Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Obsesi Yang Berlebihan


__ADS_3

Kenzie berpura-pura mengotak-atik ponselnya untuk membuat Chandra tegang dan ia tersenyum senang melihatnya.


Menjadi kepuasan tersendiri bagi Kenzie saat melihat Chandra terpojokkan, karna dari dulu Papa-nya selalu mengutamakan Chandra, setelah Chandra lahir ke dunia, dibanding dirinya.


Dan hal itulah yang membuatnya tiba-tiba menyela perkataan yang ia dengar tidak utuh itu hanya ingin membuat Chandra malu.


Padahal dia tidak sadar, bahwa perkataannya yang tidak bisa membuktikannya akan membuat dirinya sendiri malu, bukan Chandra.


"Kalau kau tidak punya buktinya tidak usah banyak bicara!" tegas Chandra setelah beberapa menit Kenzie tidak menunjukkan buktinya.


"Mas.." Luna menggeleng pelan, melarang Chandra terlalu keras dengan sepupunya.


"Tiga puluh detik. Kalau dalam tiga puluh detik kamu tidak punya buktinya, kamu hanya punya dua pilihan!" jelas Chandra lagi dengan nada dingin yang membuat suasana pesta pertunangan yang belum sempat terjadi itu terasa mencekam.


"Sebaiknya kamu melanjutkan pesta pertunanganmu dengan Kezia, Ken.. Papa tidak mau menanggung malu karna ulahmu yang dari dulu tidak berubah." Permana mencoba menasehati anaknya yang terlihat hanya berpura-pura mencari sesuatu di ponselnya.


"Papa lagi-lagi ngebela dia?" Kenzie bertanya dengan wajah berangnya.


Permana menggeleng tegas, "Papa tidak ngebela siapapun. Disini kamu bukan pemilik tempat ini, kamu harus ingat hal pertama itu. Dan hal kedua, kita semua berkumpul disini untuk menghadiri acara pertunanganmu dengan Kezia, jika kamu lupa." Permana mencoba mengalah dengan berkata lembut pada anaknya, agar keributan itu tidak semakin menjadi.


Apalagi, Chandra dan dirinya beserta anaknya adalah keluarga terpandang. Tidak etis rasanya hal pribadi diumbar di tempat ramai yang bisa mengundang banyak opini dari berbagai sisi.


Jalinan bisnisnya yang belum mencapai kata sepakat dengan banyak klien pun akan terhambat jika berita keributan di pesta pertunangan anaknya tersebar luas.


"Baiklah.. Aku akan melanjutkan pertunanganku dengan Kezia, Pa." Kenzie pun akhirnya luluh dan melangkah menuju tempat dimana dia dan Kezia akan memakaikan cincin pertunangan di jari masing-masing.


Raka yang sedari tadi hanya bisa diam pun kini mengikuti jalannya pesta pertunangan itu dengan mencari celah untuk mencelakai Luna.


Dalam menit saat Kenzie berhasil memakaikan cincin pada jari Kezia, tepuk tangan para tamu undangan yang hadir pun meramaikan ballroom tersebut dan tangan Luna lepas dari tangan Chandra.


Kesempatan itu pun digunakan Raka untuk menarik lengan Luna dengan kencang lalu menariknya kembali untuk diajaknya berlari menuju rooftop untuk melakukan hal yang sedari tadi memenuhi pikirannya.


Obsesinya yang berlebihan membuatnya buta mata dan hatinya.

__ADS_1


Jaelani yang melihat Luna dibawa pergi oleh Raka pun langsung mendekat dimana Chandra sedang terlibat perbincangan dengan Permana.


Sialnya, Luna tidak bisa berteriak karna mulutnya dibekap dengan sapu tangan yang selalu tersedia di kantong celana Raka.


"Ada apa, Lani?" Chandra bertanya dengan menaikkan alisnya, melihat wajah panik sekretarisnya. "Nyonya dibawa oleh Tuan Raka, naik ke rooftop, Tuan." jawab Jaelani dengan cepat.


Perkataan Jaelani membuat Chandra langsung membuatnya membalikkan badan dan ternyata istrinya memang tidak ada di belakangnya.


Seketika ia pun berlari menaiki tangga untuk menyusul istrinya yang dibawa oleh Raka.


Insting Jaelani yang menguat saat tadi mendengar pertengkaran Raka dan Chandra yang memperebutkan Luna pun berlari ke luar dari hotel tersebut sembari menghubungi beberapa pengawal untuk melakukan hal yang bisa mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan oleh Tuannya.


"Raka.. Lepaskan istri saya!" pinta Chandra saat menemukan Raka sedang menepuk keras bahu Luna, menyakiti istrinya yang tidak bisa melawan Raka karna mulut wanitanya dibekap dan tangannya dikunci dengan tali yang entah Raka dapatkan darimana.


"Istri? Istri yang tidak pernah kamu akui?" Raka tertawa sumbang dengan nada yang begitu miris, tanpa membalikkan badan menghadap Chandra.


Ia memilih menghadap wanita yang telah mencuri hatinya berbulan-bulan lamanya dan meninggalkannya hanya untuk menikah dengan rekan dosennya yang tega menghianatinya.


"Aku mengakuinya, Rak."


Chandra terdiam, dia terlihat sedang berpikir dalam memilah kata untuk menjawab pertanyaan miris dari Raka.


Kasihan. Mungkin itu yang ingin diucapkan Chandra dalam hatinya saat melihat Raka sehancur itu mendengar Luna sudah menikah dan menjadi istrinya.


Awalnya ia juga tidak tahu, ia hanya mendengar cerita dari Raka tanpa tau siapa Luna yang mana yang diceritakan padanya karna waktu itu perusahaannya adalah prioritasnya.


Seandainya dia tau jika Luna yang diceritakan oleh Raka waktu itu adalah Luna-nya, mungkin dia juga tidak akan menikahinya.


Tapi, dia juga reflek memberi tawaran Luna untuk menikah dengannya karna dia butuh status di hadapan para pemegang saham di perusahaannnya saat itu.


Chandra terlihat fokus dengan pikirannya sendiri tanpa menyadari jika istrinya sedang berada dalam keadaan yang tidak ia inginkan.


Dalam sekali dorong, wanitanya akan jatuh dari lantai yang tingginya mencapai 15 lantai.

__ADS_1


Hingga suara teriakan Raka menyadarkannya dari lamunannya.


"Kalau aku tidak bisa memilikimu, Chandra juga tidak boleh memilikimu, Luna Sabrina." teriak Raka lalu mendorong Luna hingga wanita itu jatuh ke dasar tanpa melihatnya.


"Luna.." teriak Chandra yang langsung mendekati Raka yang sedang mendongak menatap langit seakan puas bisa mencelakai Luna.


Seketika Raka berbalik badan, dan langsung mendapat hujaman bogem mentah dari Chandra. "Kau gila hah! Kau gila!"


"Kau yang gila!" teriak Raka tanpa tau keadaan Luna.


Chandra mengumpatinya sembari memberi bogem mentahnya pada Raka dengan buas, melupakan bagaimana keadaan Luna.


Puas membuat wajah Raka sudah hancur dengan berbagai luka lebam walaupun tidak bisa membalas mendorongnya, Chandra langsung berlari menaiki lift untuk menuju basement dan keluar mencari istrinya.


Istrinya yang gagal ia lindungi.


Chandra menatap gusar pantulan dirinya di dinding lift, bagaimana ia menjelaskan pada Ibu Halimah tentang kejadian yang terjadi?


Bagaimana keadaan istrinya? Apakah istrinya itu selamat? Kenapa dia bisa gagal melindungi istri yang begitu baik dengan dirinya?


Hah! Chandra menitikan air mata seraya berjalan keluar dari lift yang dinaikinya.


Laki-laki tampan bak Dewa Yunani itupun langsung berlari ke tempat dimana istrinya jatuh karna dorongan dari Raka.


"Luna.." teriak Chandra dengan terus berlari, merasakan debaran hatinya yang tidak biasa saat membayangkan hal buruk terjadi pada istrinya.


Obsesi Raka sudah keterlaluan, dan dia tidak bisa mengampuninya begitu saja.


Chandra membelalakkan matanya saat ia melihat apa yang kini ada di depannya.


Laki-laki itu mengusap matanya berulang kali guna menyakinkan dirinya jika yang dilihatnya kini adalah nyata.


Saat ia mencubit pipinya dan dirasa semua adalah nyata, dan yang didepannya tersenyum padanya, ia pun langsung menarik wanitanya ke dalam pelukannya dengan hati yang bergetar hebat.

__ADS_1


Wanitanya.. Wanitanya selamat. Dan Chandra tersenyum seraya menitikan air mata yang mengalir begitu derasnya. "Kamu selamat, istriku." ucapnya lalu menangkup wajah Luna dan menghujaninya dengan banyak kecupan di setiap sisi wajah istrinya.


Bersambung..


__ADS_2