
Sesampainya di rumah sakit, Chandra langsung membawa Kinara pada ruangan Dokter untuk mendapatkan penanganan.
Alerginya memang selalu kambuh setiap makan seafood, dan wanita itu tidak menghiraukannya dengan bertaruh nyawa asalkan ia bisa menarik kembali perhatian Chandra.
Tapi Kinara tidak tahu, jika rencananya akan membuahkan kebenaran yang belum diketahuinya.
Ia tidak mengetahui karena ia tidak merasakan perubahan apa-apa pada tubuhnya.
"Kenapa alergi Miss Kinara bisa kambuh, Mas?" Luna pun bertanya saat ia sedang duduk berdua di ruang tunggu dengan suaminya.
Chandra menoleh menatap istrinya, sedari tadi ia merapalkan banyak doa agar Kinara selamat.
Wanita itu sangat nekat. Padahal dia sangat tau konsekuensinya. Entah apa yang membuatnya seperti itu Chandra belum tahu.
"Dia dari dulu alergi seafood, Lun.. Semua jenis seafood dia enggak bisa makan." lirih Chandra dengan mengusap wajahnya kasar yang membuat Luna mengenyit.
segitunya kamu perhatian sama Miss Kinara, Mas? Sampai sekhawatir ini? batin Luna merasa iri sembari menatap suaminya.
"Kalau aku.. Mas tau aku alergi makan makanan apa?" Luna pun menampakkan kecemburuannya.
Suaminya belum pernah mengkhawatirkannya seperti ini.
Padahal kalau Luna tahu, Chandra berkali-kali lebih khawatir kepadanya daripada Kinara.
Chandra yang dulu sangat mengkhawatirkan Luna saat didorong oleh Raka dari rooftop saat menghadiri pesta pertunangan Kezia hingga meneteskan air mata walau belum mencintainya, tapi kini.. Laki-laki itu hanya merapalkan doa untuk keselamatan Kinara. Tidak sampai meneteskan air mata.
Niatnya menolong Kinara hanya untuk kemanusiaan semata. Apalagi Kinara bukanlah orang lain di hidupnya. Kinara pernah mengisi hari-harinya dulu.
Chandra menatap bola mata jernih milik istrinya.. Menyelami pertanyaan istrinya tentang dirinya yang membuat Chandra langsung memutar duduknya menghadap Luna tanpa bisa menjawab pertanyaan istrinya.
"Mas enggak tau ya?" Luna menampakkan kecewanya dengan mengangguk lalu menunduk.
Cemburu memang bisa membuat wanita berubah, apalagi sedang hamil muda.
Dulu, Luna tidak pernah menuntut Chandra macam-macam. Dan sekarang tiba-tiba Luna menanyakan perhatian yang memang belum pernah ia dapatkan dari suaminya.
__ADS_1
Ia hanya terus memakan makanan apa yang tersaji di meja makan di rumah mewah Chandra, belum pernah diajak atau mengajak jalan-jalan menikmati waktu berdua guna menyelami apa makanan dan minuman favorit sebagai pasangan pada umumnya.
Chandra selalu disibukkan dengan kegiatannya, dan Luna dituntut untuk selalu berusaha memakluminya.
Bukan tidak pernah Luna mengajak Chandra untuk makan diluar, Luna pernah melakukan hal itu tapi Chandra selalu menolak dengan alasan jika makanan di rumah lebih hiegenis dan terjamin bumbu serta rasanya. Sepertti saat di Bandung waktu itu.
Chandra akhirnya memegang dagu Luna dengan perasaan bersalah yang mengungkungnya agar wanita itu mau menatapnya, "Maafin Mas ya? Mas belum tau apa yang kamu suka dan apa yang enggak bisa kamu makan." ujarnya lalu memberi kecupan sekilas di bibir mungil milik Luna.
Luna mengerjapkan mata, mendapati kecupan disertai untaian kata maaf yang begitu tulus dari suaminya membuat hatinya langsung luluh dari rasa irinya pada Kinara dan mengangguk memaafkan suaminya.
"Apa Mas mau mengetahui apa yang aku suka dan apa yang enggak bisa aku makan?" Luna bersikap impulsif, rasa cemburunya mengalahkan gengsinya.
"Memang apa makanan yang kamu suka? Seingat Mas semua makanan yang disediakan Bi Asih kamu suka." ujar Chandra yang membuat Luna mencebikkan bibirnya manja.
"Suka sama terpaksa itu beda, Mas.. Aku terpaksa makan masakan apa saja yang sudah dimasak Bi Asih karena aku enggak mau memubadzirkan makanan. Kan enggak baik, Mas." jelas Luna yang membuat Chandra tersenyum.
Ini yang dia suka dari istrinya, selalu menerima tanpa menuntutnya.
"Ya udah.. Besok kita makan di restoran. Kamu bisa milih makanan yang kamu suka biar Mas tau apa yang kamu suka dan enggak suka." ujar Chandra akhirnya, mengingatkannya jika ia harus membahagiakan wanitanya.
Chandra mengangguk lalu Luna pun menyandarkan kepalanya di pundak suaminya menunggu Dokter yang menangani Kinara keluar untuk memberitahu keadaannya.
***
"Reyn!" teriak Miko sembari menepuk punggung Reyna yang terlihat sedang duduk sendiri di depan kelasnya.
"Miko! Kalau enggak ngagetin enggak bisa? Kebiasaan ya kamu ini." Reyna pun tidak bisa untuk tidak memarahi pacar pura-puranya itu.
"Haha.. Maaf, Reyn. Habisnya kamu terlihat ngelamun. Jarang banget kan seorang Reyna melamun?" Miko pun berkelakar dengan mengambil duduk di sebelah Reyna.
"Kamu dengar desas-desus tadi enggak sih, Mik?" Reyna pun bertanya akhirnya, setelah keterdiamannya tidak menjawab kelakaran Miko.
"Soal Miss Kinara yang kumat alerginya?" Miko pun lantas bertanya karena ia juga mendengarnya, bukan hanya mereka berdua tapi satu kampus sedang membicarakan kambuhnya alergi Miss Kinara yang membuat dosen mereka itu pingsan kecuali Chandra dan Luna.
Dua orang itu belum mengetahui kejadian sebenarnya.
__ADS_1
"Iya.. Kayaknya ada sesuatu yang janggal gitu." Reyna mengungkapkan pendapatnya.
"Maksud kamu apa, Reyn?" Miko yang belum mengetahui kabar itu dengan jelas lantas bertanya.
"Tadi aku denger dari anak-anak, kalau Miss Kinara yang bertanggung jawab atas acara makan bersama. Dia juga yang memesan berbagai makanan serba seafood itu. Tapi kalau dia punya alergi sama seafood.. kenapa dia memesannya dan memakannya." ujar Reyna yang membuat keduanya saling menatap dan berpikir pada pemikiran yang hampir sama.
kalau memang Miss Kinara punya alergi seafood.. kenapa dia memesan makanan ala seafood? apa dia lupa pada konsekuensinya? batin Miko bersuara.
Miss Kinara tadi pingsan di pundak Pak Chandra.. lalu Pak Chandra menggendongnya dan menghampiri Luna agar mengikutinya. Apa Miss Kinara melakukan itu untuk dekat lagi dengan Pak Chandra? batin Reyna bersuara yang mengetahui hubungan sebelumnya yang terjadi antara Kinara dan Chandra dari Darius saat Luna pingsan dalam dekapannya.
"Kamu yakin Miss Kinara yang pesan makanan itu semua, Reyn?" Miko pun bertanya kembali.
"Iya.. Enggak mungkin anak-anak bohong kan?" Reyna pun berujar yang membuat Miko mengangguk dan sejurus kemudian Reyna mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya.
"Aku harus ngabarin Luna, Mik. Dia harus tahu." ujar Reyna dengan mengetikkan pesan di ponselnya untuk Luna.
***
"Keluarga Nyonya Kinara.." panggil Dokter yang menangani Kinara, membuat Chandra berdiri dari duduknya lalu mendekati Dokter tersebut.
"Iya, Dok. Saya Keluarganya."
"Anda Suaminya?" Dokter itupun bertanya yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya.
maksud Dokter ini apa? batin Chandra bertanya.
Mendengar Dokter itu bertanya pada suaminya, Luna pun lantas berdiri dan memegang lengan Chandra. "Ini suami saya, Dok. Nyonya Kinara belum mempunyai suami." Luna yang menjawab.
"Belum mempunyai suami?" Dokter itu malah berbalik tanya yang membuat Chandra dan Luna saling tatap.
"Memang ada apa, Dok? Kenapa Dokter bertanya seperti itu?" Chandra pun langsung dengan cepat bertanya, yang membuat Luna lagi-lagi merasakan kecemburuannya.
Salahkah ia jika ia menginginkan suaminya bersikap biasa saja dengan apa yang bersangkutan dengan Miss Kinara?
Bersambung...
__ADS_1