Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Tidak Mudah Percaya


__ADS_3

"Chandra..?" Lirih Emily saat melihat benar laki-laki yang ada di depannya adalah anaknya.


Chandra tidak bergeming, laki-laki tampan itu menatap Ibunya dengan tatapan tak terbaca.


Dan Luna.. Wanita cantik itu terlihat mengamati interaksi yang terjadi di depannya tanpa berani menyelanya.


Hari itu Luna sudah memakai pakaian serba berkelas yang disiapkan oleh Chandra sekaligus MUA yang sudah merias wajah Luna sehingga membuatnya terlihat lebih muda dan lebih cantik dari biasanya.


Jaelani.. Laki-laki itu masih takjub melihat Luna. Dia masih meneliti harga pakaian dan aksesoris yang dipakai oleh Nyonya-nya yang menurutnya berkisar hingga ratusan juta.


Suatu harga yang fantastis jika digunakan dalam keseharian.


Apa Tuan-nya begitu bucinnya dengan istrinya hingga merubah Nyonya-nya yang selalu tampil cantik nan sederhana menjadi cantik nan mewah yang sekarang nyata ada di depannya? Jaelani menggelengkan kepalanya samar memikirkannya tanpa menyadari situasi yang sedang terjadi.


Merasai anak laki-lakinya tak mau menyambutnya, wanita itupun maju mengikis jarak lalu menangkup wajah Chandra dengan kedua tangannya. "Anakku.." gumamnya dengan meneteskan air mata lalu menarik bahu Chandra dan mendekapnya.


Chandra adalah anak kedua dari hasil pernikahannya bersama Abimana.


Anak yang selalu ia tentang keinginannya termasuk menjadi dosen.


Anak yang dengan teganya ia berikan perusahaan yang hampir bangkrut yang memang didirikan untuknya hanya untuk lagi menggagalkan yang menjadi keinginan Chandra.


Chandra masih tidak bergeming, laki-laki itu memasang wajah datarnya dan tidak menolak juga tidak membalas pelukan Ibunya.


"Kamu gak rindu dengan Mom, Ndra?" tanya Emily dengan kembali menangkup wajah tampan anaknya dengan tetesan air mata yang mengalir begitu derasnya.


Merasa bersalah? Mungkin itu yang kini dirasakan oleh Emily saat itu.


Anak laki-lakinya ini sudah menikah tanpa menunggu restunya, bahkan tak mengharapnya untuk hadir dalam pernikahannya.


Memberitahukannya saja tidak, apalagi mengundangnya jika ia akan menikah.


Pernikahan anak laki-lakinya ini juga terjadi karena paksaan dari para pemegang saham di perusahaannya. Emily sangat mengetahui hal itu dari Permana.


Paksaan itu juga bermula dari dirinya dan Abimana yang menghubungi seluruh pemegang saham agar anak laki-lakinya itu segera menikah.

__ADS_1


Tujuan mereka berdua hanya satu, agar Chandra fokus dengan perusahaannya. Lalu mengabaikan pekerjaannya sebagai dosen. Apa Emily seegois itu? selalu mementingkan keinginannya dibanding keinginan anaknya?


Bahkan mencari pendamping hidup pun harus memakai paksaan yang membuat anaknya memilih wanita yang kini berdiri dengan anggun di samping anaknya.


Dan lagi.. Anaknya ini terlihat mampu menghadapi masalahnya sendiri dan terlihat bahagia dengan apa yang ia jalani dan tetap konsisten dengan pekerjaannya yang ternyata juga berjalan seimbang.


Lagi.. Emily merasa kalah sekaligus bersalah memikirkan itu.


"Ndra.. Kamu tidak rindu dengan, Mom?" ulangnya lagi dengan menggoyangkan pelan bahu Chandra.


"Ada apa Mom kemari?" tanya Chandra datar tidak menjawab kerinduan Ibunya.


Bahkan laki-laki itu mengabaikan kristal bening yang sedari tadi membasahi wajah Ibunya tanpa berniat mengusapnya sedikitpun.


Keinginannya yang selalu ditentang membuat rasa hormatnya pada Ibunya semakin berkurang.


"Mom merindukanmu sayang." jawab Emily dengan menangkup kembali wajah Chandra.


"Rindu?" Chandra tersenyum sinis sembari menurunkan tangan Emily dari wajahnya. "Apa kata itu masih berlaku diantara hubungan kita?" tanyanya datar dengan nada begitu dingin.


"Sebenci itu kamu dengan Mom, Ndra?" Emily bertanya seraya menunduk, lalu mundur perlahan menahan sesak di dadanya. "Mom menyayangimu dan begitu merindukanmu. Tapi ternyata kamu disini seperti ini.."


Luna menggigit bibirnya mendapati reaksi Chandra menanggapi kerinduan Ibunya.


Ia memang tidak tau masalah apa yang terjadi di antara Ibu dan anaknya itu.


Tapi, ini adalah momen pertamanya bertemu dengan Ibu mertuanya yang selama ini belum pernah bertemu dengannya dan suaminya hingga menyewa seorang guru hanya untuk mempersiapkannya bertemu dengan Ibunya.


Luna pun menghela napas pelan, lalu ia pun berhenti melangkah untuk menarik perhatian suaminya. "Kenapa, Lun?" tanya Chandra saat mereka berdua hampir memasuki lift.


"Aku ingin berkenalan dengan Mommu, Mas." jelas Luna yang membuat Chandra kini membalikkan badan menghadapnya. "Momku itu bukan orang baik, Lun." Chandra masih berusaha mencegah.


"Baik atau tidaknya dia, dia tetap Ibu mertuaku, Mas.. Dia juga Ibumu.. Orang yang berjasa melahirkanmu ke dunia." jelas Luna lagi, dan berhasil sedikit meluruhkan emosi yang tadi sempat mengungkung Chandra. "Aku tidak mau perkenalan pertamaku dengan Mommu, malah menjadi seperti ini, Mas.. Ayo kita kesana lagi." terang Luna sembari menunjuk ruang kerja Jaelani.


Chandra menatap gusar ke sembarang arah mendapati permintaan istrinya itu. "Momku itu orang yang selalu menentang keinginanku, Luna. Aku takut dia akan menyakitimu dengan kata-katanya." Dengan wajah sedikit frustasi Chandra berusaha menjelaskan apa yang sedari kemarin mengganggu pikirannya.

__ADS_1


"Aku percaya jika Mommu sudah tidak begitu, Mas." Luna masih berusaha melunakkan hati suaminya yang mendadak keras seperti batu.


"Itu kamu kan? Kalau aku.. aku tidak mudah percaya, Lun. Karena aku tau sifat dan sikapnya seperti apa." Chandra masih bersikeras.


"Sifat dan sikap seorang manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu, Mas." timpal Luna tidak mau kalah.


"Itu hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk Momku, Luna." Chandra tetap dengan keyakinannya yang membuat Luna mengembuskan napas kasar.


"Mas.. Kamu tau kan jika batu karang saja bisa hancur terkena ombak?" tanya Luna yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya. "Lalu? Apa hubungannya?" tanya Chandra dengan wajah bingung.


"Ya memang tidak ada hubungannya, Mas.." jawab Luna bingung yang membuat Chandra tertawa dengan kesalnya. "Kamu ini bagaimana sih, Lun.. Kalau mau menasehati orang jangan setengah-setengah." ujar Chandra setelah tawanya sedikit mereda.


"Ya aku kan muridnya, Mas.. Kayaknya mau menasehati Mas itu harus dipikir dua kali deh." jawab Luna asal yang membuat Chandra tertawa kembali lalu menyentil hidung istrinya.


Pletak


"Ssshhh.. Aw.. Sakit, Mas." keluh Luna dengan wajah cemberut yang begitu menggemaskan di mata Chandra.


Dan memang sentilan tangan Chandra selalu menghasilkan hidung Luna yang kini terlihat sedikit memerah.


Melihat istrinya yang sepertinya kesal, Chandra pun maju lalu mendekapnya sembari mengecup pucuk kepala istrinya. Hatinya menghangat, emosinya luntur karna candaan dari istrinya.


"Udahan marahnya?" tanya Luna dalam dekapan hangat suaminya.


"Belum." jawab Chandra sembari mengulum senyum.


Laki-laki tampan itu belum mau melepas pelukan hangatnya.


"Kalau belum lepas ih, Mas. Malu." canda Luna yang membuat Chandra kini semakin mengeratkan pelukannya. "Malu sama siapa? Disini tidak ada siapa-siapa.. sayang." Chandra mengucapkan kata "sayang" dengan begitu lirihnya yang membuat Luna kini terdiam.


Kini.. mereka berdua pun saling mendekap dengan begitu hangat karna Luna diam-diam membalas pelukan suaminya.


Merasakan cinta yang mulai tumbuh di hati suaminya, untuknya. Bolehkan Luna optimis akan harapannya?


Pelukan hangat mereka berdua pun disaksikan oleh Jaelani dari ambang pintu ruang kerjanya, Jaelani pun mendengar bagaimana Luna yang dengan apa adanya menghibur Tuannya.

__ADS_1


Diam-diam laki-laki itu pun merekamnya untuk nanti ia perlihatkan pada Nyonya Besar Emily jika di kedua hati pasangan suami-istri itu mulai tumbuh sebuah rasa yang dinamakan dengan cinta.


Bersambung...


__ADS_2