
"Katakan kalau Mas menyakitimu." ulang Chandra terus menerus sembari memberikan apa yang menjadi keinginan istrinya.
Luna menggelengkan kepala, ia terus mengeluarkan erangan nikmat saat Chandra bermain di dua hal indah yang menjadi tempat favorit suaminya.
Kecupan disertai cap kepemilikan yang dibuat Chandra di sekitar leher dan dua hal indahnya, membua Luna terus menginginkan lebih dan keduanya pun melakukannya tak cukup sekali.
Sepertinya, Chandra harus melakukan lembur dua kali hari ini dengan pekerjaan yang berbeda.
Seharian dia mempercepat segala sesuatu yang berkaitan dengan proyeknya hingga tengah malam, dan tengah malam hingga dini hari ia mempercepat hentakannya dengan gaya lembut serta hati-hatinya.
"Sakit enggak?" tanyanya setelah ia merasa akan mencapai puncaknya.
Luna menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas.."
apa sih Mas Chandra ini? enggak sakit tau.. nanya terus. gerutu Luna dalam hatinya sembari menatap wajah lelah suaminya.
Wanita cantik itu tersenyum namun juga geli dengan permintaan tengah malamnya.
"Terimakasih ya, Mas.." ujar Luna sembari mengusap wajah suaminya yang langsung tertidur setelah menurutinya.
"Sama-sama." jawab Chandra sembari menyipitkan matanya yang membuat Luna terhenyak lalu mencium bibir suaminya. "Aku kira, Mas sudah tidur."
"Sudah." jawab Chandra lagi yang membuat Luna kini mendekap suaminya, dan mengeratkannya.
"Jangan terlalu nempel.. Kasihan si Baby, sayang." sergah Chandra mengingatkan, yang tak dihiraukan oleh Luna.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sengaja membangunkan kembali junior milik suaminya, Luna tersenyum.
"Mas.. Aku mau bicara."
"Besok pagi aja... Ini udah jam tiga pagi. Mas belum tidur sama sekali, Lun." terang Chandra yang membuat Luna akhirnya merenggangkan pelukannya dan membiarkan suaminya tertidur.
****
Hari ini, jam masuk kuliyah Luna ada di siang hari.
Chandra yang tidak membiarkan istrinya diantar oleh Pak Mun karena tengah Hamil muda, pun diajaknya pergi dulu ke perusahaannya.
Dengan senang hati, Luna yang jarang diikutsertakan dalam kegiatan Chandra pun bersemangat menyiapkan diri.
Hari itu dia memakai dress selutut berwarna mustard tanpa lengan, dilengkapi dengan blazer berwarna coklat.
Tidak lupa, Luna yang memiliki rambut hitam lurus sebahu itu juga menguncir kuda rambutnya dan memberi poni sedikit di dahinya untuk mempermanis penampilannya.
"Cantik banget istri, Mas." puji Chandra sembari mengecup pipi Luna yang masih sibuk merapikan riasannya.
__ADS_1
"Maaass.. rusak kan make upku.." gerutu Luna saat Chandra tidak berhenti mengecup pipi dan memberantakan lipstik berwarna nude yang ada di dibibirnya.
Chandra tertawa, tapi langsung keluar dari kamarnya karena jam sudah merujuk pukul delapan pagi tanpa menjawab gerutuan istrinya.
Luna mencebikkan bibirnya kesal, ia terus menggerutu dengan merapikan riasan di wajahnya kembali sebelum menyusul suaminya keluar dari kamarnya.
***
"Pagi Jen.." sapa Luna pada adik iparnya yang terlihat terlalu cepat memakan sarapan paginya.
"Pagi, Kak.." Jenifer pun membalas sembari meminum air mineralnya lalu berdiri melangkah pergi yang langsung ditahan oleh Chandra. "Bicaralah Jen.. Apa yang terjadi?" tuntut Chandra dengan menatap adiknya.
"Aku enggak apa-apa, Kak.."
"Kalau tidak ada apa-apa.. Kenapa kamu menghindari kami. Bagaimana kuliyahmu? Kamu tidak kembali ke London?" tanya Chandra yang membuat Jenifer menatap gusar ke sembarang arah.
"Aku masih ada urusan disini, Kak... Aku bisa belajar dari sini."
"Bagaimana kalau Jenifer pindah kuliyah disini saja, Mas?" Luna menyela, yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra. "Dad pasti tidak mengizinkan, Luna."
Chandra beralih lagi pada adiknya. "Urusan apa yang kamu maksud, Jen? Raka? Laki-laki itu sudah pergi jauh dari Indonesia." jelas Chandra yang membuat Jenifer menegakkan kepalanya dan Luna menoleh menatap suaminya.
jadi karena Pak Raka sudah pergi dari Indonesia, dia mengundurkan diri jadi dosen di kampus? batin Luna bertanya.
"Lupakan Raka... Dia sudah pergi dari Indonesia karena dia akan menikah dengan wanita pilihan Papanya." jelas Chandra yang membuat Jenifer seketika mundur satu langkah ke belakang.
Deg
Jenifer menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Chandra. "Tidak.. Tidak mungkin Bang Raka seperti itu Kak.. Dia mencintaiku. Dan dia--" Jenifer tidak jadi melanjutkan perkataannya, wanita cantik itu bercucuran air mata sembari menggelengkan kepala, belum sanggup mengatakan yang sebenarnya.
Chandra tersenyum sinis, "Cinta kamu bilang? Kalau dia cinta sama kamu dia akan memperjuangkanmu dan mencari Kakak untuk memohon agar bisa bertemu denganmu. Tapi ini tidak, Jen.. Kamu harus paham hal itu."
"Bang Raka melakukan hal itu Kak.. Kakak yang menutupinya." Jenifer masih membela Raka.
"Menutupi? Apa maksudmu?" Chandra tidak habis pikir dengan adiknya.
"Kemarin Kakak memblacklist Bang Raka dari daftar tamu yang hadir pada pesta pernikahan Kakak kan? Apa itu tidak termasuk menutupi?" Jenifer menantang dengan mengusap air matanya.
Luna menatap Chandra mendengar pertanyaan dari Jenifer, tapi tidak berani menyela.
"Dia bisa saja menerobos penjagaan ketat itu, Jen." Chandra pun tidak membantah.
"Bang Raka tidak mungkin mau melakukan hal itu Kak.."
"Ck! Terserah kamu. Aku pergi bekerja dulu."
__ADS_1
"Kita belum jadi sarapan, Mas?" tanya Luna saat tangannya ditarik oleh Chandra.
"Kita sarapan di perusahaan saja, Lun." putus Chandra, dan Luna pun hanya bisa mengangguk lalu mengikuti suaminya.
"Kakak yakin... Kamu pasti tau yang terbaik untuk dirimu sendiri, Jen." bisik Luna pada adik iparnya, sembari mengusap lengannya.
***
Di dalam mobil, Chandra terlihat menggeram sembari mencengkeram kemudinya.
Laki-laki itu masih tidak habis pikir dengan Jenifer yang masih bisa membela Raka di depannya.
"Tarik napas lalu buang, Mas.. Enggak baik nyetir sambil emosi." pinta Luna sembari mengusap lengan suaminya.
"Mas enggak emosi, sayang.. Mas cuman.." Chandra mencengkeram kemudinya lagi sembari menahan perkataannya setiap mengingat Raka dan kelakuannya.
"Jangan terlalu membenci Pak Raka, Mas.. Aku lagi hamil.. Aku enggak mau anakku seperti Pak Raka sifatnya jika Mas terlalu membencinya." ujar Luna sembari menunduk, memainkan tali tas yang ia pegang.
Chandra menoleh pada istrinya, lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan dulu sebelum membalas ujaran Luna.
"Aku tidak membenci Raka.. Aku hanya tidak suka dengan caranya membalas sakit hatinya karena tidak bisa memilikimu, Lun." balas Chandra sembari mengusap pucuk kepala istrinya.
"Itu dulu, Mas... Yang dulu biarlah berlalu, yang penting aku selamat kan Mas." timpal Luna yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.
"Bukan itu.. sayang."
"Bukan itu? Lalu apa Mas? Karena dia mendekati Jenifer?" tanya Luna yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.
"Lalu?" tanya Luna lagi.
"Raka adalah anak pemilik Diamond Grup.. Perusahaan yang pernah aku ceritain ke kamu dulu, Lun." jelas Chandra yang membuat Luna berpikir untuk mengingatnya.
"Perusahaan yang Mas sulit mengambil keputusan itu?" tanya Luna setelah mengingatnya yang dijawab anggukan oleh Chandra.
"Mas tau darimana?"
"Dari Darius.. Barusan sebelum kita menaiki mobil, dia mengirim pesan sama Mas kalau Raka adalah anak pemilik Diamond Grup." terang Chandra sembari mengepalkan tangannya.
Berita yang baru ia dengar itu membuatnya menyesal menerima ajakan kerja sama tersebut.
"Maksud Kak Ari apa memberitahu itu semua, Mas?" Keingintahuan Luna sepertinya sedang meningkat.
"Diamond Grup mengubah surat perjanjiannya, dan waktu yang Mas butuhkan untuk menyelesaikan proyek itu kurang lebih dua puluh empat jam dari sekarang." jelas Chandra yang membuat Luna langsung menegakkan badannya.
Bersambung..
__ADS_1