Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Yang Dibutuhkan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Chandra dan Luna masih sama-sama saling terdiam.


Chandra yang sedang pening memikirkan kerja sama perusahaannya dengan Diamond Grup langsung membelokkan langkahnya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa menyapa istrinya saat mereka sudah sampai di lantai dua.


Sedangkan Luna, wanita cantik itu menatap nanar punggung suaminya yang baru saja memasuki ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar mereka berdua.


Entah apa yang sedang dipikirkan suaminya itu hingga baru kali ini tega mengabaikannya.


Bahkan mengajaknya berbicara hanya tadi saat mereka berdua baru saja memasuki mobil Chandra.


Kekecewaan dan kebimbangan Luna pun bertambah karena mengira jika suaminya itu mendengarkan kata Kezia dengan Momnya tentang tidak pantasnya ia menjadi istri Chandra hingga mengabaikannya.


Hal apa yang membuat Luna harus berpikir positif? Sepertinya tidak ada. Itu menurut Luna.


Padahal jika wanita itu mengingatnya, Chandra terus berkata jika apapun yang terjadi laki-laki itu tidak akan menceraikannya.


"Ada apa denganmu, Mas? Kenapa kamu mengabaikanku?" tanya Luna bermonolog sembari meneteskan air mata.


Wanita itu sedang duduk di ranjangnya dan terus menatap pintu kamarnya, berharap suaminya itu masuk dan berbicara dengannya.


Ada apa dengan suaminya?


Detik berubah menjadi menit, menit hampir berubah menjadi jam Luna tetap duduk di ranjang menatap pintu itu menunggu suaminya untuk sekadar membukakan jas kerjanya dan membuka dasi serta kemeja kerjanya.


Membuka kaos kaki serta sepatunya, memberinya minum seperti kebiasaan yang selalu ia lakukan saat suaminya sepulang kerja.


Luna pun mengabaikan badannya yang lengket karena bau keringatnya, wanita itu belum mau beranjak sedikitpun dari ranjang tetap menunggu suaminya bahkan untuk sekadar minum air untuk membasahi tenggorokannya.


Ceklek~~~


Chandra pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dengan muka kusut yang tidak bisa disembunyikannya.


Laki-laki itu terus mendongak, menyugar rambutnya ke belakang, mengepalkan tangannya pada rambutnya dengan kencang. Seperti sedang marah dengan dirinya sendiri sesaat setelah mengunci pintu hingga ia berjalan menuju ruang ganti.


Chandra memang harus berpikir dengan keras dalam mengambil keputusan yang menurutnya tidak gampang.


Berpikir hampir satu jam lamanya dan belum menemukan titik terang, akhirnya Chandra pun ingin jeda sejenak dengan mandi untuk kembali menyegarkan tubuh dan pikirannya agar bisa berpikiran jernih.


Luna yang sedari tadi menunggu suaminya menangkap ekspresi itu, akhirnya ia pun bisa mengetahui jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.


Wanita cantik itu pun langsung berdiri menghampiri suaminya lalu memeluknya dari belakang saat suaminya itu baru saja hampir memasuki ruang gantinya. "Kamu kenapa, Mas?" tanyanya.


"Aku tidak apa-apa, Lun." Chandra pun melapisi tangan Luna yang tengah melingkar di perutnya dengan menunduk dan tidak ingin membagi apa yang ia pikirkan pada istrinya.

__ADS_1


Baginya.. Itu masalahnya, itu pekerjaannya, biarlah dia yang memikirkannya.


Laki-laki itu baru teringat, jika ada wanita cantik yang sedari tadi tengah menunggunya.


Terbukti, tangan Luna yang melingkar di perutnya masih terlapisi dengan sweater berwarna mustard yang dipakai istrinya tadi pagi.


"Kamu belum mandi, sayang?" Chandra pun bertanya tanpa membalikkan badan.


Laki-laki itu merasakan kehangatan dekapan istrinya dan sesaat baru merasa jika kemeja yang ia pakai tengah basah bagian punggungnya karena terkena air mata.


Hah? Istrinya menangis? Kenapa istrinya menangis? Apa karena ia telah mengabaikannya?


Chandra pun melepas tangan Luna yang melingkar di perutnya, lalu membalikkan badannya menghadap istrinya dan benar saja, ia menemukan jika wajah cantik istrinya itu basah dengan air mata.


"Kamu kenapa, Lun? Kenapa kamu menangis?" tanyanya dengan memegang dagu Luna, membuat wanita itu mau menatapnya.


"Aku.. Aku ada salah ya sama, Mas?" tanyanya dengan terisak.


"Salah?" Chandra pun mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu apa?" tanya Chandra meminta penjelasan.


"Kenapa Mas tadi mengabaikanku?" tanya Luna dengan menunduk kembali, wanita itu tak kuasa menatap mata elang milik suaminya.


Belajar terbuka dengan Reyna membuatnya sedikit-sedikit bisa menghapus jiwanya yang suka memendam apa yang ia pikirkan sendiri.


"Mengabaikanmu?" Chandra pun maju mendekap istrinya. "Mas tidak mengabaikanmu, sayang. Mas lagi pusing memikirkan perusahaan, Mas." aku Chandra akhirnya.


Tidak ingin istrinya berpikir yang tidak-tidak.


"Memikirkan perusahaan? Bukan karena perkataan Nona Kezia ya, Mas?" tanyanya dengan kini membalas pelukan suaminya.


Chandra mengangguk-anggukan kepalanya, "Perkataan Kezia tidak akan pernah berpengaruh apapun buat aku, Lun."


"Maksud Mas?" Luna pun bertanya.


"Kezia hanya masa lalu buatku, dan kamu masa depanku." Chandra berkata dengan melepas dekapannya, mengecup bibir istrinya.


bilang I love U, Mas? Bilang? aku mau dengar itu. batin Luna berharap.


"Aku masa depan, Mas?" tanya Luna membeo.


Chandra menangkup wajah istrinya, memberi kecupan di setiap inci wajah cantik istrinya guna menyakinkannya. "Iya.. Kamu masa depanku, dan kamu adalah Ibu dari calon anak-anakku." tegasnya dengan nada yang begitu lembut.


Luna? Luna? Bukankah itu jawaban yang diingkannya?

__ADS_1


Tapi, sepertinya Luna tetap berharap jika suaminya itu berkata jika telah mencintainya. Bukan sekadar ucapan tersirat tentang Chandra yang begitu menginginkannya.


"Mas tadi bilang jika Mas sedang memikirkan perusahaan.. Memangnya ada apa, Mas?" tanyanya dengan membiarkan suaminya terus menciumi setiap inci wajahnya.


Bahkan laki-laki itu kini mendorongnya hingga ke tembok, lalu menekan tengkuknya untuk memberinya ciuman di bibir dan memperdalamnya.


"Maass.." Luna pun mencegah suaminya yang hendak mengeksplor lehernya.


"Biarkan seperti ini dulu, Lun." Chandra menolak dengan melancarkan serangannya.


"Tapi aku ingin dengar cerita dari Mas. Apa aku sebagai istri tidak berhak untuk tau masalah apa yang menimpa Mas hingga membuat Mas sampai seperti tadi?" Luna pun memberi pertanyaan yang menohok, membuat Chandra seketika terdiam dari aksinya.


Laki-laki itu pun kini menegakkan berdirinya kembali, lalu menatap istrinya. "Mas hanya tidak ingin kamu ikut kepikiran, Lun." kekehnya tetap menolak.


Luna menunduk mendapati suaminya tetap ingin menutupi masalahnya. "Ya udah kalau Mas tidak mau cerita, mungkin aku memang tidak berhak tau. Dan tidak berhak mencampuri urusan, Mas." ucapnya lalu berlalu pergi hendak masuk ke dalam kamar mandi namun tangannya kembali dicekal oleh Chandra.


"Mas hanya sedang bingung untuk mengambil keputusan dalam proyek baru yang mau Mas dapatkan." aku Chandra akhirnya.


"Apa yang membuat Mas bingung dalam mengambil keputusan?" tanyanya tanpa berbalik badan.


"Mas dihadapkan dalam dua pilihan yang sama-sama memberatkan, Lun."


"Memberatkan? Maksud Mas?" tanya Luna menuntut sembari berbalik badan.


Chandra menatap istrinya, lalu menghela napas pelan sebelum bercerita, "Jika Mas mengambil proyek itu dan proyek itu tidak selesai tepat waktu, Mas akan kehilangan sebagian aset Mas. Dan jika Mas tidak mengambil proyek itu, perusahaan Mas akan menjadi omongan perusahaan lain, Lun."


"Mas mengenal siapa pemilik perusahaan yang menjalin kerja sama dengan Mas itu?" tanya Luna yang membuat Chandra kini berpikir.


Lalu sedetik kemudian, laki-laki itu menggeleng. "Diamond Grup merupakan perusahaan besar yang presdirnya jarang terlihat dan jarang yang mengetahui, Lun. Hanya Asisten Pribadinya yang dikenal menangani banyak proyek yang membuat Diamond Grup semakin berjaya."


"Lalu Mas tidak berpikir untuk mengetahui siapa pemilik perusahaan itu? Apa Mas tidak ingin menyelidiki perusahaan yang mengajak kerja sama tapi membuat Mas sulit mengambil keputusan?" Sepertinya istri cantiknya bukan sekadar istri dan mahasiswinya, tapi juga seperti dewi penolongnya saat ini.


Ya.. Yang dibutuhkan Chandra saat ini adalah ini. Pikirannya terbuka karena pertanyaan dari istrinya.


Laki-laki itu langsung terlihat bersemangat untuk menemukan titik terang apa yang akan menjadi keputusannya untuk kemajuan perusahaannya.


"Terimakasih ya, sayang." Chandra pun mengecup bibir istrinya lalu berlari melangkah dengan cepat menuju ruang kerjanya karena merasa ada seseorang yang harus ia mintai tolong untuk menyelidiki semuanya.


Bersambung....


Dua bab untuk hari ini ya..


Maaf kemaleman, lagi sibuk kak.. hehe

__ADS_1


__ADS_2