Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Bimbang


__ADS_3

"Bagaimana Tuan? Apa Tuan yakin mau menjalin kerjasama dengan Diamond Grup?" tanya Jaelani saat ia diajak berdiskusi oleh Chandra di ruang meeting.


Sore itu saat mereka selesai meeting dengan petinggi dari Diamond Grup, terlihat keraguan yang tercetak jelas di wajah Chandra.


Laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu memijit pelipisnya berulang kali saat membaca proposal pengajuan kerja sama itu, banyak pertimbangan yang ia pikirkan untuk sekadar tandatangan menyetujui.


Dalam proposal itu tertulis jika kerja sama itu terjalin, Chandra mempunyai dua pilihan yang sama-sama memberatkan.


Pilihan pertama, jika proyek yang akan dikerjakan oleh Chandra itu bisa selesai dalam target yang diinginkan ia akan mendapat banyak keuntungan. Pilihan itu mungkin menguntungkan.


Tapi saat ia membuka lembar pilihan kedua, sangat memberatkan. Dimana saat ia tidak bisa mengerjakan proyek itu tepat waktu yang mana tidak bisa mencapai target, ia akan mengalami kerugian besar yang akan membuatnya kehilangan sebagian besar asetnya.


"Aku masih bimbang, Lan." Chandra menyandarkan punggungnya di kursi sembari mengembuskan napas kasar.


"Jika Anda tidak yakin sebaiknya jangan, Tuan." Jaelani mencoba memberi solusi.


"Tapi jika proyek itu tidak jadi diambil, perusahaan kita akan dihina habis-habisan dengan perusahaan yang nanti akan menjalankan proyek itu, Lan."


"Lebih baik dihina daripada Anda kehilangan sebagian aset Anda, Tuan."


"Kamu tahu betul siapa aku, Lan." Chandra menegakkan kembali duduknya.


"Terserah Tuan. Tapi jika saran saya diterima, Saya ingin Tuan memikirkannya lagi sebelum mengambil keputusan final. Bukankah kita diberi waktu dua hari untuk memberinya keputusan, Tuan?" Jaelani mengingatkan hal yang mungkin tadi tidak didengar oleh Chandra karena laki-laki itu sempat keluar saat Pak Mun tengah menghubunginya.


"Akan aku pikirkan." Chandra berkata dengan raut wajah lelahnya lalu berdiri dan berjalan melangkah keluar dari ruang meeting tersebut.


***


Duduk di kursi yang berada di pinggir taman kota, tempat ia jualan bakso keliling dulu, adalah tempat dimana Luna kini sedang berada.


Ditemani Reyna yang sedari tadi mendengarkan ceritanya selama ia di Bandung, lalu belajar bikin kue bakpia dengan Karina Aprilia--Master Chef yang terkenal itu dan pertemuannya dengan Ibu mertuanya, Luna terlihat menguatkan hatinya dan terus mendongak menghalau air mata yang siap terjun membasahi wajah cantiknya saat bercerita.


Entahlah, Luna sekarang merasa bimbang.


Bimbang untuk melanjutkan pernikahannya dengan Chandra.


Di satu sisi, Luna merasakan cinta yang diberikan Chandra padanya walaupun dia belum pernah mendengar sekalipun kata "I Love You" dari suaminya.


Tidak munafik memang, jika sebagai wanita biasa ia ingin mendapatkan kata itu dari suaminya walaupun sekali saja.

__ADS_1


Apakah harapannya terlalu besar jika ia mengharapkan kata itu terlontar dari bibir tebal suaminya?


Di lain sisi, melihat dan mendengar jika Kezia mengatakan jika dia tidak pantas menjadi istri Chandra dan Emily tidak membantahnya membuat kekecewaan terus melanda hatinya.


Kuat.. Luna sudah berusaha menguatkan hatinya sendiri. Tapi hatinya tidak bisa untuk tidak terlanjur kecewa dengan sikap Emily selama ia belajar di kampus tadi.


Bahkan ajakan makan siang dari Emily ia tolak dengan halus, dengan menggunakan alasan yang tidak bisa ditolak juga tidak menyinggung hati Mom mertuanya.


Sebaik itukah Luna? Tetap memikirkan hati Emily agar wanita yang telah melahirkan Suaminya ke dunia itu tidak tersinggung Dan kecewa sementara Emily tidak memikirkan hatinya dan membantah perkataan Kezia?


Tanpa suara dan menoleh ke samping, wanita cantik itu sekilas meneteskan air mata lalu mengusapnya.


"Aku yakin Ibunya Pak Chandra akan menyayangimu, Lun." Reyna pun menguatkan sahabatnya.


"Entahlah, Reyn. Aku merasa tidak yakin."


"Apa yang membuatmu tidak yakin, Lun?"


"Mom Emily terlalu sempurna untuk menjadi Ibu mertua untukku. Aku orang biasa, Reyn."


*Mas Chandra saja yang sesempurna itu takut sekali saat akan mempertemukanku dengan Ibunya.. Bahkan aku melalui banyak pembelajaran, Reyn.


Tapi, saat tadi aku habis nonton dengan Jenifer dan kami bertemu dengan Kezia, Ibu mertuaku itu tidak membantah perkataan Kezia jika aku memang tidak pantas untuk anaknya. Segitu tidak pantaskah aku bersanding dengan Mas Chandra, Reyn? Sehingga Ibu mertuaku tidak mau membantahnya. Hikhik*. batin Luna menangis.


"Lun.. Menjadi seorang menantu itu bukan tentang orang biasa atau orang kaya. Jika Pak Chandra mencintaimu dan sudah memilihmu, apa Ibunya Pak Chandra tidak akan menyayangimu? Kamu salah.. Lambat laun beliau juga akan menyayangimu, Lun." Reyna terus mengusap pundak Luna, berkata bijak seperti orang yang sudah menikah.


berat. itu sangat berat, Reyn. mungkin kata mustahil lebih tepat. batin Luna berprasangka buruk.


Kring~~~~


Ponsel yang digenggam Luna memunculkan nama suaminya yang tengah menghubunginya.


Luna pun langsung menekan ikon gagang telpon berwarna hijau di ponselnya untuk menjawabnya.


"Aku jawab telpon dari Mas Chandra dulu ya, Reyn." ujarnya pada Reyna yang dijawab anggukan, dan dia pun berdiri lalu melangkah sebelum benar-benar menjawab telepon tersebut.


Panggilan tersambung...


Chandra: Kamu dimana?

__ADS_1


Luna: Aku di taman kota, Mas. Tadi Pak Mun memang aku suruh pulang dulu. Nanti aku pulangnya diantar sama Reyna kok.


Chandra: Tunggu disitu, aku jemput.


Luna: Enggak usah, Mas.


Chandra: Tungguin aja, sayang.


Belum sempat Luna menolak kembali, Chandra sudah memutus panggilan tersebut.


"Ada apa, Luna?"


"Mas Chandra mau jemput, Reyn. Aku enggak jadi ke ruko Ibu dulu." Luna tertunduk lesu.


"Tenang. Aku bisa kok mampir ke tempat Ibu dulu, nanti."


"Terimakasih ya, Reyn." Luna pun memeluk sahabatnya dengan sayang.


***


Empat puluh lima menit kemudian, Chandra pun sudah sampai di taman kota dan langsung turun dari mobilnya.


Laki-laki itu menggenggam tangan Luna lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil dengan sebelumnya menoleh pada Reyna untuk sekadar menyapanya.


"Ada apa Mas tiba-tiba jemput?" tanya Luna saat ia sudah selesai memakai seat-beltnya.


"Enggak ada apa-apa. Mas cuman pengen dekat sama kamu."


"Heuh? Maksud Mas?"


"Nanti kita bicarakan di rumah." putus Chandra yang membuat Luna kini memutar duduknya yang tadi menyamping menghadap Chandra berganti menghadap ke depan melihat jalanan di depannya.


Keduanya sama-sama terdiam dengan pikirannya sendiri dalam perjalanan menuju rumah mewah milik Chandra.


Deru mesin mobil dan suara radio yang baru saja dinyalakan oleh Chandra adalah teman yang menemani keheningan yang diciptakan keduanya.


Hati Luna yang masih sangat kecewa pun tidak berniat membuka obrolan dengan Chandra.


Entahlah.. Keduanya sedang berada dalam masalah dan belum tau cara untuk menyelesaikannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2