Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Butuh Waktu


__ADS_3

"Nyonya Luna!" teriak Jaelani memanggil Luna yang terlihat membalikkan badannya dengan derai air mata yang begitu derasnya membasahi wajahnya.


Luna menulikan telinganya, wanita cantik yang tengah hamil muda itu terus mempercepat langkahnya dengan ujaran yang begitu menyayat hati yang terus terucap di hatinya.


aku bukan barang. aku bukan mainan yang bisa mereka tawar dan tukar seenak hati. apa mereka fikir aku ini tidak punya hati? yang bisa seenaknya mereka mainkan?


Suara sepatu sneakers yang dipakai Luna memang mampu membuat telinga Jaelani mendengarnya dan sekretaris dengan tingkat kekepoan tertinggi itu sekilas bisa melihat mata Nyonya-nya basah dan seketika Raka beserta Chandra menoleh pada Luna yang sedang berjalan begitu cepat begitu Jaelani meneriaki Nyonya-nya.


"Luna disini, Lan?" Chandra panik saat melihat istrinya berjalan begitu cepat.


"Iya, Tuan. Tadi saya mengajaknya ke sini sambil menunggu Tuan yang tadinya katanya ada urusan. Dan besar kemungkinan Nyonya Luna mendengar semuanya." jelas Jaelani yang kini langsung membuat Chandra berlari dengan tertatih mengejar istrinya.


"Kenapa dari tadi kamu enggak bilang kalau ada Luna?" lirih Chandra sebelum mengejar istrinya yang tidak bisa dijawab oleh Jaelani.


Sekretarisnya itu hanya menunduk dengan kata "menyesal" teramat dalam yang ada di dalam hatinya karena telah membuat Nyonya-nya mendengar semuanya.


Nyonyanya yang seperti imun di setiap tatapan intimidasi darinya bahkan bersikap baik dengannya walaupun ia terang-terangan memperlihatkan jika tidak menyukainya membuatnya bersikap berbeda pada istri dari Tuan-nya itu.


"Ingat, Chan! Kalau Luna sudah tidak mau dengan kamu. Aku punya penawaran terbaik untukmu." teriak Raka yang membuat Chandra sempat menghentikan langkahnya sejenak, namun kembali meneruskannya tanpa menjawab teriakan Raka.


Chandra mempercepat langkahnya dengan meringis menahan perih di sekitar wajahnya dan tubuhnya karena terkena bogem mentah dari Raka untuk cepat mengejar istrinya.


"Saya tidak mengira, jika Nona Kinara mau menikah dengan laki-laki busuk seperti Anda!" ujar Jaelani dengan menunjuk wajah Raka sesaat sebelum mengikuti Chandra yang tengah mengejar istrinya.


"Terserah!" Raka meludah di depan Jaelani setelah menghalau tangannya dan segera masuk ke dalam ruangan dimana istrinya dirawat.


Ia bahagia.. Dalam hati sangat merasa puas dan bahagia. Sebentar lagi ia akan bisa memiliki Luna.


**


"Luna!" teriak Chandra berulang kali untuk menghentikan langkah cepat Luna.


Luna tidak menoleh, hatinya mendadak kaku hanya untuk menoleh pada suaminya.


Suaminya yang tidak mempunyai sikap dengannya.


Memang dianggap apa Luna di dalam hidup Chandra?


Bukankah dulu laki-laki itu sendiri yang memaksanya menikah dengannya?


"Berhenti, Luna!" teriak Chandra lagi sembari meringis menahan sakitnya.


Jaelani yang melihat Tuan-nya sedikit kesusahan mengejar Nyonya-nya, akhirnya pun melangkah cepat berlari dan langsung memegang lengan Luna guna menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tolong berhenti sebentar, Nyonya! Anda harus mendengar penjelasan dari Tuan." sergah Jaelani dengan memegang lengan Luna.


Luna menatap tangannya yang dipegang oleh Jaelani untuk sekadar memberitahu pada Jaelani jika sikapnya itu tidak ia sukai.


Jaelani yang paham, langsung melepas tangannya yang memegang lengan Luna. "Maaf Nyonya." ujarnya akhirnya tidak enak hati.


"Penjelasan apa Pak Sekretaris? Penjelasan kalau aku mau ditukar dengan Miss Kinara? Aku bukan barang yang bisa ditukar kapanpun dengan seenaknya oleh Tuan-mu itu." pekik Luna dengan menunjuk Chandra tapi sama sekali tidak mau menatap suaminya.


Tatapan tajamnya terkunci lurus pada Jaelani.


Bisa Jaelani lihat, wanita setegar karang yang biasanya imun dengan tatapan intimidasinya itu begitu terluka.


Wajah Luna basah terkena air mata.


"Tuan Chandra tidak bermaksud seperti itu, Nyonya." Jaelani membela Tuan-nya.


"Tidak bermaksud seperti itu?" Luna tertawa dengan mirisnya. "Tidak usah mengasihaniku, Pak Sekretaris." ujar Luna lalu kembali melangkah meninggalkan Jaelani namun kini lengannya kembali ditahan.


"Tapi Nyonya--"


"Lepaskan tanganmu dari lengan saya, Pak Sekretaris." pinta Luna tanpa menoleh pada Jaelani.


Orang yang menahan lengan Luna, maju melangkah tanpa menghiraukan pinta istrinya.


Laki-laki itu langsung mendekap istrinya dari belakang dengan begitu eratnya. "Maafin Mas."


Luna terpaku saat mendengar permintaan maaf dari suaminya.


Tapi, akal sehatnya kembali mengingatkannya jika bukan pertama kali suaminya meminta maaf dengannya dan bukan pertama kali juga tadinya suaminya kembali menyakitinya.


Luna tidak menjawab untaian maaf dari Chandra, wanita cantik berbulu mata lentik itu berusaha melepaskan dekapan hangat suaminya agar bisa pergi dari suaminya itu.


"Lepasin aku, Mas.. Aku mau pisah dari kamu." ujar Luna akhirnya dengan berusaha melepas dekapan Chandra yang begitu erat di tubuhnya.


Di sisa-sisa sakit hati yang mengungkungnya, memang yang diputuskan oleh Luna saat ini adalah ingin pisah dari suaminya.


Ia tidak akan sanggup jika selamanya akan melihat suaminya itu tidak bisa bersikap biasa saja dengan yang bersangkutan dengan Kinara.


Apalagi sekarang pekerjaannya sebagai dosen belum mempunyai asisten, dan Luna tidak mau makan hati terus-menerus dengan melihat suaminya selalu kebawa perasaan dengan apa yang menimpa Kinara saat di kampus.


Chandra mengendurkan dekapannya saat mendengar istrinya itu ingin meminta pisah darinya.


Namun ia pun kembali mengeratkan dekapannya saat istrinya akan berhasil melepas tangannya yang mendekap tubuhnya.

__ADS_1


Sedangkan Jaelani, laki-laki itu langsung pergi saat Chandra mendekap istrinya.


"Mas tidak akan melepaskanmu." ujarnya dengan mencium tengkuk Luna.


"Lepaskan aku, Mas.." Luna melirih dengan air mata yang terus terjun membasahi wajahnya.


"Enggak akan."


"Kenapa enggak akan? Mas mau menukarku dengan Miss Kinara saat anak ini lahir. Iya Mas?" teriak Luna dengan isakannya yang siapa saja yang mendengarnya pasti hatinya langsung berdenyut nyeri.


Chandra semakin mengeratkan dekapannya, "Maafkan Mas, Lun. Maafkan Mas."


Permintaan maaf berulang kali lah yang bisa Chandra utarakan saat ini.


Dan itu entah kenapa semakin menguatkan prasangka buruk yang bersarang di pikiran Luna jika ia dan Kinara akan ditukar oleh suaminya untuk menjadi pasangan hidup Chandra.


"Habis stock maafku Mas minta terus menerus." Luna pun menyanggahnya.


"Maafkan Mas."


"Beri aku waktu, Mas. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya." pinta Luna akhirnya saat Chandra tidak juga melepas dekapannya.


"Kita pulang sekarang." ujar Chandra akhirnya dengan berganti mencekal pergelangan tangan istrinya.


"Enggak!" Luna berusaha melepas cekalan tangan suaminya pada pergelangan tangannya.


"Kenapa?" Chandra bertanya dengan raut wajah tanpa dosanya.


Tidak sadarkah laki-laki itu jika ia telah egois hanya mementingkan Kinara sejak wanita itu hadir ketimbang istrinya?


Tidakkah laki-laki itu sadar jika sikapnya yang kurang tegas begitu menyakiti hati istrinya?


Tidakkah laki-laki itu sadar jika sikapnya yang tak biasa pada Kinara membuat Luna makan hati?


"Aku tidak akan mau pulang ke rumahmu kalau kamu belum menentukan pilihanmu, Mas. Walaupun aku tahu siapa yang akan kamu pilih. Tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu." Luna berujar dengan menahan isakannya.


"Mulutmu yang dulu memaksaku menikah denganmu, dan mulutmu yang tidak menyangkal saat Pak Raka memintamu menukarku dengan Miss Kinara. Apa Mas tahu rasa sakit yang aku rasakan saat melihat sikap Mas itu?" sambung Luna dengan matanya yang berkabut.


"Hatiku sakit, Mas.. Aku sakit hati dengan sikap kurang tegas Mas. Mungkin kemarin aku bisa sabar, aku diam. Tapi bukan berarti aku mau terus menerus menerima perlakuan tidak adil dari suami aku sendiri. Suami yang memang belum pernah mengatakan cinta sama aku."


"Dulu.. Mas selalu bilang kalau Mas menghargai pernikahan kita. Mas selalu bilang kalau masa lalu adalah masa lalu, dan aku adalah masa depan, Mas. Mana buktinya, Mas? Setelah kehadiran Miss Kinara aku seperti terhempaskan begitu saja dalam hidup, Mas. Mas enggak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Mas enggak bisa konsisten dengan omongan Mas yang dulu." sambungnya lagi lalu melepas cekalan tangan Chandra pada pergelangan tangannya dengan lagi mendorong dada Chandra sebelum ia menaiki taksi untuk meninggalkan suaminya.


Tidak bisa. Luna tidak bisa terus seperti itu. Dia hanya manusia biasa, bukan malaikat.

__ADS_1


Hatinya bisa patah bak kaca yang dihantam batu yang akan pecah berkeping-keping saat suaminya tak mengerti akan dirinya dan hatinya.


Bersambung..


__ADS_2