarnya dan tidak menemukan suaminya.


Kebetulan Ibu Halimah sedang bermain dengan Radit di kamar yang tidak jauh dari kamar Chandra dan Luna, dan kebetulan juga pintunya tidak ditutup sehingga Luna pun langsung masuk tanpa mengetuk pintunya.


Selesai acara baby shower itu suaminya tidak mengikutinya masuk ke dalam kamarnya, hanya mengantarnya sampai pintu dan pergi dengan alasan ada kepentingan.


"Memangnya kamu dari tadi enggak bareng suamimu, Lun?" Ibu Halimah malah berbalik tanya yang membuat Luna mengerutkan keningnya. "Jadi Ibu juga tidak melihatnya?" Luna malah balik bertanya yang membuat Ibu Halimah menggelengkan kepalanya.


"Tadi Radit lihat kalau Daddy sedang ngobrol dengan Kakaknya, Mommy." Radit lah yang menjawab, karena anak laki-laki itu tadi memanggil mainannya yang tertinggal di ruang tamu kediaman Abimana.


"Radit lihat Daddy di mana?" Luna pun beralih tanya pada anak asuhnya.


Radit yang belum mengetahui nama ruangan yang dipakai oleh Chandra dan Satria mengobrol pun turun dari ranjang lalu berjalan keluar, tak lupa meminta Luna untuk mengikutinya dengan melambaikan tangannya pada Luna saat ia mencapai daun pintu.


"Ikuti aku Mommy." Radit berkata dengan binar bahagianya dan berjalan begitu cepat untuk menunjukkan dimana Daddy-nya berada.


"Di mana, Dit?" Luna pun bertanya setelah merasa sudah berjalan agak jauh dan belum menemukan suaminya.


Luna lupa satu hal, jika kediaman Dad dan Mom mertuanya dua kali lebih luas dari rumah suaminya dan pasti memerlukan langkah panjang untuk menemukan di mana ruang tamu itu berada.


"Di situ, Mommy. Daddy dan Kakaknya mengobrol." Radit menunjuk kursi di ruang tamu yang memang Luna bisa melihat jika Suaminya dan Kakak iparnya memang terlihat sedang berdiskusi.


Tapi, apa yang sedang mereka diskusikan? Hingga memerlukan waktu berjam-jam?


Tidak mau terlalu menduga-duga dahulu, Luna pun mengajak Radit kembali ke kamarnya sebelum menemui suaminya.


***


"Jen!" teriak Putri dengan merentangkan tangannya saat Jenifer sampai di teras kediaman Abimana dimana Putri tengah menunggunya.


"Maaf aku telat datangnya ya, Jen. Aku sibuk banget tadi." Putri mengusap punggung Jenifer dengan mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa datang tepat waktu di acara baby showernya.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, kamu udah mau datang aja aku sudah senang banget, Put." Jenifer menampilkan senyum terbaiknya pada sahabatnya yang tak lain kekasih Jaelani--sekeretaris Kakaknya.


"Pasti dong aku datang. Di mana Kak Chandra dan Istrinya? Aku mau ngucapin selamat juga atas kehamilannya." Putri terlihat antusias dan Jenifer pun mengajaknya masuk dengan Jenifer yang berjalan lebih dulu karena harus memanggil suaminya yang masih berada di dalam kamarnya.


"Temanmu siapa yang datang?" Darius bertanya saat Jenifer memasuki kamarnya.


"Putri, Kak.. Pacarnya Kak Jae. Yang hadir di acara pernikahan kita dulu." jelas Jenifer yang membuat Darius mengangguk paham.


"Sini sebentar boleh? Hem?" Darius menepuk pahanya, untuk Jenifer duduk di atasnya.


Jenifer menggigit bibirnya, merasai salah tingkah sendiri diminta duduk di atas paha suaminya.


"Please!" Darius kembali memohon yang akhirnya membuat Jenifer duduk di mana Darius menyuruhnya.


"Putri menungguku, Kak." Jenifer memberi alasan agar secepatnya ia bisa berdiri dari posisinya.


Wanita cantik itu baru merasakan debaran yang luar biasa pada hatinya saat Darius kini melingkarkan tangannya di perutnya lalu beralih mengecup pipinya dan sejurus kemudian ia tahu suaminya menginginkan apa.


Cup


Dikecupnya bibir seksi milik Jenifer yang membuat si empunya mengerjapkan matanya dan Darius langsung melepasnya tanpa memagutnya.


"Putri udah nunggu, 'kan?" Darius bertanya yang membuat Jenifer langsung membuka matanya.


Tadinya ia sempat terpejam saat merasakan benda kenyal milik suaminya itu menyentuh bibirnya.


Kecupan pertama semenjak mereka menjadi pasangan syah memang rasanya luar biasa.


Di situ juga ada Chandra dan Satria yang terlihat sedang mengobrol bersama.


**


"Kak Chandra!" seru Putri begitu heboh saat melihat Chandra sedang duduk di ruang tamu bersama Satria.


Ia pun langsung tersenyum dan mengangguk pada Satria sebagai sapaannya.


"Kak Chandra bisa berdiri sebentar enggak?" Putri terlihat memohon, karena ingin bertanya bagaimana kondisi Kekasihnya pada Bos Kekasihnya yang tak lain Kakak dari sahabatnya.


"Buat apa?" Chandra paling malas jika ditanya aneh-aneh.


"Aku mau tanya sesuatu, dan ini privacy." jawab Putri yang membuat Chandra mengerti jika itu tentang Jaelani dan terpaksa menegakkan badannya lalu bergeser sedikit dari duduknya bersama Satria untuk memdengar pertanyaan apa yang akan diajukan Putri padanya.


Deg


Luna memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak saat melihat suaminya lagi-lagi dicium oleh seorang wanita.


Wanita itu bukan Kinara, tapi cantiknya hampir sama dan mungkin usianya seusia dengan dirinya.


Begitulah yang ada di dalam pikiran Luna saat melihat separuh wajah wanita itu dari tempat ia berdiri.

__ADS_1


Tapi sebenarnya Luna salah sangka, karena posisinya yang dari samping kiri dan Putri yang membisikkan sesuatu di telinga Chandra di samping kanan, sehingga jika dari sudut pandang Luna, suaminya tengah dicium oleh wanita.


"Mas!" serunya dengan linangan air mata yang baru saja diusapnya yang membuat Chandra langsung menoleh padanya.


Mungkin jika sekarang ia tidak berada di kediaman mertuanya, Luna akan pergi ke tempat di mana ia menenangkan hati dan pikirannya.


"Luna! Kamu belum tidur, Sayang?" Chandra bertanya dengan lembut sembari berjalan melangkah pada istrinya meninggalkan Putri yang belum menyelesaikan pertanyaannya.


Ya, Baru saja Putri akan membisikkan pertanyaannya dan Luna sudah terburu memanggil Chandra.


"Belum.. Aku belum tidur." jawab Luna datar, yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya.


"Ada apa, Sayang?" Chandra pun bertanya dengan merangkul pinggangnya yang membuat Luna menoleh pada wanita yang tadi ia kira telah mencium suaminya.


"Sayang? Mas Chandra manggil aku sayang di depan wanita ini? Siapa sebenarnya dia?" batin Luna bertanya tapi tidak berani mengutarakannya.


"Bibi belum kasih kamu minum, Put?" Jenifer bertanya pada Putri yang membuat Luna seperti orang bingung yang kali ini bisa ditangkap dengan baik oleh Suaminya.


"Dia Putri, Sayang. Dia sahabat Jenifer. Dia juga kekasih Jaelani. Dia tadi mau membisikkan pertanyaan sama Mas tentang Jaelani." jelas Chandra yang membuat Luna menoleh menatapnya.


"Dia kekasih Pak Sekretaris, Mas?" tanya Luna mencocokkan dengan pendengarannya dari penjelasan suaminya.


Chandra dengan senyumnya mengangguk.


"Tadi dia mau membisikkan pertanyaan dengan Mas? Bukan mencium Mas?" Luna malah bertanya lagi yang membuat Chandra menyentil hidungnya.


pletak!


"Ssshhh.. Aw.. Sakit tau, Mas." Luna memegangi hidungnya lalu sedetik kemudian beralih mengusap perutnya. "Nanti kalau kamu lahir, jangan kayak Daddymu ya, Nak." ujarnya yang langsung dibalas ketidakterimaan oleh Chandra.


"Dia anak, Mas. Tentu harus kayak Mas."


"Dia juga anakku, Mas.. Aku yang mengandungnya dan dia harus lebih mirip aku daripada Mas." balas Luna yang seketika merasakan pergerakan anaknya di kandungannya begitu kuat.


Calon anaknya memang tidak suka saat Luna menyatakan tidak mau disamakan dengan Daddynya.


"Ssshhh.. Aw.. Aw.. Aw.." rintih Luna yang membuat Chandra seketika meningkat kekhawatirannya.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Aw.. Pelan-pelan, Nak. Aw.." ujar Luna pada anaknya, mengabaikan pertanyaan Chandra yang menurutnya tidak penting.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Pinta Chandra akhirnya dengan menggendong Luna menuju mobilnya.


"Tapi, Mas.." Luna ingin mencegah karena baginya itu hanya pergerakan biasa dari anaknya yang menandakan anak dalam kandungannya begitu sehat.


"Tidak ada tapi-tapian, Mas enggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu." ujar Chandra dalam kepanikannya yang membuat Luna terharu, dan tidak perlu meragukan lagi cinta suaminya untuknya.


Wanita cantik itupun akhirnya lupa memberi tahu suaminya jika yang ia rasakan adalah pergerakan dari calon anaknya yang ada di dalam rahimnya, bukan kontraksi yang tidak perlu kecemasan berlebihan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2