
"Gimana rasanya direbutin sama dua dosen tampan, Lun?" ledek Reyna saat mereka berdua sedang duduk di kantin menunggu pesanan siomay mereka siap dihidangkan.
"Hussst.. Kamu bilang apa sih, Reyn. Nanti kalau ada orang dengar gimana." ujar Luna sembari menatap ke segala arah, takut ada Chandra yang mendengarnya.
"Emang kenapa kalau ada yang denger?" tantang Reyna dengan menahan tawa.
"Ya malu lah.. Aku ini siapa kok sampai diperebutin segala." sewot Luna
"Kamu itu cantik, Luna." gemas Reyna
"Kata siapa?" tanya Luna
"Ya kataku tadi." jawab Reyna yang membuat Luna mencebikkan bibirnya.
"Tapi aku itu janda, Reyn."
"Ah sudahlah. Berdebat sama kamu gak ada ujungnya."
"Itu tau.. Makanya yok makan aja, aku udah laper dari tadi." ajak Luna sembari mengambil sepiring siomay yang masih ada di atas nampan penjualnya.
"Tapi.. kalau aku ya Lun, kalau aku disuruh milih.. pasti aku bakal milih pak Chandra." ujar Reyna.
"Uhuk!!" Luna tersedak saat meminum jus jeruknya saat mendengar Reyna yang menghayal memilih suaminya.
pak Chandra itu suamiku, Reyn. Suamiku. Kenapa kamu menghayal ingin memilikinya. batin Luna tidak terima.
"Kan kalau disuruh milih, ini kan enggak Reyn." ungkap Luna yang membuat Reyna malah tertawa.
"Ya iya.. Eh, tapi kok kayaknya kamu gak suka aku milih pak Chandra. Kenapa Lun? Kamu suka juga sama pak Chandra?" tanya Reyna sembari memakan siomaynya.
"Nggak.. Kata siapa.. Aku kan udah bilang sama kamu Reyn, aku itu tau diri. Aku gak mungkin dan gak bakal berani jatuh hati sama pak Chandra. Udah, gak usah ngaco." kilah Luna sembari meminum kembali jus jeruknya, dan tak menyadari jika ada Chandra yang baru saja melintas di belakangnya dan mendengar semuanya.
Chandra hanya bisa tersenyum tipis, ia tak marah karna perkataan Luna yang menyebut jika ia tak akan jatuh hati padanya.
Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju mobilnya karna sudah waktunya ia kembali ke kantor.
***
Chandra sampai di pelataran perusahaannya tepat sepuluh menit sebelum rapat dimulai.
Ia pun berjalan begitu cepat menuju ruang meeting disusul oleh Jaelani yang sedari tadi menunggunya di pintu masuk perusahaannya.
"Berkasnya sudah kamu siapkan?" tanya Chandra sembari memakai jas kebesarannya.
"Semuanya sudah siap, Pak." jawab Jaelani dengan mantap.
"Bagus."
Dua jam meeting berlangsung, dan kini Chandra beserta Jaelani sudah kembali ke dalam ruangannya.
"Apa yang kamu tangkap di meeting tadi, Lani?" tanya Chandra sembari mengetukkan penanya di meja, mengetes sekretarisnya yang sedari tadi melamun.
__ADS_1
"Tidak ada Tuan, semuanya baik-baik saja." jawab Jaelani dengan memberikan tatapan kosong.
"Kamu yakin?" tanya Chandra lagi,
"Yakin Tuan."
Chandra menganggukkan kepala, tidak memaksa Jaelani untuk bercerita.
Beberapa menit memeriksa detail hasil meetingnya, Chandra pun tersenyum puas.
Sebentar lagi ia akan mempunyai anak cabang perusahaan yang merupakan perusahaan yang akan ia dirikan sendiri. Bukan pembagian dari keluarga.
"Aku pulang dulu, Lan." ujar Chandra sembari menepuk pundak Jaelani, dan laki-laki itu terjingkat kaget.
Semakin menguatkan prasangka Chandra, jika laki-laki yang selalu ia andalkan itu sedang tidak baik-baik saja.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Lani?"
"Ti--dak ada, Tuan." jawab Jaelani terbata.
"Bicaralah.. Kalau tidak, gajimu akan aku potong lima puluh persen." ujar Chandra sembari duduk lagi di kursi kebesarannya.
"Hah? Apa masalahnya Tuan? ini kan hal pribadi saya." kesal Jaelani jika menyangkut pemotongan gajinya.
"Maka dari itu, bicaralah." tegas Chandra.
Jaelani yang semula enggan bercerita pun akhirnya mengangguk, dan tanpa aba-aba kristal bening itu turun membasahi wajahnya dan Chandra yang melihatnya hanya bisa menatapnya, memilih tidak mengganggu Lani yang akan mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.
"Putus? Ada masalah apa hingga kalian putus? Bukankah kalian merencanakan pernikahan sebentar lagi?"
Jaelani terlihat mengangguk, "Ya, kami memang merencanakan pernikahan sebentar lagi, Tuan. Tapi, Putri pergi meninggalkan aku demi karirnya di dunia seni."
"Kamu yakin hanya itu yang mendasari dia meninggalkanmu?" tanya Chandra lagi
"Entahlah Tuan.. Cinta kita begitu kuat, kita berpacaran sudah tiga tahun lamanya." Jaelani memperlihatkan jarinya yang menunjukkan angka tiga lalu menghela napas mengingat apa lagi yang membuat hubungannya dengan Putri rumit. "Tapi.. Sebenarnya Bapaknya Putri juga belum merestui hubungan kami." jawab Jaelani dengan raut wajah sendu yang tidak dibuat-buat.
"Berjuanglah.. Kejarlah cintamu jika kamu merasa dia pantas diperjuangkan, Lani." ujar Chandra yang membuat Jaelani menegakkan duduknya, menatap Chandra dengan mata basahnya.
Ia merasa Tuannya ini seperti temannya, yang ternyata bisa diajaknya mencari solusi atas apa yang tengah mengusiknya.
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan saya, Tuan?" tanya Jaelani dengan hati yang gamang.
Di satu sisi ia senang bisa mengejar cintanya yang sudah pergi ke luar negeri, tapi di sisi lain ia tak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaaannya karna Chandra belum bisa fokus hanya memegang perusahaan dan meninggalkan sepenuhnya dunia kampusnya.
"Kamu bisa kembali bekerja setelah kamu mendapatkan jawaban dari banyaknya pertanyaan yang menumpuk di pikiranmu itu." ujar Chandra yang lagi-lagi membuat Jaelani menatapnya tidak percaya.
"Tapi, perusahaan Tuan?" tanya Jaelani menyakinkan Tuannya akan keputusannya.
"Ada Moreno yang bisa aku andalkan. Pergilah. Kejar cintamu sebelum kamu menyesal, Lani." jawab Chandra sembari menggerakkan tangannya menyuruh Jaelani agar segera pergi.
"Terimakasih ya Tuan, terimakasih. Aku janji akan segera kembali." ujar Jaelani sembari memegang tangan Chandra, namun Chandra hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
Bagaimanapun, Jaelani adalah orang yang ada dulu disaat ia terpuruk saat mengetahui perselingkuhan Kezia dengan sepupunya.
Dan, mungkin sekarang waktunya ia membalas kebaikan Jaelani dengan berbaik hati memberikan cuti beberapa hari untuknya.
"Apa lagi, Lani?" tanya Chandra saat melihat Jaelani kembali ke dalam ruangannya.
"Nona Kezia akan bertunangan, Tuan." jawab Jaelani sembari menunduk. "Katanya kemarin dia mau mengundang Tuan."
"Pergilah.. Aku sudah tau." jawab Chandra yang seketika membuat Jaelani mendongakkan kepala menatap Tuannya.
Notifikasi pesan di handphone Chandra, mengurungkan niat Jaelani ingin bertanya lagi.
Luna Sabrina: Mas.. Sebentar lagi waktu pulang kuliyah, gimana?
Chandra membaca pesan Luna seraya tersenyum lalu membalasnya,
Chandra Abimana: Kamu naik taksi online aja, aku lagi gak sempat jemput.
Luna yang menunggu balasan dari Chandra pun secepat kilat membalasnya lagi,
Luna Sabrina: Tapi aku gak punya uang, Mas.
Pesan yang dikirim Luna membuat Chandra geram, dan seketika menelpon Luna.
Luna yang melihat Chandra menelponnya pun langsung menjawabnya dengan terlebih dahulu ijin untuk ke kamar mandi pada dosen yang sedang mengajar di kelasnya.
Panggilan tersambung...
Luna: Hallo, Mas.
Chandra: Kamu bawa kartu yang aku kasih ke kamu semalam?
Luna: Nggak, Mas. Kartu itu aku taruh di laci kamar.
Chandra: Astaga Luna.. Kamu bawa atm kamu?
Luna: Bawa.. Tapi isinya cuma gopek.
Chandra: Ya udah, kirim nomer rekeningnya biar aku transfer. Nanti mampir aja dulu di atm yang dekat dari rumah buat bayar taksi onlinenya.
Luna: Ini termasuk hutang gak, Mas?
Chandra: Nggak Luna..
Dan saat Luna akan berkata lagi, Chandra langsung mematikan telponnya.
Chandra geram, kenapa jika berkaitan dengan uang, istrinya itu menganggapnya sebagai hutang?
Kalau iya semuanya dianggap hutang? Lalu sampai kapan ia bisa membayarnya?
Bersambung...
__ADS_1