Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Nasi Pecel


__ADS_3

"Kita sarapan dulu ya." ujar Chandra mencairkan situasi setelah keheningan melanda mereka berdua.


"Kamu mau sarapan apa, Lun?" tanya Chandra saat mendapati Luna tak menanggapi ujarannya.


"Nasi pecel." lirihnya sembari menatap kaca jendela, ia maalu untuk bertatap muka dengan Chandra setelah ia terang-terangan mengatakan jika Ibunya menanyakan mereka yang belum berhubungan badan.


Dan sebagai wanita dewasa yang sudah punya suami, Luna jelas sangat tau jika dia yang memulai semuanya. Dengan tidak sengaja membuka pintu masuk untuk Chandra untuk meminta haknya sebagai seorang suami.


Ibuuuu... kenapa aku harus jujur soal alasan tadi sih, aku malu, Buuu. batin Luna sembari tersenyum tipis dan menggelengkan kepala samar.


"Dimana ada nasi pecel, Lun?" tanya Chandra dengan mengamati sekitar yang juga belum pernah memakan makanan itu.


"Di dekat pertigaan itu di depan, Mas. Ada tulisan warung nasi pecel pak Harun." jawab Luna dengan menunjuk warung pecel yang sudah tidak jauh jaraknya.


Dan Chandra mengangguk setelah melihat warung pecel itu dari kejauhan


Beberapa menit kemudian, Chandra bersama Luna pun sampai di warung pecel dan Chandra yang merasa jika warung pecel itu masih dibawah seleranya pun menghela napas ingin tidak mau turun, tapi saat perutnya dan perut Luna sudah meronta minta diisi dan restoran memang masih jauh dari tempat mereka akhirnya Chandra pun turun dari mobilnya.


"Mas.. sukanya pakai lauk apa?" tanya Luna saat keduanya sudah di dalam warung dan memilih lauk sebelum memesan.


"Terserah." jawab Chandra acuh dan langsung duduk di kursinya.


"Ya udah.. Aku pesanin kayak punyaku aja ya, Mas. Lauk telur ceplok." Luna berujar meminta persetujuan dan Chandra pun mengangguk sebagai jawaban.


Luna pun berjalan mendekat kepada penjualnya, dan memberitahukan pesanannya ditambah dua teh gelas hangat untuk melengkapi sarapan mereka..


Beberapa menit kemudian, nasi pecel untuk Chandra dan Luna siap dihidangkan.


Chandra menatap nasi pecel di depannya dengan Luna bergantian, seolah meminta penjelasan Luna tentang makanan yang dihidangkan padanya.


Luna yang mengerti pun tersenyum tipis lalu menjelaskan pada Chandra. "Nasi pecel itu memang kaya gini, Mas. Dimakan aja dulu, baru Mas bisa protes." Lalu Luna pun mengambil bakwan dan tempe mendoan yang ada di depannya. "Tambahin ini Mas, dipotong pakai tangan kayak gini, pasti tambah enak."


"Memang gak kotor tanganmu tadi?" tanya Chandra saat melihat Luna begitu lahap memakan makanannya.


"Aku udah cuci tangan tadi, Mas. Mas mau aku potongin bakwan sama tempe mendoan juga?" tanyanya polos dan tak disangka jika Chandra mengangguk mengiyakannya.

__ADS_1


Luna pun mengambil piring Chandra lalu memotong bakwan dan tempe mendoan tadi sepertinya lalu memberikannya lagi kepada Chandra.


Belajar dari cara makan Luna yang mengambil nasi pecel sedikit lalu ditambah potongan telur dan bakwan, Chandra pun memulai memakan makanannya dan... "Enak." gumamnya lalu melahap hingga habis makanan itu tak bersisa.


Luna yang melihat Chandra menghabiskan makanannya pun tersenyum simpul menatapnya.


"Kenapa? Aku tampan?" ujarnya yang menangkap jelas jika Luna tengah memperhatikannya.


"Dih.. PD!" timpal Luna sembari meminum teh hangatnya seraya memalingkan wajahnya yang tak berhenti tersenyum.


"Aku gak PD.. Cuman itu faktanya." ujarnya sombong yang membuat Luna terbatuk. "Uhuk!"


"Ini.. Bayar. Aku ke mobi dulu." ujar Chandra memberikan dompetnya pada Luna.


Luna menatap dompet Chandra yang kini ada di depannya, sedang pemiliknya sudah memasuki mobilnya.


Dalam hati Luna menghangat karna Chandra sepertinya mempercayainya, namun seketika ia pun menggeleng saat mengingat perkataan Chandra yang menganggap pernikahannya hanya untuk status.


Menghela napas pelan, Luna pun bangkit dan membayar nasi pecel itu dengan uang pecahan lima puluh ribuan yan ada di dalam dompetnya dan memutuskan tidak memakai uang Chandra.


"Ada apa Paman?" tanya Chandra yang sedang bertelepon dengan siapa saat Luna memasuki mobilnya.


"Kapan?" tanya Chandra lagi sembari mengambil dompetnya yang diberikan oleh Luna tanpa suara.


Wanita itu hanya memegang bahu Chandra dan melalui tatapan sebagai interaksi karna Chandra sedang bertelepon dengan seorang laki-laki yang disebut "Paman."


apa paman mas Chandra yang waktu itu ya? batin Luna sembari mencuri dengar.


"Baiklah, Paman. Nanti aku usahakan." ujar Chandra lagi lalu laki-laki itu mematikan teleponnya.


"Tadi Pamanku telpon, dia mengundang kita buat makan malam di rumahnya nanti malam." gumam Chandra tiba-tiba saat ia sudah mulai melajukan mobilnya.


Luna menoleh menatap Chandra seakan meminta penjelasan, "Paman kamu yang mana?"


"Yang dulu jadi wali nikah aku pas nikah sama kamu." terang Chandra yang membuat Luna membulatkan mulutnya, "Oh.."

__ADS_1


"Memang harus datang ya Mas? Aku di rumah aja ya." tolak Luna saat mengingat kelakuan Bibi Maria saat dia baru sah menjadi istri Chandra.


Mulut pedas dan tatapan tidak suka itu membuatnya malas bertamu ke rumah orang yang tidak menyukainya sejak pertemuan pertama.


"Kamu gak mau nemenin aku kesana?" tanya Chandra dengan menatap jalanan macet yang ada di depannya.


"Emang harus ya, Mas?" tanya Luna lagi yang tidak menjawab pertanyaan suaminya dan masih berusaha menolak ajakan Chandra.


"Ya harus, kamu kan istriku." sahut Chandra cepat.


istriku? andai itu perkataan yang tulus yang keluar dari hatimu, mungkin aku akan luluh, Mas. Tapi kamu selalu bilang kalau aku jadi istrimu hanya untuk status. jadi gimana? aku harus senang apa sedih kamu manggil aku kayak gitu. batin Luna.


"Ada apa? Kenapa kamu sepertinya tidak mau?" tanya Chandra saat melihat Luna mencebikkan bibirnya.


"Aku.. Aku bukannya tidak mau, Mas."


"Tapi?" pancing Chandra ingin mengetahui alasan apa yang digunakan istrinya sehingga ingin terus menolak ajakan makan malamnya.


"Aku takut ketemu istri Pamanmu, Mas." aku Luna akhirnya sembari menunduk.


"Memangnya Bibiku itu singa kok kamu takut?" tanya Chandra berkelakar karna menurutnya Bibinya itu sangat menyayanginya.


Bibi Maria memang dikenal Chandra sebagai sosok Bibi sekaligus Ibu yang memang sangat menyayanginya, memperhatikannya dan walaupun ia sedang ada arisan geng sosialitanya tapi wanita yang masih cantik diusianya itu mau menyempatkan diri saat ia menikah, dan hal itu menambah Chandra sangat menyayangi Bibinya itu, karna Ibunya memilih tinggal di luar negeri dan tidak memperhatikannya.


Semenjak Chandra mementingkan keinginannya untuk menjadi seorang dosen, memang saat itu pulalah hubungan dengan kedua orangtuanya sedikit renggang.


Bahkan ia diberikan perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan agar keinginannya menjadi dosen teralihkan.


Tapi, Chandra dan keinginannya yang besar bisa mengalahkan itu semua. Ia bisa menjadi dosen popular dengan prestasinya sekaligus CEO perusahaan yang semakin hari semakin menanjak kesuksesannya.


"Bukan itu Mas." timpal Luna masih menunduk memikirkan jawaban yang tepat karna memang saat Bibi Maria mengatainya Chandra tak melihat dan mendengarnya.


"Lalu? Luna.. Bibi Maria itu wanita yang baik, dia memang sedikit galak. Tapi nanti jika kamu sudah dekat dengannya, kamu pasti menyayanginya." ujar Chandra yang membuat Luna mengangguk mengiyakan ajakan itu akhirnya.


kamu gak tau sikapnya padaku, Mas. batin Luna pelik sembari tersenyum menanggapi ocehan Chandra yang memberi kesan jika Bibinya itu orang baik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2