Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Tidak Biasanya


__ADS_3

Lima kali Chandra mencoba menghubungi nomor handphone istrinya, lima kali juga panggilan itu masuk ke kotak suara.


mungkin, Luna sedang tidur. batin Chandra sembari masih menempelkan ponsel itu di telinganya, masih mencoba menghubungi istrinya.


"Enggak diangkat? Luna udah tidur kali, Bro." Darius pun nimbrung.. Yang membuat Chandra duduk kembali di sampingnya.


"Iya.. Mungkin dia udah tidur." Chandra pun teringat wajah cantik istrinya yang kemarin malam menggodanya karena ngidamnya dan seketika membuatnya menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Senyum-senyum.. Pasti lagi bayangin adegan itu-itu." tebak Darius yang membuat Chandra yang seharian terus fokus dan serius, bisa tertawa pelan.


"Lo kok tau?" Chandra pun bertanya yang dijawab gelengan kepala oleh Darius. "Lo kan pernah cerita, dulu." timpal Darius yang membuat Chandra menganggukan kepalanya, karena memang mengingatnya dan keduanya pun tertawa.


"Memang rasanya enak ya, bro?" Darius bertanya yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya. "Lo enggak lagi bayangin hal itu dengan istri gue kan?" tuduhnya yang membua Darius menepuk pelan pahanya.


"Ya enggaklah.. Gue itu cuman tanya." tegas Darius.


"Kalau lo mau tau rasanya.. Lo buruan nikah deh. Terus rasakan sama istri Lo. Enak apa enggak." ujar Chandra yang membuat Darius kini berubah serius lalu merubah duduknya menghadap Chandra. "Kalau gue mau nikah sama adik lo.. Lo ngerestuin gue enggak, bro?" celetuk Darius tiba-tiba yang membuat Chandra langsung menatapnya dengan tajam.


"Jenifer harus menyelesaikan belajarnya, dia bukan Luna yang bisa nikah muda." jelas Chandra yang membuat Darius terasa susah menelan saliva.


lo belum tau apa yang terjadi sama adik lo, bro? batin Darius bertanya, yang jelas-jelas bisa menangkap jika Chandra memang belum mengetahui keadaan adiknya.


"Memangnya kalau nikah muda enggak bisa menyelesaikan belajarnya? Luna aja yang sudah nikah sama lo.. masih bisa kuliyah kan?" Darius pun mencoba menggali informasi sebelum ia kembali menanyakan hal serius itu pada Jenifer.


Kemarin.. Beberapa hari yang lalu saat dia berkunjung ke rumah Chandra.. Darius menawarkan diri untuk menjadi suami Jenifer.


Laki-laki yang masih mencintai Luna itu, tidak akan tega melihat keluarga sahabat karibnya hancur dan berimage jelek hanya karena ulah laki-laki yang tak punya hati dan tidak bisa menghargai wanita.


Biarlah ia yang akan menanggung semuanya, dan akan bercerita pada keluarga Chandra bahkan Chandra sekalipun jika dia-lah yang melakukan itu pada Jenifer.


Bogem mentah hingga wajahnya hancur karena pukulan dari Chandra, sudah ia bayangkan bahkan ia tidak pedulikan asalkan ia bisa menikahi Jenifer.

__ADS_1


Tapi, kendala yang ia dapat memang apa yang ia fikirkan sebelum berkunjung ke rumah Chandra.


Ya, Jenifer menolaknya. Wanita itu bersikeras menolak karena tidak mau Darius dibenci keluarganya dan dituduh menghancurkan masa depannya.


Berkali-kali Darius mengatakan, "Aku tidak apa-apa, Jen. Kakak tidak apa-apa dibenci sama Chandra.. Asalkan Kakak bisa menutupi apa yang nantinya akan membuatmu lebih malu."


Dan Jenifer pun terus menolak, "Aku tidak bisa menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku, Kak.. Apalagi Kakak begitu mencintai wanita Kakak.. Aku enggak akan sanggup Kak.. Dan lagi.. Aku enggak mau Kakak dibenci sama Kak Chandra.. Aku enggak mau persahabatan yang kalian bangun begitu kuat hancur hanya karena Kakak menutupi kesalahanku."


Darius mengingat hal yang terjadi antara dirinya dan Jenifer tempo hari lalu dengan menatap Chandra yang masih terdiam belum menjawab pertanyaanya.


"Ada apa lo tiba-tiba ngomong gitu ke gue?" Chandra pun bertanya akhirnya yang Darius sangat mengerti arti dari pertanyaan itu.


"Ini maksud lo ngirim bantuan buat nyelesain proyek ini?" sambung Chandra dengan senyuman sinisnya.


Belum apa-apa, Chandra menjadi berprasangka buruk dengan Darius, saat melihat bagaimana Raka mendekati Jenifer, walaupun dia belum tau apa yang dilakukan dua insan itu.


Ia hanya tidak mau, hanya karena sama-sama tidak bisa memiliki wanita yang kini telah menjadi istrinya, dua laki-laki itu mengalihkan pembalasannya dengan menyakiti adiknya.


"Maksud lo apa, Ri?" Chandra pun bertanya, dengan nada menuntut.


Darius gelagapan, laki-laki itu tiba-tiba mengalihkan tatapannya ke sembarang arah hingga menemukan jika proyek itu sudah selesai karena waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


"Sebaiknya lo pulang, Ndra. Luna pasti udah nungguin." ujarnya yang tidak menjawab pertanyaan Chandra.


Chandra tidak teralihkan, laki-laki itu malah kian menatap tajam Darius. "Maksud lo apa? Kenapa? Ada apa dengan Raka? Apa lo mengetahui sesuatu?" tuntut Chandra yang membuat Darius bingung menjawabnya.


"Lo jujur sama gue, Ri. Ada apa?" tuntut Chandra lagi.


"Tuan.." panggil Jaelani yang menyelamatkan Darius, dan laki-laki itu seketika mengusap dadanya, lega.


Chandra menoleh menatap Jaelani, lalu tanpa diminta Jaelani pun melapor jika proyek sudah selesai dan Chandra bisa pulang ke rumah diantar olehnya.

__ADS_1


Melihat wajah lelah sekretarisnya, Chandra pun seketika berdiri. "Lo hutang penjelasan sama gue, Ri. But, thanks sekali lagi buat bantuannya." ujarnya lalu melangkah menuju mobilnya.


****


Pukul enam pagi, Chandra baru sampai di rumah mewahnya.


Lokasi proyek yang memang jauh dari rumahnya membuatnya menghabiskan waktu berjam-jam membelah jalanan dengan tertidur pulas di kursi belakang mobilnya.


Sesampainya di rumah, hal pertama kali yang ingin dilihat Chandra adalah istri cantiknya.


Dengan raut wajah lelah yang tidak bisa disembunyikannya, laki-laki itu menaiki tangga menuju kamarnya dengan sesekali menoleh pada kamar adiknya yang masih tertutup rapat.


"Sayang.." panggilnya pelan dengan membuka pintu kamarnya.


Luna yang sudah terbangun pun menoleh pada suaminya, wanita cantik itu tengah mencari dompetnya yang ada di dalam tas yang ia taruh di atas sofa semalam saat ia pulang dari rumah Reyna.


Luna hanya menatap dengan senyum tipis yang dipaksakannya untuk suaminya hingga ia memusatkan kembali matanya pada tasnya yang sedang ia cari sesuatu di dalamnya.


Ya.. Blackcard, blackcard dari Chandra itu ia temukan di dalam dompetnya lalu seketika tanpa menyapa suaminya yang baru pulang kerja, wanita itu berjalan lagi ke arah tempat tidurnya.


Chandra mengernyitkan dahinya heran melihat kelakuan istrinya, tidak biasanya istrinya bersikap seperti ini setiap ia pulang kerja.


Cuek dan tidak berusaha menyapanya apalagi mendekatinya.


Chandra pun melangkah lalu menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya menyusul istrinya yang sedang duduk dengan membuka laci meja nakasnya.


Seperti sedang meletakkan sesuatu.


"Kamu ngapain, Lun? Enggak kangen sama, Mas?" tanya Chandra yang membuat Luna menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada suaminya yang kedua tangannya sedang memeluknya posesif.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2