
"Lun.." panggil Chandra sembari memasukkan sebelah tangannya di saku celananya setelah ia sudah berdiri sejajar dengan Luna.
Luna menoleh mendengar suaminya memanggilnya, dan seketika ia pun menyeka kristal bening yang tadi membasahi wajah cantiknya. "Iya Mas.." panggilnya juga kemudian.
"Kamu suka sama Raka?" tanya Chandra saat melihat jelas guratan kesedihan di mata istrinya setelah Raka berterus terang menyatakan perasaan padanya.
Luna menggeleng lemah sebagai jawaban, bingung dengan apa yang tengah dirasakannya.
Sejujurnya dia dulu pernah menaruh rasa dengan Raka, saat laki-laki itu seringkali ke kontrakannya membelikan susu dan aneka cemilan dan makanan untuk Radit atau sekadar mengobrol dengan Ibunya.
Tapi, Raka yang dulu belum pernah seserius seperti tadi dengannya, membuat ia mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Raka, agar ia tidak kecewa.
Dulu, ia berpikir jika Raka memang baik kepada semua orang. Tapi ternyata, laki-laki itu juga menaruh hati yang sama untuknya.
Apa ia bodoh karna tidak menyadari itu? Berbagai kata 'andai' dan 'seandainya' memutar di pikiran Luna saat mendengar dengan jelas perasaan Raka yang diutarakan langsung padanya.
Andai Raka datang lebih dulu untuk meminta restu pada Ibunya, Andai Raka mengutarakan perasaan cintanya dulu sebelum ia menerima paksaan dari Chandra, Seandainya ia belum menikah dengan Chandra, mungkin saat tadi Raka mengutarakan perasaannya padanya, ia langsung menerimanya dan dengan suka hati menjalaani pernikahan penuh cinta dengan Raka.
Bukan pernikahan yang rasanya hampa bersama suaminya, yang tak lain laki-laki yang kini berdiri di sampingnya dan tidak mau menatapnya sejak ia menggeleng lemah menanggapi pertanyaannya.
"Kalau kamu memang suka padanya, kejarlah dia. Dia masih ada di dekat mobilnya, mungkin dia masih menunggu kamu memberi jawaban atas apa yang tadi diutarakannya." Chandra berkata dengan menguatkan hatinya jika itu memang terbaik untuk Luna.
"Aku gak mungkin mengejarnya, Mas. Aku sekarang sudah menjadi seorang istri. Aku juga gak mungkin memberi jawaban yang pak Raka tahu jika aku sudah menikah." Luna membalas perkataan Chandra dengan kembali menyeka air matanya yang kembali menetes.
Entahlah, Luna sekarang merasa serba salah. Di satu sisi, Rasa sukanya pada Raka muncul kembali saat Raka mengutarakan perasaannya padanya.
Dan di sisi lain, ia mulai merasa nyaman dengan suaminya. Laki-laki yang mengertinya, membelanya di depan keluarganya, menyayangi Ibunya bahkan melebihi Raka.
"Kenapa kamu gak mau mengejarnya? Bukankah kamu menyukainya?"
"Apa Mas rela aku mengejar Pak Raka?" Luna membalikkan pertanyaan, tidak menjawab pertanyaan Chandra padanya.
"Kenapa aku harus tidak rela?" Pertanyaan Chandra yang sangat menusuk hati Luna, berasa dihujam seribu anak panah yang sangat menyakitkannya.
__ADS_1
apa segitunya kamu gak menganggapku menjadi Istrimu, Mas? kamu terang-terangan menyuruhku mengejar laki-laki yang kamu tau jika dia menyukaiku. lalu apa artinya dengan rutinitas yang baru kamu buat semalam untuk kita? apa itu gak ada artinya buat kamu, atau aku yang terlalu berharap lebih. batin Luna sendu.
"Raka mencintaimu sejak lama," gumam Chandra tiba-tiba saat merasai Luna tak lagi menjawab pertanyaannya.
Wanita yang telah menjadi istrinya itu memutar tubuhnya, menghadapnya dan menatapnya dengan penuh keingintahuan.
"Mas tau darimana?"
"Aku tau saat dulu kita berpapasan di parkiran, Raka berterus terang jika kamu adalah urusannya. Dan sebagai laki-laki aku tau jika dia menaruh rasa untukmu."
"Maksud Mas bagaimana?"
"Raka juga dulu bilang jika dia sangat yakin kalau kamu itu bukanlah seorang Janda." Chandra berkata lagi tanpa menghiraukan pertanyaan dari Luna.
Mungkin saatnya, mungkin inilah saatnya ia juga memastikan hatinya jika hatinya sudah mulai ia buka untuk Luna.
"Pak Raka memang tahu kalau aku bukan seorang janda karna beliau sering main ke kontrakan kami, Mas."
"Pak Raka juga yang selalu memberi perhatian sama Radit, Ibu dan aku. Tapi, aku gak sadar kalau pak Raka ternyata suka sama aku, karna beliau belum pernah seserius tadi berbicara soal perasaannya padaku." Luna akhirnya berterus terang, mau bagaimanapun Chandra adalah suaminya, dan ia tidak ingin Chandra menjadi salah paham.
"Hampir setiap malam, Mas. Dan pak Raka selalu memakai alasan yang berbeda dan masuk akal sehingga aku tidak menyadari perhatiannya selama ini untuk menarik perhatianku." Ujaran Luna yang mampu membuat Chandra kini kembali menatapnya.
"Tapi.. Saat Mas mulai memaksa aku untuk menikah dengan Mas untuk mengganti rugi mobil Mas yang rusak, Pak Raka belum pernah datang lagi ke kontrakan Mas, hingga dulu saat dia ngajak ketemu di Cafe untuk menanyakan keberadaanku." jelas Luna lagi.
"Kalau perhatian dariku, apa kamu menyadarinya?" tanya Chandra tiba-tiba yang membuat Luna menatapnya intens, seintens langkah Chandra yang mengikis jarak di antara keduanya.
"Lunaaaaa..." teriak Reyna dengan berlari mendekat ke arahnya yang membuat Luna seketika mundur satu langkah sembari memalingkan wajah karna tiba-tiba wajahnya bersemu merah mendapat pertanyaan sederhana dari suaminya.
perhatian? aku menyadarinya, Mas. sangat menyadarinya. batin Luna
Dengan napas terengah-engah, Reyna mengulurkan telepon genggam milik Luna yang masih berbunyi yang menampilkan jika Ibunya tengah menelponnya.
Luna pun secepat kilat menggeser ikon gagang telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu, tanpa memperhatikan tatapan aneh dari Reyna saat memergokinya berdua dengan Chandra di rooftop padahal dengan jelas Reyna tadi tahu jika dia pergi dengan Raka.
__ADS_1
Panggilan tersambung..
Luna: Hallo, Bu.. Ada apa?
Ibu: Radit badannya panas sayang, Kamu bisa kesini?
(Luna langsung menatap Chandra setelah Ibunya berkata jika Radit tengah kurang enak badan, dan Chandra yang ditatap istrinya hanya bisa balik menatapnya karna belum tau apa yang diinginkan istrinya).
Luna: Radit panas, Bu? (tanyanya membeo)
Ibu: Iya.. Dari tadi sudah Ibu kompres, tapi belum turun-turun, Lun panasnya.
Chandra yang mendengar jika Radit sedang demam pun akhirnya paham akan tatapan Luna, dan dia mengangguk yang artinya mengijinkan Luna pergi dari mata kuliyah pentingnya hari ini yang kebetulan ia yang mengajar.
Luna menurunkan handphonenya, lalu berbicara pada Chandra dengan panggilan biasanya yang membuat Reyna membulatkan mata dan mulutnya, karna Luna melupakan keberadaan sahabatnya itu yang masih menunggunya.
"Beneran boleh, Mas?"
"Boleh, pergilah."
"Ujianku nanti gimana Mas?" tanya Luna yang membuat Chandra menghela napasnya, melirik pada Reyna memberi kode Luna jika masih ada Reyna yang kini menatap bingung keduanya.
Tapi, Luna yang tidak melihat kode dari suaminya itu langsung kembali melanjutkan obrolan dengan Ibunya yang menyatakan ia akan segera ke ruko untuk memeriksakan Radit ke dokter.
Usai mematikan sambungan teleponnya, Luna pun baru sadar jika Reyna masih ada di sampingnya dan mendengar dia memanggil Chandra dengan sebutan "Mas."
Uuppss.. kenapa aku gak sadar sih tadi kalau masih ada Reyna. Duh, gimana ini jelasinnya. Luna menatap Chandra sendu.
"Ada yang aku gak mengerti disini, Lun.. Pak.." ujar Reyna dengan menatap keduanya.
"Kalau gak mengerti, gak usah dipikir Reyna." Chandra menegaskan jika dia belum mau membuka hubungannya dengan Luna, dan membuat Luna mengatupkan bibirnya dan seketika pergi berlari sembari menelpon pak Mun untuk menuju ke ruko Ibunya.
Luna pun tak menghiraukan teriakan Reyna sama sekali karna suaminya lagi-lagi belum mau mengakuinya, dan kembali melukai hati yang tidak bisa berbohong jika hatinya selalu nyaman saat berada di pelukan suaminya.
__ADS_1
Tapi, Luna bisa apa? Dia hanya seorang wanita biasa yang sudah menjalin kesepakatan dengan suaminya.
Bersambung..