
Usai berganti pakaian dan merias diri, Luna pun berjalan perlahan menuju tempat tidurnya dimana suaminya kini pura-pura tidur dengan selimut yang membalut tubuhnya hingga di atas kepala.
Tapi, saat Luna baru saja menaiki tempat tidurnya, tiba-tiba Chandra berganti posisi tidur membelakangi istrinya.
Luna pun menghela napas pelan, lalu mendekat pada suaminya dan mendekapnya dari belakang.
Chandra yang sedang pura-pura tidur pun tau, dan langsung melepas tangan Luna yang melingkar di atas perutnya.
Luna tak menyerah, wanita cantik itu mengulangi pelukannya dan begitu pula Chandra kembali melepaskan tangannya.
"Mas.." panggilnya lembut saat pelukannya dua kali ditolak oleh suaminya.
"Mas.." panggilnya lagi saat suaminya tidak kunjung menjawabnya.
"Mas.. Aku mau peluk kamu, boleh tidak?" Luna pun memelas dengan suara begitu lembutnya yang kini mendapat perhatian dari Chandra. "Aku lagi kepanasan, tidak bisa dipeluk." jawabnya datar tetap membelakangi istrinya.
"Mas buka dulu selimutnya biar tidak kepanasan." Luna pun memberi solusi.
Hening tidak ada jawaban.
"Mas.. Aku ngelakuin salah ya?" tanyanya masih mencoba membuat hubungannya membaik dengan Chandra.
"Aku salah apa?" sambung Luna.
"Bilang, Mas.. Kalau Mas tidak bilang, aku tidak tau aku punya salah apa sampai Mas bersikap kayak gini sama aku." Luna pun tidak bisa menahan isakannya, satu air mata pun akhirnya lolos membasahi wajah cantiknya.
Chandra yang mendengar istrinya menangis pun kini merasa serba salah.
Istrinya ini memang tidak salah apa-apa. Dan kenapa ia harus menyalahkannya dan mendiamkannya?
Chandra pun menghela napas pelan, lalu berbalik badan dan langsung mendekap istrinya. "Jangan menangis, Lun." pintanya dengan mengusap punggung Luna.
"Aku salah apa sama Mas?" tanya Luna.
"Kamu tidak salah apa-apa." jawab Chandra seraya menatap tembok di depannya.
"Kalau aku tidak salah apa-apa.. Kenapa Mas tadi bersikap seperti itu sama aku?" Luna pun menuntu penjelasan yang kini membuat Chandra kembali terdiam.
"Maas.. jawab aku, Mas." tuntutnya dengan melepas dekapan suaminya demi mendongak menatap wajah tampan Chandra.
"Aku ingin bertanya sesuatu." Chandra menatap intens Luna, menyelami manik mata indah istrinya.
"Apa, Mas?" Luna pun membalas tatapan laki-laki yang tadi tiba-tiba mengacuhkannya.
"Apa dulu kamu punya hubungan lebih dari sekadar tetangga dengan Darius?" tanya Chandra yang seketika membuat Luna terdiam.
__ADS_1
hah? berarti benar Mas Chandra diemin aku dari tadi ada hubungannya dengan kak Darius?apa yang telah diceritakan kak Darius tentang aku pada Mas Chandra yang menbuat Mas Chandra seperti tadi? batin Luna bergejolak.
"Tidak usah dijawab kalau kamu tidak mau cerita." putus Chandra saat melihat istrinya memikirkan sesuatu.
"Mas mau dengar ceritanya?" tanya Luna akhirnya, wanita cantik itu berusaha memahami suaminya.
"Iya." sahut Chandra cepat.
Menatap suaminya kembali, Luna pun menghela napas pelan sebelum bercerita.
Banyak hal yang terlewat yang tidak diceritakan oleh Darius saat Chandra mendengar cerita versi istrinya.
"Apa kamu masih mencintainya?" Chandra pun tidak bisa menutupi kekhawatirannya saat Luna menceritakan jika dulu dia sangat mencintai Darius.
"Cinta? Entahlah, Mas." Luna pun memberi jawaban yang membuat kekhawatiran Chandra bertambah.
"Memangnya kenapa Mas?" tanya Luna dengan menoleh pada suaminya.
"Darius mencarimu dari dulu. Katanya kamu wanita paling berharga untuknya. Bahkan ia mau menikah hanya denganmu." gumam Chandra tiba-tiba tanpa menatap istrinya.
"Tapi.. aku sudah menikah dengan Mas." tegas Luna yang membuat Chandra menoleh menatapnya. "Jika nanti Darius meminta maaf karena dulu pernah meninggalkanmu, dan memintamu untuk menjadi istrinya. Apa kamu akan memilihnya dan meminta cerai dari aku?" tanya Chandra dengan menatap istrinya penuh harap.
"Segitunya Mas mau pisah sama aku?" Luna malah kecewa dengan pertanyaan dari suaminya.
Pertanyaan Chandra disalah artikannya.
"Lalu apa maksud Mas?" Luna tanpa sadar menaikkan nada suaranya satu oktaf, wanita itu kecewa karena suaminya dua kali meragukannya.
Dulu, saat laki-laki itu mendengar Raka patah hati dengannya, Chandra malah menyuruhnya pergi mengejar Raka tanpa mengerti perasaannya.
Dan kini, saat Darius kembali datang di hidupnya. Dengan gampangnya laki-laki tampan yang sialnya menjadi suaminya itu bertanya jika dia akan meminta cerai darinya.
Seburuk itukah ia di Mata suaminya? Luna pun langsung meneteskan air mata, begitu kecewa.
"Lun.. Jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis." Chandra berkata dengan kembali mendekap istrinya.
"Kenapa Mas bertanya seperti tadi? Mas bisa nalak aku sekarang kalau memang Mas mau pisah sama aku." Luna meronta di pelukan suaminya.
"Mas hanya ingin tahu perasaanmu."
"Buat apa, Mas?" kini Luna sedikit tenang, tidak meronta seperti tadi.
"Untuk menyakinkan hatiku." jawab Chandra pelan.
"Menyakinkan hati Mas? Apa yang perlu diyakinkan? Kak Ari itu hanya masa lalu buatku, Mas." lirih Luna sembari menepuk pelan dada suaminya dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
"Mas bilang sama aku kan kemarin, jika perkataan Nona Kezia tidak akan pernah berpengaruh apapun untuk Mas karena aku masa depan, Mas. Begitupun aku, Mas. Kedatangan Kak Ari di dalam hidupku tidak akan berpengaruh apa-apa, karena Mas adalah Masa depanku." jelas Luna yang membuat Chandra kini semakin mengeratkan pelukannya. "Apa kamu mencintaiku?" Chandra dengan bodohnya bertanya.
"Iya.. Aku mencintaimu, Mas." Luna pun menjawab dengan lugas. "Dan maaf jika aku telah lancang merasakan perasaan itu." sambungnya yang membuat Chandra terdiam dengan hanya memeluk istrinya tanpa menjawab apapun.
****
MALAM HARINYA.
Suasana di ruang makan di rumah mewah milik Chandra tidak seperti biasanya.
Banyak hidangan aneka warna bahkan ada menu desa di hidangannya, seperti mau kedatangan tamu.
"Siapa yang mau datang malam ke rumah malam ini, Mom?" Jenifer bertanya saat ia akan duduk di kursinya.
Sedangkan Chandra dan Luna tidak berniat bertanya sedikitpun.
"Darius, Jen." jelas Emily yang membuat Chandra tiba-tiba menoleh pada Momnya.
"Buat apa Mom mengundang Darius?" Chandra bertanya dengan nada datarnya.
"Mom hanya ingin mengundangnya makan malam, bukankah dia baru saja sampai di Indonesia?" Emily bertanya yang dijawab anggukan oleh Chandra.
Lima menit kemudian, benar Darius datang dengan membawa parcel buah untuk Emily. "Malam semuanya." sapanya saat memasuki ruang makan milik Chandra.
"Malam." Semuanya menjawab kecuali Luna.
Wanita cantik itu menelan salivanya lekat, karena takut suaminya nanti akan kembali mengacuhkannya.
"Duduklah, Us." Emily mempersilahkan, namun sepertinya Darius masih enggan.
Laki-laki itu terlihat ingin berbicara dengan Luna.
"Ndra.." panggilnya sembari menepuk pundak Chandra.
"Iya. Ada apa, bro?" Chandra mulai bisa terlihat biasa, apalagi perkataan istrinya tadi siang yang menyatakan jika wanita itu mencintainya membuat kekhawatirannya sedikit mulai terkikis.
"Aku mau berbicara sebentar dengan istrimu. Di teras rumahmu." pintanya yang membuat Chandra menoleh pada istrinya.
Chandra bisa melihat jika istrinya terlihat gugup dan serba salah.
"Untuk apa?" tanya Chandra.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya." jelas Darius yang membuat Luna kini mendongak menatap suaminya, seakan meminta pada suaminya untuk tidak mengizinkannya berbicara berdua dengan Darius.
"Sayang... Bicaralah sebentar dengan Darius. Ada yang ingin dibicarakannya denganmu." Chandra mengecup pucuk kepala istrinya setelahnya, memberi restunya yang membuat Luna kini tambah merasa serba salah di tempatnya.
__ADS_1
Bersambung...