
Panggilan tersambung...
Chandra: Hal penting apa yang lo mau kasih tau ke gue, Ri? (Chandra bertanya to the point setelah membaca pesan dari Darius dan menghubunginya.)
Darius: Nanti kita ketemu aja di tempat biasanya.
Chandra: Bangsat! Lo di Indonesia?
Darius: Iya.. Gue baru nyampe. (Bohongnya)
Chandra: Gue enggak bisa pergi-pergi hari ini, istri gue hamil, Ri.
Darius: (Terperangah) Luna hamil, Ndra?
Chandra: Iya... Dan semalam dia mengalami pendarahan. Tapi untunglah, calon anak gue selamat, Ri. (terselip nada haru di setiap kata yang diucapkannya.)
Darius: Gue ikut bahagia, Ndra.
Chandra: Lo udah ngerelain Luna buat gue?
Darius: (Menganggukkan kepalanya walau Chandra tidak bisa melihatnya.) Arti dari persahabatan kita lebih penting, Ndra. (ujarnya dengan maksud lain di dalamnya).
Chandra: Gue seneng dengernya, Ri. Thanks ya, lo memang best friend gue.
Darius: (Tersenyum) Bagaimana proyek kerja sama lo sama Diamond Grup, Ndra? Lancar? (tanyanya pada sesuatu yang sedari tadi ingin ditanyakannya).
Chandra: Ada kendala sedikit.
Darius: Proyek lo tinggal delapan hari lagi harus selesai, Ndra.
Chandra: Iya, gue tau. Tapi istri gue lebih penting dari proyek itu.
Darius: Lo ngurusin proyek itu juga demi Luna 'kan? Ingat perjanjian kerja sama kalian, Ndra.
Diamond Grup sedang merencanakan sesuatu untuk menggagalkan proyek itu dan membuatmu kehilangan sebagian asetmu, Ndra. batin Darius bersuara, tapi tak mampu mengatakannya, karena ia belum bisa jujur jika Raka---pria yang juga mencintai Luna, yang tengah mengamati proyek itu, adalah anak dari pemilik Diamond Grup--tempatnya bekerja.
Dulu, saat Chandra baru bertanya tentang Diamond Grup padanya, Chandra belum sempat melihat foto Raka dan Ayahnya karena ia begitu kaget melihat Luna yang waktu itu diperkenalkan oleh Chandra, sebagai istrinya.
Yang tak lain, wanita yang ia cintai dari dulu dan bahkan sampai kapan.
__ADS_1
Darius mengalah bukan karena perkataan Reyna semata yang membuka mata hati dan pikirannya jika wanita itu mau melakukan apapun demi persahabatannya.
Tapi juga karena memikirkan Luna yang sepertinya tidak nyaman setiap ia ada di dekatnya.
Menjalin hubungan sebagai teman juga belum berani ia utarakan.
Chandra: Lo tenang aja, semuanya pasti siap tepat waktu.
Usai Darius menjawab "Okay", Chandra pun memutus panggilan tersebut dan melangkah memasuki kamarnya karena tadi dia menghubungi Darius dari balkon depan kamarnya.
"Kamu ngapain sayang?" Chandra bertanya pada Luna yang sedang duduk di sofa sembari memangku laptopnya.
"Aku lagi nulis, Mas." jawab Luna tanpa menoleh pada suaminya.
Wanita cantik itu terlalu serius memikirkan kelanjutan jalan cerita untuk novel yang sedang ia tulis.
"Apa judul novelmu?" Chandra bertanya dengan mengintip apa yang kini sedang ditulis oleh Luna.
Luna menoleh, lalu menampilkan cengirannya. "Aku malu, Mas."
"Malu?" Chandra membeo, lalu sedetik kemudian laki-laki tampan itu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Apa yang bikin kamu malu, Lun? Mas itu suami kamu." ujarnya.
"Mas suami aku?" Luna malah bertanya dengan bodohnya.
Wanita cantik itupun kini sedang duduk di atas pangkuan suaminya. "Aku enggak perlu bukti, karena aku tau Mas suami aku. Aku tadi hanya speechless, Mas.." ujarnya yang membuat Chandra langsung memberi kecupan di bibirnya.
Cup
Cup
Tak cukup sekali Chandra mengecup bibir mungil milik Luna yang membuat Luna tersenyum geli namun tak mampu melarangnya hingga pintunya diketuk oleh Bi Asih.
"Tuan.. Nyonya.. Sarapan pagi sudah siap." ujar Bi Asih yang membuat Luna langsung berdiri dari pangkuan Chandra.
*****
Sarapan pagi di rumah mewah milik Chandra kini terasa hening, karena Jenifer terus menunduk menyembunyikan mata bengkaknya.
Chandra, Abimana, Emily dan juga Luna, sama-sama menghela napas pelan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Jenifer.
__ADS_1
Kalau memang hanya karena larangan untuk tidak bertemu dengan Raka, Chandra merasa jika adiknya tidak mungkin seterpuruk itu.
Chandra pun akhirnya mempercepat makannya, lalu berdiri menarik tangan Jenifer, mengajaknya ke taman belakang rumahnya.
Dadnya hari ini harus kembali ke London mengurusi perusahaannya, dan sebagai anak bungsu, tentu Jenifer sangat dipikirkan oleh Abimana dan Chandra tidak mau membuat Dadnya itu kepikiran.
"Ada apa, Kak?" tanyanya lirih, sangat lirih seperti kehabisan baterai.
Kini mereka sama-sama duduk di gazebo menghadap bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Chandra menoleh pada Jenifer, lalu menarik pundaknya agar kepala adiknya itu bersandar di pundak kekarnya. "Lupakan Raka, dan mulailah hidup dengan baik seperti dulu, Jen." pintanya yang membuat air mata Jenifer kini menetes kembali dan mengenai celana jeans pendek yang sedang dikenakan oleh Chandra.
"Raka bukanlah laki-laki yang baik, dia sudah berani ingin menghilangkan nyawa Luna. Jika saja dulu Jaelani tidak berinisiatif untuk menyelamatkan Luna.. Kakak tidak tahu, apa yang akan terjadi pada Luna saat itu, Jen." sambungnya dengan mengusap lengan adiknya.
Berusaha mengambil hati Jenifer, dan menyadarkannya jika Raka bukanlah orang baik.
Menjadi Kakak dari Jenifer, membuat Chandra tau bagaimana menghadapi adiknya.
Bukan dengan cara marah, karena jelas Jenifer langsung mengunci pintunya dan tidak mau keluar menemuinya dulu saat ia memarahinya.
"Kak.." panggil Jenifer sembari mengangkat kepalanya agar bisa menatap mata elang milik Kakaknya. "Apa Kakak akan memaafkan aku jika aku melakukan kesalahan?" tanya Jenifer dengan menunduk, tak berani untuk sekadar menatap mata elang yang sangat disayanginya itu.
"Tergantung dengan kesalahan apa yang kamu perbuat, Jen." tegas Chandra yang membuat Jenifer kian menunduk dalam.
"Luna hamil.. Istri Kakak hamil, Jen." sambungnya yang membuat Jenifer mengangkat kepalanya dan menatapnya.
"Hamil? Bukannya kemarin malam Kak Luna baru melakukan test dan hasilnya negatif, Kak?" tanya Jenifer.
Chandra menganggukkan kepalanya, "Kata Dokter, usia kandungan yang masih begitu muda memang terkadang jika melakukan test kehamilan pada malam hari hasilnya kurang akurat. Hasil akurat untuk melakukan test urine seharusnya di pagi hari saat Luna baru bangun tidur." jelas Chandra yang membuat Jenifer bertanya dalam hatinya.
apa iya seperti itu, Kak? Tapi hasil testku kemarin positif. batin Jenifer sendu.
"Lalu apa hubungannya dengan Bang Raka, Kak? Bang Raka tidak akan mengganggu Kak Luna lagi."
"Tidak ada yang bisa menjaminnya, Jen. Raka itu terobses dengan Kakak iparmu." jelas Chandra yang membuat Jenifer terdiam.
"Dad hari ini akan kembali ke London. Sebentar lagi Kakak akan mengantarnya ke bandara. Dan Darius tadi mengirim pesan sama Kakak jika dia ingin menemuimu." terang Chandra yang juga membuatnya ingin berbicara berdua dengan Jaelani.
kak Darius? Ada apa dengannya? kenapa tiba-tiba dia ingin menemuiku? batin Jenifer bergejolak.
__ADS_1
Jenifer terdiam, Chandra pun terdiam. Keduanya sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Bersambung..