Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Mempunyai Kesamaan


__ADS_3

Merasai sang Bibi tidak bisa memberinya jawaban, Chandra pun melangkah mengejar Momnya untuk bertanya kenapa Bibi yang ia sayangi yang ia kira begitu baik hatinya itu bisa ditampar oleh Momnya.


"Mom! Tunggu!" teriak Chandra dari dalam rumah yang membuat Abimana dan Satria langsung menoleh ke arah sumber suara, membuyarkan konsentrasi mereka yang sedang membahas suatu hal di dekat kolam renang, arah yang dituju Emily.


"Ada apa?" Emily malas menanggapi, karena tau Chandra selalu membela Maria daripada dirinya.


"Kenapa Mom bisa menampar pipi Bibi Maria sampai ada bekas merah seperti itu?" Chandra mencecar Momnya dengan nada seperti sedang menginterogasi.


"Dia tidak menjawab pertanyaanmu, Ndra." ujar Emily dengan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Chandra menggeleng sebagai jawaban.


"Mom menamparnya karena mulutnya itu tidak bisa dijaga. Di awal pernikahanmu dengan Luna.. Maria sudah berkata hal yang tak mengenakkan hati yang untungnya bisa dibalas omongan bijak oleh istrimu, Ndra. Mom kira dia wanita baik, ternyata dia menilai orang dari derajatnya." Jelas Emily mengungkapkan hal yang memang Maria katakan kemarin saat ia mengancamnya akan memblokir semua klien penting di perusahaannya yang semuanya memang digenggam oleh Emily.


"Mom jangan bercanda. Bibi Maria itu orang baik, Mom. Dan lagi, Luna tidak pernah berkata buruk tentang Bibi Maria padaku." timpal Chandra seakan tidak percaya.


"Kalau kamu tidak percaya, Mom punya rekaman pengakuan Bibi kesayanganmu itu di ponsel, Mom." tegas Emily sembari membuka ponselnya dan langsung memperlihatkannya pada Chandra isi rekaman itu karena memang Emily sudah menyadari jika Chandra pasti akan membantah jika tidak ada buktinya.


"Gimana? Mom bohong sama kamu, Ndra?" sindir Emily saat melihat raut wajah terkejut yang tercetak jelas di wajah Chandra.


Chandra menggeleng lemah sebagai jawaban, ia tak menyangka jika Bibi yang ia sayangi itu tega berkata hal yang menyakitkan pada Luna di awal pernikahannya.


Tiba-tiba Chandra mendongak lalu mengusap wajahnya, berucap beribu syukur pada Tuhan karena diberi seorang istri yang tak hanya cantik, tapi juga sangat baik dan bisa menyimpan hal yang mungkin sangat menyakitkannya karena dikira tidak diterima di keluarganya hanya untuk menjaga keutuhan keluarganya.


Tuhan memang Maha Baik ya, Ndra. Hehehe


"Chandra!" teriak Satria pada Chandra yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Emily.. Sudah berjalan kembali menuju kolam renang.


Satria Abimana adalah Kakak kandung Chandra yang selama ini tinggal di London tapi berbeda kota dengan Dad dan Momnya.


Dia sudah beristri dan mempunyai seorang putri yang cantik.


Satria merupakan anak penurut, berbeda dengan Chandra yang lebih mementingkan cita-citanya walaupun kenyataannya ia juga tetap harus memimpin perusahaan yang memang didirikan untuknya.


"Kak Sat?" Chandra menoleh pada orang yang telah memanggilnya, dan benar.. Kakak kandungnya lah yang tadi memanggilnya dan kini sedang berjalan ke arahnya sembari merentangkan kedua tangannya.


"My Brother!" ujar Satria sembari mendekap Chandra, dan menepuk punggungnya.


"Kakak kesini?" Chandra bertanya setelah dekapan hangat itu terlepas.


"Iya lah, Ndra. Kalau Kakak enggak kesini namanya Kakak bukan Kakak kamu. Kamu nikah Kakak enggak datang, Kamu ngadain pesta, Kakak juga enggak bisa hadir. Dan ini kebetulan Mom bikinnya disini 'kan Kakak bisa datang, Ndra." Ujar Satria dengan menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Gaya bicara Satria dan Chandra juga berbeda, karena Satria cenderung santai walaupun cenderung serius lebih saat membahas pekerjaan dibanding Chandra.


"Kenzie mana, Kak?" Chandra mengalihkan pembicaraan.


"Dia sedang sibuk dengan Paman di ruang kerja Dad. Mempelajari Kenzie yang belum juga bisa diandalkan mengurus perusahaan." jelas Satria yang membuat Chandra menganggukkan kepalanya.


"Dad mana?" Chandra bertanya setelah Satria mengajaknya duduk di salah satu kursi yang ada di dekat mereka yang kebetulan disitu sedang ada Kezia beserta anaknya, juga Ibu Halimah beserta Radit.


"Dad di dekat kolam renang dengan Mom." Ujar Satria yang kemudian mengalihkan tatapannya pada Radit dan anak laki-laki Kezia secara bergantian saat ia menyadari ada sebuah kesamaan.


"Ndra.." panggil Satria dengan menepuk bahu Chandra.


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Coba lihat anak asuhmu itu dengan anak Kenzie." Bisik Satria.


"Maksud Kakak apa?" Chandra jelas menolak, karena anak Kezia berada dalam gendongan Kezia, dan otomatis ia harus melihat wajah Kezia, yang sangat malas ia lihat itu.


"Lihat aja dulu. Kakak lihatnya seperti ada kemiripan. Lihat itu mata dan hidungnya, apalagi senyum mereka dengan Kezia. Dan yang lebih mencolok, warna kulit mereka sama, Ndra. Gila!" bisik Satria dengan menggebu-gebu.


Mendengar beberapa kesamaan yang dibisikkan oleh Kakaknya, Chandra pun akhirnya memusatkan perhatiannya pada Radit dan Anak Kezia serta Kezia yang beruntungnya Kezia sedang tidak melihat ke arah mereka.


Tidak mungkin kan kalau Radit adalah anak Kezia? batin Chandra setelah melihat benar jika mereka bertiga mempunyai kesamaan yang sangat kentara.


"Luna menemukan Radit pas dia jualan di pasar, Kak. Rasanya enggak mungkin kalau dia anak Kezia." ujar Chandra setelah keduanya berdiri lalu berjalan melangkah menuju kolam renang.


"Apanya yang enggak mungkin, Ndra? Bisa aja kan kalau Kezia memang membuang anaknya?" Satria mengungkapkan pendapatnya.


"Tapi kalau iya, apa enggak berbeda rasanya saat Kenzie memasukinya? Apa iya Kenzie tidak bisa membedakan yang original dan sudah melebar, Kak?" Chandra malah bertanya hal konyol, karena saat Satria berbicara jika kemungkinan Kezia membuang anaknya.. Laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu mengingat penghinaan Kezia pada Luna yang mengatakan kepunyaannya longgar dan tidak bisa memuaskannya.


"Jaman sekarang kan bisa aja disempitin lagi, Ndra."


"Oh ya? Jangan ngaco, Kak."


"Haha.. Kakak asal ngomong aja kok, Ndra. Masalah kayak gitu mah Kakak enggak tau, kakak kan juga laki-laki kayak kamu. Udahlah, enggak usah dibahas. Nanti kalau kamu bahas, kasihan Ibu Halimah yang harus merelakan cucunya untuk Kezia."


"Iya.. Kakak benar, lebih baik disimpan saja karena mereka juga tidak ada yang menyadarinya. Biarkan Radit berada di tangan Ibu Halimah yang jelas begitu menyayanginya." tukas Chandra akhirnya.


"Kalian lagi apa?" Darius nimbrung saat baru saja pulang dari perusahaan Abimana, sebelum Jenifer siap memimpin JA Company, Darius dipekerjakan oleh Abimana menjadi wakil CEO di perusahaannya.


Darius dan Jenifer sudah menikah sehari setelah mereka sampai di London.

__ADS_1


Mereka mengatakan hal sebenarnya pada Abimana dan Emily tanpa ada yang ditutupi sesuai keinginan Chandra.


Dan saat itu, Chandra dan Luna tidak bisa hadir karena Chandra tidak mempunyai asisten dosen di Kampus.


Maka dari itu, pernikahan Jenifer dan Darius di skip oleh Authornya.. Hehehe


Pernikahan mereka pun berjalan lancar walaupun belum pernah sekalipun Darius menyentuh Jenifer.


Darius tahu jika Jenifer masih berharap pada Raka, walaupun kehadiran laki-laki itu sangat ditentang oleh keluarganya.


Darius tidak menyentuh Jenifer.. Juga karena ingin menjaga hatinya.


Berbulan-bulan lamanya mereka menikah, kontak fisik yang paling intim yang mereka lakukan adalah hanya saling memeluk dengan lengan Darius yang menjadi bantal dan kaki mereka yang saling mengait.


"Lagi bahas sesuatu, bro." Chandra yang menjawab, lalu saling menepuk pundak masing-masing sebagai tanda persahabatan mereka saat saling jumpa.


"Adik ipar kita ini, Ndra. Adik ipar yang begitu baik hatinya." Satria tanpa segan memuji, karena memang berkat pertolongan Darius, image keluarganya tidak jelek.


"Aku enggak sebaik yang Kakak kira.. Punya banyak kekurangan juga yang mungkin Kakak belum melihatnya." Darius kembali menjadi Darius yang bijak seperti dulu saat menjadi sahabat Chandra, bukan pengejar cinta Luna.


"Setiap manusia pasti mempunyai kekurangan, enggak cuman kamu tapi juga kita." Chandra menimpali dengan kata bijak yang membuat semuanya tersenyum.


"Kamu bisa berkata bijak juga ya, Ndra." Satria bangga pada adiknya.


"Aku belajar kata itu dari Darius, Kak." tanpa segan juga Chandra berkata jujur yang membuat Darius akhirnya berdiri dari duduknya.


"Kamu mau kemana?" Satria yang bertanya.


Aku malu Kak.. Aku hanya manusia biasa dan kalian terus memujiku. Batin Darius berkata dengan menggelengkan kepalanya.


"Udah jam tiga, Kak.. Kalian enggak siap-siap. Lima menit lagi kolega dan rekan bisnis Dad beserta keluarganya akan datang." ujar Darius akhirnya setelah melihat jam di pergelangan tangannya dan bisa membuatnya beralasan.


"Sudah jam tiga?" Chandra dan Satria sontak membulatkan matanya lalu dengan secepatnya berdiri.


"Kita harus siap-siap, Ndra." Satria menepuk lengan adiknya lalu Chandra mengangguk dan mereka pun sontak berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Darius tertawa melihatnya, lalu dia pun melangkah berjalan mengikuti Chandra dan Satria untuk bersiap karena acara baby showernya sebentar lagi akan diadakan.


Bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2