
"Jae.. Apa yang terjadi?" tanya Emily pada Jaelani yang sedang masuk membawa koper berisi pakaian Chandra dan Luna, dan diikuti dua orang yang katanya sedang akan menginap di hotel dengan menampilkan cengirannya tanpa dosa.
"Jae.." panggil Emily lagi saat ketiganya masih terdiam.
"Ada apa, Mom? Kenapa teriak-teriak?" tanya Abimana sembari membawa koran dari ruang keluarga.
Malam itu memang Emily yang membukakan pintu karena para maid sudah beristirahat di paviliun. Dan Emily sedang terlibat obrolan penting dengan Abimana.
Emily menoleh ke belakang, dimana suaminya berada. "Chandra dan Luna pulang diantar Jaelani, Dad." ujarnya yang membuat Abimana langsung menoleh pada Chandra. "Ada apa, Ndra? Apa ada masalah sehingga kalian tengah malam begini sampai rumah?" tanya Abimana dengan mengerutkan dahinya.
"Ada, Dad." jawab Chandra akhirnya yang membuat Emily langsung mendekatinya. "Masalah apa, Ndra? Siapa yang membuat masalah sama kamu?" tanyanya khawatir.
"Makhluk kecil, Mom. Makhluk kecil itu berulah." jawab Chandra yang membuat Emily mengenyitkan dahinya bingung. "Maksud kamu apa, Ndra? Makhluk kecil apa? Siapa?" tanyanya.
"Makhluk kecil yang ada di perut istriku, Mom." jawab Chandra yang semakin membuat Emily bingung, lantas bertanya pada menantunya. "Maksud Chandra apa, Lun?"
"Katanya Mom orang pintar.. Tapi tidak mengerti teka teki yang aku buat." ledek Chandra yang tidak dipedulikan oleh Emily.
"Mom ingat tidak dengan pertanyaan yang Mom tanyakan pada aku tadi siang?" tanya Chandra kembali yang membuat Emily kembali menatapnya.
"Tentang permintaan Luna yang aneh itu, Ndra?" tanya Emily yang sangat mengingatnya.
Tadi siang, memang dia memanggil Chandra yang sedang makan siang dengan Luna untuk membicarakan permintaan Luna yang ia kira aneh.
Emily menduga jika permintaan Luna itu karena wanita cantik itu tengah mengidam, dan Chandra langsung membantahnya karena semalam mereka baru melakukan test dan hasilnya negatif.
Bagaimana permintaan itu tidak aneh? Luna yang hari itu sedang melaksanakan pesta pernikahan dengan anaknya meminta es sirup yang harus dituangkan sendiri oleh Chandra di gelas yang ia pegang dan menghasilkan antrian beruntun para tamu yang hadir untuk sekadar mengucapkan selamat dan berfoto bersama.
Chandra mengangguk, yang membuat Emily kini melangkah mendekati Luna kembali. "Kamu hamil, Lun?" tanyanya.
Luna menatap Mom mertuanya dengan tersenyum. "Iya.. Aku hamil, Mom." lirih Luna yang membuat Emily langsung memegang pundaknya. "Apa, Lun?" tanyanya lagi.
"Aku hamil, Mom."
__ADS_1
"Sudah ku duga." gumam Emily sembari menarik Luna ke dalam dekapannya. "Selamat ya sayang, semoga kehamilannya lancar." doa tulus Emily pun terucap, membuat Luna membalas dekapan Mom mertuanya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Emily, "Terimakasih, Mom."
"Selamat ya, Lun. Dad senang mendengarnya." Abimana berujar tulus yang dijawab anggukan oleh Luna. "Terimakasih Dad."
"Jenifer dimana, Mom?" tanya Chandra setelah kelima orang itu duduk di ruang keluarga.
Jaelani hanya diam, laki-laki itu berubah pendiam.
"Jenifer mengurung dirinya di kamar. Mom sedang membahasnya dengan Dad." jelas Emily yang membuat Luna langsung menoleh menatapnya.
"Dari kapan Mom? Bukankah tadi pagi Jenifer ikut bersama kita ke hotel?" Luna yang bertanya.
Emily mengangguk, "Dia memang ikut, tapi langsung pulang. Katanya kurang enak badan." jelasnya lagi.
pantes dari tadi Jenifer tidak ikut berfoto? Apa benar dia begitu mencintai Pak Raka? batin Luna sendu mengingat wajah adik iparnya saat tadi pagi bertanya padanya.
"Chandra merasa ada yang berbeda dengan Jenifer akhir-akhir ini."
"Jae.. Kamu tidak pulang?" tanya Emily saat Chandra membahas adiknya, kebiasaan Emily tidak mau jika selain keluarganya mendengar hal yang dianggap lebih ke privasi keluarga.
"Jangan membahas Jenifer di depan Jaelani, Ndra. Pacarnya teman adikmu." Emily mengingatkan yang dijawab anggukan oleh Chandra.
"Apa yang menurutmu berbeda dari Jenifer, Ndra?" Abimana bertanya dahulu.
"Dia terlihat murung dan lebih pendiam dari biasanya. Biasanya Jenifer selalu heboh, Dad. Dan matanya selalu terlihat bengkak setiap keluar dari kamarnya." jelas Chandra yang membuat Emily mengangguk. "Mom juga melihatnya, Ndra." timpalnya menyetujui.
"Kira-kira apa yang membuatnya seperti itu? Padahal Dad besok harus kembali ke London." tanya Abimana lagi.
"Secepat itu, Dad?" Luna lah yang bertanya.
"Iya, Lun. Perusahaan disana tidak bisa ditinggal lama." jelas Abimana yang membuat Luna mengernyit.
"Chandra juga tidak tahu, Dad." putus Chandra, padahal dia tau apa yang menjadi penyebabnya.
__ADS_1
Adiknya, Jenifer terlihat murung semenjak ia larang bertemu Raka. Dan adiknya pulang ke rumah tadi setelah mengantarnya ke hotel, karena tidak bisa bertemu Raka karena Chandra tanpa sepengetahuan Luna telah memblacklist Raka dari daftar tamu yang boleh masuk ke dalam ballroom hotel miliknya.
"Mas.. Kita ke kamar dulu yuk." ajak Luna yang membuat Chandra seketika berdiri.
Luna ingin membicarakan tentang Jenifer pada Chandra agar laki-laki itu mengerti tentang perasaan Jenifer pada Raka.
"Kita ke kamar dulu, Mom, Dad." ujar Chandra yang dijawab anggukan oleh Emily dan Abimana.
***
"Mas.." panggil Luna setelah keduanya sudah dalam posisi tidur dengan saling memeluk.
"Iya.. Kamu mau minta apa?" tanyanya begitu peka.
Laki-laki itu mengusap perut istrinya, lalu beralih merapikan anak rambut Luna, lalu memeluknya kembali, dan diulang terus seperti itu yang membuat Luna merasa begitu dicintai, walaupun suaminya belum pernah mengatakannya.
Apalagi, tadi siang dengan jelas Chandra berterimakasih pada Tuhan dan Ibunya karena telah menghadiahkan dia untuk menjadi istrinya.
"Aku mau minta Mas menerima Pak Raka." ujar Luna yang membuat Chandra langsung menjauhkan wajahnya demi menatap wajah cantik istrinya. "Tidak akan. Jenifer dan Raka tidak akan bersatu, Lun. Kamu tidak usah minta aneh-aneh tentang itu."
"Jika itu termasuk ngidam.. Apa Mas akan menurutinya?" tanyanya lagi dengan hati-hati.
"Aku tidak akan menerima permintaan itu walaupun dengan alibi ngidammu." tegas Chandra dengan nada begitu lembut.
"Mas mau anak Mas nanti ileran?" tanya Luna yang membuat Chandra langsung kembali mendekapnya. "Mas yakin, anak Mas tau apa yang ada di pikiran Mas. Dia tidak akan meminta aneh-aneh yang nantinya akan membuat sedih Aunt-nya." tegas Chandra yang membuat Luna kini terdiam dengan menghela napasnya.
Harus dengan cara apa dia menaklukan hati Chandra untuk menerima Raka? Itu kan demi kebahagiaan Jenifer? Wanita yang tak lain adalah adik kandung suaminya.
Keduanya pun akhirnya tertidur dengan berpelukan begitu erat, hingga adzan subuh berkumandang membangunkan mereka disertai notifikasi pesan di ponsel Chandra berbunyi.
"Darius"
Nama itulah yang kini mengirim pesan padanya, saat Chandra membuka kunci pada layar ponselnya.
__ADS_1
Bersambung...