
"Selamat malam.." ujar Luna dengan senyum manisnya saat memasuki ruangan Kinara.
Kinara yang sudah sadarkan diri pun menoleh pada pintu dan seketika terhenyak saat melihat Chandra dan istrinya masuk ruangannya bersama Raka.
"Ada apa kalian kemari? Mau menertawakanku?" Kinara beringsutan, lalu menarik selimut hingga atas kepala, merasa tak punya muka untuk sekadar menatap Chandra dan Luna.
"Bagaimana keadaanmu, Ra?" tanya Chandra begitu lembut seraya merangkul pinggang istrinya.
Luna menoleh menatap suaminya saat suaminya bertanya tentang keadaan mantan kekasihnya.
"Aku hanya bertanya keadaannya, Sayang. Aku milikmu." bisik Chandra yang membuat wajah Luna bersemu.
"Chandra dan Luna kesini karena ingin menjengukmu, Ra.. Dan aku ingin kamu mendengar sendiri dari mereka jika mereka telah memaafkanku." jelas Raka akhirnya yang membuat Kinara membuka selimutnya dan pertama kali menoleh menatap Raka dengan tatapan sedikit berbeda.
"Iya.. Kamu tidak salah dengar. Aku sudah minta maaf sama mereka, Ra." jelas Raka lagi seakan menjawab pertanyaan yang bersarang di pikiran Kinara saat istrinya itu menatapnya.
"Aku ingin kita membina rumah tangga seperti rumah tangga pasangan pada umumnya, aku ingin menebus kesalahanku padamu, Ra. Maafkan aku jika selama ini aku juga banyak salah sama kamu. Maafkan semua keegoisanku." Raka menunduk mengatakan itu, tak sanggup untuk sekadar menatap mata wanita yang selalu bersedih karena kecerobohannya.
"Tapi aku sudah tidak bisa hamil. Bagaimana kita bisa menjalani rumah tangga seperti pasangan pada umumnya." Kinara mengatakan hal tersebut dengan isakan dan air mata yang lolos begitu saja membasahi wajah cantiknya.
Hal itu memang yang ditakutkannya setelah rahimnya diangkat.
"Kita bisa adopsi anak, bahkan tidak punya anak pun aku tidak apa-apa, Ra." Ujar Raka begitu lemah yang membuat Chandra dan Luna hanya menjadi penonton saja, tidak mau menyela permasalahan rumah tangga Raka dan Kinara.
"Oh ya? Lalu Papamu bagaimana? Papamu menginginkan penerus keluarga dari kamu karena kamu anak satu-satunya, Ka."
"Aku akan memberi pengertian pada Papa."
"Yang berujung mengharuskan kamu menikah lagi, maksudnya. Aku enggak mau dimadu. Lebih baik kita pisah." tegas Kinara.
"Aku enggak akan menikah lagi." tegas Raka yang membuat Chandra akhirnya berdehem karena waktu sudah semakin larut malam.
Ehem
"Lebih baik kalian bicarakan masalah keluarga kalian nanti setelah aku dan Luna sudah keluar dari ruangan ini. Aku memaafkanmu, Raka. Dan aku turut prihatin atas apa yang menimpamu, Ra. Semoga kalian hidup bahagia tanpa mengganggu aku dan keluargaku." putus Chandra akhirnya lalu berbalik badan meninggalkan ruangan itu dengan menggenggam tangan Luna.
"Terimakasih ya, Ndra. Terimakasih karena kamu mau memaafkan kami. Maafkan aku." Kinara berucap saat Chandra dan Luna hampir sampai di daun pintu, dan Chandra pun menoleh seraya mengangguk sebagai jawaban.
Sesama manusia memang harus saling memaafkan.
Tuhan saja Sang Pemilik Alam Semesta mau memaafkan hamba_Nya yang meminta ampunan, apalagi kita yang hanya manusia biasa yang diciptakan oleh_Nya.
***
Delapan bulan telah berlalu, Kini makhluk kecil yang menjadi pelengkap keluarga kecil Chandra dan Luna yang diberi nama Devano Putra Chandra sudah bisa dibawa kembali ke Indonesia.
Usianya sudah enam bulan, dan sudah memungkinkan untuk dibawa perjalanan jauh dari London ke Indonesia yang membutuhkan waktu hampir delapan belas jam.
Luna memang melahirkan di London atas permintaan Chandra dan Mom mertuanya.
Bahkan suaminya memang sengaja mengajak Ibu Halimah beserta Radit ke London agar Luna tidak bersedih dan ikut menyaksikan kelahiran dua anggota baru dalam keluarga besar Abimana.
Ide itupun baru diberitahu pada Luna oleh Chandra setelah seminggu mereka berada di London.
Hari ini mereka pun sebenarnya belum akan kembali ke Indonesia kalau bukan karena besok adalah hari dimana kelulusan Reyna.
Reyna adalah sahabat dalam suka dukanya, dan mereka pernah berjanji untuk lulus kuliyah bersama.
Namun, takdir belum merestui karena Luna harus cuti hamil dan ketinggalan satu semester dibanding Reyna.
Oek.. Oek..
"Sayang.." panggil Chandra saat melihat istrinya itu melamun dan tidak mendengar jika Devano sedang menangis.
__ADS_1
"Sayang.." ulang Chandra dengan merangkul bahu Luna yang membuat si empunya terhenyak lalu menoleh menatapnya. "Apa, Mas?" tanyanya.
"Devano nangis, Sayang. Minta ASI." ujar Chandra yang membuat Luna langsung menunduk dan baru sadar jika dirinya tengah melamun.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Chandra saat Luna mengASIhi Devano.
"Enggak apa-apa kok, Mas. Aku hanya kepikiran besok." jujur Luna yang membuat Chandra tersenyum.
"Kamu kepikiran karena enggak bisa lulus bareng Reyna?" tembak Chandra yang membuat Luna mengangguk disertai tatapan kosongnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, dan jangan disesali, Sayang. Semua sudah digariskan oleh Tuhan. Dan sekarang kamu harusnya patut berbangga karena kamu sudah bisa menggendong anak lebih dahulu daripada Reyna." canda Chandra yang membuat Luna akhirnya tersenyum seraya mengangguk.
****
Keesokan harinya...
Chandra dan Luna bangun lebih pagi dari biasanya, bukan hanya karena ada Devano yang sekarang menyita perhatiannya.
Tapi, karena Luna ingin secepatnya datang di kampus dimana dia dan Reyna menempuh kuliyah bersama.
Di depan kampus itu juga tempat dimana gerobak baksonya tak sengaja menabrak mobil Chandra dan membuatnya berakhir menjadi istri dari dosennya.
Perjalanan pernikahan yang diawali dari paksaan dan terpaksa, dengan Chandra yang menghargai pernikahannya membuat Luna tidak bisa untuk tidak jatuh cinta pada suaminya.
Semuanya memang tentang jodoh.
Mungkin, karena memang mereka berjodoh, Chandra dan Luna dipersatukan lewat hal yang mungkin terdengar konyol.
Walaupun datangnya mantan kekasih sempat menggoyahkan dan meragukan, tapi jika mereka memang berjodoh, mereka akan bersatu dan Chandra bisa menetapkan pilihan.
Dan disinilah mereka berada, duduk di kursi yang sudah disediakan untuk mengikuti jalannya wisuda.
"Sebentar lagi ada penghargaan untuk mahasiswa teladan, Sayang." Chandra memberitahu yang membuat Luna mengangguk menatapnya.
"Miko? Enggak nyangka banget dia bisa jadi mahasiswa teladan ya, Mas." ujar Luna sembari tersenyum menanti Miko yang akan naik stage bersama orang tuanya.
"Iya. Dia berubah karena Reyna, Sayang. Dia ingin mendapatkan hati Reyna." timpal Chandra yang membuat Luna mengernyitkan dahinya.
"Mendapatkan hati Reyna? Bukannya mereka udah pacaran lama, Mas?" Luna pun tidak tau pacaran pura-pura ala Reyna dan Miko.
"Mereka dulu cuma pura-pura, Reyna begitu biar Miko enggak deketin kamu." jelas Chandra yang membuat Luna semakin menyayangi Reyna.
Suara MC yang mengatakan jika Miko sudah berada di atas stage pun membuat Luna mengalihkan pandangannya dari suaminya ke stage tersebut.
Deg
Sesaat Luna terpaku. Air matanya luruh begitu saja saat melihat siapa orang tua yang tengah mendampingi Miko--temannya.
Laki-laki itu adalah Wira Pranaja, Ayahnya. Ayah yang selama ini dicarinya.
Ayah yang pergi begitu saja meninggalkan ia dan Ibunya.
Dan membuat Ibunya menangis hampir setiap malam.
Dalam sekali gerakan Luna berdiri dari duduknya, ia merasakan luka kecewa teramat dalam saat menyaksikan Ayah kandungnya ternyata hidup bahagia di atas penderitaannya dan Ibunya.
"Ikut saya, Sus." ajak Luna pada babysitter yang dipekerjakan oleh suaminya.
Chandra yang tadi sibuk bercengkrama dengan rekan dosennya terlihat kaget saat melihat istrinya pergi begitu saja tanpa memberitahunya.
"Luna!" teriak Chandra yang mampu membuat semua yang ada disitu menoleh pada istrinya tanpa terkecuali Wira.
"Luna Sabrina!" teriak Chandra lagi saat istrinya tidak mendengarkan panggilannya dan tidak menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Kebetulan mereka duduk di bangku paling depan dan Wira sempat melihat jika Luna yang dipanggil oleh dosen anaknya adalah Luna anaknya.
Wira pun turun tergesa-gesa dari stage dan sedikit berlari mengejar Luna karena ada hal yang harus dibicarakannya itu pada anak kandungnya yang ia tinggalkan begitu saja.
"Luna." panggil Wira yang sekarang mampu membuat Luna menghentikan langkahnya.
Mereka kini sudah berada di luar gedung dengan Chandra yang masih berusaha mengejar Luna.
Luna berbalik badan menatap laki-laki paruh baya yang memanggilnya dengan deraian air mata yang mengalir begitu derasnya.
Chandra terkesiap melihat istrinya menangis, lalu dengan sekali gerakan mendekapnya. "Kamu kenapa, Sayang? Kenapa menangis?" tanyanya dengan mengusap rambut Luna.
Luna sesenggukan, belum bisa menjawab pertanyaan suaminya dengan hanya menatap laki-laki paruh baya yang berdiri di belakang suaminya.
"Luna.. Anak Ayah." ujar Wira dengan deraian air mata yang membuat Chandra kini melepas dekapannya pada Luna.
"Anak Ayah?" Chandra menirukan panggilan Ayah Miko pada Luna. "Maksud Anda apa, Pak?" Chandra pun bertanya.
"Luna.. Anakku, Pak Chandra." jelas Wira yang kini membuat Chandra membelalakkan matanya.
"Anak?" Chandra membeo.
"Benar kamu anak Pak Wira, Sayang?" Chandra bertanya pada istrinya.
Luna tetap tidak menjawab, wanita itu menunduk dengan deraian air mata yang begitu derasnya.
"Maafkan Ayah, Luna. Ada hal yang tidak kamu mengerti disini." ujar Wira mengawali penjelasannya.
"Ibu kamu adalah istri kedua Ayah." sambung Wira yang membuat Luna kini mendongakkan kepalanya.
"Ya.. Halimah istri keduaku. Dan istri pertamaku adalah Mamanya Miko. Ayah menikahi Ibumu saat Ayah bekerja di desa dimana kamu dilahirkan, Nak." sambung Wira lagi.
"Dan-"
"Cukup! Tidak usah diperjelas lagi." putus Luna dengan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Ibuku adalah orang baik. Tidak mungkin dia mau menjadi istri kedua dan menghancurkan rumah tangga orang lain." tegas Luna.
"Ibumu memang orang baik, Ayah memberi tahu Ibumu kalau dia istri kedua Ayah saat Ayah mau meninggalkan kalian waktu itu." timpal Wira yang membuat Luna kini langsung pergi meninggalkannya.
"Luna.. Tunggu Mas!" teriak Chandra dengan berlari mengejar istrinya lalu mendekapnya dari belakang.
"Aku malu, Mas. Aku malu sama Mas. Aku tidak pantas menjadi istri Mas." ujar Luna yang membuat Chandra menggelengkan kepalanya.
"Kamu pantas jadi istriku, Lun. Apapun keadaanmu, apapun status Ayah dan Ibumu, kamu tetaplah istriku. Kamu jodohku yang dikirim Tuhan untuk melengkapi hidupku." ujar Chandra yang membuat Luna membalikkan badannya lalu memeluk suaminya dengan begitu eratnya.
"Terimakasih ya, Mas. Terimakasih Mas mau menerima segala kekuranganku." ujar Luna dalam dekapan suaminya.
"Mas juga berterimakasih karena kamu masih mau dengan Mas, walaupun Mas pernah meragukanmu dengan Kinara dulu."
"Semua tentang jodoh, Mas. Aku yakin kalau Mas memang jodohku, Tuhan pasti mengetuk hati Mas untuk tetap memilihku." ujar Luna yang membuat Chandra melepas dekapannya lalu menangkup wajah istrinya dan sedetik kemudian memberi kecupan di bibir mungil milik Luna.
Cup
"I Love You, Luna." ujar Chandra dan lagi memberi kecupan pada bibir Luna.
"I Love You too, Mas." balas Luna, dan keduanya kembali berdekapan menyalurkan beribu rasa cinta yang semakin tumbuh di hati mereka.
**** TAMAT ****
Hehehe.. Aku mau ucapin terimakasih buat kakak-kakak readers yang masih mau mengikuti cerita Chandra dan Luna sampai episode terakhir.
Semua cerita pasti ada sisi positif dan negatifnya.
__ADS_1
Ambil saja positifnya.. yang negatif jangan ya. Apalagi cerita soal Jenifer, jangan ditiru ya. Itu sangat-sangat tidak baik.