Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Mulai Saling Mengenal


__ADS_3

"Kamu ngapain Lun?" tanya Chandra pada Luna yang sedang menatap indahnya bulan dan bintang dari balkon depan kamarnya.


Luna menoleh mendengar suara suaminya, ia mengerjapkan matanya menyakinkan dirinya jika benar laki-laki yang kini sedang ada di sampingnya, adalah suaminya.


"Lun?" tanya Chandra lagi sembari menggoyangkan jarinya di depan mata Luna.


"Eh, iya Mas." jawab Luna yang dengan spontan memegang tangan Chandra, lalu mencium punggung tangannya. "Baru pulang ya, Mas? Aku ambilin minum dulu ya." tawarnya.


Chandra mencekal lengan Luna yang sudah berjalan hampir memasuki kamarnya. "Gak usah."


"Kenapa Mas? Mas mau mandi dulu? aku siapin air hangatnya ya." tawarnya lagi yang membuat Chandra kini menatapnya intens.


"Nanti saja." tolak Chandra. "Aku ingin berbicara denganmu."


"Soal apa Mas? Oh.. soal Jenifer.. Dia sudah pulang ke London beberapa jam yang lalu diantar sama pak Mun, Mas." terang Luna terlebih dahulu sebelum Chandra menanyakannya.


jenifer benar pulang ke London? Astaga, Jen. batin Chandra yang kini ikut menatap indahnya bulan dan bintang dari balkon depan kamarnya.


Sekian detik hingga berubah menjadi menit, keheningan tercipta di keduanya yang sama-sama menerawang tentang pikiran dan perasaannya.


Perkataan Jenifer yang menerangkan jika ia harus membuka hati untuk Luna terus terngiang di pikiran Chandra.


Sedangkan Luna, wanita itu tidak tau harus bertanya apa, karna takut mengganggu privasi suaminya.


"Mas.."


"Lun.."


Panggil keduanya bersamaan sembari menoleh mempertemukan kedua pasang netra mata yang indah itu.


Sesaat mereka saling bertukar senyum tipis.


"Kamu dulu, Lun."


"Mas aja, dulu." titah Luna tidak mau kalah.


Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghela napas panjang dahulu sembari mengusap wajahnya dengan tangan sebelahnya yang tidak memegang batas balkon kamarnya.


"Balkon kamarku ini jadi saksi dulu gimana gilanya aku saat aku frustasi, Lun." gumam Chandra tiba-tiba sembari kembali menoleh pada Luna,

__ADS_1


Melihat tatapan ingin tahu dari istrinya, Chandra pun meneruskan perkataannya. "Frustasi saat aku memutuskan hubunganku dengan kekasihku yang menjalin kasih denganku selama empat tahun."


"Aku pernah patah hati, Lun." Chandra menghela napas, lalu tiba-tiba menunduk dengan air mata yang ia tahan sebaik mungkin agar tidak terjatuh. "Sampai sekarang aku mengira bahwa cinta itu hanya bisa menyakitkanku, menorehkan luka pada hatiku dan membuatku seperti orang gila." lanjutnya dengan nada begitu sendu dan putus asa.


"Kalau Mas seperti itu, kenapa Mas memutuskannya?" tanya Luna memberanikan diri.


"Dia selingkuh, Lun. Dia berkhianat di belakangku." terang Chandra dengan raut wajah hancur yang membuat Luna kini memberanikan diri mengusap punggungnya.


Ia tidak menyangka jika suaminya yang dianggap begitu sempurna ini pernah dilukai dan ditipu oleh seorang wanita.


"Dan karna itulah, Maaf karna aku belum bisa mempercayaimu. Aku pernah terluka, Lun." Menghela napas lalu mengganti posisi berdirinya menjadi menghadap Luna. "Dan maaf atas ciuman dan pelukan yang pernah aku lakukan ke kamu yang mungkin tidak berpengaruh di hatimu dan membuat kamu merasa gak nyaman dan makin tersiksa menikah denganku." sambung Chandra lagi yang kini memegang tangan Luna yang tadi mengusap punggungnya.


"Aku juga gak tau kenapa aku bisa bertindak impulsif seperti itu sama kamu, aku cuman merasa bahwa aku berhak melakukannya karna kamu adalah istriku, dan maaf jika kamu tidak bisa menerima itu dan membuatmu tersiksa."


Luna menatap tak percaya pada suaminya, Ada apa dengan laki-laki itu? laki-laki itu menghilang selama seminggu dan baru bertemu kembali dengannya lalu langsung minta maaf padanya.


"Kenapa Mas minta maaf?" Luna ingin meminta penjelasan dari suaminya.


"Karna aku gak mau melihatmu terluka, Lun."


"Terluka? Aku ngerasa nyaman kok sama Mas." jawab Luna sembari melepas genggaman tangan Chandra.


"Kapan aku menangis, Mas?" tanya Luna yang kini membuat Chandra berpikir keras memikirkan jawabannya.


tidak mungkinkan kalau aku jujur sama kamu saat aku melihat kamu menangis saat Jenifer bertanya padaku tentang perasaanku ke kamu. batin Chandra bergejolak.


Usai beberapa detik Chandra tak menjawab pertanyaannya. Luna pun menghela napas pelan sebelum berkata.


"Mas... Mungkin, awalnya aku memang terpaksa menikah sama Mas. Tapi sejauh pernikahan ini terjadi, yakinlah.. aku merasa nyaman berada di dekat Mas." Luna berkata sembari menatap bulan dan bintang di hadapannya.


Ia merasa tidak sanggup menatap mata elang yang begitu ia rindukan. Ingin sekali ia mengenyahkan rasa yang mulai tumbuh di hatinya untuk Chandra, karna laki-laki itu tidak pernah benar-benar mengharapkannya.


"Dan soal ciuman dan pelukan, bukankah itu memang hak Mas sebagai suami.. Aku tidak pernah marah kok sama Mas." terang Luna lagi.


"Kamu tidak keberatan?" tanya Chandra memastikan.


"Bukankah kata Mas kita itu suami istri. Bukankah Mas kemarin bilang jika Mas menghargai pernikahan ini." Luna memberikan jawaban tersirat jika dia tidak keberatan.


Bahkan ia sangat mengharapkan pernikahan yang terjadi ini menjadi sesuatu yang nyata saat ia melihat tulusnya suaminya pada Ibu dan anaknya.

__ADS_1


walau aku tau kalau kamu tak pernah mengharapkanku menjadi istrimu sebelumnya. Dan hanya butuh status dari pernikahan ini. batin Luna.


"Aku ingin kita mulai saling mengenal, Lun." gumam Chandra tiba-tiba setelah keheningan sejenak melanda keduanya yang membuat Luna kini menoleh padanya.


"Mengenal tentang apa, Mas? Bukankah Mas sudah tau siapa aku?"


"Maksudmu nama kamu? Ck! Kalau aku tidak mengenal nama kamu bagaimana dulu aku bisa lancar mengucapkan ijab qobul, Lun."


"Aku tau itu, Mas.. Bahkan saat itu aku takjub sama Mas yang begitu hapal dalam satu kali tarikan napas." jawab Luna sembari berpikir mengingat tentang pernikahannya yang berlangsung sudah hampir sebulan itu.


"Lalu yang Mas maksud saling mengenal itu apa?" tanya Luna saat Chandra tadi tak menanggapi perkataaannya.


Chandra bukannya tak mau menimpali, tapi dia sedang berperang dengan hatinya sendiri.


"Aku ingin kamu tau apa yang menjadi masa laluku sehingga membentuk aku seperti ini, dan aku ingin kamu juga menceritakan masa lalu kamu agar aku bisa lebih baik berprilaku ke depannya nanti padamu." terang Chandra.


"Tapi.."


"Tapi apa Mas?"


"Tapi, kalau kamu tidak keberatan. Aku juga tidak memaksamu untuk bercerita jika kamu tidak nyaman. Aku tidak mau melukai hati kamu kalau kamu mengingat masa lalumu yang membuatmu menyandang status itu." Chandra berkata sangat lembut, bahkan mungkin pertama kalinya setelah pernikahan ia berbicara lembut pada istrinya, dan tidak datar seperti biasanya.


"Ini juga yang sebenarnya mau aku ceritakan tadi sama, Mas." ujar Luna.


"Aku tidak mau ada hal yang ditutupi lagi," sambung Luna sembari menatap tautan jemarinya.


"Ditutupi? Maksud kamu apa Lun?" tanya Chandra sembari mengangkat dagu Luna agar wanita itu melihatnya.


"Apa Mas dulu tidak memeriksa berkasku saat kita mau menikah?"


"Berkas?" Chandra berkata sembari berpikir, dan sedetik kemudian ia menggeleng sebagai jawaban.


"Semua itu Jaelani yang menyiapkan." ujarnya yang membuat Luna menghela napas.


Sebelumnya ia harus menyakinkan diri sebelum berkata jujur pada suaminya.


Apakah nanti jika ia jujur, ia akan mendapatkan hati suaminya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2