
Tiga hari kemudian, Luna pun sudah diizinkan untuk masuk kuliyah seperti biasanya oleh Chandra.
Wanita cantik itu hanya mengisi hari-harinya saat pemulihannya dengan menulis dan mengabari Ibunya jika kini ia tengah mengandung karena Chandra disibukkan dengan proyeknya.
Chandra mengharuskannya bedrest, dan dia tidak bisa pergi kemanapun kecuali turun ke dapur untuk makan.
Intensitas mengobrol dengan Jenifer pun jarang ada waktu, karena setiap Luna keluar pintu kamar Jenifer selalu tertutup rapat.
Kedatangan Darius untuk menemui Jenifer pun tidak diketahui oleh Luna, karena dia tidak keluar kamar sama sekali saat Chandra mengantar Dadnya ke Bandara.
Sedangkan Emily, wanita cantik yang mempunyai agency model itu selalu sibuk dengan berbagai kegiatannya dan kemarin beliau menyusul suaminya ke London.
Jenifer... Entah apa yang dilakukannya, karena dia selalu mengurung dirinya di kamar, dan hanya keluar saat makan.
Bahkan setelah pertemuannya dengan Darius tempo hari lalu, dia semakin memberi jarak pada keluarganya.
"Jangan terlalu capek... Nanti kalau mau sesuatu, langsung telpon." pinta Chandra saat Luna menyalami tangannya.
Keduanya masih berada di dalam mobil, karena Chandra memilih mengantar jemput istrinya sendiri.
Pak Mun dialihtugaskan untuk mengantar Jenifer jika sedang ada urusan.
Luna mengangguk saat Chandra mengecup keningnya. "Siap, Mas." ujarnya yang membuat Chandra tersenyum.
****
"Kamu udah denger kabar baru belum, Lun?" tanya Reyna pada Luna.
Keduanya sedang duduk di kantin dengan meminum jus alpukat menunggu dosen yang belum juga datang untuk mengajar.
Luna yang sedang menyeruput minumannya pun menoleh pada Reyna. "Maksud kamu, kamu yang pacaran sama Miko?"
Reyna dengan tegas menggelengkan kepalanya. "Bukan, Lun."
"Terus apaan, Reyn?" Luna yang memang jarang melihat sosial media, sering ketinggalan berita.
Wanita cantik itu hanya fokus pada menulisnya, mengurusi kuliyahnya, dan menjadi istri yang baik untuk Chandra.
"Pak Raka mengundurkan diri dari kampus ini." tutur Reyna yang membuat Luna yang sedang meminum minumannya pun tersedak.
Uhuk!!
"Beneran?" tanya Luna yang dijawab anggukan antusias oleh Reyna.
"Lalu siapa yang mengajar jamnya Pak Raka, Reyn? Mata kuliyahnya kan jarang ada asisten dosennya." jelas Luna yang membuat Reyna mengendikkan bahu.
__ADS_1
Pak Raka mengundurkan diri? Lalu bagaimana hubungannya dengan Jenifer? batin Luna sendu setiap kali mengingat adik iparnya.
****
Pembelajaran telah usai, Luna pun keluar dari kelasnya dengan binar mata bahagia saat melihat suaminya sudah berdiri di dekat mobilnya.
Sahutan dari Reyna pun tak didengarnya, karena dia sesenang itu melihat suaminya.
"Sabar... Namanya juga dijemput suami. Kamu sama aku aja, Reyn." Miko mendekati Reyna lalu merangkul pundaknya melihat pacarnya itu mencebikan bibirnya karena Luna tidak menjawab sahutannya.
Reyna menoleh pada Miko, "Gitu ya? Gitu rasanya dijemput suami? Sampai dipanggil sahabatnya aja dia enggak dengar.." gerutunya yang membuat Miko mencubit pipinya kesal.
"Kamu mau ngerasain? Nikah yuk." ajak Miko tiba-tiba yang membuat Reyna melepas tangan Miko dari pundaknya. "Mimpi aja dulu, Mik. Jadi pacarmu aja karena aku terpaksa, kan?" jelas Reyna yang membuat Miko langsung terlihat bersedih.
"Kalau aku beneran cinta sama kamu, memangnya kamu mau nikah sama aku?" tanya Miko yang membuat Reyna menghentikan langkahnya.
"Kamu aja belum bisa melupakan Luna.. Kalau bukan karena kasihan melihat kamu nanti dihajar sama Pak Chandra.. Ogah aku jadi pacar pura-pura kamu di kampus ini." tegas Reyna tanpa membalikkan badannya.
"Aku sudah melupakan Luna, Reyn. Ternyata kamu lebih asyik daripada dia." jelas Miko yang membuat Reyna geram. "Jangan hina sahabatku, Mik. Aku dan Luna memang berbeda."
Miko dilanda rasa serba salah, ia pun maju melangkah lalu menggenggam tangan Reyna dari samping yang membuat Reyna menoleh padanya. "Aku tahu, mungkin sulit untuk aku mencintai wanita selain Luna.. Tapi, menjadi pacar kamu beberapa hari ini ternyata membuka hatiku jika aku juga harus menoleh sama kamu."
Pipi Reyna mendadak berubah seperti kepiting rebus, sejujurnya dia juga tidak punya rasa sama sekali pada Miko selain rasa kasihan padanya dan melindungi Luna dari amarah Chandra jika salah paham dengan Miko yang terus mendekati istrinya.
Miko melihat pipi Reyna yang bersemu, mengulum senyum. Sebentar lagi, ia akan menjadi kekasih resmi--bukan pura-pura seperti kemarin dengan Reyna.
Reyna mengangkat tangannya tinggi ke udara tanpa membalikkan badan. Demi Tuhan.. Baru kali ini dia merasakan perasaan berdebar-debar saat Miko menatapnya dan berkata setulus itu.
***
Di dalam mobil, Chandra mengemudikan mobilnya dengan terus melirik perut istrinya, lalu mengusapnya dengan tangannya yang bebas, kemudian beralih ke pipi Luna.. lalu kembali mengusap perut Luna lagi.
"Mas.. fokus!" Luna mengingatkan berulang kali saat Chandra terus menatap perutnya dan tidak melihat jalanan di depannya.
"Nanti sampai rumah kan bisa, Mas." ujarnya lagi yang dianggap angin lalu oleh Chandra.
Laki-laki itu terlalu menikmati mengusap perut Luna yang masih datar.
Luna yang tidak dihiraukan oleh suaminya pun akhirnya maju mengecup pipi dan bibir Chandra yang membuat Chandra mengerjapkan matanya. "Ada apa, sayang?"
"Lihat juga jalannya, Mas.. Usap perutku bisa lagi nanti sampai rumah."
"Enggak bisa, Lun. Nanti sampai rumah, Mas harus kembali mengecek proyek lagi." ujar Chandra yang membuat Luna menganggukkan kepalanya.
oh.. ini alasannya kamu kayak gini terus dari tadi, Mas. batin Luna menatap suaminya yang terus mengusapi perutnya.
__ADS_1
****
Jam merujuk pukul dua belas malam, Luna yang tertidur tanpa menunggu suaminya pulang kerja pun mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada matanya.
Chandra sudah memintanya untuk tidak menunggunya pulang kerja, karena dia akan pulang larut malam.
Setelah kesadarannya ia raih, Orang yang ia cari pertama kali adalah suaminya, ia pun meraba space kosong yang ada di sebelahnya yang ternyata masih kosong.
Suaminya belum pulang.
"Kemana Mas Chandra? Kenapa sampai sekarang belum pulang?" gumam Luna bermonolog lalu menyibak selimutnya untuk keluar mencari suaminya.
Sesampainya di daun pintu, Luna yang baru saja akan membuka pintu bersamaan dengan Chandra yang membuka pintu memasuki kamarnya yang membuat Luna langsung memeluknya. "Baru pulang ya, Mas?" tanyanya dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Chandra membalas pelukan istri tercintanya, "Iya.. Kamu belum tidur?"
"Aku baru bangun malahan.. Nyari Mas, dan ternyata Mas baru pulang." gerutunya manja yang membuat Chandra tersenyum.
Luna pun menguselkan kepalanya di dada bidang Chandra, entah apa yang dilakukannya, yang pasti seketika membangunkan junior milik Chandra.
"Jangan gerak terus, nanti Mas enggak bisa nahan, Lun." keluh Chandra dengan menghela napasnya.
Luna tambah mengencangkan uselan kepalanya di dada bidang Chandra dengan cekikikan tanpa suara.
Entahlah.. Dia sedang menginginkan sesuatu.
Dan permintaan itu terjadi di tengah malam.
"Mas.." ujarnya dengan menjauhkan wajahnya dari dada Chandra demi bisa menatap wajah tampan suaminya yang kini memerah menahan gairah.
"Apa?" tanya Chandra dengan suara paraunya.
"Aku menginginkanmu." jawab Luna yang membuat Chandra langsung membulatkan matanya. "Enggak bisa, sayang." tolaknya padahal dia juga menginginkannya.
"Kenapa? Ini permintaan si baby loh Mas.." gerutu Luna sembari melepas dekapannya dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Chandra menghela napas pelan, bingung harus bagaimana. Laki-laki itu takut menyakiti calon anaknya jika ia melakukan ITU pada Luna di usia kandungan yang masih begitu rentan.
"Mas enggak mau menyakitinya, Lun." jawabnya akhirnya yang membuat Luna seketika membuka gaun tidur tipis yang sedang dipakainya di depan suaminya.
"Mas bisa melakukannya pelan-pelan... Aku menginginkanmu, Mas.. Ini permintaan si baby. Nanti anak Mas ileran kalau Mas enggak mau nurutin." jelas Luna dengan tubuh polosnya yang kini ia pamerkan pada suaminya.
Chandra menelan salivanya lekat, apalagi istrinya kini melakukan tugasnya setiap ia pulang kerja, yakni melepas jas kerjanya, dasi lalu kemejanya dengan tubuh polosnya yang begitu menggoda.
Luna juga dengan santainya melepas celana milik Chandra, lalu sepatu dan kaos kakinya.
__ADS_1
Chandra tidak bisa berkutik, laki-laki itu membuang napas kasarnya lalu dengan sekali gerakan menggendong istrinya ala bridal style menuju tempat tidurnya.
bersambung...