
"Kamu kenapa, Lun?" ulang Chandra yang entah keberapa kalinya dengan memijit tengkuk istrinya.
Luna masih diam tak menjawab, wanita cantik itu masih ingin mengeluarkan sesuatu yang ingin ia muntahkan.
"Aku lemes, Mas." ujarnya kemudian setelah memuntahkan cairan dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Chandra.
Chandra tak banyak bicara, laki-laki itu langsung menggendong istrinya ala bridal style menuju sofa yang ada di ruang keluarga.
"Ini minyak angin buat Nyonya, Tuan." Bi Asih sudah menunggu sedari tadi ingin mengulurkan minyak angin untuk Nyonyanya.
Chandra menoleh, lalu menerima minyak angin itu. "Terimakasih." ujarnya yang dijawab anggukan oleh Bi Asih.
Chandra mengolesi perut, dada dan punggung Luna untuk sedikit meredakan rasa mualnya.
Sedangkan Jenifer.. Wanita cantik itu masih tegar.. sekuat tenaga dia menguatkan fisiknya jika dia baik-baik saja.
Jenifer duduk di sofa depan Luna dan menatap wajah kakak iparnya yang kini terlihat agak pucat.
"Kalian kenapa sebenarnya?" Emily bertanya dengan perutnya yang meronta.
Jadwal makan malam mereka pun terundur karena Luna dan Jenifer mual.
"Masuk angin kali, Mom." kilah Jenifer yang membuat Emily mengangguk paham.
Wanita itu belum memastikan keadaannya sebenarnya, dan dia pun belum tau bagaimana bercerita pada keluarganya.
biarlah kesalahan itu aku simpan saja.. semoga kamu belum tumbuh di rahimku. batin Jenifer sendu sembari menatap perut ratanya.
Harapan.. Ya harapan itu yang kini muncul di pikiran Jenifer saat mengalami mual bersamaan dengan Kakak iparnya.
Mungkin jika Luna tengah mengandung.. dan rasa mualnya karena sedang mengalami fase trimester pertama, kakak iparnya itu sudah menikah dengan Chandra, kakaknya.
Sedangkan dia, dia belum menikah. Dan laki-laki yang melakukannya belum pernah lagi mengabarinya.
Jenifer membesarkan hatinya jika makhluk kecil bernama jabang bayi itu belum tumbuh di rahimnya.
Ia tidak akan bisa, tidak akan mampu menceritakan hal yang telah terjadi padanya pada Mom, Dad dan Chandra.
Ia tidak akan mampu melihat raut wajah kecewa dan hancur dari keluarga yang sangat ia sayangi itu.
Baru saja Abimana dan Emily berbaikan dengan Kakaknya setelah bertahun-tahun mereka terpisah.
__ADS_1
Dan dia tidak mau dan belum sanggup menerima kabar buruk yang pasti akan membuatnya jauh dari keluarganya.
Ya.. belum apa-apa Jenifer sudah berprasangka buruk jika keluarganya akan meninggalkannya jika terjadi apa-apa dengannya.
"Istri kamu kenapa, Ndra?" Emily bertanya pada Chandra saat Luna belum menyahuti pertanyaannya.
"Tidak tahu. Biasanya Luna belum pernah seperti ini, Mom." aku Chandra tidak berbohong.
"Apa istrimu sudah menstruasi bulan ini?" Emily bertanya saat pikirannya menyimpulkan jika menantunya itu tengah mengandung.
Bibir wanita yang masih cantik di usianya itu melengkungkan senyum saat harapan itu muncul tiba-tiba di pikirannya.
"Menstruasi?" Chandra membeo sembari menatap istrinya.
Laki-laki itu mulai mengingat jika istrinya memang hampir tiap malam tidak pernah absen untuk melakukan kegiatan panas dengannya selama sebulan ini.
"Mom.. Jika seorang wanita sedang menstruasi berarti dia tidak bisa melayani suaminya, bukan?" Chandra mendadak bodoh, kepintarannya menurun beberapa derajat saat ditanya perihal wanita.
Luna menepuk pelan lengan suaminya, wanita cantik itu meringis mendapati suaminya bertanya tentang hal pribadinya, apalagi disitu ada Dad mertuanya.
"Disini ada aku, Kak.." Jenifer mengingatkan yang membuat Emily mendengus.
"Ini bukan saatnya untuk bercanda, Jen." tegas Emily yang membuat Jenifer mengangguk paham.
"Alat test kehamilan?" Chandra membeo lagi, dan kembali menatap istrinya.. Eh, bukan.. menatap perut rata Luna.
Mata laki-laki itu tiba-tiba berembun saat menatap perut rata Luna.. Apa.. Apa benar istrinya tengah mengandung? Apa benar dia akan menjadi seorang Daddy--walaupun ia sudah mengakui Radit sebagai anaknya, dan menyuruhnya memanggilnya Daddy? Apa benar bibit unggul yang selama ini ia curahkan di rahim istrinya sekarang mendapatkan hasil?
Hah? Chandra langsung berdiri untuk memanggil Bi Asih. Laki-laki itu butuh kepastian. Bukan harapan semu semata.
"Kamu mau kemana, Ndra?" Emily bertanya saat melihat raut wajah bahagia yang kini menghiasi wajah Chandra.
"Aku mau menyuruh Bi Asih untuk membelikan alat test kehamilan, Mom." ujar Chandra lalu melangkah menuju dapur.
Namun baru tiga langkah, suara Jenifer menghentikan langkahnya mencari Bi Asih.
"Biar aku saja yang membelinya Kak.." Jenifer mengajukan diri.
Wanita cantik itu juga butuh kepastian atas apa yang tadi dialaminya bersama Kakak iparnya.
aku juga ingin beli itu untukku sendiri, Kak.. Jika membelinya bebarengan dengan punya Kak Luna.. setidaknya tidak akan susah memberikan alasan pada petugas apotiknya. batin Jenifer sendu.
__ADS_1
Chandra berbalik badan, laki-laki itu menatap Mom dan Dadnya bergantian. Dan akhirnya ia pun menyetujui jika Jenifer yang akan membeli alat test kehamilan itu.
Luna sudah agak mendingan, dia pun berusaha untuk duduk lalu menunduk dalam yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya heran. "Ada apa, sayang?"
"Aku takut kalau hasilnya negatif, Mas." Luna insecure sendiri saat melihat begitu banyak harapan terlihat di wajah Dad dan Mom mertuanya, begitupun suaminya.
"Tapi, memang sebulan ini kamu selalu melayani keinginan Mas." Chandra mengeluarkan pendapatnya.
"Haidku memang kurang lancar, Mas. Dari dulu memang seperti itu." lirih Luna yang membuat Chandra menatapnya.
"Maksud kamu?"
"Ya gitu, Mas. Kadang sebulan sekali iya.. Tapi terkadang tiga bulan sekali baru iya." jelas Luna yang membuat Chandra mengusap wajahnya.
"Kita test dulu aja ya." Chandra mencoba menguatkan hatinya agar harapannya itu tidak patah sebelum mendapatkan hasil yang akurat.
Laki-laki itupun mendekap istrinya, mengusap punggungnya, menyakinkannya jika apapun hasilnya.. semua akan baik-baik saja.
****
Satu jam kemudian.. Jenifer pun sampai di rumahnya dengan membawa satu kantong plastik berisi beberapa alat test kehamilan dengan berbagai merk terbaik keluaran dunia.
Wajah wanita cantik itu terlihat kuyu, matanya sembab setelah pulang dari apotek.
"Kamu kenapa, Jen?" tanya Emily melihat tetesan air mata membasahi wajah cantik putri kesayangannya.
"Aku.." Jenifer tidak bisa berkata-kata. Wanita cantik itu langsung memeluk Emily dengan kencangnya.
Isakannya pun terdengar oleh Chandra yang sedari tadi menunggunya.
Tanpa menanyakan apa yang terjadi pada Jenifer, laki-laki itu meminta alat test kehamilan yang sudah dibeli oleh adiknya.
Setelah mendapatkan alat test kehamilan itu, Chandra pun mengajak istrinya untuk ke kamar dengan lagi menggendongnya ala bridal style.
"Buka pintunya, Lun." titahnya pada istrinya dengan menatap pintu.
Mendapat penjelasan tadi dari istrinya memang merubah sedikit harapannya, ia tidak mau terlalu kecewa jika hasilnya negatif dan membuat istrinya tidak nyaman.
Sesampainya di dalam kamar, Chandra pun langsung mengajak istrinya ke dalam kamar mandi untuk mengambil urine agar bisa mendapatkan kepastian dari apa yang tadi ia perkirakan.
Luna meringis menatap suaminya, ia pun mengambil urine yang sudah ia dapatkan lalu dengan mata terpejam dan terbuka bersamaan, wanita itu meletakkan alat test kehamilan itu ke dalam cup berisi urine untuk mengetahui hasilnya.
__ADS_1
Bersambung...