Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Tentang Pantas Atau Tidak part II


__ADS_3

"Kak Luna sukanya nonton film genre apa?" Jeni bertanya saat keduanya sudah menginjakkan kakinya di salah satu Mall terbesar di kotanya tersebut.


Kedua wanita seusia itu bergandengan tangan dan saling bercengkrama dengan riang saat Emily meminta mereka segera nonton film di bioskop, mengingat nanti siang Luna ada jam masuk kuliyah.


Sudah berapa hari Luna tidak masuk kuliyah? kalian menghitungnya tidak? Haha


Setelah drama membaiknya hubungannya dengan Chandra, memang Emily memutuskan tetap ikut ke Mall dengan alibi ingin membeli perhiasan dan baju yang digunakan para modelnya untuk pemotretan dengan mata bengkak yang tidak bisa disembunyikannya.


"Kamu sukanya apa, Jen?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya.


Sepertinya Luna ingin mengikuti apa yang jadi keinginan adik iparnya itu, untuk sekadar memberinya kenyamanan saat mereka akan jalan bersama lagi nanti suatu hari.


Luna pun terus teringat, saat dulu suaminya yang belum seintim itu dengannya, saat awal-awal pernikahan suaminya itu rela sarapan nasi goreng, hanya untuk memberi kenyamanan pada Ibu dan Radit, anak asuhnya saat mereka ikut tinggal di rumah mewah milik Chandra.


Pernikahan mereka terjadi memang karena Chandra yang telah memaksanya, tapi Suaminya begitu menghargainya yang membuat Luna tidak bisa untuk tidak jatuh hati.


"Aku sukanya genre romance Kak, apalagi film terbaru yang mau aku ajak kak Luna buat nonton ini." sahut Jenifer antusias dengan binar mata bahagia.


"Memangnya berkisah tentang apa, Jen?"


"Kisahnya hampir mirip dengan aku dan pacarku, Kak." Jenifer tiba-tiba menunduk.


"Mau pesan apa?" tanya kasir itu saat keduanya sudah sampai antrian di penjualan popcorn.


Bioskop yang memang sedang ramai-ramainya membuat Jenifer dan Luna harus rela mengantri untuk membeli minuman serta camilan untuk menemani mereka menonton film.


Soal tiket? Jenifer dengan segala kekayaannya tidak perlu mengantri untuk membelinya, dia cukup membelinya lewat aplikasi canggih yang ada di ponselnya untuk memangkas antrian yang mengular itu.


Luna yang hendak bertanya tentang hubungan asmara adik iparnya yang membuat Jenifer tiba-tiba terlihat bersedih pun harus mengurungkannya saat kasir itu bertanya apa yang mau mereka beli. "Ice green tea blended dua, popcorn yang besar dua ya." ujarnya menjawab pertanyaan kasir itu.


Usai mendapat apa yang dipesan, Luna pun membaginya pada Jenifer dan berjalan memasuki bioskop itu.


Pertanyaan yang tadi singgah di pikiran Luna pun dienyahkannya, tidak ingin merusak momen nonton film mereka karena membuat Jenifer bersedih.

__ADS_1


***


"Sudah nontonnya?" tanya Emily saat melihat anak dan menantunya berjalan menghampirinya.


Emily masih stay di toko perhiasan menunggu mereka menonton.


Kebetulan toko perhiasan itu milik rekan bisnisnya di dunia modeling, dan ia mendapatkan kursi khusus untuk menunggu anak dan menantunya.


"Sudah, Mom." jawab Jenifer dengan mata basah dan wajah kuyunya.


"Abis nonton film kok jadi jelek gitu?" ledek Emily menahan tawa.


"Mom.." Jenifer mencebikkan bibirnya kesal.


"Jenifer terlalu menghayati filmnya, Mom." Luna pun berkata lembut sembari duduk di samping Ibu mertuanya.


"Oh ya?" Emily menoleh pada Luna, "Memang film apa yang tadi kalian tonton?" tanyanya.


"Palingan film tentang gadis miskin yang dapat laki-laki kaya." sembur Kezia saat wanita itu mendengar Emily bertanya dengan Luna.


Dan seperti semesta sedang mendukung pertemuan keempat wanita itu, Emily yang seharusnya menunggu di luar bioskop mengurungkan niatnya, memilih tetap berada di toko perhiasan tersebut.


Mendengar suara Kezia, Jenifer yang sedari tadi terus terisak pun langsung mengusap air matanya dan mendongak menatap Kezia. "Maksud kamu apa, Kezia?" tanya Jenifer tanpa menggunakan embel-embel "Kak" pada Kezia padahal usianya lebih muda dari Kezia.


Rasa sayang yang ia berikan pada Kezia berganti rasa benci saat mendengar dari Kakak tersayangnya jika wanita yang sangat dicintai Kakaknya itu menghianati Chandra, dan lagi yang lebih parah. Wanita itu berselingkuh dengan saudara sepupu mereka.


"Jen! Yang sopan, Nak." pekik Emily.


"Aku tidak akan sudi sopan kepada wanita murahan seperti dia, Mom. Dia tidak pantas mendapatkannya." Jenifer menunjuk muka Kezia dengan ekpresi berang yang tidak bisa ia tutupi.


Menonton film tadi sudah membuatnya cukup sakit hati, apalagi ditambah bertemu dengan Kezia. Membuatnya lebih sakit lagi.


"Ini bukan tentang pantas atau tidak, Jen. Tapi dia lebih tua dari kamu." Luna lah yang mengatakan itu, memberi tatapan teduhnya untuk adik iparnya.

__ADS_1


"Kamu ngatain aku tua?" Kezia bertanya pada Luna dengan wajah piasnya.


"Memang kamu sudah tua kan, Kezia?" Jenifer meledek, tapi dengan nada rendahnya.


"Jika dibanding Jenifer dengan aku, kamu memang lebih tua, Nona Kezia." Luna menambahkan, terlihat lebih sabar, wanita itu tetap berkata dengan tenang mengungkap fakta yang memang benar adanya.


Kezia gusar, lalu melangkah mendekati Emily dan mengusir Luna lalu duduk di sampingnya. "Apa kabar, Mom?" tanyanya lembut.


"Jangan dekati Momku." Jenifer pun langsung berdiri dan mengusir Kezia dengan menarik tangannya.


Kezia yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian oleh beberapa pengunjung yang berkunjung ke toko perhiasan tersebut pun, akhirnya mau tidak mau berdiri. "Mom.. Aku hanya ingin bilang sama Mom. Kalau Luna tidak pantas menjadi istri Chandra." tegasnya sembari tersenyum menyeringai pada Luna.


Mendengar perkataan Kezia, Emily langsung menatap pada menantunya, melihat menantunya yang terlihat tenang pun membuatnya tidak perlu membantah perkataan Kezia. Padahal jauh di lubuk hati Luna, ingin sekali mendengar Ibu mertuanya itu membantah perkataan Kezia.


"Tidak pantas? Kak Luna lebih pantas berdampingan dengan Kak Chandra daripada kamu, Kezia." Jenifer yang maju, membantah perkataan Kezia yang terang-terangan menghina Kakak iparnya.


"Kamu pasti sudah keracunan sama omongan manis Kakak iparmu ini ya, Jen." sindir Kezia, merasa di atas angin saat melihat Emily tidak mau membantahnya.


"Keracunan omongan manis?" Jenifer tertawa senang. "Kak Luna itu orang apa adanya. Bukan orang bermuka dua kayak kamu, Kezia."


"Nyonya Luna.. Mari saya antar pulang." Pak Mun dengan tergesa-gesa menghampiri Luna.


Sopir pribadi yang dipekerjakan oleh Chandra itu sudah diwanti-wanti oleh Chandra untuk segera mengajak Luna pulang ke rumah jika ada sesuatu yang membuatnya kurang nyaman.


Dan mendengar sendiri jika Kezia dan Jenifer sedang bertengkar karena Luna, membuatnya langsung sigap untuk mengajak Luna kembali ke rumah.


"Nanti saja, Pak. Nanti saya mau langsung ke kampus. Pak Mun kembali ke tempat Pak Mun yang tadi saja." Luna berkata dengan senyum manisnya.


"Kamu tidak apa-apa, Kak?" tanya Jenifer perhatian, adik iparnya itu baru melihat Kakak iparnya saat melihat Pak Mun menghampiri Luna.


Kezia yang melihat Pak Mun pun langsung pergi dari hadapan Emily, Luna dan Jenifer.


Wanita berhati iblis itu masih ingin mengadakan pesta pernikahannya dengan Kenzie di hotel mewah milik Chandra.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Jen." balas Luna sembari menahan rasa kecewa yang baru saja timbul karena Ibu mertuanya tidak membantah perkataan Kezia.


Bersambung...


__ADS_2