
"Reyn! Ini beneran?" tanya Luna masih tidak percaya dengan apa yang kini tengah dilihatnya di ponselnya.
Reyna memutar matanya jengah mendengar pertanyaan yang sedari tadi diulang-ulang oleh Luna karna ia tidak berniat menjawabnya, "Ya kamu lihatnya gimana, Luuuunn!" Reyna gemas sendiri dengan menggoyangkan bahu Luna.
"Mereka semua patah hati?" Luna bertanya lagi dengan bodohnya, dan Reyna malas menjawabnya. Karena menurut Reyna, melihat update-an status anak-anak kampus di seluruh akun sosial media mereka sudah bisa menjawab pertanyaan bodoh yang dilontarkan Luna, padanya.
"Ya, aku patah hati, Lun. Hari ini itu hari patah hati di kampus ini tau!" Miko menyahut dengan ekspresi sedih yang tidak dibuat-buat saat dirinya baru saja memasuki kelasnya dan mendengar pertanyaan Luna untuk Reyna.
Luna menoleh pada Miko sembari mengerjapkan matanya, "Kamu juga patah hati, Mik? Karna ditinggal menikah oleh Pak Chandra?" tanyanya dengan polos, karna semua follower yang ia izinkan dan yang ia follow di akun yang ia setel pribadi itu hanya memuat anak-anak kampus bergender wanita.
"Huft.." Miko menaruh tasnya di meja tanpa menjawab pertanyaan dari Luna, lalu duduk menyandar di kursinya, meluruhkan bahunya yang memang terasa lemas sejak semalam karna mendengar berita jika Luna telah menikah dengan Chandra.
Laki-laki itu terus memijit pelipisnya dengan gaya sedihnya.
"Buahaaahaha.." sembur Reyna dengan tawa lepasnya mendengar pertanyaan bodoh Luna pada Miko. "Kamu itu kalau polos jangan keterlaluan juga kali, Lun."
"Hah? Maksud kamu apa, Reyn?"
"Miko itu patah hati karena tau kalau kamu juga sudah menikah. Dia juga tau kalau kamu itu bukan janda dulunya. Dan dia juga tau kalau dosen tampan kita itu yang jadi suami kamu. Dia itu kayak gitu karna dia gagal untuk mendapatkanmu, Lunnn.." jelas Reyna yang membuat Luna kini membulatkan matanya.
"Mereka tau darimana?" tanya Luna lagi dengan raut wajah bingungnya.
"Kamu follow akun Pak Chandra nggak?" tanya Reyna untuk mengonfirmasi raut wajah bingung yang tercetak jelas di wajah Luna.
"Emang Mas Chandra punya akun sosial media, Reyn?" Luna berbalik tanya dengan mengerutkan dahinya.
"Punya lah, Lun. Hari gini gitu." tegas Reyna.
"Emang apa nama akunnya?" tanya Luna yang membuat Chandra yang baru saja hendak memasuki kelasnya berhenti sejenak di dekat pintu untuk mendengarkan kekepoan istrinya, padanya.
"Abi123.. Itu nama akunnya, Lun."
"Kok gak pakai nama Mas Chandra sendiri ya, Reyn?"
__ADS_1
"Kan Pak Chandra itu bukan hanya seorang dosen. Pak Chandra itu masuk jejeran orang terkaya di Asia, Lun. Hebat ya suami kamu, aku juga pengen punya suami kayak gitu, Lun." celoteh Reyna asal yang membuat Luna menepuk bahunya keras. "Enak aja! Mas Chandra itu suamiku. Milikku, Reyn. Kalau kamu mau hayalin suami masa depan kamu jangan Mas Chandra." pintanya dengan wajah serius yang membuat laki-laki yang sedari tadi mendengar obrolan mereka tersenyum.
Bahkan mereka tak mempedulikan tatapan patah hati dan raut wajah hancur yang ditampakkan oleh Miko pada Luna saat mendengar Luna dengan tegas menyatakan kepemilikan atas Chandra.
***
Di gazebo yang ada di taman belakang rumah Chandra, adalah tempat dimana Luna kini sedang mengerjakan tugas kuliyahnya sembari menulis novelnya.
Jus jeruk dan irisan buah apel menjadi temannya di kala ia jeda sejenak saat melakukan aktifitasnya.
Di taman belakang itu, terdapat berbagai bunga dengan banyak jenis dan warnanya.
Bahkan, banyak bunga yang sengaja dikirim oleh Chandra dari luar negeri untuk mempercantik taman belakangnya itu.
Setidaknya itulah yang diceritakan oleh Bi Asih padanya, saat tadi ia berjalan menuju gazebo dengan membawa laptop dan buku yang ia perlukan untuk mengerjakan tugasnya.
"Ada yang dibutuhkan lagi tidak, Nyah?" tanya Bi Asih setelah meletakkan ponsel Luna yang tertinggal di ruang keluarga.
"Sama-sama, Nyah." ujar Bi Asih membalas senyuman Luna lalu permisi untuk melanjutkan tugasnya.
Jeda sejenak karna telah selesai mengerjakan tugasnya, Luna pun berselancar di akun sosial medianya mencoba mengajukan permintaan untuk memfollow akun suaminya.
Baru saja mengklik tulisan "Ikuti" dan dia meletakkan ponselnya di dekat laptopnya. Dering ponselnya yang terdengar menampilkan jika salah satu pegawai Ibunya tengah menelponnya pun membuat Luna mengernyitkan dahinya heran karna tak biasanya pegawai Ibunya yang disiapkan oleh suaminya itu menghubungi dirinya.
Tak sabaran, Luna pun segera menggeser ikon gagang telpon berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.
Panggilan tersambung...
Luna: Hallo..
Pegawainya: Ini dengan Nyonya Luna?
Luna: Iya.. Ada apa ya, Mbak?
__ADS_1
Pegawainya: Ibu Halimah sakit Nyonya.
Luna menegakkan duduknya: Ibu? Ibu sakit apa Mbak? (Luna bertanya dengan nada khawatirnya, bahkan isakan pun langsung terdengar saat mendengar wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu sedang tidak enak badan.)
Pegawainya: Tidak tahu, Nyah. Tapi, Ibu Halimah muntah terus sedari tadi, Nyonya.
Luna: Saya akan segera kesana, Mbak.
Putus Luna lalu memutuskan sambungan teleponnya pada pegawai Ibunya.
Dengan raut wajah khawatir, Luna pun mematikan laptopnya lalu tergesa-gesa menata buku yang ia gunakan tadi untuk mengerjakan tugasnya dan langsung berlari menuju kamarnya untuk meletakkan laptopnya dan mengambil tasnya.
Tak lupa, ia pun mengambil blackcard yang diberikan oleh Chandra padanya, yang ia simpan selama ini di laci meja nakasnya untuk meminimalisir jika sesuatu terjadi pada Ibunya.
Baru saja mencapai anak tangga terakhir, Luna yang sedari tadi menunduk menatap tangga guna mempercepat langkahnya pun tak sengaja menabrak dada seorang wanita.
"Maaf!! Maaf saya tidak sengaja." Luna berujar maaf sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Wanita itu tak bergeming menatap Luna yang memberikan ekspresi sedih dan bingungnya, dan tak menghiraukan Luna yang meminta maaf padanya karna telah tak sengaja menabrak dadanya dengan tetesan kristal bening yang begitu derasnya membasahi wajah cantik Luna.
Wanita itu berambut ikal berwarna coklat, hidungnya proporsional dan kilatan tajam dari cara menatap Luna seperti tidak asing dimata Luna.
Wanita itu juga mempunyai tinggi badan yang lebih tinggi darinya, yang mengharuskannya mendongak demi bisa menatap siapa wanita yang kini ada di depannya kini.
Lebih tepatnya, ada di rumah suaminya dan saat Luna menoleh ke sekitar, ia melihat semua asisten rumah tangganya menunduk pada wanita itu.
Yang ada di benak Luna saat itu. Siapa wanita yang kini ada di depannya? Kenapa semua maid berlaku seperti itu? Apakah dia merupakan keluarga suaminya? Atau jangan-jangan..
Luna langsung menoleh menatap pada wanita itu lagi, tapi seakan akal sehatnya menyadarkannya. Ia pun langsung permisi pada wanita itu untuk segera ke ruko Ibunya, mengantar Ibunya itu berobat.
"Saya mau pergi sebentar, Bu. Ibu saya sedang sakit. Maaf jika tadi saya tidak sengaja menabrak Ibu." ujarnya lalu berlalu dari hadapan wanita itu tanpa mendengarkan jawaban ataupun perkataan dari wanita yang sedari tadi menatapnya.
Bersambung....
__ADS_1