
"Stop!! Berhenti disini saja, Pak." tutur Luna sembari menunjuk halte terdekat dari kampusnya.
Chandra tak peduli, ia menulikan pendengarannya dari perkataan Luna dan memilih menancapkan gasnya terus karna Luna masih saja memanggilnya 'Pak'.
Semalaman ia sudah menyakinkan Luna jika dia tidak apa-apa jika Luna memanggilnya dengan sebutan 'Mas' namun jawaban Luna yang sepeertinya enggan, eehh.. bukannya enggan, tapi belum berani tepatnya, membuatnya sedikit kecewa.
FLASHBACK ON
"Ini kartu buat kamu." ujar Chandra sembari duduk di samping Luna, memberikan blackcard pada Luna yang kini sedang merebahkan badan di kasurnya.
"Buat apa, Pak? Buat aku bayar hutang sama Bapak? Pak.. Aku belum punya uang. Aku belum mulai jualan lagi dan gajian novelku belum juga sampai." Luna bertanya sembari duduk bersandar di kasurnya.
Pletak
"Ssshhh.. Aw.." ujar Luna sembari memegang hidungnya.
"Bapak naksir sama hidung saya ya? Kok sering banget nyentil hidung saya? Tadinya saya itu sudah mengantuk, Pak. Hooaaamm.." tanya Luna lagi yang seketika membuat Chandra mengusap hidung Luna yang tadi disentilnya.
"Sakit?" tanyanya dan Luna yang seakan terhipnotis dengan perlakuan manis Chandra hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Mau aku kasih obat?" tanya Chandra yang entah kenapa Luna hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Sepertinya, Luna sedang tertarik meneliti wajah Chandra dari dekat. Wajah tampan bak Dewa Yunani yang sangat nyaris sempurna.
Cup
Chandra mencium hidung Luna dan seketika Luna pun membulatkan mata seraya memegangi hidungnya dengan wajah merona.
"Bapak ngapain?" tanya Luna pura-pura kesal, namun wajahnya tak berhenti tersenyum.
"Kasih obat buat kamu. Katanya tadi mau." jawab Chandra enteng.
"Lhoo.. Bukannya tadi Bapak cuman bertanya ya, aku juga gak tau kok kalau obatnya kayak gini." kilah Luna, namun pipinya tetap sepeeti memakai blush on.
"Gak usah ngeles.. Mukamu aja kayak kepiting rebus." candanya dengan kaku dan Luna hanya bisa tersenyum meliriknya.
"Udah. Ini.. Terima." ujarnya lagi sembari mengambil tangan Luna dan meletakkan blackcard itu di telapak tangan Luna lalu menutupnya.
"Aku gak mau, Pak. Aku udah bilang kan tadi kalau aku belum punya uang untuk mencicil hutang." ujar Luna yang entah mengapa terlihat menggemaskan di mata Chandra.
__ADS_1
Ingin sekali laki-laki itu mencium bibirnya dan memilikinya, namun egonya masih melingkupi hatinya dan mengingatkan ia jika ia harus tetap waras.
Bagaimanapun pernikahan ini terjadi karna terpaksa, dan ia tidak mau menjadikan Luna takut padanya dan terpaksa melakukan 'ITU' dengannya.
Ia ingin memperlakukan Luna dengan nyaman, Lalu wanita itu dengan sendirinya memberinya hak yang semestinya sudah ia lakukan sejak kemarin mereka sah menjadi suami istri.
"Luna.. Ini nafkah lahir dariku. Kamu bisa mencicil hutang kamu nanti saat jualan kamu sudah laris dan punya cabang. Untuk sementara ini tidak usah memikirkan itu."
"Nafkah lahir? Bapak menganggap saya sebagai istri benerannya, Bapak?" tanya Luna dengan wajah terkejut namun tetap menerima apa yang diberikan oleh Chandra.
Chandra terlihat menghela napas, tidak menyangka jika wanita yang dinikahinya ternyata seperti ini.
Sepertinya ia harus menghadapi orang yang lagi sama seperti Jaelani. Tapi, kali ini dalam bentuk seorang wanita.
"Luna.. Bisa saya minta satu hal sama kamu, panggil saya dengan panggilan yang biasa kamu ucapkan saat ada Ibu. Bisa?" tanya Chandra mengalihkan pembicaraan.
"Lhoh.. Kenapa, Pak? Memangnya Bapak gak takut jatuh cinta sama saya kalau kita lagi berduaan kayak gini terus saya manggil Bapak dengan sebutan itu." alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya.
"Bukannya kebalik? Bukannya kamu yang takut jatuh cinta sama saya?" tanya Chandra lagi tak menjawab pertanyaan Luna yang memang Chandra belum menemukan jawabannya.
Luna yang tidak bisa menjawab, hanya bisa meringis menanggapinya.
"Baiklah.. Baiklah.. Tuan pemaksa." gumam Luna lirih sembari merebahkan badannya kembali dan menarik selimutnya hingga atas kepala.
"Ternyata dia memberiku nafkah lahir karna ada modusnya. Bilang aja kali Pak kalau mau aku panggil Mas. gitu aja muter-muter dulu." gumam Luna lirih tak menyadari jika Chandra belum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi dan mendengar semua yang digumamkannya.
FLASHBACK OFF
"Pak.. Tolong berhenti.. Haltenya hampir kelewat." ujar Luna namun lagi-lagi Chandra menanggapinya acuh.
Laki-laki itu pun terlihat mengeraskan rahangnya dan Luna hanya bisa mendesah.
Seketika ingatannya semalam jika Chandra ingin ia memanggilnya dengan sebutan yang biasa ia ucapkan saat ada Ibunya pun menghela napas sejenak sebelum berteriak.
"Mas.." panggil Luna geram karna halte itu terlewat beberapa meter dari mobilnya.
Dan..
Ciiiit..
__ADS_1
Chandra seketika menginjak rem mobilnya dan menghentikannya, tak lupa ia pun memundurkan mobilnya agar Luna tidak terlalu berjalan kejauhan.
Sepertinya Luna harus terbiasa dengan memanggil Chandra dengan sebutan 'Mas.'
"Kamu yakin mau turun disini?" tanya Chandra sembari membuka kunci pintu Luna.
"Yakinlah Mas.. Lagian, Mas juga kan yang mau aku untuk menyembunyikan pernikahan kita. Jadi, lebih baik aku turun disini biar gak muncul gosip yang nggak-nggak yang bisa buat kamu gak nyaman." ujar Luna sembari menarik handle pintu namun saat ia teringat sesuatu ia pun menoleh pada Chandra.
maafkan aku ya, Luna. maafkan aku yang mengharuskanmu seperti ini. batin Chandra sembari menatap Luna yang hendak keluar dari mobilnya, namun ternyata ia malah tertangkap basah oleh Luna sedang memandangnya.
"Ada apa, Lun?" tanya Chandra sembari menetralkan kegugupan yang baru saja melingkupinya.
"Kayaknya ada yang ketinggalan, Mas." ujar Luna sembari mengingat apa yang belum ia kerjakan.
Dan saat ia mengingatnya, ia pun langsung memegang tangan Chandra lalu mencium punggung tangannya untuk berpamitan.
"Aku ke kampus dulu ya, Mas." ujarnya lalu seketika keluar dari mobil Chandra.
Chandra seketika terpaku, menatap punggung tangannya yang tadi dicium oleh Luna.
Ada rasa lain yang ia rasakan, dan tiba-tiba saja jiwa ke-suami-annya muncul.
Chandra menurunkan kaca jendelanya, menatap Luna yang hendak ia ajak bicara namun ternyata ada temannya yang menghampiri.
"Kan aku juga mau ke kampus, Lun." gumamnya bermonolog sembari memandang istrinya yang tertawa bahagia.
Tawa Luna yang baru kali ini dilihatnya, dan lagi-lagi Chandra terpesona.
Dengan raut wajah bersalah, ia pun melajukan mobilnya itu dengan pelan sembari melihat istrinya yang ternyata dibonceng motor oleh teman wanitanya.
Apa dia terlalu egois? Apa dia menyakiti Luna karna permintaannya? Dan kenapa wanita itu sepertinya tak tersiksa dengan permintaan menyembunyikan status yang ia minta?
Apa Luna punya laki-laki yang ia taksir sehingga Luna malah bisa bebas didekati dan dekat dengan siapapun di kampusnya.
Tiba-tiba kegamangan melingkupi hati Chandra dan dia pun menggelengkan kepala menghalau pikiran buruk yang baru saja bersarang di pikirannya.
Ia yakin, Luna bukanlah wanita speerti itu.
Bersambung.....
__ADS_1