
Di dalam taksi, Luna terus meneteskan air mata tanpa suara dengan menoleh pada jendela kaca di sebelahnya.
Pundaknya yang terlihat naik turun sudah membuktikan jika wanita itu begitu sakit hati, kecewa dan entahlah.. tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Reyna yang melihatnya tidak tega, tapi juga tidak berani mendekat untuk sekadar menguatkannya.
Siapapun.. Wanita manapun tidak akan ada yang tidak sakit hati saat melihat suaminya dicium oleh seorang wanita, apalagi ciuman itu berada tepat di depan matanya walaupun masih berjarak beberapa meter.
Tapi, ciuman itu terlihat jelas, ekspresi Chandra yang seperti senang mendapatkan ciuman itu membuat dada Luna terasa menyesakkan.
Baru saja kemarin ia mendapati suaminya mengucapkan terimakasih pada Tuhan dan Ibunya karena telah membuat ia menjadi istrinya.
Tak memungkiri jika hati Luna begitu bahagia dan berbunga-bunga saat itu walaupun memang suaminya belum pernah mengatakan jika laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu mencintainya.
Juga baru saja kemarin ia dan suaminya mendapatkan hadiah dari Tuhan untuk nantinya melengkapi pernikahan mereka.
Hati Luna begitu bahagia, karena tumbuhnya makhluk kecil yang ada di dalam rahimnya nanti akan menjadi penguat pernikahan mereka.
Pernikahan yang awalnya tanpa didasari oleh Cinta.
Luna terus tergugu, dan semakin lama.. isakan yang ia tahan sebaik mungkin pun tak bisa dibendungnya.
Isakan disertai derasnya air mata yang terjun membasahi wajah Luna membuat Reyna akhirnya maju, menggeser duduknya untuk mendekat pada Luna lalu mendekapnya.
"Sabar ya, Lun.. Mungkin Pak Chandra dan Miss Kinara adalah teman. Mungkin Miss Kinara mencium Pak Chandra tadi untuk salam jumpa dalam pertemanan mereka." Reyna mencoba menenangkan sahabatnya, walaupun kenyataannya ia ingin sekali memarahi dan meneriaki dosennya yang tak lain suami dari sahabatnya itu yang telah lancang berciuman dengan wanita.
Tidakkah Pak Chandra tahu? Jika Luna begitu mencintainya dan begitu terluka seperti ini setelah melihatnya berciuman dengan Miss Kinara?
Luna tidak membalas ujaran Reyna, wanita cantik berbulu mata lentik itu masih meneteskan air mata dengan begitu derasnya.
Usapan di lengannya yang dilakukan oleh Reyna tidak bisa memberikannya sedikit rasa nyaman, Luna terus menangis dan dia butuh sesuatu yang bisa sedikit menenangkan pikirannya.
"Lun.. Mungkin pertemanan orang kaya seperti itu. Mungkin ciuman di pipi itu biasa bagi mereka." Reyna mencoba menenangkan sahabatnya lagi, tidak tega melihatnya begitu kacau.. tapi kali ini Luna mendongak dari dekapannya demi menatapnya. "Menurutmu mereka hanya berteman, Reyn?"
Mendengar pertanyaan agak berbeda dari Luna, membuat Reyna berpikir namun sedetik setelahnya mengangguk. "Mungkin, Lun." jawabnya ngambang yang membuat Luna menunduk kembali.
__ADS_1
kalau aku enggak yakin, Reyn.. aku enggak yakin kalau mereka hanya berteman karena Mas Chandra menyimpan foto wanita itu di laci meja kerjanya, juga ada gambar love kecil dan pakai gantungan berbentuk love juga. wanita itu wanita spesial di mata Mas Chandra, Reyn. batin Luna sendu memikirkannya.
"Kita ke danau buatan yang ada di pinggiran kota ya, Pak." ujar Luna pada sopir taksi itu setelah keheningan lama yang terjadi, yang dijawab anggukan kepala oleh sopir taksi itu.
Reyna tidak bertanya kenapa Luna ingin sekali ke danau buatan, tempat yang mungkin baru pertama kali akan menginjakkan kakinya disana bersama sahabatnya.
Berbeda dengan Luna, karena tempat itu sering dikunjunginya dulu sebelum menjadi istri Chandra.
***
Satu jam sudah Chandra terus mengemudikan mobilnya tanpa arah.. ia tidak tahu harus mencari istrinya kemana karena ponsel Luna belum bisa dihubunginya.
Chandra juga sudah membayar beberapa orang untuk membantunya mencari istrinya dengan menyebar di seluruh jalanan yang kemungkinan dilewati oleh istrinya dari kampus menuju rumahnya maupun ruko Ibunya.
Tapi, sudah satu jam lamanya orang-orang yang ia bayar belum juga menghubunginya untuk memberitahu dimana istrinya.
Luna? Kamu kemana? Chandra bermonolog sembari mencengkeram kemudinya.
Desa A? Apa Luna ke desa A? Chandra mengingat desa dimana Luna dilahirkan dan ia pernah diajaknya kesana.
Mungkinkah Luna merindukan desa masa kecilnya itu? Chandra berpikir namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepala, tidak mungkin Luna ke Desa A, apalagi tidak mengajaknya atau Ibunya.
Aaarrrgghh!! Kalau saja Chandra tahu nomor ponsel Reyna, mungkin laki-laki itu bisa menghubunginya dan menanyakan dimana keberadaan istrinya.
Kembali, Chandra menghubungi orang yang dibayarnya. "Bagaimana?" tanyanya.
"Belum ada informasi baru, Tuan. Tim kami belum menemukan dimana Nyonya Luna berada." jawab Orang yang dibayar Chandra.
"Cih! Kalian itu kerja atau apa? Menemukan istri saya saja tidak bisa? Kalian sudah saya beri waktu satu jam. SATU JAM." Chandra dilingkupi emosi dan tidak bisa menahan bentakannya pada orang yang dibayarnya.
Hal-hal buruk tentang Luna dan calon anaknya terpikir begitu saja, dan membuatnya semakin tidak tenang memikirkannya.
"Tuan tadi berkata jika Nyonya Luna pergi dari kampusnya saat Tuan akan menjemputnya bukan? Lalu, Apa Tuan sudah menanyakannya pada satpam? Ada kemungkinan jika Nyonya Luna belum keluar dari gedung kampus kan, Tuan?" Satu pertanyaan dari orang yang dibayarnya kini menyadarkan Chandra dan sedikit menjernihkan pikirannya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari orang itu, Chandra langsung memutus panggilan tersambungnya dan memutar kemudinya menuju kampus.
__ADS_1
Kenapa hal sekecil itu tadi tak terpikirkan olehnya? Chandra mengemudikan mobilnya lagi dengan kecepatan maximal agar cepat sampai di kampusnya.
"Pak.. Apa Anda tadi melihat mahasiswi bernama Luna Sabrina sudah keluar dari kampus ini?" tanya Chandra tergesa-gesa pada satpam yang berjaga di depan gerbang kampus.
"Nona Luna yang ramah itu ya, Pak. Istri Bapak?" tanya satpam itu yang dijawab anggukan langsung oleh Chandra.
"Nona Luna tadi keluar dari kampus sudah beberapa jam yang lalu Pak.. Tapi, tadi Nona Luna terlihat sedang menangis, matanya basah terkena air mata, Pak. Dan lagi, tadi temannya meneriakinya dan langsung menaiki taksi yang sudah ditumpangi oleh Nona Luna." jelas Satpam itu yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya.
"Temannya? Laki-laki apa wanita, Pak?" tanya Chandra lagi.
"Wanita, Pak. Yang biasa pakai motor matic itu." jelas Satpam itu yang membuat Chandra bisa menangkap jika itu Reyna.
"Kira-kira Bapak tahu kenapa istri saya menangis? Apa dia bertengkar dengan temannya itu?" Chandra bertanya dengan bodohnya, sepertinya mendengar istrinya menangis membuat kepintarannya menurun beberapa derajat.
"Kalau mereka bertengkar, tidak mungkin Nona Luna membolehkannya naik taksi bersamanya dong, Pak." jelas Satpam itu yang membuat Chandra menganggukkan kepalanya paham.
Chandra pun langsung memutar ingatannya setelah ia kembali ke dalam mobilnya dengan sebelumnya berucap "Terimakasih" pada satpam itu.
Ingatannya ia paksa untuk mengingat kejadian tadi saat awal mula ia akan menjemput istrinya.
Awalnya saat sampai di parkiran kampus, ponsel milik Luna masih aktif terbukti dengan panggilan yang sudah berdering namun ia matikan, juga pesan yang ia kirim sudah terbaca.
Pegawai perpustakaan di kampusnya juga bilang jika Luna telah keluar dari perpustakaan setengah jam saat ia sampai di parkiran.
Dan di parkiran tadi, ia bertemu dengan Kinara.. Lalu Kinara dengan lancang telah mencium kedua pipinya.
Apa? Apa Luna melihat Kinara menciumnya? Apa wanitanya, istrinya menangis karena melihat adegan itu?
Apa dia penyebab istrinya menangis?
Chandra tiba-tiba memijit pelipisnya yang terasa migrain memikirkannya, jika istrinya benar telah melihatnya dicium oleh Kinara, lalu sekarang apa yang sedang diperbuatnya?
Istrinya itu pasti salah paham kan?
Aaaaarrrghhh!! Chandra menjerit sembari memukul kemudinya, ia kesal. Kesal pada dirinya sendiri kenapa dia bisa tidak sadar jika istrinya sudah berada dekat dengannya saat ia dicium oleh Kinara.
__ADS_1
Bersambung..
Maaf malem banget..