
Panggilan tersambung...
Reyna: Tumben telpon.. Ada apa Nyonya?
Luna: (mencebikkan bibirnya kesal) Aku kangen, Reyn.
Reyna: Oh ya? Kangen? Kamu kemana aja, Lun? Kenapa udah dua hari kamu gak kuliyah?
Luna: Kemarin Ibu sakit, Reyn.
Reyna: Ibu sakit apa, Lun?
Luna: Maagnya kambuh.. Nanti kamu bisa tolong jengukin Ibu gak?
Reyna: Emang kamu kemana?
Luna: Aku lagi honeymoon, Reyn.
Reyna: What? Kamu gila?
Luna: Enak aja! Aku gak gila tau, Reyn.
Reyna: Lha Ibunya lagi sakit malah pergi honeymoon, apa gak gila namanya?
Luna: Mas Chandra itu izinnya sama Ibu ngajakin aku ke Bandung untuk ngurusi kerjaannya yang disini, Reyn. Eeehhh, taunya diajak membuat anak terus.
Setiap kali mengingat suaminya yang terus meminta haknya dari mereka sampai di villa kemarin siang hingga pagi tadi, Luna tersenyum geli.
Suaminya itu tidak membiarkan ia memakai benang sehelai pun, bahkan saat mandi pun suaminya langsung masuk ke kamar mandi dan kembali meminta haknya di bawah guyuran shower membuatnya mempunyai pengalaman berbeda saat melakukan ITU.
Luna juga menggelengkan kepala samar saat mengingatnya, bisa-bisanya laki-laki yang dulu bisa menahan hasratnya sekarang menjadi begitu liar dengan alibi yang ia punya agar Luna tidak bisa menolaknya.
kamu ingat kan kalau Ibu segera minta cucu dari kita. itulah Alibi kepunyaan Chandra.
Reyna: Hahahhahaa.. Gila ya Pak Chandra itu.
Luna: Kamu berani ngatain dosenmu gila? Kamu gak takut dikasih nilai jelek, Reyn?
Reyna: Emang pak Chandra denger aku ngomong kayak gitu tadi, Lun?
Luna: Hahahha.. Anda sedang takut ya?
Reyna: Enggak.. palingan pak Chandra sedang gak disitu sama kamu.
Luna: Kamu kok tau? (mengernyitkan dahinya)
Reyna: Luna.. Luna.. Ya taulah. Aku kan tau siapa kamu. Kamu gak mungkin bilang kalau kamu diajakin pak Chandra membuat anak terus kalau ada suami kamu disitu.
Luna: Hehe.. Kamu itu memang ya. Tau aja.
Reyna: Ya dong.. Aku kan sahabatmu, Lun. Anyway.. Aku mau pergi sebentar Lun ke minimarket, nanti kita sambung lagi ya. Aku janji nanti aku mampir ke tempat Ibu.
Luna: Oke.. Terimakasih ya Reyna sayang.
__ADS_1
Usai Reyna menjawab "Heem", Luna pun memutuskan panggilannya karna guru yang sudah dipersiapkan oleh Chandra juga sebentar lagi akan sampai di Villa milik suaminya.
Hari itu saat Chandra berpamitan untuk mengurusi perusahaannya yang ada di Bandung, Luna pun sudah dipersiapkan guru oleh Chandra untuk mempersiapkan dirinya untuk bertemu Ibunya.
Terkadang Luna berpikir, seperfect apa Ibu mertuanya hingga suaminya mengharuskan untuknya belajar. Apa karna Ibu mertuanya seorang model? Dan Chandra menyuruhnya belajar agar bisa menjadi model?
Pertanyaan itu memutar di kepala Luna sembari tersenyum geli, tapi saat mengingat wanita yang dulu pernah ia tabrak dadanya saat ia menuruni anak tangga rumah Chandra, seketika membuat nyalinya menciut dan berusaha untuk serius melakukan pelatihan.
Entahlah.. Luna pun belum bisa berpikir jernih menangkap maksud dari suaminya memberinya guru seperti itu.
"Mungkin Mas Chandra melakukan ini untuk kebaikanku." gumam Luna dengan merebahkan badannya di kasur empuknya.
Sepuluh menit kemudian, guru yang disiapkan oleh Chandra pun sampai di villa milik Chandra.
"Guru Nyonya sudah datang, Nya." penjaga villa milik Chandra memberitahu Luna.
"Terimakasih, Pak. Saya siap-siap dulu." jawab Luna dengan tersenyum manis.
***
"Sudah siap Nyonya Luna?" tanya guru pelatihan itu pada Luna yang dijawab anggukan kepala oleh Luna.
Pertama kali yang diajarkan adalah melihat bagaimana cara Luna berjalan.
Usai melihat cara berjalan Luna yang begitu cepat karena terbiasa mendorong gerobak bakso, guru pelatihan itupun tertawa pelan sembari menggelengkan kepala.
Setelahnya, guru itu mempraktekkan cara berjalan yang anggun agar Luna mengikutinya.
Luna menanggapi pujian itu dengan tersenyum manis menampilkan deretan giginya.
Pembelajaran kedua adalah cara Luna duduk saat berada di ruang keluarga saat ada pertemuan keluarga.
Cara duduk Luna juga bisa dipraktekkan oleh Luna saat ia berada di perusahaan Chandra dan bertemu dengan para pemegang saham dan klien Chandra.
Intinya itu bermanfaat sekali untuk Luna.
Cara duduk Luna yang merupakan seorang mahasiswi pun gak sesulit membelajari cara berjalan Luna tadi. Dan itu membuat guru pelatihan itu langsung melanjutkan ke pembelajaran ketiga.
Yang ketiga adalah cara makan Luna.
Guru itu memberikan sepiring steak untuk Luna, lalu memperhatikan cara makan Luna.
"Berantakan sekali." gumam guru pelatihan itu saat melihat saus steak itu berceceran di sekitar piring.
"Emm.. Maaf Bu, saya belum pernah memakan ini sebelumnya." jelas Luna yang membuat guru itu mengernyitkan dahinya heran.
"Anda belum pernah ke Cafe?"
"Kalau ke Cafe ya pernah, Bu. Tapi belum pernah makan steak."
"Lalu apa yang Anda beli? Apa Pak Chandra tidak memesankan makanan kesukaannya itu untuk Anda?"
"Saya belum pernah diajak ke Cafe sama suami saya." jawab Luna yang membuat guru itu paham.
__ADS_1
"Mungkin pak Chandra terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengajak Anda ke Cafe ya, Nyonya." sindir guru itu sembari tersenyum sinis.
"Suami saya memang orang sibuk, Bu." jelas Luna, lagi-lagi membela suaminya yang membuat Chandra yang baru saja memasuki villanya tersenyum bangga mendengarnya.
Suara derap langkah gagah dari sepatu kulit khas pria membuat kedua wanita beda usia itu menoleh ke arah suara itu.
Luna langsung melemparkan senyumnya saat menyadari laki-laki itu adalah suaminya.
"Maass.." panggilnya bahagia yang dijawab senyuman lebar oleh Chandra.
"Bagaimana pelatihannya? Apa istri saya sudah bisa?" tanya Chandra pada guru pelatihan yang ia bayar.
"Sebaiknya Anda harus sering mengajak istri Anda ke Cafe, Pak." Guru itu menasehati Chandra agar laki-laki itu perhatian dengan istrinya yang membuat Chandra langsung menoleh menatap Luna.
"Kamu belum bisa makan steak?" tanyanya bodoh pada istrinya yang dijawab gelengan kepala lemah oleh Luna.
"Maaf ya Lun.. Aku terlalu sibuk." ujarnya sembari mengusap kepala istrinya, lalu mengecupnya sekilas.
Laki-laki itu hanya ingin menegaskan jika tidak seorangpun boleh menghina istrinya.
Dan mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang memang membuat guru pelatihan yang tadi hampir menghina Luna, menciut nyalinya.
"Baiklah.. Saya permisi dulu, Pak. Nyonya Luna sudah siap semuanya.. tinggal makannya aja yang perlu dilatih terus." ujar guru pelatihan itu akhirnya lalu mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.
"Oke.. Terimakasih. Dan ini bayaran buat kamu." tutur Chandra sembari mengulurkan check berisi sejumlah uang pada guru itu.
Melihat nominal yang tertera di check, guru itu tersenyum puas lalu berpamitan dengan baik pada Luna.
"Ke kamar yuk." ajak Chandra yang membuat Luna mengernyitkan dahinya.
Hendak menolak, namun dirinya tidak punya kuasa karna takut dosa.
"Kamu mikir apa, Lun?" tanya Chandra saat melihat istrinya tidak kunjung berdiri.
"Aku kan baru abis makan.. Kayaknya belum boleh tidur deh, Mas." Luna menemukan alasan yang masuk akal.
"Memangnya kamu pikir, aku mau ngajak kamu ke kamar buat ngajakin kamu membuat anak?" tanya Chandra dengan menahan tawanya.
"Mas ih!" Luna malu sendiri dengan jawabannya tadi.
"Ayo.. Aku mau mendengar ceritamu gimana aja pelatihanmu tadi." ujar Chandra yang membuat Luna malu-malu, tapi tak membuatnya menolak ajakan suaminya menuju ke kamarnya.
Bersambung...
***
Aku ada buku baru lagi kak.. Judulnya pemilik hati.
berkisah antara Halingga, Risa dan Helena.
Baca aja ya, biar tau ceritanya.
Slow update tapi.. hehehe.
__ADS_1