
Merasai hati dan pikirannya sudah mulai tenang, Luna pun bangkit dari duduknya untuk pulang ke rumah suaminya.
Pesan Ibunya yang menyuruhnya berbakti dengan Chandra dan mengikuti perintahnya asalkan tidak melanggar norma agama, membuat Luna tidak bisa pergi kemana-mana walaupun sekadar menginap di rumah Reyna.
Ia tidak mau Ibunya berdosa hanya karena ia yang pergi tanpa izin dari suaminya.
"Kamu mau kemana, Lun? Ini udah mau malam loh." tanya Reyna dengan ikut berdiri di samping Luna.
"Justru karena udah mau malam, aku harus pulang ke rumah Mas Chandra, Reyn." Luna menatap sahabatnya dengan tersenyum, lalu menumpukkan tangannya pada tangan Reyna. "Terimakasih ya." sambungnya lagi yang membuat Reyna menggelengkan kepalanya.
"Aku sahabatmu, Lun. Sudah sepantasnya aku harus ada di saat kamu lagi kayak gini." jawab Reyna sembari menatap mata sahabatnya.
Luna mengangguk, air matanya yang menggenang yang ia tahan.. terjun begitu saja lalu melangkah mendekap Reyna.
maafin aku yang enggak bisa memberitahumu kalau Mas Chandra menyimpan foto Miss Kinara ya, Reyn.. Kamu memang sahabat terbaikku. ujar Luna dalam hatinya.
"Kalau Pak Chandra nyakitin kamu.. Kamu tinggal bilang sama aku ya, Lun. Bakal aku hajar suamimu itu." ujar Reyna setelah Luna melepas dekapannya yang membuat Luna tergelak.
"Memang kamu berani sama Mas Chandra? Kamu enggak takut dikasih nilai E?" tanya Luna yang membuat Reyna menatap ke sembarang arah sembari menghela napasnya.
"Jangan coba-coba deh, Reyn. Gitu-gitu dia itu dosenmu." sambung Luna yang membuat Reyna menampilkan cengirannya.
"Kamu mau bareng aku naik taksi?" tanya Luna saat mereka melangkah menuju mobil taksi online yang sudah dipesan oleh Luna.
Reyna menggelengkan kepalanya, "Aku udah nyuruh Miko tadi buat kesini jemput aku, Lun." ujarnya yang membuat Luna paham.
"Ya udah.. Aku duluan ya, Reyn." ujar Luna yang dijawab anggukan oleh Reyna, lalu wanita cantik itu masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya.
****
Satu jam telah berlalu.. Chandra baru sampai di danau buatan yang ada di pinggiran kota.
Di malam hari, tempat itu terlihat begitu indah.
Reyna yang masih menunggu kedatangan Miko untuk menjemputnya masih duduk di salah satu kursi yang biasa digunakan para muda-mudi berpacaran di malam minggu.
Chandra mencari keberadaan istrinya dengan menyusuri tempat yang ada di pinggir danau itu, tepatnya di bawah pohon rindang yang tadinya istrinya duduk disana.
Sampai di bawah pohon rindang itu, ternyata istrinya sudah tidak ada disana.
Chandra pun langsung berjalan lagi dan melihat ke sekeliling hingga pandangannya melihat Reyna.
Tak tunggu lama, Chandra langsung berlari menghampiri Reyna untuk menanyakan keberadaan istrinya. "Reyna.." panggil Chandra yang membuat Reyna langsung menoleh pada orang yang telah memanggilnya.
"Pak Chandra?" gumam Reyna saat melihat orang yang memanggilnya ternyata adalah Chandra. Ia pun langsung berdiri untuk memakinya. "Ada apa Pak Chandra kemari? Kurang puas membuat Luna sakit hati? Ternyata Pak Chandra sama saja dengan laki-laki diluar sana ya? Pintar menyakiti hati wanita setelah mendapatkan hatinya." makinya tanpa jeda.
Chandra menyugar rambutnya ke belakang. "Kalian salah paham, Reyn. Dimana Luna?" tanyanya langsung pada poinnya, karena ia tidak melihat istrinya di dekat Reyna.
"Buat apa Bapak mencari Luna? Bukankah tadi Bapak terlihat senang karena dicium oleh Miss Kinara?" cerocos Reyna yang tidak menjawab pertanyaan Chandra.
__ADS_1
Chandra memijit pelipisnya mendengar cerocosan Reyna.. "Dimana istri saya, Reyn?" Chandra mengulangi pertanyaannya dengan suara lemahnya, mengindahkan pertanyaan dari Reyna.
Baginya itu tidak penting, yang terpenting sekarang ia harus tau dimana keberadaan istrinya. Dan ia harus meluruskan kesalah pahamannya.
"Luna sudah pulang ke rumah Bapak. Mungkin sudah sampai rumah." jawab Reyna akhirnya, melihat Chandra yang sepertinya juga putus asa karena tidak menemukan istrinya.
"Luna pulang ke rumah saya?" tanya Chandra bodoh yang membuat Reyna berdecak kesal. "Ck! Bapak suaminya kan?" tanyanya ketus.
Chandra menganggukkan kepalanya namun sedetik setelahnya mata laki-laki itupun berbinar bahagia.
Luna.. Istrinya pulang ke rumahnya.. hati Chandra senang bukan main mendengarnya.
Setelah berucap "Terimakasih" pada Reyna, Chandra pun langsung berlari agar bisa secepatnya menaiki dan mengemudikan mobilnya.
Tujuannya sekarang adalah rumahnya. Istrinya yang dicarinya sudah kembali ke rumahnya.
Chandra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximal, dan beberapa jam kemudian.. Sampailah ia di pelataran rumah mewahnya.
Melempar kunci mobilnya pada satpam yang membuka gerbang rumahnya, Chandra langsung berlari memasuki rumahnya hingga menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya.
Jantungnya berdegub kencang memikirkan bagaimana meluruskan kesalah pahaman yang terjadi antara dia dan istrinya.
Istrinya kan tidak tahu jika Kinara adalah mantan kekasih terindahnya?
Dengan napas terengah-engah, Chandra membuka perlahan pintu kamarnya.
Setelan piyama? Bukan gaun tipis yang sering dipakainya? Chandra pun mengernyitkan dahinya heran, namun sedetik kemudian ia menjernihkan pikirannya agar tidak protes pada istrinya.
Lebih baik istrinya memakai setelan piyama tapi tetap berada di rumahnya kan daripada istrinya memarahinya lalu tidak mau lagi dengannya?
Tidak bisa dibayangkannya bagaimana hidupnya jika ia ditinggalkan oleh Luna.. Apalagi ada calon anaknya yang sedang tumbuh di rahim istrinya.
Disadari atau tidak.. Luna lah yang kini menghiasi seluruh relung hatinya.
Dan mungkin tidak ada tempat bagi wanita manapun yang kini pantas menghiasi relung hatinya selain istrinya.
Istrinya.. Istrinya yang mau menerima paksaan menikah darinya.
Istrinya yang menyelamatkan ia dari keputusan para pemegang saham yang mengancam posisi yang diembannya.
Istrinya yang selalu setia disampingnya, berkali-kali membelanya, bahkan istrinya tidak pernah menuntutnya macam-macam.
Perlahan.. dengan perlahan Chandra masuk ke dalam kamarnya dengan terus menatap istrinya yang sedang menunduk membaca buku.
Luna tetap kekeh pada pendiriannya. Ia pulang ke rumah Chandra, karena dia istri Chandra.
Tapi, dia sama sekali tidak mau untuk sekadar mendongak dari buku yang ia baca demi menyapa suaminya.
Ia ingin memberi efek jera pada suaminya, bahwa ia juga seorang wanita.
__ADS_1
Ia hanya manusia biasa yang mempunyai hati.
Hati yang bisa sakit saat melihat suaminya dicium oleh wanita lain.
Bukankah suaminya tadi pagi berkata jika dia bisa cemburu? Begitu pun dengan Luna.. Wanita cantik pencemburu ulung itu lebih dari kata cemburu saat melihat suaminya biasa saja dicium oleh Miss Kinara.
"Sayang.." panggil Chandra setelah ia duduk di depan istrinya.
Luna tidak bergeming, wanita cantik itu malah mengambil ponselnya dan headsetnya yang ada di atas meja nakas lalu dengan sekali gerakan ia turun dari tempat tidur yang tadi sempat membuatnya nyaman.
Chandra menatap istrinya yang sama sekali tidak mau menatapnya. Ia pun mencekal lengan Luna saat Luna akan pergi dari hadapannya. "Mas mau bicara." ujarnya yang dianggap angin lalu oleh Luna.
Wanita cantik itu melepas cekalan tangan Chandra pada lengannya, lalu meneruskan langkahnya.
Melihat sikap cuek istrinya, Chandra pun menggelengkan kepalanya dan langsung melangkah dan berlari mengejar Luna yang hampir sampai di daun pintu kamarnya, hendak keluar kamar.
Chandra langsung mendekap Luna dari belakang, tapi tak membuat Luna menghentikan langkahnya.
Wanita cantik itu malah membuka pintu kamarnya, namun Chandra kembali menutupnya.
Kembali, Luna membukanya lagi, dan Chandra menutupnya lagi sembari mengeratkan dekapannya. "Kasih Mas waktu. Mas harus meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Itu semua enggak seperti yang kamu lihat, sayang." pintanya sembari mengecup pelipis istrinya.
Luna menundukkan kepalanya, tak mengiyakan juga tak menolak pinta suaminya.
Ia hanya butuh waktu. Butuh waktu untuk menata hatinya dan mendengar penjelasan suaminya.
Membiarkan beberapa detik suaminya mendekapnya, Luna pun melepas dekapan itu lalu secepatnya berlari menuju ruangan gym suaminya yang berada di sebelah kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Di dekat pintu itu, tubuh Luna merosot.. air matanya tidak bisa dibendungnya.
Tidak bisa.. Ia belum siap bertemu dengan suaminya.
Hatinya masih terlalu sakit.
Kalau bukan mengingat nasihat Ibunya, mungkin saat ini ia memilih menginap di rumah Reyna dan ikut nonton konser band bersamanya.
Ciuman dari Kinara pada suaminya, dan sikap suaminya setelah mendapat ciuman itu seperti film yang terus memutar di kepalanya dan terus membuatnya menangis saat mengingatnya.
"Sayang.."
"Luna.."
"Sayang.."
"Buka pintunya, sayang.."
Berulang kali Chandra mengetuk pintu ruangan gym-nya untuk memanggil istrinya, tapi tak juga istrinya itu menjawabnya apalagi membuka pintunya untuknya meluruskan kesalah pahamannya.
Bersambung...
__ADS_1