Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Kamu Cantik Hari Ini


__ADS_3

"Ehemmm..."


"Apa Reyn?" tanya Luna heran karna saat mereka memasuki privat jet untuk kembali ke Jakarta dan Chandra yang terlihat sedang berdiskusi di ruang berbeda dengan Jaelani, sahabatnya itu terus berdehem sembari menatapnya dengan tersenyum penuh arti.


Siang itu memang mereka harus kembali ke Jakarta karna nanti malam ada pesta pertunangan Kezia dan Kenzie yang membuat Luna harus mempersiapkan semuanya termasuk mentalnya.


Bukan karna ia tak berani pada Kenzie dan Kezia saat pertama kali mereka bertemu di rumah Permana, tapi rasa hormat Luna pada Permana yang membuatnya seakan lemah.


Jangan lupakan bantahan Luna pada Bibi Maria yang membuat wanita itu hanya bisa memutar matanya jengah tanpa bisa membalas perkataan Luna.


Reyna mengendikkan dagunya pada Ibu Halimah yang duduk di sampingnya, Lalu secepat kilat Luna menoleh pada Ibunya yang ternyata juga menatapinya dengan tersenyum penuh arti.


"Kalian kenapa sih?" desak Luna yang membuat keduanya saling melempar senyum.


"Terimakasih ya sayang." bisik Ibu Halimah pada Luna sembari mencium pipinya.


Dilanda kebingungan, Luna pun lantas bertanya, "Terimakasih buat apa, Bu?"


"Terimakasih karna kamu mengizinkan nak Chandra untuk memilikimu seutuhnya." bisik Ibu Halimah lagi yang membuat Luna membulatkan matanya. "Ibu kok bisa bilang gitu? Mas Chandra cerita sama Ibu?" Luna bertanya dengan bodoh yang dijawab tawa keras oleh Reyna.


"Kamu aja jalannya susah gitu, Lun. Kelihatan lah kalau kalian abis buka puasa." celoteh Reyna yang saat ia sadar jika ada Chandra dan Jaelani yang tengah menatapnya langsung membekap mulutnya dengan tangannya sendiri.


Luna berdiri dari duduknya melangkah dimana Reyna sedang duduk lalu menepuk pelan tangan sahabatnya itu, "Reyna.. Omonganmu itu ngeri deh. Kayaknya keperawananmu perlu diragukan, Reyn." balas Luna yang membuat Reyna mencebikkan bibirnya sembari membalas tepukan di lengan Luna. "Enak aja.. Aku tau itu karna Kakak iparku dulu juga gitu pas abis malam pertama Lun.. Kamu sih, yang kurang pengalaman." Reyna menjulurkan lidahnya pada Luna, meledek sahabatnya itu.


"Aku memang kurang pengalaman, tapi kan aku dulu yang merasakan." balas Luna dengan tersenyum penuh kemenangan yang membuat Reyna hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Reyn.." panggil Luna saat ia sudah duduk kembali di dekat Ibunya. "Kita.. Satu-kosong."


"Bentar lagi aku juga akan merasakannya, Lun. Jadi, sebentar lagi skor kita akan satu sama." Reyna berkata asal pada Luna untuk menutupi kekesalannya tapi membuat keingintahuan Luna meningkat lima puluh persen.


"Oh ya? Sama siapa, Reyn? Kenapa kamu belum cerita? Siapa laki-laki yang kurang beruntung yang harus mendapatkanmu itu?" Rentetan pertanyaan Luna yang membuat Reyna bangkit lalu mencubit pipinya. "Sshhh.. Aw.."


"Sakit gak, Lun?" tanya Reyna bodoh yang membuat Luna memajukan bibirnya. "Ya sakitlah.. Ibu.. Reyna jahat, Bu." Luna bermanja di pundak Ibunya yang membuat Ibu Halimah tersenyum.


"Dasar anak Ibu..." ledek Reyna yang membuat Luna menegakkan kepalanya ingin membalas perkataan sahabatnya itu namun terhalang saat Chandra sudah mendekatinya.

__ADS_1


"Kamu bisa pindah ke kursi deket aku, Lun?" tanya Chandra yang membuat Luna seketika berdiri lalu pindah di kursi sebelah Chandra. "Ada apa Mas?"


"Gak ada apa-apa.. Aku cuman mau meluk kamu." jawab Chandra yang membuat pipi Luna seketika merah merona.


Jaelani yang mendengar jika Chandra memang begitu menginginkan Luna pun seketika ingin menghapus semua rentetan jadwal yang ia buat untuk memusuhi istri Tuan-nya.


Sepertinya, berbaik hati dengan memperlakukan Luna seperti Nyonyanya yang sesungguhnya, karna memang Luna adalah Nyonyanya.. Itu lebih baik agar pekerjaannnya tidak terancam.


****


Dress off shoulder dengan belahan paha yang begitu tinggi berwarna navy itu begitu melekat indah membalut tubuh Luna.


Dipadukan dengan stiletto yang membalut kaki jenjangnya berwarna navy dan clucth bermerk terbaik keluaran dunia berwarna senada begitu melengkapi penampilan Luna bak seorang Ratu.


Semua yang dipakainya serba berkelas, jika dihitung mungkin akan menyentuh harga ratusan juta.


Luna menatap pantulan dirinya di depan kaca, begitu takjub dengan apa yang kini melekat ditubuhnya hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata.


Dulu, Luna tidak pernah berani bermimpi bisa datang ke pesta pertunangan sebesar itu dengan gaun begitu mewah dan didesain khusus untuknya oleh desainer ternama, dari suaminya.


"Lun.. Kamu tau apa yang ingin aku ucapkan saat sekarang melihat penampilanmu?" tanya Chandra dengan menatap istrinya dari atas lalu ke bawah dan kembali ke atas lagi.


"Apa, Mas? Aku jelek ya? Apa riasannya berlebihan atau gimana?" Luna reflek bertanya karna melihat tatapan tak biasa dari suaminya.


"Cantik." lirih Chandra yang membuat Luna kurang jelas mendengarnya. "Mas bilang apa? Aku kurang jelas mendengarnya, Mas."


"Kamu cantik hari ini, Istriku." jawab Chandra sembari mendekap istrinya dari belakang, lalu mengecup leher jenjang seputih susu itu karna Luna masih berdiri di depan kaca yang sekarang Luna bisa begitu jelas melihat pancaran mata elang itu begitu meneduhkan saat melihatnya.


"Terimakasih ya, Mas." Luna pun tersipu, lagi-lagi pipinya merah merona mendapat perlakuan manis dari suaminya.


****


Hotel CA.


Satu jam perjalanan yang Luna dan Chandra perlukan untuk sampai di Hotel miliknya.

__ADS_1


Hotel itu merupakan hotel yang didirikan oleh Chandra setelah satu tahun ia berjaya dengan CA. Corps yang memang sudah diberikan padanya.


Chandra memang luar biasa, dibalik kesuksesannya menjadi CEO dan kesibukannya menjadi dosen di Universitas ternama, ia memiliki banyak aset di berbagai bidang.


Entah apa yang membuat Kezia menghianati laki-laki yang begitu nyaris sempurna itu. Tapi, yang pasti.. Luna lah yang sekarang beruntung memilikinya tanpa tahu jika dia sekarang berada di hotel milik suaminya.


Ya, Kezia dan Kenzie tanpa tau malu mengadakan pesta pertunangan mereka di ballroom yang ada di hotel milik Chandra.


Ballroom di hotel milik Chandra itu memang terkenal begitu megah dan canggih dibanding ballroom hotel lainnya.


Dan itu yang membuat Kezia dari kemarin merengek pada Papanya dan Permana untuk mengizinkan ia bertunangan dengan Kenzie di hotel milik mantan kekasihnya.


Sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan milik Chandra, bukan hal sulit membuat Chandra menyetujui permintaan Permana dan Papa Kezia itu.


Chandra menyikukan tangannya, dan Luna yang paham pun langsung memasukkan tangannya ke dalam siku tangan Chandra yang membuat mereka kini menjadi pusat perhatian saat memasuki ballroom tersebut.


Luna dengan daya tariknya yang memang cantik luar biasa, disandingkan dengan Chandra yang ketampanannya bak Dewa Yunani disertai kekayaan yang melimpah tentu mengalahkan pasangan yang sedang mengadakan pesta pertunangan itu.


"Selamat datang, Pak Chandra." sapa Papa Kezia yang dibalas acuh oleh Chandra, laki-laki itu hanya memasang wajah datar tapi berbeda dengan Luna yang memberikan senyumannya.


Tapi malang, saat Luna memberikan senyumannya, Papa Kezia langsung mengalihkan tatapannya.


Dan itu tidak membuat Luna terluka, ia sudah mempersiapkan mentalnya karna ia tau sekarang ia menjadi seorang istri Chandra.


Luna sadar, jika pasti banyak orang yang tak menyukainya karna ia dan Chandra sangat berbeda kastanya dan kelas sosialnya, bahkan pergaulannya dengan Chandra, pasti jauh berbeda.


Mendengar helaan napas dari istrinya, membuat Chandra menoleh menatap istrinya. "Tetaplah tersenyum, tidak usah perdulikan tatapan sampah dari orang-orang yang berpura-pura baik padaku." Perkataan Chandra tanpa sadar membuat Luna tersenyum.


Wanita cantik berbulu mata lentik itu senang karna suaminya ternyata memahaminya, mengerti tatapan tidak suka yang sejak tadi dilontarkan orang-orang pada istrinya.


"Chandra.." panggil seseorang yang hatinya kemarin dipatahkan oleh Luna.


Laki-laki itu melihat Chandra yang terlihat sedang berbasa-basi dengan rekan bisnisnya, tapi belum melihat dengan jelas, wanita cantik yang berdiri di samping rekan dosennya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2