Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Bertemunya Dua Bibir


__ADS_3

"Maaf Kak... sepertinya aku enggak bisa ke Mall sama Kakak." tutur Luna masih sembari berdiri masih tanpa menatap Darius.


Tidak tau jika yang sekarang duduk di depan Reyna, di kursi yang tadi diduduki oleh Darius, adalah Miko.


Mendengar berbagai sindiran dari Reyna, membuat Darius langsung pergi entah kemana tanpa menunggu jawaban dari Luna atas ajakannya yang ia utarakan berulang kali.


"Siapa yang kamu ajak bicara, Lun?" tanya Reyna tanpa rasa bersalahnya.


"Kak Ari, Reyn.. Memang siapa lagi yang dari tadi aku panggil Kakak." Luna bertanya dengan nada datarnya yang ditanggapi tawa pelan oleh Reyna.


"Coba deh lihat. Siapa yang duduk itu. Beneran Kak Ari-mu itu enggak?" Reyna berkata dengan senyum meledek yang sedari tadi menghiasi wajahnya.


Luna tetep kekeh tidak mau menatap orang yang dianggapnya Darius itu, tapi saat mendengar suara laki-laki itu Luna pun mengernyitkan dahinya heran. "Hai, Lun.. Aku boleh makan disini, kan?" tanya Miko.


"Miko!" pekiknya. "Boleh lah.. Ini kan kantin buat mahasiswa di kampus ini." lanjutnya lalu duduk di samping Miko.


"Eits.. Jangan dekat-dekat aku, Lun. Nanti aku bisa ditabok sama Pak Chandra." kelakar Miko yang mendapat gelak tawa dari Reyna dan Luna.


"Oh.. Ada yang minta ditabok?" bukan Reyna dan Luna yang bertanya, tapi Chandra.


Luna yang mendengar suara Chandra pun langsung menoleh ke belakang dan langsung mendapat senyum menawan dari laki-laki tampan bak Dewa Yunani yang telah menjadi suaminya. "Maaass.." teriaknya tanpa suara dengan wajah cerah yang langsung menghiasinya.


"Kamu tau kan kalau Luna itu istri saya?" tanya Chandra berubah serius pada Miko yang mendapat senggolan di perut dari lengan Luna.


"Aduh.. Sakit, sayang." Chandra berpura-pura mengaduh kesakitan yang di tanggapi sebuah senyuman oleh Luna.


"Aduh duh.. Dunia serasa milik berdua ya, Pak." ledek Reyna tanpa takutnya.


"Reyna.. Dia itu Pak Chandra. Dosen kita." pekik Miko memperingatkan sembari menginjak sepatu Reyna. "Iya, Pak. Saya tahu." katanya menjawab pertanyaan Chandra.


"Iya.. Aku tau, Mik. Tapi sekali-kali enggak apa-apa lah ya." Reyna membalas menginjak sepatu Miko yang membuat Miko langsung teriak. "Aw.." yang disambut gelak tawa oleh Chandra dan Luna.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Chandra pada Luna dengan nada lembut disertai tatapan teduhnya yang dijawab anggukan manis oleh istrinya.


"Lama juga enggak apa-apa, Pak." Reyna menyela kembali, dan Miko yang seakan memperlancar aksinya untuk mendekati Reyna pun langsung memberi tatapan peringatannya.


Bagaimanapun, mereka sedang berada di lingkungan kampus. Dan sopan santun pada dosen walaupun dia suami dari sahabatnya, harus diutamakan.

__ADS_1


"Yang lancar pendekatannya Mik." ujar Chandra sembari menepuk pundak Miko, yang membuat si empunya meringis.


"Bapak bisa aja." Miko pun menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


****


Chandra dan Luna memang suami istri, tapi lihatlah.. saat mereka di kampus mereka seperti seorang dosen dan seorang mahasiswi.


Dan sekarang Chandra terlihat berjalan di depan Luna, dan Luna mengikuti di belakangnya hingga mereka sampai di ruangan milik Chandra saat di kampus.


Chandra memang mencintai Luna melebihi dirinya, dan Chandra selalu mengutamakan kenyamanannya.


Dan karena itulah, Chandra yang tadinya berusaha setenang mungkin duduk di kursi kebesarannya langsung menyusul Luna ke kampusnya saat teringat jika Darius sudah mengetahui dimana kampus Luna.


Dan dugaannya benar, sang istri menghubunginya saat ia berada di dalam perjalanan jika Darius tengah berada di kampusnya dan tengah mengganggunya.


Ruangan Chandra berada di pojok ruangan.


"Duduklah, sayang." Chandra pun menarik kursi di depannya untuk Luna duduk.


"Terimakasih, Mas." ujar Luna yang dijawab anggukan oleh Chandra.


"Memang baru selesai meeting kok. Tadi meetingnya lewat aplikasi yang memuat banyak orang di dalamnya tanpa bertatap muka." jelas Chandra yang tidak berbohong karena memang di perjalanannya tadi dia tetap mengikuti meeting dengan earphone yang terpasang di telinganya dengan Jaelani yang menggantikannya.


Tugasnya hanya mendengarkan dan mengevaluasi jika ada kesalahan.


"Beneran, Mas?" Luna belum percaya.


"Iya."


Cup


Dan Chandra pun tidak tahan untuk tidak mengecup bibir istrinya.


"Ini di kampus, Mas." sergah Luna saat melihat tatapan mendamba dari suaminya.


Chandra menghela napas pelan, dalam hati membenarkan perkataan istrinya. Dan saat melihat keluar, Chandra pun langsung menutup pintu ruangannya dan menguncinya saat merasa tidak ada orang.

__ADS_1


"Lagi enggak ada orang, sayang." Chandra pun berkata dengan begitu lembutnya dan langsung memagut bibir istrinya dengan lembut tapi menuntut.


Bibir keduanya pun saling terpagut, saling membelit, saling menyecap, merasakan cinta yang semakin tumbuh diantara mereka. "Aku ingin lebih, sayang." pintanya dengan suara parau.


"Apa enggak bisa ditahan sebentar, Mas? Bentar lagi aku mau masuk." tawar Luna saat mengingat jika ia masih ada jam masuk kuliyah.


"Lima menit.." tawar Chandra.


"Enggak bisa, Mas.." jawab Luna yang membuat Chandra terlihat menghela napas.


"Mas tadi ketemu dengan Kak Ari saat di parkiran?" tanya Luna saat mengingat jika tadi ia tidak sempat menolak ajakan Darius.


Chandra tidak menjawab dan menepuk pahanya untuk Luna beralih duduk di pangkuannya.


Entahlah.. Chandra hari itu terlihat ingin lebih menunjukkan jika dia juga punya cinta yang besar untuk istrinya.


"Entar Mas enggak bisa nahan kalau aku duduk di situ?" Luna bertanya yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.


"Yakin, Mas?" Dan istrinya itu mulai berani padanya, tidak langsung mengiyakan pintanya.


Melihat suaminya mengangguk tapi juga tatapan mendambanya yang semakin memuncak, dengan ragu-ragu Luna pun naik ke pangkuan suaminya.


"Mas tadi memang bertemu dengan Darius di parkiran." gumam Chandra dengan merapikan anak rambut Luna ke belakang telinganya.


Luna diam tak menanggapi, wanita cantik itu menunggu suaminya melanjutkan penjelasannya.


"Dia tadi marah sama, Mas." jelas Chandra yang membuat Luna mengernyitkan dahinya heran.


Melihat tanggapan dari istrinya, Chandra pun menaruh kedua tangan Luna di atas pundaknya agar memeluk lehernya. "Dia bilang katanya Mas tega sudah merebut kamu dari dia." jelasnya lagi dengan semakin mengeratkan duduknya Luna di pangkuannya.


"Mas enggak merebut aku dari dia." balas Luna setelahnya dan tidak menyadari posisinya sekarang ini karena ia terus menatap mata elang milik suaminya.


Melihat suaminya terdiam, Luna pun kembali berkata. "Aku juga enggak nyangka bisa jadi istri, Mas. Dan siapa yang tahu, kalau Kak Ari selama ini mencariku. Dia tidak pernah memberi kabar apa-apa padaku, Mas."


"Jika dia memberi kabar padamu, Apa kamu akan kembali dengan dia? Kamu masih mencintainya?" Chandra pun tidak bisa untuk tidak bertanya, karena jawaban istrinya lah yang menguatkannya untuk tidak berbuat yang tidak-tidak dengan sahabatnya itu.


"Aku.." jawaban Luna terpotong karena Chandra sudah merapatkan wajahnya dengan wajah Luna tak berjarak, lalu mempertemukan dua bibir itu dan memagutnya.

__ADS_1


Bertemunya dua bibir yang saling terpagut itu sudah jadi bukti jika Darius tidak berpengaruh apa-apa di kehidupan mereka.


Bersambung..


__ADS_2