
Merasa Dijebak
"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Ari, Jen?" Luna bertanya begitu perhatian saat keduanya sudah selesai dirias, dan dikamar hanya berdua.
"Hubunganku dengan Kak Darius baik-baik saja, Kak... Bahkan sangat baik." Jawab Jenifer sembari menampilkan senyum palsunya.
Melihat kegigihan Darius yang mau menikahinya walaupun ia dalam keadaan yang mungkin tidak bisa diterima oleh laki-laki lain di luar dana, membuat Jenifer merasakan perasaan asing yang menyelinap di hatinya.
Perasaan asing itupun tidak berani Jenifer utarakan pada Darius saat melihat suaminya seperti menjaga jarak dengannya.
Seperrtinya mereka saling salah paham.
Jika Darius mengira Jenifer masih mengharapkan Raka.. Begitupun Jenifer yang mengira jika Darius masih mengharapkan wanita yang sangat dicintainya--yang tak diketahuinya adalah Kakak iparnya.
Jenifer mengira jika Darius tidak mau menyentuhnya hanya karena ingin bertanggung jawab sampai ia melahirkan anaknya saja.
Tapi Jenifer pun tidak munafik saat melihat kesungguhan Darius yang begitu tulus menyayanginya dan perhatian padanya saat mereka berhadapan dengan semua keluarganya tanpa kecuali Chandra dan Luna meski lewat sambungan video call.
Dan mereka semua pun mengira jika Jenifer dan Darius adalah pasangan yang romantis.
"Syukurlah.. Kakak senang mendengarnya, Jen. Kak Ari itu memang orang baik." ujar Luna dengan senyum tulusnya sembari menggenggam tangan Jenifer, mengajaknya ke dekat kolam renang dimana acara baby shower akan diadakan tanpa meneliti detail raut muka Jenifer yang menunjukkan kegelisahan.
***
Selamat Datang Di Acara Baby Shower Luna dan Jenifer.
Raka mengernyitkan dahinya saat melihat tulisan yang ada di karangan bunga yang begitu besar saat ia sampai di pekarangan rumah Abimana.
"Luna? Jenifer? Apa iya mereka? Lalu kalau iya, apa hubungan mereka dengan Tuan Abimana Dirjaya?" batin Raka bertanya.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Asisten pribadinya saat melihat Raka terdiam setelah turun dari Mobil sembari menatap karangan bunga.
"Tidak apa-apa. Saya hanya sedang melihat nama yang tercantum disitu." jelas Raka sembari menunjuk nama di karangan bunga.
"Oh! Itu nama anak dan menantu Tuan Abimana, Tuan muda." timpal asistennya yang mengetahui semuanya, berbeda dengan Raka.
Namun sedetik kemudian.. Raka oun mengangguk lalu keduanya melangkah memasuki kediaman Abimana.
"Tidak mungkin itu Luna.. Luna kan berada di Indonesia. Bukan di London. Dan pasti bukan Luna itu." batin Raka tidak mau terlalu berpikir rumit.
Satria yang bertugas menyambut tamu yang datang pun tersenyum sinis saat melihat Raka memasuki kediaman Dadnya.
Ia dan Abimana memang sengaja mengundang Raka ke acara baby shower Jenifer untuk melihat reaksi laki-laki itu saat melihat perut membuncit Jenifer tanpa sepengetahuan Chandra.
Tanpa sepengetahuan Chandra juga, Satria dan Abimana sudah mengetahui bagaiamana kondisi Kinara saat ini.
"Tuan Raka.." Satria menjabat tangan Raka dengan senyum ramah yang dibuat-buat. "Anda datang sendiri?" Satria menyindir halus Raka dengan menoleh pada semua kolega dan rekan bisnis yang telah ia undang, terlihat membawa istri dan pasangan masing-masing.
"Iya, Tuan Satria. Saya datang sendiri karena istri saya sedang kurang enak badan." jelas Raka yang membuat Satria pura-pura menganggukkan kepalanya paham.
__ADS_1
***
Di sisi lain di dekat kolam renang,
"Kamu yakin enggak mau tahu dulu soal jenis kelamin calon anakmu, Ndra?" Emily kembali menanyakan hal yang menurutnya sangat penting untuk diketahuinya untuk menyiapkan perlengkapan calon anak Chandra.
"Enggak, Mom." tegas Chandra dengan keras kepalanya yang membuat Luna hanya bisa tersenyum pada Mom mertuanya.
Suaminya itu memang begitu keras kepala, seperti tempo hari saat mereka sedang memeriksakan kehamilannya.
Waktu itu Luna hanya bisa menahan bantahannya saat suaminya bersikeras menolak untuk mengetahui lebih dulu jenis kelamin anaknya.
FLASHBACK ON
"Kandungan Nyonya Luna sehat, Pak. Dan jenis kelaminnya--"
"Stop!" sela Chandra yang membuat Dokter Maya mengerutkan keningnya.
Sedangkan Luna, wanita cantik berbulu mata lentik itu terkesiap saat melihat Chandra menyela penjelasan Dokternya.
"Ada apa, Pak?" Dokter Maya pun lantas bertanya.
"Jangan sebutkan jenis kelaminnya. Saya belum mau mendengarnya, Dok." jelas Chandra yang membuat Luna tidak tahan untuk tidak bertanya. "Kenapa, Mas? Kalau kita mengetahui jenis kelaminnya apa kan kita bisa belanja perlengkapan calon anak kita sesuai kebutuhannya."
"Belanja perlengkapan calon anak kita bisa pakai warna netral, Sayang." Jelas Chandra yang akhirnya tidak bisa membuat Luna membantahnya.
"Baiklah, Pak. Saya akan merahasiakannya dan akan memberitahu jika Bapak sudah bertanya." tukas Dokter Maya akhirnya yang membuat Chandra dan Luna menganggukkan kepalanya.
Setelah semua kolega dan rekan bisnis yang diundang olehnya dan Abimana sudah datang, Satria pun mengajak mereka tanpa terkecuali Raka untuk menuju area kolam renang, tempat baby shower itu diadakan.
"Mari Tuan.. Nyonya." Satria mempersilahkan semuanya untuk mengikutinya tanpa terkecuali Raka.
Raka tertegun, tenggorokannya seakan tercekat saat memasuki area kolam renang yang telah disulap sedemikian rupa bagusnya oleh tangan canggih Emily.
Laki-laki itu memusatkan perhatiannya pada seorang wanita yang perutnya membuncit dan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki yang dulunya ia ceritakan semua tentang ajang balas dendamnya pada Chandra dengan memanfaatkan kebodohan Jenifer, yang dulunya mengaku sebagai pegawai di perusahaan Papanya.
Raka tidak perlu bertanya hubungan mereka apa, karena saat ia menoleh pada Chandra dan Luna yang duduk di sebelah Jenifer, mereka memakai pakaian yang senada tapi berbeda warna.
"Anda melihat apa, Tuan?" Satria bertanya dengan senyum sinisnya yang tidak bisa dilihat oleh Raka, karena laki-laki itu begitu terpaku pada perut membuncit Jenifer, yang diketahuinya adalah darah dagingnya.
Raka tidak mengenali suara Satria karena ia belum sadar dari keterkejutannya, lalu ia pun menjawab apa adanya sesuai apa yang sedang dilihatnya karena ia mengira yang bertanya adalah Asisten Pribadinya.
"Melihat Jenifer."
"Jenifer? Anda sedang menatap adik saya, Tuan Raka?" Satria pun bertanya lagi dengan mati-matian menahan emosinya.
Mendengar kata "adik saya", Raka pun lantas menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya sekaligus menyadarkannya jika yang bertanya padanya tadi bukan asisten pribadinya.
"Tuan Satria?" Raka terasa susah menelan salivanya, bahkan laki-laki itu langsung mengedarkan pandangannya untuk menetralkan kegugupannya karena telah tertangkap basah oleh orang lain jika ia sedang menatap Jenifer.
__ADS_1
Raka belum mengetahui jika Satria adalah Kakak kandung pertama Jenifer.
"Iya.. Saya. Anda tadi mengatakan pada saya jika sedang menatap Jenifer. Anda kenal dengan adik saya?" Satria bertanya dengan penekanan setiap perkataannya.
Kalau tidak sedang berada di acara besar, mungkin Satria sudah memberi bogem mentahnya pada Raka karena telah berani-beraninya membuat Jenifer seperti itu.
"Jenifer adik, Tuan?" Raka merasa dijebak sekarang, ia tidak tahu jika Abimana dan Satria adalah Dad dan Kakak Jenifer.
"Iya. Dia adik kandung saya. Apa Anda mengenalnya? Kapan kalian saling mengenal? Kenapa saya belum tahu?" Satria mencecar Raka dengan banyak pertanyaan disertai tatapan tajam.
Kring~~~
Ponsel Raka berbunyi menyelamatkan Raka dari tatapan intimidasi dari Satria.
Dengan terburu, Raka pun mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jasnya dan secepatnya menekan ikon gagang telpon berwarna hijau untuk menjawabnya.
"Saya jawab telpon dulu, Tuan." ujar Raka pada Satria sebelum menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Silahkan!" Satria dengan sabar yang dibuat-buatnya menunggu di sebelah Raka.
"Apa?" Raka bertanya dengan nada terkejut saat bodyguard-nya mengabarinya jika Kinara dilarikan ke rumah sakit.
"Iya, Tuan. Nyonya Kinara tadi pingsan dan Dokter yang memeriksa Nyonya meminta kami agar membawa Nyonya Kinara ke rumah sakit." jelas bodyguard-nya yang membuat Raka tiba-tiba mendongak lalu mengusap wajahnya dengan kasar dan sedetik kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Kinara masuk rumah sakit? Tuhan.. Sehatkanlah ia seperti sedia kala. batin Raka berdoa untuk kesembuhan istrinya.
Bagaimanapun keadaan Kinara saat ini karena kesalahannya dan kecerobohannya.
"Jo!" teriak Raka pada asisten pribadinya yang terlihat sedang berbincang dengan rekan bisnisnya yang membuat semua orang yang berada disitu menoleh menatapnya.
"Jangan teriak-teriak di acara orang, Tuan Raka. Hormatilah Tuan Rumahnya." titah Satria yang membuat Raka menoleh lagi menatapnya.
"Raka?" Chandra terkesiap saat melihat Raka.
"Pak Raka?" Luna dan Darius pun tidak kalah kagetnya.
"Bang Raka?" Jenifer pun sama, tapi buru-buru mengalihkan tatapannya pada Darius saat kini Raka menatapnya dengan sendu.
"Ada apa, Tuan?" dengan tergopoh-gopoh, Asisten pribadi Raka bertanya.
"Kinara masuk rumah sakit, kita harus segera kesana." titah Raka sembari berbalik badan akan secepatnya berlari namun dihalangi oleh Satria.
"Anda tidak bisa pergi, Tuan Raka. Acaranya baru saja mau dimulai. Jika Anda pergi berarti Anda tidak menghargai orang yang telah mengundang Anda." tegas Satria yang membuat Raka terdiam sembari mengusap wajahnya kasar.
Apalagi ini?
Bersambung...
Hehehe.. Sebenarnya bab ini itu mau aku publish semalam.
__ADS_1
Tapi... Ternyata.. Saat aku mau nyalinnya ke aplikasi ini, tiba-tiba salah pencet dan kehapus.
Dan pagi ini baru sempet ngetik lagi.. Haehehe.