Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Pagi Paling Membahagiakan


__ADS_3

Negosiasi dengan istrinya semalam ternyata tidak membuahkan hasil untuk Chandra.


Luna bersikeras ingin tetap di ruko Ibunya untuk memantau keadaan Ibunya yang belum begitu stabil.


Alhasil, Pak Mun lah yang pagi-pagi harus ke ruko mengantar setelan kerja suaminya beserta sarapan pagi yang telah disiapkan oleh Bi Asih. "Terimakasih Pak." ucap Luna sembari tersenyum pada pak Mun.


"Sama-sama, Nyah." Pak Mun mengangguk lalu berpamitan untuk pergi karna Luna sudah menegaskan untuk tidak masuk kuliyah hari ini.


Jam merujuk pukul tujuh pagi, Luna pun langsung berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua karna pasti suaminya tengah menunggu pakaiannya.


Dan benar saja, Luna menelan salivanya lekat saat melihat suaminya baru saja selesai mandi.


Laki-laki tampan itu memakai handuk sepinggang, memperlihatkan perut eightpack-nya disertai tetesan air yang belum mengering yang membuatnya terlihat seksi sehingga membuat Luna ingin sekali menyentuh dan meraba perut berotot itu.


Membayangkannya saja membuat air liur Luna ingin menetes saat itu juga.


"Lun.." panggil Chandra saat melihat istrinya tidak kunjung memasuki kamarnya, hanya berdiri di samping pintu.


Luna mengerjapkan matanya, mengalihkan tatapannya yang membuatnya berpikiran erotis, "Eh, iya, Mas... Ini bajunya." ujarnya memperlihatkan apa yang dipegangnya seraya masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamarnya dan berbalik memberikan baju Chandra yang sudah tertata rapi di dalam paperbag.


Pagi itu mungkin menjadi pagi paling membahagiakan bagi Chandra.


Istri cantiknya itu mengambil alih pekerjaannya untuk memakai baju stelan kerjanya kecuali celana kain yang ia pakai sendiri karna istrinya itu terlihat malu-malu ingin memakaikannya.


Sepertinya, rasa cemburu membuat Luna kini begitu perhatian pada suaminya.


Chandra hanya tersenyum tidak mau meledek istrinya mendapat perhatian seperti itu.


Wanita cantik itu begitu terlihat telaten melayani suaminya, mengancingkan kancing kemeja suaminya satu-persatu, memakaikan dasi suaminya, lalu memakaikan jas berwarna hitam itu di tubuh suaminya.


Sebagai sentuhan terakhir sebelum memastikan suaminya sudah tampan dengan setelan kerjanya, Luna merapikan jas tersebut dari depan lalu mengusap jas tersebut di pundak suaminya yang membuat Chandra kini menangkap tangannya dan memiringkan wajahnya sembari tersenyum yang membuat jantung Luna berdebar tidak karuan.


Wanita cantik itu langsung memalingkan wajahnya saat dirasa debaran di jantungnya belum bisa normal, dan itu membuat Chandra kini tersenyum kian lebar saat bisa membuat istrinya terlihat segugup itu.


Tak perlu menunggu lama, Chandra langsung melayangkan kecupan lembutnya di pipi istrinya yang membuat Luna tersenyum dengan debaran jantungnya yang menggila.


Cup

__ADS_1


Chandra mengulanginya lagi, tapi kini di pelipis istrinya, dan lagi.. mampu membuat pipi Luna begitu memerah.


"Maaa-" ucapan Luna terpotong saat bibir tebal Chandra memberi kecupan di bibir mungilnya.


Kecupan tersebut pun awalnya lembut, tapi seperti menuntut untuk Luna membalasnya.


Luna membuka mulutnya, memberikan akses untuk Chandra menelusup dan mengeksplor mulutnya dengan buaian khas suaminya yang selalu membuatnya tidak bisa menolaknya dengan debaran jantungnya yang kian menggila.


Jika saja Jaelani tidak menelponnya, mungkin Chandra akan melepas setelan kerja yang sudah membalut tubuh tegapnya itu untuk mengungkung istrinya, memberinya kenikmatan yang juga selalu diinginkannya.


"Sial!!" umpat Chandra yang membuat Luna tertawa pelan.


"Mas berangkat kerja aja, nanti malam kan bisa." Istrinya itu mulai terlihat nakal dengannya.


Berani menawarinya bahkan sebelumnya Luna hanya merespon mengiyakan keinginannya, belum pernah memintanya seperti ini.


Apa? Apa tubuhnya Luna juga kecanduan dengannya? Bukan hanya Chandra kan? Ah, Wajah kesal Chandra menjadi hilang seketika bergantikan bahagia saat mendengarnya.


"Kamu nawarin, Mas?" tanya Chandra dengan kerlingan nakalnya yang membuat Luna kini menggigit bibirnya. "Gak aku tawarin pun, Mas juga akan minta kan?" tanyanya bodoh yang membuat Chandra menggelengkan kepala dengan tertawa.


"Ya beda dong sayang.." Dan Chandra pun mulai tidak sadar sudah memanggil istrinya 'sayang.'


Apa benar suaminya ini sudah jatuh hati dengannya? Apa benar kata Ibunya jika melakukan ITU dalam hubungan suami istri bisa menumbuhkan rasa?


Ah, Sepertinya.. Luna harus berterimakasih pada Ibunya.


"Mas manggil aku apa tadi?" tanya Luna menyakinkan dirinya jika harapannya itu tidak boleh terlalu tinggi.


"Gak ada. Mas berangkat kerja dulu ya, Kalau ada apa-apa sama Ibu langsung kabari." Chandra mencium pucuk kepala istrinya setelah berucap seperti itu.


Luna pun kecewa, tapi saat mengingat jika ada Sintia si wanita penggoda itu, membuat Luna menghilangkan rasa kecewanya itu lalu pergi menyusul suaminya, mengantar suaminya hingga suaminya menaiki mobilnya.


"Ada apa, Luna?" tanya Chandra saat melihat istrinya itu mendekatinya dengan napas terengah-engah karna telah mengejarnya.


Luna menghela napas pelan, lalu melangkah menyalami tangan Chandra dengan khidmad. "Hati-hati di jalan ya, Mas." ucapnya yang membuat Chandra tersenyum lalu mengangguk dan bergegas menaiki mobilnya.


***

__ADS_1


Tepat pukul delapan pagi Chandra sampai di perusahaannya.


Seperti biasa, Jaelani selalu siap menyambutnya di pintu masuk perusahaannya untuk membacakan jadwal meetingnya yang sangat padat terkadang.


Tapi, ada sesuatu yang sepertinya sedang mengganjal di pikiran Jaelani saat itu, saat Chandra melihat sendiri sekretarisnya yang selalu kepo itu terlihat gelisah.


Chandra diam tidak bertanya untuk menghindari orang yang akan mendengar pembicaraannya dengan Jaelani hingga mereka akan memasuki lift khusus excekutive dan karyawannya yang akan memasuki lift untuk karyawan menyapanya.


"Pagi pak Chandra.." sapa kelima orang itu.


Chandra mengangguk disertai senyum tipis untuk menjawab sapaan pegawainya.


"Ada apa Lani? Kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Chandra saat keduanya sudah berada di dalam lift.


"Nyonya Besar sedang berada di Indonesia, Tuan." ujar Jaelani sembari menunduk.


"Mom di Indonesia?" tanya Chandra lirih seolah pada dirinya sendiri, menyakinkan dirinya sembari memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa migrain.


Bukannya Chandra tidak senang, tapi Chandra belum mempersiapkan istrinya itu untuk bertemu dengan Ibunya.


Ibu yang selalu menentang segala keinginannya, walaupun keinginannya dulu itu begitu mulia.


Menjadi dosen itu sebuah cita-cita mulia. Bahkan ada yang mengatakan jika Guru itu Pahlawan tanpa tanda jasa.


Mengingat itu, membuat Chandra selalu tidak menyesal untuk melawan Ibunya untuk melanjutkan cita-citanya menjadi seorang dosen.


"Iya, Tuan. Nyonya Besar sudah sampai di rumah kemarin siang." jelas Jaelani yang membuat Chandra kini teringat istrinya.


Siang? Apa Luna sudah sempat bertemu Ibunya sebelum pergi ke ruko untuk memeriksakan Ibu Halimah? Tapi kalau iya Luna sudah bertemu dengan Ibunya, kenapa wanita itu tidak bertanya apa-apa dan membahasnya dengannya jika ada orang yang masuk ke rumahnya yang belum dikenalinya? batin Chandra berpikir.


"Batalkan semua meeting hari ini, Lan." titah Chandra yang membuat Jaelani kini membulatkan matanya.


"Ada apa, Tuan?"


"Tidak ada apa-apa. Ada sesuatu yang harus saya urus." tegas Chandra bertepatan dengan pintu lift terbuka karna mereka sudah sampai di lantai ruang kerja Chandra.


Chandra pun menyuruh Jaelani keluar dari lift itu, lalu dia kembali menekan lift menuju basement untuk keluar dari perusahaannya karna merasa ada sesuatu yang harus dilakukannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2